in

Papa Setnov, Jack Sparrow, dan Patah Hati KPK


Peserta aksi yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi membawa poster bergambar Ketua DPR Setya Novanto saat aksi di depan Gedung KPK, Jakarta, Kamis (14/9). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.

Masih terkaget-kaget dengan bebasnya Papa Setya Novanto? Tidak perlulah! Tidak perlu juga termehek-mehek melihat si Papa tersenyum lebar menikmati kebebasannya. Setelah berhari-hari bermain “drama” di rumah sakit, hingga para netizen turut meramaikan meme kocak soal Papa ini, akhirnya ia tersenyum juga. Kecut! Barangkali bagi kita demikian. Tapi bagi si Papa, senyumnya mengisyaratkan bahwa betapa saktinya ia, bahkan mungkin melebihi superhero si manusia baja, superman.

Ya, itulah politik. Anomalinya seperti cuaca, susah diprediksi. Machiavelli, konon yang dipandang sebagai peletak dasar politik modern, sudah mengeluarkan maklumat. Bahwa politik itu mengandung unsur fortuna. Yakni sesuatu yang tak terduga dan tak berpola. Fortuna tidak bisa dikalkulasikan secara strategis sehingga oleh Machiavelli disejajarkan dengan banjir yang tidak bisa diduga; bisa membawa penghidupan atau kehancuran. Dengan bahasa lain, fortuna dapat disebut sebuah kemungkinan (possibility); bahwa di dalam fortuna terdapat kebebasan, ketakterdugaan, dan ketakterkalkulasikan.

Fortuna itulah yang menaungi Papa Setnov. Kemarin kita boleh saja optimistis Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memenangkan praperadilan dengan sejumlah alat bukti yang disiapkan. Tapi fakta berbicara lain, rupanya si Papa yang menang. Ajaib, bukan? Si Papa ini lolos dari jurus-jurus KPK. Entah ajian apa yang disiapkan jauh-jauh hari selama bertapa di rumah sakit.

Papa Setnov ini memang luar biasa. Ia begitu licin dan pandai berkilah. Bahkan bisa jadi lebih licin dari Kapten Jack Sparrow dalam serial Pirates of the Caribbean. Siapa sih musuh Kapten Jack yang tidak geleng-geleng kepala? Setiap perangkap yang disiapkan untuk Jack selalu kandas. Lord Cutler Beckett beberapa kali sudah menangkap Jack, bahkan menyiapkan hukum pancung. Tapi bajak laut dekil ini masih lolos juga.

Baca Juga :   Niat Jahat dan Testimoni Haris Azhar tentang Freddy Budiman

Davy Jones, Blackbeard, pun tidak mampu menangkap Jack, malah mereka yang mati. Bahkan ketika Salazar, si mayat hidup yang kena kutukan, hendak menumpahkan balas dendamnya, ia malah tenggelam ke dasar laut bersama Hector Barbossa.

Epik yang hebat, bukan? Sama hebatnya dengan Papa Setnov. Sekelas KPK saja, yang jelas-jelas kredibel dalam menangani perkara korupsi, bisa dikalahkan dalam persidangan. Kalau bukan Setnov, saya kira sudah tersungkur lemas “ditendang” KPK. Setnov ini memang sakti. Jangan heran kalau netizen saja sampai terbengong-bengong. Akun twitter @haffidfan sampai bilang, “Setya Novanto kalo kejedot tembok, temboknya yang benjol”.


Tidak hanya sampai disitu saja kesaktiannya, bahkan kalau Setya Novanto ikut uji nyali yang kesurupan setannya. Begitu kata @aldo_tobing.

Belum lagi soal jurus dan taktik Setnov yang sama akrobatiknya dengan lompatan Kapten Jack Sparrow. Masih ingat, dalam serial Pirates of the Caribbean: On Stranger Tides, Jack bersama Barbossa tertangkap oleh pasukan Kerajaan Spanyol yang sama-sama mencari mata air awet muda. Mereka berdua kemudian diikatkan di pohon kelapa.

Rupanya sang Kapten Jack tidak kehilangan akal. Ia dengan cerdik memanjat pohon kelapa dengan kekuatan kakinya sampai pucuk, lalu melepas tali yang melilit tubuh. Tali itu digunakan Jack untuk bergelantungan dan meloncat antar pohon hingga ia bisa lolos.

Setali tiga uang dengan Setnov. Sehari menjelang pemeriksaan perdana sebagai tersangka e-KTP, Setnov berbaring di rumah sakit. Dia disebut menderita sejumlah penyakit, seperti jantung, vertigo, dan juga diabetes, hingga membuat masyarakat bertanya-tanya. Drama yang dahsyat, bukan?

Baca Juga :   Ihwal Pribumi

Dalam kondisi sakit, jelas merupakan alasan yang tepat untuk mangkir. Di sinilah Setnov sepertinya menyusun taktik untuk melawan KPK, sebagaimana Kapten Jack merencanakan strategi untuk lolos dari musuh-musuhnya. Ada waktu untuk berpikir, menganalisis situasi, hingga akhirnya pintu masuk kemenangan bisa didapatkan.

Patah Hati KPK

Hari bahagia pun tiba bagi Setnov, ketika ia bisa lolos. Lain halnya dengan KPK dan bagi masyarakat anti-korupsi, barangkali menjadi hari patah hati. Sama seperti galaunya para jomblo dan fans Raisa yang patah hati karena ditinggal menikah. Apalagi KPK sudah empat kali ditelikung oleh kekalahan.

Sebelum Setnov yang kasusnya baru-baru ini terjadi, Komisaris Jenderal Budi Gunawan sudah lebih dulu menang. BG ditetapkan sebagai tersangka terkait rekening gendut atau tidak wajar, sehari setelah dirinya diumumkan sebagai calon Kapolri. Namun, dalam putusan praperadilan pada Februari 2015, Hakim Sarpin Rizaldi menganggap penetapan tersangka Budi tidak sah secara hukum.

Sebelumnya juga muncul mantan Wali Kota Makassar, Ilham Arief Sirajuddin. Ia tersangka dalam kasus dugaan korupsi kerja sama rehabilitasi kelola dan transfer untuk instalasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Makassar tahun anggaran 2006-2012 pada 7 Mei 2014. Dalam praperadilan, hakim tunggal Yuningtyas Upiek mengabulkan gugatannya dengan salah satu pertimbangan bahwa KPK tidak menunjukkan bukti dokumen asli atau hanya salinannya dalam sidang tersebut.

Baca Juga :   Memahami Substansi Delik Penodaan Agama

Nama Hadi Poernomo, mantan Direktur Jenderal, juga pernah muncul. Hakim tunggal Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Haswandi mengabulkan sebagian permohonan praperadilan yang diajukan terhadap KPK pada Mei 2015. Hadi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyelahgunaan wewenang dalam jabatannya. Hakim menganggap proses penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan KPK tidak sah dan tidak berdasar hukum. Alasannya sederhana, karena dilakukan oleh penyelidik dan penyidik independen.

Menyayat hati, bukan? Sudah empat kali KPK terluka hatinya. Apakah akan patah hati? Saya kira tidak perlu! KPK masih mendapat tempat di hati masyarakat. Artinya, dukungan terhadap KPK masih massif. Meski KPK juga sedang diserang dengan adanya Pansus KPK yang sepertinya sedang menemukan angin segar dengan lolosnya Setnov, tapi kita harus selalu optimistis bahwa KPK akan kokoh berdiri. Bukankah perjuangan kadang harus dilalui dengan berdarah-darah? Maka, dukungan terhadap KPK harus terus digelorakan.

Kita terus berharap dan memberi dukungan moril agar pejabat KPK dikuatkan hatinya melawan para maling negara. Dan semoga spirit anti-korupsi terus terwarisi hingga anak cucu nanti.

Konten terkait:

Tiga Kolom “Maut”; Setelah Setya Novanto Tersangka

E-KTP dan “Arisan Korups” Wakil Rakyat

Kebiadaban Korupsi KTP Elektronik

Menegakkan Hukum Progresif Korupsi E-KTP


Written by Fatkhul Anas

Peneliti pada Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Analis Studi Politik di Lembaga Pengkajian Teknologi dan Informasi (LPTI) Pelataran Mataram.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR