OUR NETWORK

Gus Yahya Staquf dan Statemen Konyol Petinggi PKS

Kapan mau belajar tidak menyakiti yang berseberangan dengan kita?

Aneh, konyol, dan ironi. Tapi inilah faktanya di Indonesia. Seringkali, orang yang sudah terlanjur secara sosial ditahbiskan sebagai tokoh, masih belum bisa mengontrol pembicaraannya di ruang publik. Termasuk soal Gus Yahya.

Banyak dari tokoh itu mudah mengumbar statemen yang tidak perlu bernada sindiran, cacian dan kata-kata kasar. Tentu saja ada banyak sebabnya. Di antaranya, sekedar ingin cari sensasi, atau karena nggak tahu bagaimana caranya mengatur ritme berbicara dan bersikap: kapan waktunya bercanda, waktunya serius, waktunya menanggapi dengan santai, waktunya menanggapi dengan keras, atau waktunya harus diam.

Jadinya, segala hal dikomentari secara serampangan yang berpotensi memicu perdebatan yang tidak produktif. Kadang ada pula yang ingin melucu, karena tidak bakat justru menyakitkan hati. Atau ada juga yang ingin bertindak tegas, tapi tak bisa membedakan antara yang tegas dan kasar.

Dalam hal ini, tokoh yang bisa kita jadikan sebagai contoh adalah Hidayat Nurwahid, dan Tifatul Sembiring, dua orang petinggi PKS. Seharusnya mereka tak perlu melempar cuitan di Twitter yang mencaci Gus Yahya, atas kunjungannya ke Israel. Orang sekaliber mereka seharusnya menulis sebuah kritik, menawarkan perspektif, yang mampu memicu berlembar-lembar perdebatan yang bermartabat dan bermanfaat bagi umat.

Jika memang mereka tak setuju dengan Gus Yahya, bila perlu, menawarkan analisis gerakan perlawanan alternatif melampaui strategi diplomasi elit, dan adu kekuatan bersenjata yang menjadi dua jalan dalam perjuangan politik yang sudah sejak lama diperdebatkan oleh berbagai faksi politik baik di Palestina maupun pihak-pihak anti Zionisme di kancah internasional.

Cacian mereka berdua pada Gus Yahya makin menunjukkan kelas mereka (ya cumak segitu, bisanya mencaci!) Jadi benar kata salah seorang aktivis senior NU Jogja, kawan-kawan Nahdliyyin tak perlu menanggapinya terlalu serius. Toh, mereka hanya bisa mencaci, tidak lebih dari itu. Bukannya meremehkan, saya yakin, dua petinggi PKS tersebut tak mempunyai gagasan alternatif apapun bagi perjuangan Palestina.

Lebih kacau lagi para pendukung kedua orang tersebut secara brutal menyeret dan menempatkan seolah-olah NU mendukung zionisme. Ya, bagi orang yang hanya gemar nonton YouTube untuk belajar Islam dan tak paham sejarah gerakan Islam di Indonesia, pasti akan percaya dengan tuduhan seperti itu. Namun yang sedikit cerdas pasti tahu, jauh sebelum negara ini merdeka, NU sudah mendukung perjuangan Palestina, jauh sebelum mereka (PKS) bikin berlapis-lapis protes jalanan dengan memframing konflik Palestina sebagai konflik Islam vs Yahudi, NU sdh mendukung perjuangan Palestina.

Saya masih ingat, ketika masih kecil, tiap terjadi eskalasi kekerasan di Palestina kami diintruksikan untuk melakukan qunut nazilah di tiap-tiap masjid di desa, dan pesantren, memohon keselamatan bagi rakyat Palestina.

Dan yang paling menjengkelkan, khususnya buat saya sendiri. Kesempatan kita untuk mewacanakan perdebatan alternatif perjuangan pembebasan Pasletina sejak “yaumun Nakba” tahun 1948, kekalahan negara-negara Arab dalam perang enam hari pada tahun 1967, hingga pengakuan Amerika terhadap Yerussalem sebagai ibukota Israel, dari momentum lawatan Gus Yahya, kandas sudah. Karena tiap pembicaraan dan perdebatan soal pilihan perjuangan terhadap Palestina rentan dipolitisasi atau disalahpahami oleh berbagai pihak yang sedang emosi.

Gus Yahya, dalam hemat saya, pasti lapang dada menerima berbagai kritik terhadapnya, jika ada!. Sependek yang saya tahu, selain humoris, seperti pada umumnya kiai NU lainnya, Gus Yahya adalah figur yang rendah hati, berpikiran terbuka dan berpihak pada kaum marginal.

Saya sendiri dan kawan-kawan muda NU lainnya yang aktif mengadvokasi petani, beberapa kali berdiskusi di ndalem beliau di Leteh Rembang hingga dini hari, membicarakan berbagai kemungkinan perjuangan dan pembelaan yang bisa kita lakukan bagi para petani yang menghadapi konflik agraria. Dan yang yang paling menarik, beliau siap mendengarkan pandangan orang lain yang berbeda dengan dirinya.

Pernah saya sampaikan pada beliau, “kita ini too late and too little Gus untuk perjuangan kaum marginal, NU kedah ten ngajeng?” Sambil berkelakar beliau menjawab, “Yo mesti lah. lha opo gunane ana awakmu karo kanca-kancamu… Sing jelas aku siap mbelani petani dan melakukan apa yang sudah seharusnya memang kita lakukan!” (Yaitu membela mereka yang terzalimi)

Banyak yang tidak tahu, Gus Yahya cukup intens terlibat dalam advokasi terhadap petani yang mengalami konflik. Soal ini, anak NU saja belum tentu tahu. Apalagi PKS!

Di kesempatan lain, di sebuah simposium pemikiran Gus Dur di UI, yang juga saya turut hadir dalam satu sesi dengan Gus Yahya. Beliau mengatakan, “Gus Dur yang hebat begitu saja menuai badai kritik, apalagi Gus cilik kaya aku. Emange sopo aku. Ya, kudu akeh gus-gus cilik, anake kiai kampung yang mau berbagi peran dan tugas untuk menerjemahkan gagasan Gus Dur dalam berbagai strategi dan level”.

Selain, berulangkali tertawa terpingkal-pingkal di sebuah ruangan akademik, yang diisi para aktivis dan intelektual yang tak diragukan komitmennya bagi kebaikan Indonesia, yang sekaligus memiliki selera humor yang cerdas tersebut. Saya tertegun. Gus Yahya, yang jelas kiai hebat, wawasannya luas, berpikiran terbuka, berpihak dan humble, saja masih menyebut dirinya Gus cilik. Apalagi saya… jadi, kalau TS meragukan ke-kiai-an Gus Yahya tentu sebuah penghinaan.

Dengan pribadi seperti itu, saya yakin, beliau siap menerima dan mendengarkan kritik yang diarahkan padanya, sekeras apapun kritik tersebut, sejauh sebuah kritik (anda cari sendiri definisi kritik dan “Apa itu kritik?”). Namun sayangnya bukannya kritik yang diperoleh tapi cacian. Saya yakin pula, beliau pastinya senyum-senyum saja melihat statemen HNR dan TS di Twitter, “masa, aku meladeni sing kayak ngunu cah…” Mungkin kira-kira begitu gumam Gus Yahya.

Sebenarnya, biasa saja jika terjadi pro dan kontra. Kabarnya otoritas Palestina juga memprotes keras Gus Yahya atas kehadirannya di forum bergengsi Yahudi, yang dilayangkan oleh kementerian luar negeri Palestina di sebuah laman online. Saya sendiri berbeda pandangan dengan beliau. Bila diibaratkan, persis seperti posisi Bung Karno dan para pemuda Menteng 31 dalam menyikapi janji politik Jepang.

Bung Karno memilih menunggu janji Jepang, sementara anak muda sudah tidak sabar dan tak percaya dengan fasis Jepang yang sejak awal hanya memanfaatkan kekuatan rakyat Indonesia untuk kepentingan perang Jepang. Begitulah kira-kira perbedaan saya dengan beliau yang tentu mempunyai implikasi politik yang akan berbeda pula. Atau lugasnya, “apa iya kita bisa berharap rahmah dari Israel? Seberapa mampu kita mempengaruhi kebijakan Israel yang didominasi faksi garis keras seperti partai Likud?

Gus Yahya, tak tega melihat rakyat palestina terus menerus menjadi korban keganasan perang dan arogansi militer Israel, maka perlu ada segera perdamaian. Sedangkan saya percaya dengan jalan radikal, yang tak memperhitungkan kalah menang. Karena perjuangan Palestina bukan soal kalah menang, tapi soal kehormatan.

Jika kita kalah hari ini, mungkin esok akan menang, jika belum kunjung datang kemenangan, mungkin esoknya lagi, lagi, dan lagi. Saya sendiri yakin, jika dibuat satu jajak pendapat, bisa jadi rakyat Palestina lebih memilih digilas tank Israel ketimbang harus berbagi tempat dengan para perampok yang telah menjarah tanah mereka dan harus mengakui keberadaan negara zionis.

Bila diperkenankan, kita bisa mulai dengan pertanyaan: Proposal damai macam apakah yang hendak ditawarkan kiai Yahya? Apa prasyarat-prasyarat sosial politik menuju perdamaian tersebut? Ada usulan untuk perkuat lobi Arab di AS untuk menandingi lobi Yahudi, seberapa mungkin dilakukan? Apakah jalan damai untuk Palestina-Israel itu artinya bersepakat dengan ko-eksistensi dua negara tanpa mengembalikan wilayah yang telah dicaplok Israel sebelum perang tahun 67?

Atau ko-eksistensi satu negara dua bangsa, apakah mungkin? Apakah mungkin mengharap rahmah dari negara fasis yang telah melanggar berbagai aturan dan kesepakatan internasional? Dan masih banyak pertanyaan yang bisa kita ajukan untuk dianalisa berbagai kemungkinannya yang bisa menjadi bahan memulai perdebatan tanpa perlu merendahkan orang lain.

Dengan ini, saya sama sekali tak meragukan komitmen Gus Yahya dan NU pada pembebasan Palestina. Mungkin saya hanya berbeda dalam konsep dan strategi perjuangannya. Namun apapun itu, soal Palestina, karena terlalu rumit dan peliknya konflik di sana, kita tak bisa dengan mudah mengambil posisi hitam putih. Artinya opsi perundingan di meja makan juga tak bisa diabaikan. Toh, semuanya hanya sedang ikhtiar merawat harapan. Yang bisa iya, bisa tidak. Menganggap jalan radikal sebagai kekeliruan dan hasilnya hanya NOL, juga tak sepenuhnya benar, begitupun sebaliknya.

Sekali lagi, gara-gara dua petinggi PKS yang ugal-ugalan, umat tak bisa belajar apa-apa, tak mendapatkan suguhan perdebatan yang bermartabat dan bermanfaat. Ya, sudahlah, apa yang bisa kita harapkan dari sebuah cacian? Anda tahu sendiri jawabannya.

Roy Murtadho
Editor Islam Bergerak yang sehari-hari menjadi imam mushola.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…