Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Guru Para Politisi Muda

Muslim Diaspora dan Islamofobia di Eropa

Islam adalah agama kedua terbesar di Eropa setelah Kristen. Perkembangan Islam di Eropa seringkali dilihat dari keberadaan Muslim pendatang karena memang mayoritas populasi Muslim...

Indonesia dan Pandemi Informasi Virus Corona

  Karena pan dan demos bermakna semua orang. Begitupun dengan informasi. Etimologi kata pandemi berasal dari bahasa Yunani πᾶν 'pan' yang berarti 'semua' dan δήμος 'demos'...

Tahun Baru, Filosofi Waktu, dan Kita yang Rugi

Sejatinya, waktu bukan tentang detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya. Waktu bukan kalender. Kalender itu imanen, dibuat manusia. Adapun waktu itu transenden,...

Membincangkan Manuskrip dan Prasasti dalam Karya Sastra

Memasuki hari keenam (Selasa, 28/04/2020), World Book Day 2020: Indonesia Online Festival, Sinta Ridwan menjadi pembicara untuk sesi ke-7 diskusi daring. Pada sesi tersebut,...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta

Sejawat dan sahabat akrab menyebut JG. Saya biasa menyapanya Bang JG. Pertama kenal saat dipercaya menjadi Ketua Umum Pimpinan Wilayah Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM-sekarang IPM) Sumatera Barat.

Saat itu, Bang JG mengikuti pencalonan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) 2005-2010. Usianya masih muda, 37 Tahun. Di saat inilah kekaguman saya muncul. Pada usianya yang muda, ia memiliki komitmen dan keinginan baik untuk mengabdi kepada rakyat Sumbar, bertarung menjadi gubernur.

Bukan sekadar muda, Bang JG memiliki pemikiran yang bernas dan brilian membangun Sumbar menjadi lebih baik. Di antaranya dengan peningkatan investasi dan kualitas pendidikan. Saya dan banyak masyarakat Sumbar lain ketika itu kian yakin, inilah momentum yang tepat untuk regenerasi kepemimpinan di Bumi Minang.

Sejak saat itu, saya menjadi orang yang selalu mengikuti pikiran-pikiran, sikap, dan langkah politik Bang JG. Kemampuan komunikasinya sangat mumpuni. Hal itu tampak dari dukungan 16 partai politik non kursi yang menjadi partai pendukungnya ketika mendaftar sebagai calon gubernur, bisa jadi menjadi sejarah pertama dalam dunia politik Indonesia.

Sebagai tokoh muda yang terlahir dengan darah minang di tubuhnya, JG mewarisi DNA politik para tokoh minang masa lalu. Kecerdasan, komunikasi, diplomasi, kemampuan membaca peluang, radius pergaulan, pemikiran yang terbuka dan egaliter.

Kepedulian Bang JG terhadap pendidikan tak berhenti kala pertarungan pemilihan gubernur di Sumbar usai. Karena komitmen kepeduliannya terhadap pendidikan telah menjadi tanggungjawab sepanjang hidupnya. Banyak anak-anak muda yang menempuh pendidikan di dalam dan di luar negeri yang dibantunya.

Bagi Bang JG, pendidikan adalah kunci untuk keberhasilan bangsa ini, ungkapnya suatu waktu kepada saya. Komitmen pendidikan ini juga diwujudkannya dalam bentuk pendirian dan keterlibatannya dalam lembaga-lembaga riset, seperti MAARIF Institute, The Indonesian Institute, dan CSIS.

Setelah Pilgub Sumbar selesai saya terus membangun komunikasi dengan Bang JG. Kemudian saya diajak terlibat aktif di MAARIF Institute, lembaga kajian Buya Ahmad Syafii Maarif.

 

Sejak itu sampai kini, saya mengikuti langkah politik dan pikiran-pikirannya yang di muat di berbagai media nasional. Bang JG adalah pemikir sekaligus politisi. Pandangan-pandangan politiknya tidak lahir dari ruang hampa. Ia memiliki pengalaman langsung ketika maju sebagai calon gubernur Sumbar, terpilih menjadi anggota DPR RI dan DPD RI dari pemilhan Sumatera Barat.

Bang JG adalah orang yang setia kepada gagasan bahwa politik harus berpihak kepada akal sehat dan kebajikan. Jika politik bukan jalan kebajikan, tanpa beban ia akan meninggalkannya.

Dalam berbagai kesempatan pertemuan dan diskusi, Bang JG selalu menyampaikan tentang pentingnya mengembalikan peran partai politik sebagai pilar demokrasi dengan memperkuat kaderisasi dan regenerasi dalam partai politik. Partai politik harus mengutamakan prinsip meritokrasi dan menutup pintu untuk praktik oligarki. Oigarki akan membajak partai politik menjadi alat untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Jangan menghamba kepada kekuasaan dan pragmatisme tanpa berpikir untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.

Menurut Bang JG, partai politik sebagai pilar demokrasi merupakan sumber utama rekrutmen kepemimpinan yang menentukan hajat kehidupan dan kepentingan rakyat banyak. Jika salah menentukan maka akan berakibat langsung kepada rakyat. Sebutlah, pencalonan presiden, gubernur, bupati/walikota, KPK, dan lembaga-lembaga komisi pemerintah yang lain, semuanya dicalonkan oleh partai politik dan dipilih oleh perwakilan partai politik yang ada di DPR.

Karena besarnya peran parpol dalam menentukan arah bangsa ini, sudah seharusnya partai politik yang baik harus diisi orang-orang baik, yang berpikiran baik dan memperjuangkan hal-hal yang baik. Dengan begitu, jika partai politiknya baik, orangnya baik, calonnya baik, anggota legislatif yang terpilihnya baik, calon presiden, gubernur, bupati dan walikota yang didukung juga baik, maka tentu jalannya pemerintahan akan baik.

Jika jalan pemerintahan baik, maka kebijakan-kebijakannya juga akan baik dan berpihak kepada kesejahteraan dan keadilan rakyat. untuk itulah pentingnya kehadiran partai politik yang baik. Untuk itu, menurut Bang JG, kita tidak boleh alergi kepada partai politik justru harus terlibat aktif memberikan saran dan pikiran agar partai politik bisa menjalankan perannya dengan baik.

Barangkali keyakinan pikiran di ataslah yang telah mendorong Bang JG mendirikan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). PSI, partai politik yang isinya mayoritas generasi muda. Para politisi muda yang ingin berkontribusi terhadap bangsanya. Bang JG hanya tampil sebagai guru dan mentor para politisi muda itu. Mereka memiliki kebebasan untuk berpikir dan menjalankan strategi menggerakkan PSI.

Barangkali ini adalah cara Bang JG untuk memberikan teladan, kepemimpinan partai politik perlu regenerasi dan memberi ruang kepada politisi muda. Kepemimpinan harus direbut dan diperjuangkan oleh kaum muda. Sikap yang langka tentunya, menimbang usia Bang JG yang belum terlalu tua, tetapi secara sadar dan ikhlas mewakafkan dirinya untuk menjadi guru dan mentor para politisi muda itu.

Kehadirannya Bang JG bukan sekedar menjadi guru, tetapi lebih dari itu. Bang JG menjadi penopang pergerakan para politisi muda ini. Dalam suatu kesempatan ia pernah menyampaikan: “Endang, kalau untuk memikirkan diri sendiri saja, semestinya saya yang sudah lebih dari cukup ini sudah menikmati masa-masa rehat. Tetapi, kecintaan saya pada negeri ini dan ingin melihat lahir serta tumbuhnya generasi baru yang akan membawa republik ini menjadi lebih baik, maka saya menunda masa rehat saya dan memberikan semampunya untuk perjuangan kaum muda yang sedang bertarung merebut takdir mereka untuk menjadi pemimpin negeri ini.”

Saya yakin dan percaya, keinginan dan cita-cita Bang JG itu akan terwujud. Sebab, sejatinya sejarah akan berpihak kepada generasi muda yang mempertaruhkan hidupnya untuk kepentingan rakyat.

Selamat ulang tahun yang ke-53 Bang JG. Di usia yang belum terlalu tua ini, Bang JG telah menjadi guru, mentor, dan inspirasi untuk para politisi muda yang mulai tumbuh dan tampil memberi warna baru politik Indonesia.

Seecara pribadi saya bersyukur telah dipertemukan dengan Bang JG. Saya hari ini adalah bagian dari orang yang telah Bang JG didik dan bina. Andai saya tidak bertemu Bang JG mungkin saya sekarang adalah benar-benar anak kampung yang tinggal di kampung.

Bang JG, pesan abang akan selalu saya ingat dan amalkan.

“Jangan pernah menunggu berlebih untuk berbagi karena itu akan sulit terjadi. Tetapi berbagilah setiap waktu, walau kamu dalam kekurangan, karena itu akan terasa nilainya berbagi”.

Salam hormat dan semoga sehat selalu untuk Bang Jeffrie Geovanie (JG) sekeluarga. Terima kasih.

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.