Sabtu, Oktober 31, 2020

Munir dan Tangan-tangan Kotor Kekuasaan

Niat Jahat dan Testimoni Haris Azhar tentang Freddy Budiman

Dalam beberapa hari terakhir, berita tentang eksekusi pidana mati Freddy Budiman cs, menghiasi laporan utama berbagai media cetak dan elektronik. Setelah itu, berita yang...

Surat Al-Maidah Itu Ayat-Ayat Polemik

Surat al-Maidah menjadi begitu populer dalam beberapa hari terakhir. Selain dikutip karena mengandung ayat yang sering dipahami sebagai larangan memilih pemimpin non-Muslim, surat al-Maidah...

Kita Masih Indonesia (Bagian 1)

Aksi 212 Yang Akan Dikenang Sejarah Banyak orang, termasuk saya, kecele dengan gerakan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dalam Aksi Bela Islam III atau dikenal...

Dua Wajah Agama

Agama adalah sebuah kata yang tak bisa lepas jika kita membicarakan sejarah dunia. Hampir bisa dikatakan agama akan selalu hadir dalam jejak rekam kehidupan...
Avatar
Amiruddin al-Alrahab
Pemerhati masalah sejarah politik. Saat ini aktif di INRISE dan Papua Resource Center - YLBHI.

Sosok Munir sontak hidup kembali dalam ingatan banyak orang, ketika penguasa mengingkari keberadaannya. Semakin diingkari, sosok Munir kian besar.

Perhatian kepada peristiwa pembunuhan terhadap Munir kembali buncah ketika pihak Istana menyanggah memiliki dokumen laporan hasil kerja Tim Pencari Fakta (TPF) tahun 2005. Sanggahan pihak Istana itu memancing reaksi banyak pihak. Bahkan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut bereaksi dengan nada yang agak keras, karena merasa dipojokkan.

Tulisan ini tidak hendak mengulas terjadi kontroversi “hilangnya” dokumen maha penting TPF itu, melainkan memberikan pemaknaan atas sosok Munir dan relasinya dengan kekuasaan kini.

Bayangkanlah Munir yang berpostur kecil telah berdiri menjulang begitu tinggi dalam menantang kekuasaan, mulai dari penguasa Soeharto, Habibie, Megawati. Di era Megawati, Munir terbunuh, 7 September 2004 tepatnya. Pengganti Mega, SBY belum mampu membongkar tindakan kejahatan keji yang merenggut hidup Munir. Sementara Presiden Joko Widodo, setelah dua tahun berkuasa, masih diam. Singkatnya, hidup ataupun mati, Munir tetap berurusan dengan pemguasa, yaitu Presiden.

Istri mendiang aktivis HAM Munir, Suciwati, memperlihatkan kartu pos yang berisi tuntutan saat kegiatan diskusi publik di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (28/10). Kegiatan yang dihadiri para aktivis, mahasiswa, serta masyarakat umum tersebut bertujuan untuk menggalang dukungan guna menuntut Presiden Joko Widodo untuk mempublikasikan dokumen hasil penyidikan Tim Pencari Fakta (TPF) atas kasus kematian Munir, 12 tahun silam. ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/kye/16.
Istri mendiang aktivis HAM Munir, Suciwati, memperlihatkan kartu pos yang berisi tuntutan saat kegiatan diskusi publik di Manado, Sulawesi Utara, Jumat (28/10). Kegiatan yang dihadiri para aktivis, mahasiswa, serta masyarakat umum tersebut bertujuan untuk menggalang dukungan guna menuntut Presiden Joko Widodo untuk mempublikasikan dokumen hasil penyidikan Tim Pencari Fakta (TPF) atas kasus kematian Munir, 12 tahun silam. ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/kye/16.

Mengapa Munir begitu besar? Karena ia adalah suara nyaring dari sosok-sosok yang mulutnya dibungkam oleh para penguasa. Dalam diri, laku, dan pemikiran Munir, sosok-sosok jelata yang dikorbankan oleh penguasa menjelma menjadi sosok yang kuat dan berani. Adalah norma-norma hak asasi manusia dan keberpihakan hukum kepada mereka yang lemahlah yang menjadi senjata Munir menghadapi tentakel kekuasaan di berbagai lini.

Implikasinya adalah Munir menjadi tempat bersandar bagi mereka yang dikalahkan. Tempat berharap bagi mereka yang kehilangan harapan. Singkatnya, bagi mereka yang menjadi korban kaki-tangan kekuasaan, dari Aceh sampai Papua, Munir adalah utusan diri mereka.

Dalam posisi seperti itu, meminjam istilah Daniel Dhakidae (2015) Munir adalah sosok powerfulness of the powerless, yaitu sosok yang tidak memiliki kekuasan formal namun mampu menggetarkan pusat-pusat kekuasaan karena membawa suara mereka yang terkalahkan.

Di sisi lain, Munir menjadi musuh bagi mereka yang berkuasa dan para begundalnya. Oleh sebab itu, hampir semua penguasa tak hendak bersentuhan dengan Munir, bahkan kerap berupaya untuk meniadakannya. Tak sedikit ancaman dialamatkan ke Munir, meski penguasa datang silih berganti.

SBY dengan 10 tahun berkuasa tak mampu menyingkap misteri peristiwa dan dalang pembunuhan itu. Sementara Jokowi seperti enggan untuk menyentuhnya dengan alasan dokumennya hilang. Ironis!

Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan menggelar aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (20/10). Dalam aksi ke-464 itu mereka meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk mengusut tuntas kasus meninggalnya Munir dengan menindaklanjuti temuan TPF serta menugasi Jaksa Agung untuk menindaklanjuti berkas penyelidikan Komnas HAM atas kasus Trisakti, Semanggi I-II, kerusuhan Mei 1998, Tanjung Priok dll. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pd/16
Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan menggelar aksi Kamisan di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (20/10). Dalam aksi ke-464 itu mereka meminta kepada Presiden Joko Widodo untuk mengusut tuntas kasus meninggalnya Munir dengan menindaklanjuti temuan TPF serta menugasi Jaksa Agung untuk menindaklanjuti berkas penyelidikan Komnas HAM atas kasus Trisakti, Semanggi I-II, kerusuhan Mei 1998, Tanjung Priok dll. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/pd/16

Sesungguhnya keengganan untuk menyingkap misteri pembunuhan Munir adalah keengganan untuk mengakui tangan-tangan kotor kekuasaan memang benar adanya. Selain itu juga keenganan untuk membenarkan dan menerima nilai-nilai dan norma HAM yang diperjuangkan Munir menjadi bagian sah dari nilai dan norma kita bernegara.

Tentang tangan-tangan kotor pelaku kejahatan yang berkelindan dengan kekuasaan itu, mungkin bisa Anda imajainasikan dengan membaca karya Fyodor Dostoyevsky, Kejahatan dan Hukuman (Crime and Punishment). Karya klasik penulis Rusia ini menyajikan satu drama yang lirih tentang seorang pembunuh. Sosok protagonis ceritanya berimajinasi tentang tokoh agung yang boleh melakukan kejahatan demi cita-cita agungnya. “Membunuh demi menyelamatkan bangsa” kira-kira begitulah kredonya untuk cuci tangan.

Namun, yang lebih menarik, bukan tentang teori agung itu, melainkan cara Dostoyevsky mempermainkan dramanya dengan menyuguhkan di awal cerita secara lagsung sang pembunuh, dan kemudian pembaca dihisap ke dalam sosok itu untuk mencermati ia berkelit dan berdalih. Bahkan pembaca bisa terdorong bersimpati. Permainan rasa terjadi di situ.

Dalam peristiwa pembunuhan Munir, saya melihat drama Dostoyevsky itu dimainkan oleh para pelakonnya. Orang banyak bisa menduga tangan kotor siapa yang berperan, akan tetapi tidak ada yang sampai mampu memborgol tangan itu. Hilangnya dokumen laporan TPF yang menjadi petunjuk awal peristiwa terbununya Munir bisa dilihat dalam kerangka drama itu.

Nah, dari kontroversi yang kini terjadi, tentu pemilik tangan-tangan kotor itu masih bisa tertawa karena mereka bisa mentertawai situasi. Pertanyaannya, sampai kapan permainan seperti ini dibiarkan, Tuan Presiden?

Avatar
Amiruddin al-Alrahab
Pemerhati masalah sejarah politik. Saat ini aktif di INRISE dan Papua Resource Center - YLBHI.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.