Sabtu, Februari 27, 2021

Idul Adha dan Kepanitiaan Lintas Iman

Menunggu Langkah Baru Jokowi untuk Papua

Risiko politik dari berbagai permasalahan yang mencuat di Papua ada pada pemerintah pusat (Presiden Joko Widodo), bukan pada unsur-unsur pemerintah daerah. Oleh karena itu,...

Jokowi dan Tantangan SDGs

  Dua petugas berusaha memadamkan api yang membakar hutan dan lahan di Sumatera tahun lalu (ilustrasi). ANTARA FOTO 2 Agustus 2015 adalah hari yang bersejarah. Pemberlakuan...

Menyambut Halloween: Agama Versus Kepercayaan di Indonesia

Sejak pekan lalu, saya dan teman-teman sibuk menyiapkan sebuah pesta Halloween. Ketika saya kabari pacar saya yang berasal dari Eropa Barat bahwa saya sedang...

Tahun Baru, Filosofi Waktu, dan Kita yang Rugi

Sejatinya, waktu bukan tentang detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Waktu bukan kalender. Kalender itu imanen, dibuat manusia. Adapun waktu itu transenden,...
Avatar
Fathorrahman Ghufron
Wakil Katib Syuriyah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.

Ilustrasi tokoh agama saling bergandengan tangan. [ANTARA FOTO]
Hari Raya Idul Adha/Idul Qurban kerapkali menyisakan pertanyaan mendasar perihal siapa yang menjadi sosok yang paling absah dikurbankan. Apakah Nabi Ismail sebagaimana yang diakui oleh umat Islam atau Nabi Ishaq yang diakui oleh umat Nasrani?

Pertanyaan ini selalu berulang diperdebatkan dikarenakan posisinya sangat penting untuk diakui sebagai sumber keteladanan pengorbanan. Setidaknya ketika seseorang hendak berkurban melalui hewan yang akan diserahkan ke masjid atau lembaga keagamaan, maka yang terngiang dalam imajinasinya adalah ingin meneladani spirit pengorbanan yang ditunjukkan pendahulunya.

Tulisan Mun’im A Sirry berjudul Politik Arab dalam Kisah Pengorbanan Ismail (GeoTimes, Jumat 9 September) memberikan pencerahan berbeda dengan mempertegas bahwa justru Nabi Ishaq-lah yang perlu dipersonifikasi sebagai rujukan pengorbanan. Kalaupun Nabi Ismail diakui sebagai sosok yang dikorbankan sebagaimana diyakini umat Islam, itu tak lebih dari tindakan politis bangsa Arab ketika itu.

Dalam kaitan ini, dua model pengakuan perihal siapa yang paling absah diyakini sebagai sosok yang dikorbankan, biarkan itu menjadi sebuah perdebatan yang merentang dengan masing-masing argumentasi teologisnya. Tulisan ini mencoba mendudukkan tindakan apresiatif masyarakat dalam perayaan Idul Qurban yang seharusnya tidak terbelah dalam penelusuran bibliogical subjective maupun bibliogical objective untuk menegaskan apakah Nabi Ismail maupun Nabi Ishaq yang paling absah sebagai rujukan pengorbanannya.

Akan tetapi, meminjam pandangan Richard C Martin dalam Approaches to Islam in Religious Studies yang menekankan spirit intersubjektif dalam mendudukkan pandangan keberagamaan maupun keberyakinan kita terhadap sebuah doktrin, menyikapi episteme “pengorbanan” dalam kegiatan penyembelihan hewan kurban perlu melibatkan kedua belah pihak, yaitu umat Islam dan umat Nasrani.

Secara sosiologis, spirit intersubjektif ini memberikan kesempatan kepada kedua umat beragama untuk mengimajinasikan momentum penyembelihan hewan kurban kepada sosok yang diabsahkan dalam kesadaran transendentalnya. Kedua umat beragama saling memanjatkan doa sesuai yang diyakini dan diluapkan dalam emosional kelompok yang setara untuk mencapai pada titik sublimasi yang imbang.

Lintas Iman
Dalam hal ini, spirit intersubjektif yang melibatkan dua sumbu keyakinan teologis ini saya terapkan ketika saya dipercaya sebagai koordinator pelaksanaan penyembelihan hewan kurban oleh takmir masjid di lingkungan kediaman saya. Langkah awal yang saya lakukan adalah membuat komposisi kepanitiaan yang tidak hanya dimonopoli oleh umat Islam. Meskipun perkara salatnya menjadi hak teologis umat Islam, ada kewajiban sosial yang perlu melibatkan dua umat beragama dalam rangkaian prosesi penyembelihan dan lain sebagainya.

Dalam kepanitiaan lintas iman ini, beberapa orang umat Islam dan semua warga ummat Nasrani yang ada di lingkungan kami berbaur dalam deskripsi tugas yang dirancang bersama. Beberapa kali rapat yang dilaksanakan untuk mempersiapkan kegiatan penyembelihan hewan kurban, nyaris tak luput dari perhatian kedua belah untuk menyinergikan bentuk partisipasinya. Secara teknis, antara umat Islam dan umat Kristen saling memberikan gagasan demi suksesnya penyelenggarakan kegiatan ini.

Bahkan dalam proses penyembelihan hewan kurban, panitia mempercayakan kepada dua belah umat beragama dengan iringan doa yang diyakini oleh masing-masing pihak. Hal ini perlu dilakukan, lagi-lagi agar keduanya bisa merajut imajinasi historisnya bahwa setiap hewan yang disembelih dapat membayangkan sosok teladan profetik yang tercermin pada Nabi Ismail maupun Nabi Ishaq. Dalam pembagian daging kurban pun, semua warga yang ada di lingkungan kami, baik yang Muslim maupun Nasrani, memperoleh bagian yang sama.

Dari pengalaman kepanitiaan lintas iman yang semuanya berada pada wilayah teknis, kami pun membayangkan seandainya pada wilayah substantif ada penyetoran hewan kurban yang juga dilakukan oleh umat Nasrani, mungkin spirit intersubjektif ini akan lebih menarik.

Untuk menghimpun dana hewan kurban pada momen Idul Adha yang melibatkan warga Nasrani tentu membutuhkan terobosan ijtihad yang progresif. Ini perlu dilakukan, lagi-lagi bukan pada persoalan apakah ada rujukan doktrin yang bisa mengabsahkan partisipasi dana umat Nasrani yang berbaur dengan dana umat Islam guna membeli hewan qurban, tapi terobosan ini perlu dipikirkan untuk menyematkan spirit intersubjektif dalam kesadaran transendental umat Islam dan umat nasrani untuk meneladani dua sosok yang diyakini sebagai sumber pengorbanannya.

Bila umat Islam yang mayoritas meyakini sumber rujukan Idul Adha kepada sosok Nabi Ismail dan dimanifestasikan pada penyediaan hewan kurban sebagai medium imajinasi keteladanannya, maka umat Nasrani pun bisa melakukan hal yang sama untuk menghimpun dana hewan kurban agar bisa mempersonifikasi Nabi Ishaq sebagai sumber keteladanan pengorbanan. Apalagi kedua partisipasi ini dipadukan dalam perayaan yang sama untuk menuju pada peringatan yang sama pula.

Namun, untuk mewujudkan wilayah substantif ini tentu membutuhkan proses pemahaman dan kesadaran beragama secara inklusif-pluralistik yang panjang. Sebab, di tengah dominasi pemahaman keagamaan yang seringkali berhenti pada rujukan masa lalu, sangat besar tantangan yang harus dihadapi untuk megubah pola ta’abbudi yang baru yang termanifestasi pada pola partisipasi pembelian hewan kurban yang melibatkan dua belah pihak.

Yang terpenting, dari wilayah teknis ini, pengalaman panitia bisa menjadi role model bagaimana menumbuhkan spirit intersubjektif dalam kesadaran transedental perayaan Idul Adha yang terkait prosesi penyembelihan hewan kurban dalam dimensi lintas iman. Skema kerja kepanitiaan lintas iman ini bisa menjadi modal toleransi untuk menyemai kedamaian dalam memanifestasikan semangat keberagamaan.

Avatar
Fathorrahman Ghufron
Wakil Katib Syuriyah PWNU dan Pengurus LPPM Universitas NU (UNU) Yogyakarta. Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.