OUR NETWORK

Guru yang Inspiratif dan Humoris, Mengenang Pak Bahtiar Effendy

Saya merasa kepergiannya terlalu cepat. Tetapi saya harus mengikhlaskannya karena Allah sungguh mencintainya.

“Kamu PPP, ya?”

Sergah Pak Bahtiar memotong perkenalan saya. Seperti biasa dalam pertemuan pertama kuliah, dosen meminta mahasiswa memperkenalkan diri. Sewaktu studi di S3 UIN Jakarta saya mengambil mata kuliah Pendekatan Dalam Studi Islam yang diampu Pak Bahtiar.

“Tidak, Pak,” jawab saya.
“Kok, sepertinya saya pernah ketemu Anda? Atau wajah Anda yang pasaran?”
“Saya pernah mendampingi Bapak di Semarang di acara Muhammadiyah.”

Begitulah Pak Bahtiar. Spontan dan di luar dugaan. Mendengar penjelasan saya, Pak Bahtiar hanya tersenyum. Gaya yang khas, penuh percaya diri, dan kadang agak “gembagus”.

Saya merasa begitu dekat dengan Pak Bahtiar karena bukunya, Merambah Jalan Baru Islam, artikel di koran, dan ulasan politik di televisi. Tetapi, secara fisik saya baru bertemu tahun 2001. Waktu itu, sebagai sekretaris PWM Jawa Tengah, saya bersama Pak Imam Munajat menjemput dan mendampingi Pak Bahtiar di Bandara Ahmad Yani. Pak Bahtiar diundang sebagai narasumber Musypimwil PWM Jawa Tengah. Pak Imam Munajat adalah pengurus dan anggota legislatif PPP Jawa Tengah. Itulah mengapa Pak Bahtiar mengira saya PPP.

Saya selalu antusias mengikuti kuliah Pak Bahtiar. Dari Pak Bahtiar saya belajar bagaimana menganalisis suatu masalah dari banyak perspektif dan bagaimana menjelaskan data dengan teori dan nalar kritis. Pak Bahtiar memanjakan mahasiswa untuk berargumen dan berdebat. Gayanya agak meledak-ledak dan kadang meledek.

Saya teringat ada seorang mahasiswa yang akhirnya mogok kuliah gara-gara tersinggung. Mahasiswa itu mengajukan pertanyaan. Pak Bahtiar menjawab dengan gamblang dan panjang lebar. Sangat clear. Tapi, mahasiswa tersebut masih tidak paham dan berulang kali mengajukan pertanyaan yang memang nonsense. Sebelum mahasiswa tersebut menyelesaikan pertanyaan, Pak Bahtiar memotong:

“Kamu itu, kok, goblok banget sih. Kuliahnya di mana dulu?”

Mahasiswa tersebut bungkam. Wajahnya merah padam. Saya tidak tahu bagaimana perasaan mahasiswa tersebut. Pak Bahtiar juga cuek saja. Tidak pernah hirau dengan mahasiswa yang baru saja dibentak. Setelah pertemuan tersebut sang mahasiswa tidak pernah masuk. Sepertinya dia drop out.

Beberapa tahun setelah lulus S3 saya mengajar program doktor di UIN Bandung. Sang mahasiswa ikut mata kuliah saya. Dia masih ingat pernah satu kelas dalam mata kuliah Pak Bahtiar.

Belakangan Pak Bahtiar tahu kalau saya adalah Ketua Umum PP. Pemuda Muhammadiyah. Entah darimana informasinya. Mungkin dari Pak Din Syamsuddin. Saya juga ikut mata kuliah Pak Din. Tapi, saya tidak lulus. Karena tugas yang berat, saya tidak menyerahkan makalah.

Saya selalu semangat dengan kuliah Pak Bahtiar yang waktu itu menjadi rising intellectual. Selalu ada informasi yang baru. Walaupun sesekali kosong, saya dan mahasiswa lainnya selalu antusias.

Selama satu semester Pak Bahtiar sempat beberapa kali tidak mengajar karena seminar di Singapura, Amerika Serikat, dan negara-negara lainnya. Bagi saya, hal itu sesuatu yang mengagumkan dan menginspirasi.

Sebagai ilmuwan dan pengamat politik, rupanya Pak Bahtiar mengikuti kiprah saya. Apalagi saat itu Pemuda Muhammadiyah memang agak engaged dengan politik. Dua di antaranya adalah perjuangan mendukung Pak Amien Rais sebagai presiden dan wacana mendirikan Partai Matahari Bangsa.

“Anda kalau mau berpolitik jangan sering-sering khutbah Jumat.”

Tiba-tiba Pak Bahtiar memberi nasihat setelah saya selesai khutbah di Masjid Al-Mughirah dekat kampus sekolah pascasarjana. Begitulah Pak Bahtiar. Selalu spontan. Dan itulah sisi lain dan menyenangkan dari Pak Bahtiar.

Karena sering sekali bertemu, saya merasa telah menjadi sahabat. Persahabatan semakin akrab semenjak saya menjadi direktur eksekutif Center for Dialog and Cooperation Among Civilizations (CDCC).

Pak Bahtiar, Pak Din, Mas Hajri, Mas Rizal Sukma, dan Pak Said Umar sering kali ngobrol di kantor CDCC. Temanya sangat beragam. Kadang sangat serius membahas masalah politik strategis. Tidak jarang mereka bertemu sekadar chatting bicara yang ringan. Di situlah saya tahu betapa Pak Bahtiar adalah sosok yang humoris. Banyak hal lucu terutama kalau Pak Bahtiar dan Mas Hajri mulai meledek Pak Din.

Selama beberapa tahun berinteraksi saya mulai paham karakter Pak Bahtiar. Kadang-kadang Pak Bahtiar curhat soal Pak Din. Kalau sedang dongkol, Pak Bahtiar hanya memanggil Pak Din dengan sebutan “Si Din”. Tapi, saya kadang-kadang juga minta tolong Pak Bahtiar menyampaikan masukan ke Pak Din. Di antara para tokoh hebat itu hanya Pak Bahtiar dan Mas Hajri yang berani dan bisa kritis ke Pak Din. Masukan mereka berdua sangat didengar dan diikuti Pak Din.

Begitulah persahabatan yang tulus di antara mereka. Walaupun bersahabat saya lebih sering memanggil Pak Bahtiar dengan Profesor. Sementara Pak Din kadang saya panggil Mas Din. Kalau sedang mood Pak Din kritik saya:

“Anda ini panggil Bahtiar Profesor, tapi kalau saya tidak. Kan profesornya duluan saya.”

Kalau sudah begitu saya hanya cengar-cengir. Terlihat Pak Bahtiar begitu bahagia. Dan -seperti biasa – hanya tersenyum. Saya tahu Pak Din sedang bersenda.

Tidak banyak yang tahu sisi humoris Pak Bahtiar. Waktu pengukuhan guru besar di UIN saya sempat bergurau.

“Pakai pengukuhan segala. Kayak tidak percaya diri.”

Dengan santai Pak Bahtiar menjawab:

“Si Komar (Komaruddin Hidayat –Red)yang minta. Katanya selama jadi rektor belum pernah ada pengukuhan guru besar. Sebagai sahabat saya gak enak. Saya penuhi saja.”

Dan benar saja. Selama pengukuhan suasana riuh, penuh gelak tawa. Jauh dari suasana sakral. Undangan yang memenuhi Aula Harun Nasution tertawa terbahak pada saat foto-foto masa muda Pak Bahtiar ditayangkan.

Sebagai seorang murid, saya merasa kehilangan guru yang inspiratif dan humoris. Saya kehilangan sosok cerdas yang jenaka. Sebagai sekretaris umum PP. Muhammadiyah, saya kehilangan pemikir. Keinginannya untuk menyumbangkan pemikiran kemuhammadiyahan, keumatan, dan kebangsaan banyak yang belum terwujud karena kondisi fisiknya yang terus menurun. Fisiknya lemah, tapi tekadnya sangat kuat.

Saya merasa kepergiannya terlalu cepat. Tetapi saya harus mengikhlaskannya karena Allah sungguh mencintainya. Selamat jalan, Pak Guru. Ilmu yang bermanfaat dan inspirasimu adalah amal jariah yang menempatkanmu di Surga An-naim.

22 November 2019

Bacaan terkait

Mengenang Sahabat Karib Saya, Bahtiar Effendy

Islam dalam Teks dan Konteks: Obituari Bahtiar Effendy*

Profesor Bahtiar adalah Api dalam Sekam

Bahtiar Effendy dan Cita-Cita Demokrasi

Abdul Mu'ti
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Ketua BSNP

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…