OUR NETWORK
Buku itu pujaan, sebelum zaman terlalu genit dan menepikan buku di sudut remang.

Anak itu bernama Google. Ia tak ada kaitan dengan lelucon orang-orang saat memberi sebutan Mbah Google, sejak sekian tahun lalu. Google itu nama bagi bocah. Kini, Google berusia 6 bulan. Kita sedang tak membaca berita bohong bertaburan lelucon. Berita berasal dari Bojong, Rawalumbu, Bekasi, Jawa Barat. Bapak-ibu memberi nama Google untuk anak dilahirkan 30 November 2018. Pemberian nama hak mereka (Andi C Saputra dan Ella Karina). Pemberian nama dengan pertimbangan bersama tanpa bisikan gaib atau mutlak berjurus ngawurisme. Nama itu mengingatkan kita di zaman “fanatik” digital. Nama memang milik bocah tapi pamrih dan kesadaran masa depan atas pilihan nama mengikutkan situasi hidup mutakhir.

Semula, si bapak bingung saat harus mengisi formulir data di rumah sakit. Ia lekas menjawab ke perawat: Google. Di rumah, rapat bersama diadakan untuk kebaikan dan hikmah nama. Keluarga bermufakat nama si bocah memang Google. Pemberi nama berdalih bahwa segala kelebihan dimiliki Google diharapkan juga dimiliki si bocah. Nama diartikan seturut peran Google: “mampu membantu, bermanfaat, dan dikenal orang.” Bapak-ibu mengaku bersiap jika suatu hari ada protes dari anak gara-gara dinamai Google (Jawa Pos, 25 Juni 2019). Berita agak menggelikan meski bukan lelucon atau berita bohong. Pemberian nama Google tetap terpahamkan sebagai doa dan pemenuhan administrasi kependudukan. Kita menghormati sambil mengingat ulang lakon kita bersama Google.

Berita itu tak memuat argumentasi pemberian nama mengacu ke buku-buku. Kita susulkan saja meski bapak-ibu Google belum tentu mau membaca buku sampai khatam. Buku itu berjudul What Would Google do? garapan Jeff Jarvis. Buku terbit dalam edisi terjemahan bahasa Indonesia pada 2010. Buku besar dan tebal, tak lagi jadi bacaan ampuh bagi kaum digital sudah terlalu sibuk, detik demi detik. Buku merindukan pembaca. Kita bersama Google, berhak pula memiliki ketergantungan ke Google dalam segala hal. Pada abad XXI, Google itu merasuk ke hidup miliaran orang. Google menjadi pengisah besar alias kolosal.

Jeff Jarvis mula-mula memberi pengertian sederhana: “Tidak seperti Yahoo, Google bukanlah sebuah portal. Melainkan sebuah jaringan dan sebuah platform. Google berpikir dengan cara tersebar. Terserah kepada orang-orang. Kepingan-kepingan Google menyebar di seluruh jaringan.” Pengertian “lama” tapi masih bisa terpahamkan saat lakon digital semakin berkuasa. Kita kadang lupa pengertian awal dengan capaian-capaian kenikmatan mutakhir. Kecenderungan enggan mengingat pun dipengaruhi pula “kebaikan-kebaikan” Google dalam “memanggil dan memberi” ingatan ke kita.

Kita paling mengerti Google dalam perkara “mencari” dan “suguhan jawaban” atas pelbagai hal: dari urusan sepele sampai ruwet. Anggapan itu mewabah ke pendidikan-pengajaran. Celotehan pun bermunculan gara-gara Google jadi idaman murid atau mahasiswa dalam belajar atau mengerjakan tugas-tugas. Lakon itu membentuk tuduhan dan kemarahan. Murid dan mahasiswa jadi malas berpikir. Tuduhan paling sangar adalah pengerjaan tugas-tugas di sekolah dan universitas sering bersumber atau mencomot dengan pemanjaan Google. Konon, tragedi dan ironi tercipta semakin membesar, sulit berkurang dengan khotbah, hukuman, dan peraturan.

Google tak cuma membikin polemik ruwet di pendidikan-pengajaran. Google ada di kehidupan orang-orang ingin mengetahui segala hal dengan rumus dan tindakan “mencari”. Jeff Jarvis berkelakar: “Google telah memanjakan kita dengan busuk. Ingat-ingat lagi masa sebelum ada Google—hanya satu dekade lalu—dan ingatlah tambang yang harus digali untuk mendapatkan informasi. Oh, Tuhan, kita benar-benar pergi ke perpustakaan. Kita menanti jawaban dan pulang tanpanya. Sekarang, saya menanyakan sebuah pertanyaan kepada Google, pertanyaan apa pun, dan dia memberi saya jawaban dalam waktu kurang dari satu detik.” Keajaiban! Cara kuno tergantikan keajaiban Google di kecepatan dan pengiritan pikiran. Perbuatan seperti masa lalu mulai dicap mubadzir. Persekutuan kita dengan Google memberi kemudahan, kegirangan, dan kemurahan. Kelakar Jeff Jarvis perlahan kedaluwarsa dengan bukti-bukti mutakhir keajaiban Google di masa sekarang.

Bocah bernama Google kelak bersekolah berhasrat mencari ilmu alias berpendidikan. Kita belum memastikan jenis dan mutu pendidikan-pengajaran di Indonesia masa depan. Google tentu tetap berurusan dengan lakon digital. Ia berada di hari-hari berinternet. Kita sejenak mengingat sindiran dan pengharapan Nicholas Carr dalam buku berjudul The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? (2011). Pembaca diajak mengingat internet dengan mengingat Google dan Larry Page. Di bab berjudul “Gereja Google”, kita mendapatkan penjelasan bahwa Google terus berubah dan adaptif. Larry Page sesumbar bahwa Google harus puas dan mampu “menyusun daftar indeks web setiap detik untuk menciptakan pencarian yang benar-benar terkini.”

Kita sedang mengaitkan Google dengan rencana pendidikan bocah bernama Google. Kaitan itu mengarahkan kita ke buku atau sumber pengetahuan bagi murid di masa sekarang dan masa depan. Pada suatu hari, ada janji besar ingin dipenuhi Google: mendigitalisasikan semua buku pernah dicetak dan membuat teks mereka dapat ditemukan secara online. Sesumbar mengembalikan kita ke masa-masa bercumbu dengan buku. Masa lalu, kita memiliki janji suci dengan buku untuk mengerti pelbagai hal dan menentukan nasib. Buku itu pujaan, sebelum zaman terlalu genit dan menepikan buku di sudut remang. Nicholas Carr sengaja mengingatkan kita atas kemesraan manusia dan buku mulai tergantikan zaman internet memicu “pesta pora” mengumbar ketakjuban.

Page (2003) pernah berucap misi besar Google menciptakan “mesin pencarian paling canggih sama dengan orang pintar atau lebih pintar”. Nicholas Carr memberi lelucon: “Google bukan tuhan atau setan.” Kita tak ingin ada di debat sengit dan melelahkan. Kita kembali ke urusan si bocah bernama Google kelak bakal menikmati internet di pelbagai kepentingan. Kita mungkin pantas memberi sumbangan ke orangtua Google berupa buku berjudul Matinya Kepakaran (2018) garapan Tom Nichols. Google berada dalam asuhan orangtua sudah melek internet. Di lakon digital, doa untuk Google agar memiliki peran seperti Google itu kewajaran.

Pada saat kita berikhtiar mencari makna nama dan nasib di masa depan, Tom Nichols malah mengingatkan kita pada tragedi kepakaran gara-gara orang menjadi kaum internet. Tom Nichols menganggap tragedi di media sosial tak cuma penolakan terhadap kemapanan pengetahuan. Orang-orang kebablasan menjatuhkan sains atau rasionalitas demi perkara-perkara menguntungkan mereka dan menghancurkan lawan. Obsesi paling tahu dan cepat memastikan kebenaran disepelekan atau dibuang dari pembuatan dan sebaran berita ke publik.

Kita mungkin lekas menuduh bahwa internet itu momok. Tom Nichols memberi ralat agar internet jangan terlalu dipahami sebagai momok paling berdosa. Internet itu menawarkan jalan pintas ke pelbagai sumber pengetahuan alias sarana mempercepat kehancuran komunikasi antara para ahli dan orang awam. Kehancuran mencipta ilusi-ilusi memungkinkan orang mengetahui segala hal, tak lagi bergantung ke pakar. Parade ilusi membuat orang gampang tersesat atau sengaja menceburkan diri di jagat muslihat.

Peringatan terlalu genting dan pelik bagi Google yang masih berusia 6 bulan. Google berada di Indonesia sedang di pesta kolosal mengenai segala hal. Pada saat tulisan ini dikerjakan dengan membaca koran dan buku-buku, Google mungkin ada di percakapan dan perdebatan seru di media sosial. Penulis justru belum mengetahui atau belum ingin terlibat gara-gara masih berlagak sibuk membaca koran dan buku setiap hari tanpa jemu. Begitu.

Kuncen Bilik Literasi

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…