in

Jangan Takut Melawan Koruptor


Mahasiswa yang tergabung dalam Garda Tipikor Unhas melakukan aksi unjuk rasa di depan kampus Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (18/7). ANTARA FOTO/Sahrul Manda Tikupadang

Selepas Setya Novanto ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Toba Writers Forum (TWF) mengadakan diskusi terbuka di Lapangan Merdeka, Medan (20 Juli). Pada diskusi terbuka itu, saya mengatakan bahwa korupsi sudah menggurita. Korupsi sudah ada di sekitar kita.

Maka, saya mengusulkan supaya kita jangan terlalu jauh meributkan para koruptor kakap. Perhatikanlah sekitar kita. Niscaya, jika setiap orang peduli dan awas pada sekitarnya, pelan-pelan korupsi kakap bisa diberantas (Analisa, 21/07/2017).

Namun, betapa terkejutnya saya usai diskusi terbuka, beberapa orang yang kami ajak berfoto menolak dengan berbagai alasan. Padahal, kami hanya menyuruh mereka memegang masing-masing satu kertas agar membentuk kalimat #save KPK. Alasan dominan mereka adalah takut akan terjadi apa-apa kelak hanya karena foto itu.

Kami tak mau bertanya lebih lanjut tentang apa ketakutan mereka. Yang pasti, kita memang sudah sama-sama tahu bahwa salah satu mata Novel Baswedan saat ini sudah buta, Antasari Azhar dipenjarakana, dan masih banyak lagi.

Ini menjadi bukti bahwa orang kuat saja pun bisa dilumpuhkan, apalagi orang lemah Akan tetapi, kami tak putus harapan. Kami lalu berkeliling di lapangan mencari anak-anak untuk bisa diajak berfoto. Dengan mudah, kami bisa mengumpulkan banyak anak-anak. Bahkan, ada orangtua yang menyodorkan agar anaknya juga ikut berfoto. Tetapi, ketika orangtua itu diajak agar ikut mendampingi anaknya berfoto, mereka pun sungkan. Mereka hanya mau menjadi penonton anaknya dari kejauhan.

Tanpa Keberanian

Untunglah ketika melihat anak-anak itu berfoto dengan girang, beberapa peserta pun pada akhirnya mau berfoto. Ada yang bahkan lebih dari sekali. Ya, dari pengalaman itu kami mengerti bahwa banyak masyarakat takut mendukung KPK. Masyarakat memang rata-rata benci pada koruptor. Itu sudah pasti.

Baca Juga :   Merevisi UU KPK, Membunuh KPK

Masyarakat juga rata-rata tahu bahwa karena korupsi, banyak anak tak bersekolah, banyak rakyat tak punya KTP, banyak rakyat tak punya akses kesehatan, banyak jalan kupak-kapik, dan sebagainya.

Tetapi, pengetahuan itu tak disertai keberanian untuk memberantas korupsi. Mereka malah takut, bahkan untuk sekadar memberikan dukungan kepada KPK. Saya pikir, budaya ketakutan inilah yang membuat mengapa korupsi masih dan makin menggurita. Ini masuk akal karena korupsi bukan kejahatan biasa.

Korupsi adalah kejahatan luar biasa, karena itu dilakukan oleh orang yang luar biasa pula. Masyarakat boleh jadi berang, bahkan ganas ketika berjumpa dengan maling ayam, meski maling ayam itu sudah memelas dengan sangat getir agar tak dihakimi massa.

Akan tetapi, emosi massa tak bisa diredam oleh sikap memelas. Masyarakat justru menghakiminya ramai-ramai, menghantamnya dengan batu dan pentungan, menelanjanginya lalu mendorongnya ke parit, mengunggahnya ke media soslial secara full (tidak hanya foto, tetapi juga video), lalu tak lupa mereka menuliskan pesan tegas: jangan mencuri kalau tak mau seperti ini.


Namun, pada kasus korupsi, mengapa hal itu tak terjadi? Mengapa emosi massa tak tersulut? Mengapa, seperti yang kami alami, diajak berfoto saja, sudah sungkan dan takut?

Menyaksikan ini, tiba-tiba saya berpikiran kotor bahwa skema ini jugalah yang terjadi pada peradilan kita. Jaksa dan hakim memang bertaring tajam pada nenek pencuri coklat, pada bocah pencuri sandal di masjid, pada ibu-ibu pencuri ayam. Jaksa dan hakim pun bisa berteriak setengah menghardik: hukum tidak pandang bulu, segala kesalahan punya konsekuensi.

Maka, para pencuri itu pun dihukum lima tahun penjara, atau bahkan lebih. Tak akan ada jaksa atau pengacara yang mati-matian mendukung. Tak ada banding. Tak ada heboh-hebohan di media.

Baca Juga :   Gratifikasi dari Rosneft (Rusia) dan Pencitraan Jokowi

Tahu-tahu, dengan senyap, para pencuri itu sudah ditempatkan di penjara kumal. Makan seadanya, tidur di tempat yang tak layak, menjadi budak para sipir, bahkan acapkali menjadi bahan siksaan oleh tawanan lain. Jangan harap koruptor demikian.

Meski menecuri miliaran rupiah, menyengsarakan banyak bocah, atau seperti kata budayawan Indra Tranggono dalam narasi satirisnya, melumat besi, tembaga, emas, minyak, dan sebagainya, toh mereka tidak kunjung dihakimi massa. Padahal, kalau dikonversikan, miliaran rupiah itu sudah lebih dari jutaan ayam.

Tetapi, mengapa rakyat tak menghakiminya? Mengapa kemudian, seperti yang kami alami, rakyat malah takut untuk sekadar memberi dukungan kepada KPK? Mengapa para jaksa, pengacara kondang dan hebat, dan hakim-hakim rela membela mereka mati-matian, tetapi malah diam pada maling ayam? Mengapa ketika ditersangkakan, para koruptor itu tanpa malu melambaikan tangan ke layar kaca, tersenyum tanpa merasa bersalah? Padahal, berapa ayam yang sudah mereka cincang?

Bukankah semestinya koruptor itu memasang wajah memelas agar tak dihakimi, seperti yang dilakukan oleh maling ayam? Mengapa mereka malah tersenyum? Mengapa pula banyak pendukungnya? Mengapa kemudian mereka bahkan bebas dari hukuman? Mengapa?

Baiklah. Beberapa dari mereka memang kemudian dipenjarakan. Tetapi, mengapa penjara mereka berbeda dengan maling ayam, maling sandal, maling buah coklat itu? Apakah semakin besar yang dicuri, maka predikat pencuri semakin terhormat, karena itu, harus duduk di tempat yang sangat terhormat pula?

Masihkah Kita Takut?

Saksikanlah, bukankah penjara para koruptor ibarat homestay? Homestay itu bahkan sangat lengkap, sesuai selera, bisa didesain sendiri. Di sana ada pula fasilitas pendidikan. Jadi, jika mereka masuk penjara itu dulunya masih bergelar sarjana, selekas keluar, tiba-tiba sudah bergelar master. Alih-alih dipenjarakan, koruptor sebenarnya sedang mendapatkan beasiswa dengan fasilitas asrama yang gratis. Sungguh beda dengan maling-maling kecil, seperti maling ayam itu.

Baca Juga :   Ada Apa dengan Komnas HAM dan FPI?

Syukur-syukur maling ayam masih bisa selamat dari perbudakan penjara. Bagaimana kalau mereka dulunya sehat bugar, sepulang dari penjara menjadi penyakitan, bahkan mati? Ini menjadi tragedi yang menyedihkan. Betapa tidak, banyak dari maling ayam ini adalah tulang punggung keluarga. Maka, setelah maling ayam itu dipenjarakan, keluarganya menjadi tak berpenghidupan.

Lalu, setelah tulang punggung itu keluar dari penjara, jangankan bekerja, mereka seringkali menjadi beban keluarga. Sekali lagi, ini sangat menyedihkan. Pertanyaannya lagi-lagi: mengapa hal serupa tak terjadi pada koruptor?

Mengapa para cendekiawan kita ramai-ramai mendukung koruptor? Apakah cendekiawan adalah koruptor? Mereka orang terdidik, kata Denny Indrayana, suatu kali. Karena itu, hak dan martabat mereka harus dijaga, lanjut Dedi Handoko. Berbekal dukungan dari para cendkiawan itulah, tahanan koruptor bisa bermewah-mewah. Berbekal surat sakit, mereka bisa pelesiran. Seperti kata Putu Setia, tahanan seperti ini bukan lagi warga binaan, tetapi merekalah yang membina para sipir.

Bagaimana kita menghikmati ini? Satu hal yang bisa kita pastikan, koruptor akan selamanya ditakuti karena mereka adalah orang-orang hebat dan cerdik. Itu sudah dicemaskan Jean Jacques Rouseeau dulunya: bahwa semakin banyak orang pandai, semakin sulit pula mencari orang jujur. Namun, apakah kita akan selamanya takut, bahkan sekadar untuk mendukung kebenaran?

Kalau itu terjadi, niscaya korupsi akan semakin marak. Sebab, korupsi adalah salah satu buah dari ketakutan untuk melawan keculasan! Jadi, masihkah kita takut?

Baca juga:

Setelah Setya Novanto Jadi Tersangka

E-KTP dan “Arisan Korupsi&” Wakil Rakyat

Kebiadaban Korupsi KTP Elektronik


Written by Riduan Situmorang

Riduan Situmorang

Pendidik di Medan, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR