Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Grace dan Eksperimen Politik PSI | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Grace dan Eksperimen Politik PSI

Meikarta dan Metropolitan yang Sakit

Lippo Group membuat gebrakan dengan mulai memasarkan Meikarta, sebuah komplek kota baru raksasa di pinggiran Jakarta. Luas lahannya sekitar 500 hektar. Kota baru ini berisi...

Yang Jarang Diulas Tentang Buya Syafii

Tanggal 31 Mei 1935 adalah kelahiran Buya Syafii, sehingga tahun ini genap berusia 85 tahun. Indonesia, terlebih Persyarikatan Muhammadiyah, beruntung memiliki tokoh bernama lengkap Ahmad...

Ada Habib Rizieq di Balik Pertemuan Jokowi-Prabowo

Pagi ini rakyat Indonesia dikejutkan dengan pertemuan Jokowi dan Prabowo di atas MRT. Pertemuan ini menandakan upaya rekonsiliasi yang terjadi setelah pemilu. Banyak pihak...

Buya Syafii dan Bung Jokowi

Tulisan ini adalah "bacaan sederhana" mengenai sedikit di antara sekian banyak pemikiran dan kisah sosok guru bangsa, Ahmad Syafii Maarif. Begini, banyak kalangan menyapanya dengan...
Avatar
Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah

Untuk apa partai politik didirikan? Jawaban normatif atas pertanyaan ini bisa kita temukan dalam puluhan atau bahkan ratusan buku yang membahas khusus tentang partai politik atau politik secara umum. Akan tetapi dalam praktik, selalu ada kerumitan untuk menjelaskannya, karena partai politik hadir tidak untuk mengisi ruang hampa.

Partai politik senantiasa hadir dalam realitas objektif yang pekat dengan pergumulan ideologi dan kepentingan dari berbagai aktor, individual maupun kolektif. Dalam masyarakat yang sistem demokrasinya sudah relatif mapan, yang di dalamnya berlaku prinsip transparansi dalam performanya yang optimal, kita akan dengan mudah membedakan mana ideologi yang bisa diterapkan dengan baik dan konstruktif bagi masyarakat dan mana yang tidak baik dan destruktif.

Dalam masyarakat yang demikian, setiap partai politik yang hadir pun akan bisa diidentifikasi dengan jelas ideologi dan kepentingan apa saja yang akan diusung dan diperjuangkannya. Dengan demikian, rakyat sebagai stakeholder dari partai politik akan dengan mudah pula menentukan partai politik mana yang akan dipilihnya pada saat musim pemilu tiba.

Tapi, dalam masyarakat yang sistem demokrasinya belum mapan seperti di Indonesia, setiap partai politik, terutama yang baru berdiri, masih meraba-raba ideologi dan kepentingan apa yang akan diperjuangkannya. Bahkan partai politik yang sudah lama pun bisa berubah kepentingan kapan saja–walau disertai klaim tetap berpegang teguh pada pendirian ideologinya.

Untung saja, dalam situasi demikian, ada metode yang bisa digunakan untuk mendeteksi apa yang diinginkan rakyat secara umum. Misalnya melalui metode survei dan jajak pendapat, partai politik bisa dengan relatif mudah mengetahui apa saja yang diinginkan rakyat, walau tentu dengan tetap menyisakan margin of error sebagai ruang kesalahan–baik disebabkan karena ketidaktepatan atau ketidakmampuan mendeteksi.

Selain ada margin of error, masih ada dua ruang lagi yang belum bisa dideteksi. Pertama, komponen indecided yang belum jelas bagaimana maunya dan apa pilihan politiknya, yakni mereka yang tidak mau menjawab atau yang belum menentukan pilihan; dan kedua, komponen pemilih pemula yang selalu bertambah setiap saat sejalan dengan bertambahnya penduduk yang memasuki batas minimal usia hak pilih (17 tahun).

Artinya, selain ada ketidakjelasan yang disebabkan sistem demokrasi yang belum berjalan maksimal, masih tersedia konstituen yang sangat terbuka untuk menjadi ruang kontestasi semua partai politik peserta pemilu, terutama bagi partai politik baru yang belum mempunyai modal suara (konstituen) pada pemilu sebelumnya.

Portrait Grace NatalieDi antara partai politik baru yang akan ikut kontestasi memperebutkan konstituen pada pemilu yang akan datang adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Belum genap berusia satu tahun (didirikan 16 November 2014), partai yang dipimpin mantan presenter TV Grace Natalie ini sudah cukup menyita perhatian banyak kalangan, terutama para pegiat media sosial dan anak-anak muda.

Yang menarik, setiap momentum seperti hari-hari besar nasional, hari-hari besar keagamaan, dan hari-hari peringatan (nasional maupun internasional), selalu dimanfaatkan PSI untuk berkampanye melalui media sosial dengan menyebar flyer, leaflet, infografis, atau short movie yang berisi pesan-pesan ringkas mengenai solidaritas dan visi-misi PSI.

Selain itu, ada dua faktor yang menjadikan PSI tampil beda, yakni berusaha memutus hubungan dengan partai lama (yang sudah ada), dan (oleh karena itu) yang dibidik adalah komponen yang belum terkontaminasi politik, terutama anak-anak muda yang mayoritas akan menjadi pemilih pemula pada pemilu yang akan datang.

Kedua faktor ini memang layak dijadikan bahan kampanye, terutama di kalangan para juru berita yang selalu mengejar kebaruan dan sesuatu yang berbeda dari yang lainnya. Artinya, sebagai bahan selebrasi untuk meraih popularitas mungkin pengaruhnya sangat kuat. Namun, apakah dengan demikian akan kuat pula pengaruhnya untuk menarik dukungan rakyat?

Di sinilah masalahnya. Menarik jarak dengan partai yang sudah ada, dalam praktik bisa berarti mencabut anak-anak muda dari komunitas sosialnya. Karena wajah partai politik saat ini pada hakikatnya merupakan cermin yang memantulkan wajah masyarakat yang sesungguhnya. Apa yang dilakukan partai politik secara kelembagaan, juga dilakukan masyarakat pada umumnya.

Kontrol publik yang bertubi-tubi pada partai politik, juga pada aktor-aktor utamanya, membuat wajahnya seolah jauh lebih buruk dari masyarakat pada umumnya. Padahal masyarakat yang mengutuk partai politik bisa jadi pada hakikatnya seperti menepuk air di dulang terpercik muka sendiri.

Dari mana para pemilih pemula mendapat referensi politik? Terutama dari keluarga dan teman sebaya, dua komponen yang juga menjadi bagian dari masyarakat. Faktor inilah yang membuat banyak partai politik yang bereksperimen secara khusus berupaya meraih suara pemilih pemula selalu gagal meraih suara signifikan, karena mereka lupa bahwa anak-anak muda adalah bagian yang tak terpisahkan dari komunitas masyarakat.

Sekuat apa pun partai politik berupaya mempengaruhi anak-anak muda, pengaruh keluarga dan teman sebaya tetap jauh lebih kuat. Saya kira di sinilah letak titik kritis PSI sebagai ekperimen politik untuk meraih dukungan publik.

Avatar
Abd. Rohim Ghazali
Sekretaris Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik PP Muhammadiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Madinah, Tinjauan Historis

Yatsrib atau yang sekarang dikenal dengan nama Madinah merupakan salah satu daerah yang subur di Jazirah Arab pada masa itu. Penduduk Madinah sebelum Islam...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.