Rabu, Oktober 28, 2020

Grace dan Eksperimen Politik PSI

Siapa yang Sah Mewakili Teknokrat? [Catatan untuk Goenawan Mohamad]

Pada 25 September 1971, ketika majalah Tempo baru terbit pada tahun pertama, dan usia rezim Soeharto masih seumur jagung, jurnalis dan sastrawan muda Goenawan...

Prahara Ahok di Mata Masyarakat Demokratis dan Kaum Beriman

Belakangan ini keadaan Indonesia kian memanas. Demo-demo yang dilakukan di beberapa daerah mengisyaratkan adanya gerakan beberapa golongan Islam atas dasar klaim keimanan. Di sisi...

Sawit dan Kekerasan sebagai Jalan

Senin malam (25/7), sekitar pukul 21.00, polisi kembali menyerbu masuk desa Olak-Olak Kubu. Aparat keamanan bersenjata lengkap menyerbu desa yang terletak di Kabupaten Kubu...

Ketika Taman dan Sungai Memikat Hati Warga

Usai salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta, pekan lalu, belasan ribu massa umat Islam yang didominasi Front Pembela Islam (FPI) berpawai di jalan-jalan ibukota....
Avatar
Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

Untuk apa partai politik didirikan? Jawaban normatif atas pertanyaan ini bisa kita temukan dalam puluhan atau bahkan ratusan buku yang membahas khusus tentang partai politik atau politik secara umum. Akan tetapi dalam praktik, selalu ada kerumitan untuk menjelaskannya, karena partai politik hadir tidak untuk mengisi ruang hampa.

Partai politik senantiasa hadir dalam realitas objektif yang pekat dengan pergumulan ideologi dan kepentingan dari berbagai aktor, individual maupun kolektif. Dalam masyarakat yang sistem demokrasinya sudah relatif mapan, yang di dalamnya berlaku prinsip transparansi dalam performanya yang optimal, kita akan dengan mudah membedakan mana ideologi yang bisa diterapkan dengan baik dan konstruktif bagi masyarakat dan mana yang tidak baik dan destruktif.

Dalam masyarakat yang demikian, setiap partai politik yang hadir pun akan bisa diidentifikasi dengan jelas ideologi dan kepentingan apa saja yang akan diusung dan diperjuangkannya. Dengan demikian, rakyat sebagai stakeholder dari partai politik akan dengan mudah pula menentukan partai politik mana yang akan dipilihnya pada saat musim pemilu tiba.

Tapi, dalam masyarakat yang sistem demokrasinya belum mapan seperti di Indonesia, setiap partai politik, terutama yang baru berdiri, masih meraba-raba ideologi dan kepentingan apa yang akan diperjuangkannya. Bahkan partai politik yang sudah lama pun bisa berubah kepentingan kapan saja–walau disertai klaim tetap berpegang teguh pada pendirian ideologinya.

Untung saja, dalam situasi demikian, ada metode yang bisa digunakan untuk mendeteksi apa yang diinginkan rakyat secara umum. Misalnya melalui metode survei dan jajak pendapat, partai politik bisa dengan relatif mudah mengetahui apa saja yang diinginkan rakyat, walau tentu dengan tetap menyisakan margin of error sebagai ruang kesalahan–baik disebabkan karena ketidaktepatan atau ketidakmampuan mendeteksi.

Selain ada margin of error, masih ada dua ruang lagi yang belum bisa dideteksi. Pertama, komponen indecided yang belum jelas bagaimana maunya dan apa pilihan politiknya, yakni mereka yang tidak mau menjawab atau yang belum menentukan pilihan; dan kedua, komponen pemilih pemula yang selalu bertambah setiap saat sejalan dengan bertambahnya penduduk yang memasuki batas minimal usia hak pilih (17 tahun).

Artinya, selain ada ketidakjelasan yang disebabkan sistem demokrasi yang belum berjalan maksimal, masih tersedia konstituen yang sangat terbuka untuk menjadi ruang kontestasi semua partai politik peserta pemilu, terutama bagi partai politik baru yang belum mempunyai modal suara (konstituen) pada pemilu sebelumnya.

Portrait Grace NatalieDi antara partai politik baru yang akan ikut kontestasi memperebutkan konstituen pada pemilu yang akan datang adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Belum genap berusia satu tahun (didirikan 16 November 2014), partai yang dipimpin mantan presenter TV Grace Natalie ini sudah cukup menyita perhatian banyak kalangan, terutama para pegiat media sosial dan anak-anak muda.

Yang menarik, setiap momentum seperti hari-hari besar nasional, hari-hari besar keagamaan, dan hari-hari peringatan (nasional maupun internasional), selalu dimanfaatkan PSI untuk berkampanye melalui media sosial dengan menyebar flyer, leaflet, infografis, atau short movie yang berisi pesan-pesan ringkas mengenai solidaritas dan visi-misi PSI.

Selain itu, ada dua faktor yang menjadikan PSI tampil beda, yakni berusaha memutus hubungan dengan partai lama (yang sudah ada), dan (oleh karena itu) yang dibidik adalah komponen yang belum terkontaminasi politik, terutama anak-anak muda yang mayoritas akan menjadi pemilih pemula pada pemilu yang akan datang.

Kedua faktor ini memang layak dijadikan bahan kampanye, terutama di kalangan para juru berita yang selalu mengejar kebaruan dan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Artinya, sebagai bahan selebrasi untuk meraih popularitas mungkin pengaruhnya sangat kuat. Namun, apakah dengan demikian akan kuat pula pengaruhnya untuk menarik dukungan rakyat?

Di sinilah masalahnya. Menarik jarak dengan partai yang sudah ada, dalam praktik bisa berarti mencabut anak-anak muda dari komunitas sosialnya. Karena wajah partai politik saat ini pada hakikatnya merupakan cermin yang memantulkan wajah masyarakat yang sesungguhnya. Apa yang dilakukan partai politik secara kelembagaan, juga dilakukan masyarakat pada umumnya.

Kontrol publik yang bertubi-tubi pada partai politik, juga pada aktor-aktor utamanya, membuat wajahnya seolah jauh lebih buruk dari masyarakat pada umumnya. Padahal masyarakat yang mengutuk partai politik bisa jadi pada hakikatnya seperti menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.

Dari mana para pemilih pemula mendapat referensi politik? Terutama dari keluarga dan teman sebaya, dua komponen yang juga menjadi bagian dari masyarakat. Faktor inilah yang membuat banyak partai politik yang bereksperimen secara khusus berupaya meraih suara pemilih pemula selalu gagal meraih suara signifikan, karena mereka lupa bahwa anak-anak muda adalah bagian yang tak terpisahkan dari komunitas masyarakat.

Sekuat apa pun partai politik berupaya mempengaruhi anak-anak muda, pengaruh keluarga dan teman sebaya tetap jauh lebih kuat. Saya kira di sinilah letak titik kritis PSI sebagai ekperimen politik untuk meraih dukungan publik.

Avatar
Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

“Islam Kaffah” yang Bagaimana?

Sebuah buletin baru “Buletin Dakwah Kaffah” terbit pada 18 Dzulqa’dah 1438 H/11 Agustus 2017. Judul “Islam Kaffah” mengingatkan kita kembali slogan Hizbut Tahrir Indonesia...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.