Minggu, November 1, 2020

Google

Kitab Merdeka [Refleksi Kebangkitan Nasional]

Dalam satu kronik Cina, diperkirakan berasal dari akhir abad ke-3, diberitakan tentang Po ("perahu" dalam bahasa Melayu). Po adalah perahu besar yang menandai peran...

Jokowi dalam Pusaran Isu Sensitif dan Kontroversial

Sepanjang tahun 2016, Presiden Joko Widodo berada dalam pusaran isu-isu sensitif dan kontroversial.  Dari soal LGBT, narkoba, aliran-aliran agama/kepercayaan yang dituduh sesat (Ahmadiyah, Syiah,...

Obat Mahal dan Keragaman Hayati Indonesia

Sebagian besar obat yang beredar di Indonesia masih harus diimpor. Itu salah satu yang membuat biaya layanan kesehatan menjadi mahal, dan sering tak terjangkau...

Seberapa Syar’ikah Bank Syariah?

Tulisan sebelumnya diakhiri dengan seruan supaya kita jangan sepenuhnya merujuk pada pandangan fuqaha (ahli fikih) terdahulu sebagai pijakan operasional bagi perekonomian modern karena sistem perbankan...
Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi

Anak itu bernama Google. Ia tak ada kaitan dengan lelucon orang-orang saat memberi sebutan Mbah Google, sejak sekian tahun lalu. Google itu nama bagi bocah. Kini, Google berusia 6 bulan. Kita sedang tak membaca berita bohong bertaburan lelucon. Berita berasal dari Bojong, Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat. Bapak-ibu memberi nama Google untuk anak dilahirkan 30 November 2018. Pemberian nama hak mereka (Andi C Saputra dan Ella Karina). Pemberian nama dengan pertimbangan bersama tanpa bisikan gaib atau mutlak berjurus ngawurisme. Nama itu mengingatkan kita di zaman “fanatik” digital. Nama memang milik bocah tapi pamrih dan kesadaran masa depan atas pilihan nama mengikutkan situasi hidup mutakhir.

Semula, si bapak bingung saat harus mengisi formulir data di rumah sakit. Ia lekas menjawab ke perawat: Google. Di rumah, rapat bersama diadakan untuk kebaikan dan hikmah nama. Keluarga bermufakat nama si bocah memang Google. Pemberi nama berdalih bahwa segala kelebihan dimiliki Google diharapkan juga dimiliki si bocah. Nama diartikan seturut peran Google: “mampu membantu, bermanfaat, dan dikenal orang.” Bapak-ibu mengaku bersiap jika suatu hari ada protes dari anak gara-gara dinamai Google (Jawa Pos, 25 Juni 2019). Berita agak menggelikan meski bukan lelucon atau berita bohong. Pemberian nama Google tetap terpahamkan sebagai doa dan pemenuhan administrasi kependudukan. Kita menghormati sambil mengingat ulang lakon kita bersama Google.

Berita itu tak memuat argumentasi pemberian nama mengacu ke buku-buku. Kita susulkan saja meski bapak-ibu Google belum tentu mau membaca buku sampai khatam. Buku itu berjudul What Would Google do? garapan Jeff Jarvis. Buku terbit dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia pada 2010. Buku besar dan tebal, tak lagi jadi bacaan ampuh bagi kaum digital sudah terlalu sibuk, detik demi detik. Buku merindukan pembaca. Kita bersama Google, berhak pula memiliki ketergantungan ke Google dalam segala hal. Pada abad XXI, Google itu merasuk ke hidup miliaran orang. Google menjadi pengisah besar alias kolosal.

Jeff Jarvis mula-mula memberi pengertian sederhana: “Tidak seperti Yahoo, Google bukanlah sebuah portal. Melainkan sebuah jaringan dan sebuah platform. Google berpikir dengan cara tersebar. Terserah kepada orang-orang. Kepingan-kepingan Google menyebar di seluruh jaringan.” Pengertian “lama” tapi masih bisa terpahamkan saat lakon digital semakin berkuasa. Kita kadang lupa pengertian awal dengan capaian-capaian kenikmatan mutakhir. Kecenderungan enggan mengingat pun dipengaruhi pula “kebaikan-kebaikan” Google dalam “memanggil dan memberi” ingatan ke kita.

Kita paling mengerti Google dalam perkara “mencari” dan “suguhan jawaban” atas pelbagai hal: dari urusan sepele sampai ruwet. Anggapan itu mewabah ke pendidikan-pengajaran. Celotehan pun bermunculan gara-gara Google jadi idaman murid atau mahasiswa dalam belajar atau mengerjakan tugas-tugas. Lakon itu membentuk tuduhan dan kemarahan. Murid dan mahasiswa jadi malas berpikir. Tuduhan paling sangar adalah pengerjaan tugas-tugas di sekolah dan universitas sering bersumber atau mencomot dengan pemanjaan Google. Konon, tragedi dan ironi tercipta semakin membesar, sulit berkurang dengan khotbah, hukuman, dan peraturan.

Google tak cuma membikin polemik ruwet di pendidikan-pengajaran. Google ada di kehidupan orang-orang ingin mengetahui segala hal dengan rumus dan tindakan “mencari”. Jeff Jarvis berkelakar: “Google telah memanjakan kita dengan busuk. Ingat-ingat lagi masa sebelum ada Google—hanya satu dekade lalu—dan ingatlah tambang yang harus digali untuk mendapatkan informasi. Oh, Tuhan, kita benar-benar pergi ke perpustakaan. Kita menanti jawaban dan pulang tanpanya. Sekarang, saya menanyakan sebuah pertanyaan kepada Google, pertanyaan apa pun, dan dia memberi saya jawaban dalam waktu kurang dari satu detik.” Keajaiban! Cara kuno tergantikan keajaiban Google di kecepatan dan pengiritan pikiran. Perbuatan seperti masa lalu mulai dicap mubadzir. Persekutuan kita dengan Google memberi kemudahan, kegirangan, dan kemurahan. Kelakar Jeff Jarvis perlahan kedaluwarsa dengan bukti-bukti mutakhir keajaiban Google di masa sekarang.

Bocah bernama Google kelak bersekolah berhasrat mencari ilmu alias berpendidikan. Kita belum memastikan jenis dan mutu pendidikan-pengajaran di Indonesia masa depan. Google tentu tetap berurusan dengan lakon digital. Ia berada di hari-hari berinternet. Kita sejenak mengingat sindiran dan pengharapan Nicholas Carr dalam buku berjudul The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? (2011). Pembaca diajak mengingat internet dengan mengingat Google dan Larry Page. Di bab berjudul “Gereja Google”, kita mendapatkan penjelasan bahwa Google terus berubah dan adaptif. Larry Page sesumbar bahwa Google harus puas dan mampu “menyusun daftar indeks web setiap detik untuk menciptakan pencarian yang benar-benar terkini.”

Kita sedang mengaitkan Google dengan rencana pendidikan bocah bernama Google. Kaitan itu mengarahkan kita ke buku atau sumber pengetahuan bagi murid di masa sekarang dan masa depan. Pada suatu hari, ada janji besar ingin dipenuhi Google: mendigitalisasikan semua buku pernah dicetak dan membuat teks mereka dapat ditemukan secara online. Sesumbar mengembalikan kita ke masa-masa bercumbu dengan buku. Masa lalu, kita memiliki janji suci dengan buku untuk mengerti pelbagai hal dan menentukan nasib. Buku itu pujaan, sebelum zaman terlalu genit dan menepikan buku di sudut remang. Nicholas Carr sengaja mengingatkan kita atas kemesraan manusia dan buku mulai tergantikan zaman internet memicu “pesta pora” mengumbar ketakjuban.

Page (2003) pernah berucap misi besar Google menciptakan “mesin pencarian paling canggih sama dengan orang pintar atau lebih pintar”. Nicholas Carr memberi lelucon: “Google bukan tuhan atau setan.” Kita tak ingin ada di debat sengit dan melelahkan. Kita kembali ke urusan si bocah bernama Google kelak bakal menikmati internet di pelbagai kepentingan. Kita mungkin pantas memberi sumbangan ke orangtua Google berupa buku berjudul Matinya Kepakaran (2018) garapan Tom Nichols. Google berada dalam asuhan orangtua sudah melek internet. Di lakon digital, doa untuk Google agar memiliki peran seperti Google itu kewajaran.

Pada saat kita berikhtiar mencari makna nama dan nasib di masa depan, Tom Nichols malah mengingatkan kita pada tragedi kepakaran gara-gara orang menjadi kaum internet. Tom Nichols menganggap tragedi di media sosial tak cuma penolakan terhadap kemapanan pengetahuan. Orang-orang kebablasan menjatuhkan sains atau rasionalitas demi perkara-perkara menguntungkan mereka dan menghancurkan lawan. Obsesi paling tahu dan cepat memastikan kebenaran disepelekan atau dibuang dari pembuatan dan sebaran berita ke publik.

Kita mungkin lekas menuduh bahwa internet itu momok. Tom Nichols memberi ralat agar internet jangan terlalu dipahami sebagai momok paling berdosa. Internet itu menawarkan jalan pintas ke pelbagai sumber pengetahuan alias sarana mempercepat kehancuran komunikasi antara para ahli dan orang awam. Kehancuran mencipta ilusi-ilusi memungkinkan orang mengetahui segala hal, tak lagi bergantung ke pakar. Parade ilusi membuat orang gampang tersesat atau sengaja menceburkan diri di jagat muslihat.

Peringatan terlalu genting dan pelik bagi Google yang masih berusia 6 bulan. Google berada di Indonesia sedang di pesta kolosal mengenai segala hal. Pada saat tulisan ini dikerjakan dengan membaca koran dan buku-buku, Google mungkin ada di percakapan dan perdebatan seru di media sosial. Penulis justru belum mengetahui atau belum ingin terlibat gara-gara masih berlagak sibuk membaca koran dan buku setiap hari tanpa jemu. Begitu.

Bandung Mawardi
Kuncen Bilik Literasi
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.