OUR NETWORK

Hari Santri, Kaum Sarungan, dan Istana

Dinamika Hari Santri 2019 lebih seru dari tahun-tahun sebelumnya. Wajar nahdliyin penasaran sekaligus harap-harap “cemas” siapa menteri agama berikutnya.

Pertanyaan ini pernah saya sampaikan di sejumlah majelis pengajian, tapi jamaah tidak ada yang bisa spontan menjawab. Baiklah, kali ini akan saya tanyakan di sini: mengapa 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri? Mengapa bukan disebut Hari Kiai? Bukankah Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 diserukan oleh kiai? Bahkan, beliau adalah seorang Hadratus Syekh, yakni Kiai Haji Mohammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Silakan Anda tulis jawaban atau pendapat di kolom komentar pada bagian bawah artikel ini. Saya sendiri punya argumen: setiap kiai adalah santri. Bahkan, meski sudah menjadi kiai, tetap saja ia santri dan selama-lamanya santri. Tidak setiap santri adalah kiai, atau kelak jadi kiai, tapi setiap kiai adalah santri. Oleh karena itulah, peringatan hari nasional yang ditetapkan dalam Keppres Nomor 22 Tahun 2015 ini dinyatakan sebagai Hari Santri.

Sederet nama masyayikh dapat disebutkan sebagai kiai dari Hasyim Asy’ari. Mulai Kiai Utsman yang merupakan kakeknya sendiri, Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Syekh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, dan Syekh Nawawi al-Bantani, hingga Kiai Sholeh Darat, serta nama-nama besar lainnya. Pendek kata, sekali lagi, setiap kiai adalah santri. Ia, sebagaimana kita, sesungguhnya dikenai kewajiban untuk terus-menerus belajar.

Ya, di antara sekian banyak kewajiban yang Allah tetapkan pada manusia, ada satu wajib yang berdurasi seumur hidup, sejak orang itu dilahirkan hingga diwafatkan. Kewajiban tersebut adalah kewajiban belajar. Nah, jika pemerintah menetapkan wajib belajar 12 tahun, mungkin yang dimaksudkan adalah wajib bersekolah. Sebab, belajar tak harus selalu di sekolah. Apalagi sejak penetapan UU No 18 Tahun 2019 tentang Pesantren.

Tapi, apa beda antara mereka yang belajar di sekolah dan pesantren? Pelajar di pesantren disebut santri, walinya disebut wali santri, pengajarnya disebut kiai. Pelajar di sekolah disebut siswa. Pengajarnya disebut guru. Tapi, walinya disebut wali murid. Mengapa bukan wali siswa? Apa beda antara siswa dan murid? Setahu saya, murid itu sebutan untuk pelajar tarekat yang belajar kepada mursyid, dengan ikatan batin berupa ba’iat.

Mungkin, Menteri Pendidikan pada Kabinet Presiden Joko Widodo periode kedua akan tertarik meluruskan salah kaprah ini. Kalaupun tidak, tidak apa-apa sama sekali. Toh, santri, siswa, dan murid sama-sama wajib belajar. Khusus untuk urus-mengurus santri, wacana mengenai pentingnya pembentukan nomenklatur baru bernama Kementerian Pesantren sudah dimunculkan Jokowi sejak 2017 dan menghangat di masa kampanye.

Tapi, hari-hari ini kita sepertinya lupa untuk membahas isu itu. Banyak mata mengarah pada pembicaraan tentang siapa Menteri Agama pasca Lukman Hakim Saifuddin. Tak dinyana, seorang jenderal purnawirawan turut disebut-sebut dalam bursa ini. Ada pula nama-nama santri—ingat, kiai juga adalah santri. Satu di antaranya adalah KH Abdul Ghaffar Rozin, staf khusus presiden bidang keagamaan pada periode pertama.

Gus Rozin bukan satu-satunya nama santri yang muncul. Selain nama Ketua Rabhithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama tersebut, ada juga nama KH Nadirsyah Hosen. Yang beda, nama profesor yang mengajar ilmu hukum di Monash University, Melbourne, Australia, ini menyeruak dari linimasa. Atau, lebih tepatnya dapat dikatakan dia populer di media sosial. Warganet bikin trending topic berharap dialah yang jadi menteri agama.  

Dinamika Hari Santri 2019 memang lebih seru dari tahun-tahun sebelumnya. Wajar saja, nahdliyin penasaran siapa menteri agama berikutnya. Wajar pula jika harap-harap cemas menteri ini berasal dari NU. Jika harapan itu terpenuhi, kegembiraan peringatan Hari Santri akan kian semarak, tentu. Kalangan santri seperti menerima hadiah bertubi-tubi dari Jokowi. Tapi, harus diingat, sebutan santri bukan hanya untuk kalangan nahdliyin.

Tahun depan, dinamika peringatan Hari Santri akan berbeda lagi. Euforia berikutnya ialah Muktamar NU ke-34 yang ditetapkan akan diadakan di Lampung. Saya jadi ingat Pembukaan Muktamar NU ke-33 di Alun-Alun Jombang pada Agustus 2015. Presiden Jokowi datang bersarung, namun sejumlah ulama justru bercelana panjang bersetelan jas. Kini, akankah bertambah lagi ‘kaum sarungan’ bersetelan jas masuk istana?

Akhirul kalam, izinkan saya bertanya: siapa dari kalangan santri yang Anda harapkan menjadi menteri di kabinet Jokowi periode kedua ini? Siapa sebaiknya yang dilantik sebagai Menteri Pendidikan, Menteri Agama, dan Menteri Pesantren? Atau, jangan-jangan Anda ingin juga jadi menteri? “Saya tidak ingin menjadi menteri. Saya ingin punya menteri,” canda Gus Nabil Haroen, Ketua Umum Pengurus Pusat Pagar Nusa.

Bacaan terkait

Ada Apa dengan Kiai-Kiai Muda NU

Dari Cantrik, Shastri, hingga Santri

Hari Santri, Kebangkitan Kedua Politik Santri

Santri, Nasionalisme, dan Jihad Zaman Now

Merayakan Hari Santri dengan Puisi

Candra Malik
Budayawan sufi yang bergiat di bidang kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan spiritualitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…