OUR NETWORK

Hari (Bersenandung) Anak

Revolusi menginginkan anak-anak bergembira, bukan murung atau menanggung sedih tak berujung
Siswa sekolah dasar (SD) melakukan penghormatan kepada pahlawan saat memperingati Hari Pahlawan di Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (10/11). Peringatan hari Pahlawan 10 November itu untuk mengenang jasa pahlawan sekaligus memotivasi pelajar melalui 14 kata bijak/nasehat para pejuang pahlawan nasional kepada generasi anak Indonesia. ANTARA FOTO/Rahmad/pd/16

Pemerintah mengusahakan memberi bukti perhatian ke anak-anak dengan pembuatan Hari Anak Nasional. Setiap tahun, pemerintah mengajak kita mengadakan peringatan dengan pelbagai cara: lomba, konser, kirab, upacara, pemutaran film, atau pemecahan rekor.

Kita mungkin mengalami itu rutinitas tapi sulit mengabarkan kesejarahan anak di Indonesia. Rutinitas sering menjemukan dan surut makna. Pada 2020, sekian pilihan acara itu sengaja absen gara-gara wabah. Anak-anak turut menanggungkan derita tapi pemerintah menginginkan mereka gembira dengan segala keterbatasan kebijakan.

Pembuatan atau pencanangan Hari Anak Nasional memang mengacu ke pembangunan. Di buku berjudul Kumpulan Buklet Hari Sejarah (1994) terbitan Depdikbud, kita mendapatkan informasi Hari Anak Nasional dimulai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak (23 Juli 1979) dan Surat Keputusan Nomor 4 Tahun 1984 berisi penetapan 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional.

Soeharto ingin anak-anak di seantero Indonesia sejahtera. Kini, usaha membuat dan memperingati Hari Anak Nasional dihajar oleh wabah. Anak-anak berhak bergembira tapi pemerintah, sekolah, keluarga, dan pelbagai institusi kerepotan atau kewalahan menjadikan mereka selalu gembira saat puluhan hari berada di rumah. Gembira mungkin masih terasakan bila mereka bersenandung setiap hari.

Kita mundur ke masa lalu. Pada 1948, pemerintah membentuk Panitia Pengumpulan Lagu-Lagu Buat Sekolah Rakjat. Panitia bekerja di naungan Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan. Soekarno ingin revolusi memuat masalah anak. Revolusi itu berat tapi anak-anak diharapkan mengerti ada kemerduan dan kegembiraan jika mereka ingin turut memajukan revolusi.

Tahun demi tahun, panitia bekerja mengumpulkan lagu-lagu. Panitia pun turut menggubah lagu dengan kaidah-kaidah sesuai dari pemerintah. Lagu wajib memuliakan Indonesia, mendidik anak, dan memunculkan gembira dalam meraih segala impian, setelah Indonesia bercerai dari kolonialisme (1945).

Kerja itu dibuktikan dengan penerbitan buku berjudul Marilah Bernjanji (1950) dalam dua jilid. Buku disusun oleh RC Hardjasoebrata, pendidikan dan penggubah lagu. Buku terbit sebelum ada kepentingan rezim Orde Baru mencipta Hari Anak Nasional. Di masa lalu, lagu itu penting merangsang anak-anak mengenali negara-bangsa, mencintai alam, membentuk identitas, mengerti ilmu, dan lain-lain. Lagu-lagu menjadi sumber kegembiraan tapi bergelimang hikmah. Puluhan lagu berhasil dipilih diajarkan di Sekolah Rakjat. Anak-anak bersekolah tak melulu menghadapi buku-buku pelajaran. Mereka berhak bersenandung sambil belajar.

Kita mengutip lirik dalam “Lagu Gembira” gubahan Ibu Sud. Lagu sederhana gampang dilantunkan anak-anak: Bernjanji kita, bernjanji kita/ karena bergirang hati/ Bersiul kita, bersiul kita/ tandanja kita berkumpul/ Bersorak, bertepuk, berarak/ Bersorak, bertepuk, berarak-arak. Gembira itu penting.

Revolusi menginginkan anak-anak bergembira, bukan murung atau menanggung sedih tak berujung. Kita mengartikan gembira dengan membuka Kamus Umum Bahasa Indonesia (1952) susunan Poerwadarminta: “suka-ria, berbesar hati, merasa bangga dan berani.” Kegembiraan berarti “kesukaan hati, perasaan senang.” Gembira milik anak-anak, diharapkan menular ke kaum muda dan kaum tua sedang menunaikan tugas-tugas besar demi Indonesia.

Kita simak pula lagu singkat berjudul “Riang”. Diksi itu memiliki kaitan erat dengan gembira. Anak-anak di Sekolah Rakjat bersenandung bersama agar hari-hari menjadi cerah dan membahagiakan. Simaklah: Djalan berdjalan sambil bernjanji/ Menjatakan riang dihati/ Berkumpul bekerdja/ untuk negeri kita Republik Indonesia. Lagu memang untuk anak tapi memiliki lirik memikirkan Indonesia. Riang demi Indonesia.

Anak-anak mau sekolah dan bekerja sesuai kemampuan sudah dianggap memenuhi seruan-seruan revolusi. Malas, murung, dan bodoh mungkin terlarang dalam pemenuhan janji memajukan Indonesia. Lagu-lagu  ingin membuat anak gembir dan riang, penghindaran dari perintah-perintah melalui ceramah atau pameran slogan di spanduk.

Orang-orang mungkin menuduh lagu-lagu terasa politis. Sejarah lagu bocah di Indonesia memang memiliki latar politis lebih kuat ketimbang industri hiburan. Pada masa 1920-an, Ibu Sud ikut pergerakan politik. Beliau pun menjadi guru. Di sekolah, Ibu Sud “marah” gara-gara pengajaran lagu untuk murid-murid selalu berbahasa Belanda dan memuja negara penjajah.

Peristiwa kaum muda memikirkan Indonesia pada 1926 dan 1928 menjadi dalih Ibu Sud berani menggubah lagu anak-anak dengan lirik berbahasa Indonesia dan tema mengarah ke ide-imajinai Indonesia. Lagu-lagu diajarkan di sekolah dan disiarkan lewat radio. Keberanian itu membuat Ibu Sud ada dalam tatapan mata curiga pemerintah kolonial (Lasmidjah Hardi, Sumbangsih Bagi Pertiwi, 1982). Ibu Sud menjadi pemula dalam keberanian menggubah dan mengajarkan lagu anak-anak dalam latar politik Indonesia masih menjadi tanah jajahan.

Pada 1955, anak-anak mendapatkan lagu buku dua jilid berjudul Ajo Pada Nembang. Buku disusun oleh RC Hardjasoebroto. Lagu-lagu berbahasa Jawa tapi tetap mengandung kegembiraan dan pengajaran. Tembang berjudul “Botjah-Botjah Dolan” mengartikan hak anak-anak bermain dan bergembira.

Indonesia ingin gembira. Anak-anak itu representasi ketulusan dalam memberi makna gembira di Indonesia. Simaklah: Botjah-botjah dolan mrenea/ Padang, padang bulan kaja rina/ Latare djembar, ndjingglang padange/ Kareben bigar akeh rewange/ Ajo pada keplok-keplok/ sorak hore/ Ajo pada keplok-keplok/ sorak hore. Kita mengingat masa revolusi adalah masa slogan dan seruan. Bersenandung bagi bocah-bocah itu agak meredakan keseriusan revolusi Indonesia. Di bawah sinar bulan purnama, bocah-bocah bermain bersama di halaman. Mereka bergembira sambil bertepuk tangan. Teriak “hore” mengajak orang-orang bersemangat dan bersatu di masa 1950-an.

Dulu, dokumentasi dan pengajaran lagu di sekolah-sekolah berpatokan pada kegembiraan meski bakal memuat pesan-pesan berkaitan alam, keluarga, ketuhanan, politik, dan lain-lain. Warisan buku-buku lagu itu seperti tak mendapat lanjutan di masa sekarang di peringatan Hari Anak Nasional. Kita mulai kekurangan lagu-lagu untuk disenandungkan anak-anak. Pada masa Orde Baru, ratusan lagu memang digubah tapi kadang terbebani oleh misi-misi pemerintah berakibat mengurangi kegembiraan. Kini, kita memiliki misi besar membuat anak-anak berhak gembira dengan bersenandung demi Indonesia. Begitu.

Kuncen Bilik Literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.