Sabtu, Oktober 31, 2020

Panjang Umur Kaum Tani!

Pelajaran untuk Basuki

Ada sejumlah pelajaran penting dari penyelenggaraan Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) yang dilakukan serentak pada 9 Desember 2015 lalu. Di Banten, para dinasti tetap eksis,...

Giring, Kaum Muda, dan Pendidikan Politik

Giring Ganesha yang dikenal dengan nama panggung Giring "Nidji" memulai karir politiknya relatif baik tanpa ada kontroversi. Terinspirasi dari kinerja Pak Jokowi pada saat...

Dari Kepa Arrizabalaga untuk Pep Guardiola

Maurizio Sarri hanya berjarak sedepa dengan trofi pertamanya. Lebih tepatnya, berjarak sebentang kedua tangan kiper termahalnya, Kepa Arizzabalaga. Sampai nama terakhir itu menggagalkannya. Di depan...

Ada Apa dengan Kristen dalam Al-Qur’an?

Mungkin ada yang bilang, saya ikutan latah membuat judul kolom mirip film yang sedang digandrungi anak muda sekarang, Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC...
Nurhady Sirimorok
Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.

Sudah seabad lebih mereka diramalkan akan hilang. Para petani kecil yang menggarap lahan sendiri niscaya akan lenyap, kata mereka. Ada dua teori besar yang mengeluarkan nubuat tentang kiamat kaum tani berbasis keluarga (peasant). Kedua ‘teori diferensiasi’ itu berlawanan dalam hampir semua aspek, tetapi sepakat bahwa jenis petani yang mengelola unit-unit usaha tani kecil itu akan punah.

Teori yang pertama menyebutkan bahwa kaum tani akan lenyap karena sistem bertani mereka tak cocok dengan mekanisme pasar. Sebagian besar kaum tani enggan atau tak sanggup mengadopsi teknologi dan institusi pendukung pasar yang baru sehingga dalam jangka panjang akan gagal memperluas usaha tani mereka. Karena itulah produksi mereka akan sulit mencapai skala ekonomi yang dapat bersaing dalam pasar terbuka. Mereka akan gagal mempertahankan harga produksi yang harus tetap murah di tengah kompetisi yang semakin ketat dan ongkos produksi yang kian meningkat.

Teori ini menginginkan setiap petani beralih rupa menjadi pengusaha yang mengikuti logika pasar agar tak terlempar keluar dari lahan. Tapi pada akhirnya, menurut teori ini, sebagian besar dari mereka—yang gagal menjadi entrepreneur—tetap akan meninggalkan lahan. Maka, kaum tani pasti akan lenyap karena logika pasar menginginkannya.

Sementara teori lainnya menyebut bahwa kaum tani akan hilang karena sebagian kecil dari mereka akan menjadi sukses dan berkembang menjadi petani kapitalis yang menguasai lahan besar, sementara sebagian besar akan bangkrut menjadi buruh tani, atau sama sekali terlempar keluar dari sektor pertanian. Akumulasi kepemilikan tanah menjadi faktor penentu di sini.

Akumulasi tanah ‘dari atas’ umumnya berlangsung lewat pencaplokan tanah besar-besaran oleh para kapitalis kakap. Sementara akumulasi ‘dari bawah’ akan terjadi ketika petani yang lebih sukses pelan-pelan membeli tanah dari petani-petani yang akhirnya bangkrut. Para kapitalis inilah yang akan mengambil untung dari proses proletarisasi kaum tani. Ujung-ujungnya, sebagaimana teori sebelumnya, kaum tani dengan lahan nisbi kecil juga akan punah—yang ada hanya tuan tanah dan buruh tani.

Tapi seabad sudah lewat dan kaum tani masih hadir di tengah kita. Bahkan secara global dunia sedang menyaksikan pembesaran jumlah kaum tani, pembentukan ulang kaum tani (repeasantisasi). Di Tiongkok, Vietnam, dan negara Asia Tenggara lain, tampak pembalikan besar-besaran dengan munculnya 250-an juta unit usaha tani kecil.

Di Brasil, sejak 1970an, terjadi arus balik besar-besaran dari kantong-kantong kawasan kumuh perkotaan menuju perdesaan untuk membuka unit-unit usaha tani baru. Sampai tahun 2006 saja, lahan-lahan usaha tani yang mereka bangun sudah mencapai 32 juta hektare. Angka ini “lebih luas dari gabungan luas negara Swiss, Portugal, Belgia, Denmark, dan Belanda.” Begitu tulis van der Ploeg.

Bersamaan dengan itu gerakan-gerakan kaum tani semakin kuat dan semakin terhubung satu sama lain. La Via Campesina bisa kita rujuk sebagai salah satu gerakan kaum tani yang punya daya jangkau mengglobal. Dari sana kaum tani saling belajar dari pengalaman di negara masing-masing. Dari gerakan-gerakan seperti La Via Campesina, kaum tani juga saling mendukung gerakan lokal di daerah masing-masing, setidaknya di antara kelompok-kelompok kaum tani yang menjadi anggotanya. Selain membawa isu-isu kaum tani ke forum-forum global yang selama ini mengabaikan mereka.

Banyak penelitian pun sudah membuktikan bahwa unit-unit usaha kaum tani bisa lebih produktif dan efisien dibandingkan usaha tani skala besar. Mereka pun lebih bisa diharapkan menjaga kesehatan alam yang tengah didera pemanasan global lewat praktik pertanian polikultur dan wanatani (agroforestry), selain menyediakan makanan yang lebih sehat (lewat praktik pertanian organik) dengan kandungan gizi yang nisbi lebih lengkap.

Kaum tani pun bisa diharapkan untuk menjaga asa mewujudkan kedaulatan atas pangan. Keberadaan mereka, terutama bila kualitas kehidupan dan penghidupan mereka dapat diperbaiki, bisa memastikan tersedianya produksi pelbagai bahan pangan dari dalam negeri.

Sepertinya tak ada tanda-tanda bahwa kaum tani akan segera punah setelah seabad lebih mereka diramalkan akan lenyap. Bahkan, di tengah gencetan arus kapitalisme dan kebijakan negara yang seringkali tak memihak, secara ‘ajaib’ mereka malah bisa membesar. Dan sampai hari ini mereka masih menjadi penyumbang terbesar bahan makanan yang kita santap setiap hari.

Nurhady Sirimorok
Peneliti isu-isu perdesaan; Pegiat di komunitas Ininnawa, Makassar.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.