Rabu, Oktober 21, 2020

Impian Basuki

Soal Starbucks, Ustadz Abdul Somad Kurang Gaul dan Kurang Piknik

Alkisah, ada orang yang sudah enak di surga, eh, tiba-tiba ditarik dan dipindah ke neraka. Lho kok bisa? Ternyata, usut punya usut, orang tadi...

Birdwatching di Yamdena, Maluku

Angin bertiup sangat kencang dan langit dipenuhi awan hitam. Tak terlihat sinar matahari. Tapi, tak ada rintik hujan saya rasakan menerpa muka saat mendarat...

Buzzer: Antara Bisnis dan Hati

Sungguh ini betul-betul menarik. Belum lama ini sejumlah buzzer menyampaikan permintaan maaf di Twitter. Meminta maaf karena sudah terlibat dalam suatu kampanye terkait pembakaran...

Ahadiyyah, Wahidiyyah, dan Menifestasi Keduanya dalam Diri Nabi

Bayangkan satu buah kertas kosong di hadapan Anda. Tidak ada garis, tidak ada tulisan. Tulisan itu kosong melompong tanpa ada coretan sama sekali. Adakah...

ahok-hutdki
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama memberikan pengarahan saat Pencanangan HUT ke-489 Kota Jakarta di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Jakarta Selatan, Sabtu (28/5). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

Para pejuang kemerdekaan memimpikan Indonesia merdeka. Setelah kemerdekaan Indonesia tercapai, para pendiri bangsa memimpikan Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Setiap pemimpin punya mimpi, juga Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Mimpi Basuki cukup sederhana, yakni membuat perut, otak, dan dompet warga Jakarta penuh.

Tapi yang terdengar sederhana itu jika diurai bisa menjadi kompleks. Penuh perut berarti terpenuhinya kebutuhan fisik. Dalam bahasa klasik disebut cukup makan, sandang, dan papan. Dalam bahasa yang lebih politis disebut tercapainya kesejahteraan rakyat.

Otak penuh artinya mendapatkan pendidikan yang layak dan memadai. Layak untuk bisa “melek” di segala bidang dan memadai untuk mengikuti perkembangan zaman. Tanpa bekal pendidikan yang layak dan memadai, siapa pun akan tertinggal jauh di belakang dan bahkan bisa tergilas oleh lajunya zaman.

Dompet penuh artinya bisa hidup layak berkesinambungan. Hidup secara layak dan berkesinambungan itu dalam bahasa sekarang yang sudah diakui dunia adalah sustainable development goals (SDGs) yang terdiri dari 17 program berkelanjutan untuk mengakhiri kemiskinan, memerangi kesenjangan dan ketidakdilan, serta untuk menghambat perubahan iklim hingga 2030.

Ketujuhbelas program itu selain bagaimana mengentaskan kemiskinan dalam berbagai bentuknya di mana pun dan mengakhiri kelaparan dengan penyediaan pangan yang cukup dan berkelanjutan adalah memastikan hidup sehat, peningkatan pendidikan, keadilan gender, manajemen air dan sanitasi, ketersediaan energi untuk semua, pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan pekerjaan yang berkesinambungan, dan lain-lain yang semuanya diarahkan pada pencapaian pembangunan yang berkelanjutan.

Pertanyaannya, bagaimana menjadikan mimpi itu terwujud di DKI Jakarta? Ada tiga program prioritas yang harus dilaksanakan. Pertama, penciptaan pemerintahan yang bersih. Ini merupakan harga mati bagi Basuki, dan dia memulainya dari diri sendiri. Aparat pemerintah daerah harus terbebas dari korupsi, dari gubernur hingga ketua RT.

Aparat yang main-main dengan korupsi, atau coba-coba menyuap, akan terdeteksi dengan akuntabilitas yang ditradisikan oleh Basuki dalam mengelola administrasi, penyusunan dan penetapan anggaran, serta dalam melaksanakan proyek-proyek pembangunan di DKI Jakarta. Semua aparat harus, atau lebih tepatnya dipaksa, untuk mengikuti transparansi dan akuntabilitas yang diterapkan Basuki dalam mengelola administrasi pemerintahan.

Kedua, pembangunan infrastruktur. Di antara problem utama yang dihadapi warga Jakarta —dan siapa pun yang hidup dan bekerja di Jakarta—adalah kemacetan lalu lintas. Kemacetan bisa menghambat banyak hal. Sesuatu yang mudah dan sederhana bisa menjadi sulit dan terbengkalai disebabkan karena kemacetan. Biaya ekonomi menjadi tinggi. Setiap hari ada miliaran rupiah dihabiskan di jalan raya. Bukan karena jarak tempuh yang panjang, tapi karena kemacetan yang sudah sampai pada titik yang sangat memprihatinkan.

Di antara cara yang paling utama untuk mengatasi kemacetan adalah dengan menambah ruas jalan serta pembaruan dan penambahan moda angkutan jalan. Pembangunan infrastruktur di DKI Jakarta kembali digalakkan. Program pembangunan jalan yang pernah macet pada periode kepemimpinan sebelumnya, kembali dijalankan. Begitu pun dalam pembaruan dan penambahan moda transportasi, terutama transportasi massal.

Dengan penyediaan moda trasportasi massal yang aman dan nyaman, para pengguna jalan diharapkan akan beralih dari kendaraan pribadi (yang menjadi penyebab utama kemacetan) ke transportasi massal. Saya kira harapan ini pada waktunya akan terwujud jika program penambahan ruas jalan dan penambahan moda angkutan massal seperti mass rapid transit (MRT) atau sistem angkutan terpadu yang cepat di Jakarta sudah selesai dibangun.

Ketiga, penataan lingkungan. Selain kemacetan, masalah utama lainnya yang dihadapi Jakarta adalah banjir. Di antara penyebab utama banjir, selain karena curah hujan yang tinggi, adalah pola hidup masyarakat Jakarta yang belum tertib. Membuang sampah sembarangan, dan membangun pemukiman bukan pada lokasi yang tepat, adalah dua tradisi yang berkontribusi paling besar yang menyebabkan banjir.

Tingginya debit air—baik karena curah hujan atau karena kiriman dari Bogor—akan cepat surut dan tidak menyebabkan banjir jika sistem drainase sudah tertata dengan baik, got-got dan saluran air tidak tersumbat sampah, dan sungai-sungai tidak menyempit karena pemukiman yang memenuhi bantaran serta dijadikan tempat pembuangan sampah.

Selain penataan drainase, penertiban bantaran sungai dan menambah kedalamannya, yang tidak kalah penting adalah penataan pemukiman warga melalui program relokasi dari tempat-tempat yang tidak sepatutnya dan menjadi langganan banjir ke tempat-tempat yang lebih nyaman seperti di rumah susun atau yang sejenisnya, yang dikelola secara profesional sehingga menjadi tempat yang nyaman namun tidak menjadi beban yang berat bagi para penghuninya.

Selain ketiga program utama tadi, tentu langkah-langkah lain yang sudah berjalan harus terus-menerus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya seperti program-program kartu Jakarta sehat dan Jakarta pintar (untuk pelayanan pendidikan dan kesehatan gratis bagi warga yang tidak mampu), dan lain-lain.

Impian Basuki adalah impian kita semua. Untuk merealisasikan impian itu merupakan kewajiban, bukan hanya bagi Basuki berikut jajaran Pemerintahan DKI Jakarta, tapi juga bagi kita semua, terutama warga Jakarta.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Membereskan Pembukuan Tanpa Menguras Kantong

Pernahkah Anda mengalami sulitnya membereskan pembukuan dengan cepat dan mendapatkan laporan keuangan berhari-hari? Seringkali pebisnis hanya fokus cara meningkatkan omset bisnisnya saja, namun tidak menyadari cara...

Mengenal Sosok Tjokroaminoto

Tjokroaminoto merupakan orang yang pertama kali meneriakkan Indonesia merdeka, hal ini membuatnya sosok yang ditakuti oleh pemerintah Hindia-Belanda. De Ongekroonde Van Java atau Raja...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.