Jumat, Februari 26, 2021

Ganti Fahri Hamzah Saja Sulit, Bagaimana Mau Ganti Presiden?

Para Ulama Junjungan di Muhammadiyah

Saya tak tahu harus berkata apa terhadap Prof. Haedar Nashir dan Buya Syafii Maarif ini— dua ulama junjungan di sebuah organisasi terbesar di dunia....

Birdwatching di Yamdena, Maluku

Angin bertiup sangat kencang dan langit dipenuhi awan hitam. Tak terlihat sinar matahari. Tapi, tak ada rintik hujan saya rasakan menerpa muka saat mendarat...

Corona, Mobilitas Global, dan Insentif Pariwisata

Juli tahun 2019 lalu, pada International Symposium of Journal Antropologi Indonesia (ISJAI) di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, antropolog Anna Tsing bercerita soal nyamuk Aedes...

Mengenal Kekerasan Psikis Terhadap Perempuan

Kekerasan psikis terhadap perempuan kerap kali terjadi tanpa disadari oleh orang-orang yang menyaksikan, pelaku, bahkan korban sendiri. Sebuah penelitian tentang kekerasan terhadap perempuan di...
Avatar
Wahyudi Akmaliah
Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Manuver terselubung yang dilakukan oleh PKS (termasuk Gerindra dan para simpatisannya), melalui tagar #2019GantiPresiden, terbilang cukup cantik meskipun menyisakan satu persoalan mendasar. Saya sebut demikian karena PKS bisa memainkan dua kakinya dalam melakukan agitasi politik, untuk menciptakan dalih prakondisi mengapa 2019 harus ganti presiden: dalih aspirasi masyarakat, sebagaimana ditegaskan oleh Neno Warisman—walaupun di sana hadir penggagas dan penggeraknya, Mardani Ali Sera, Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera.

Dalam kampanye politik di Jawa Barat, gerakan ini bahkan terus didengungkan oleh para politisi PKS. Namun, karena tidak menggunakan atribut partai politik, baik bendera maupun simbol lain, Bawaslu tidak bisa menindak. Ini karena, itu merupakan aspirasi masyarakat dan sah saja untuk dilakukan. Dengan kata lain, deklarasi gerakan ganti presiden itu tidak dianggap bagian dari kampanye politik.

Dengan mengatasnamakan aspirasi rakyat, meskipun gerakan ini dalam kendali PKS, tagar ini menjadi semacam posisi tawar PKS kepada partai politik lainnya, sambil memperkuat basis untuk mendapatkan suara lebih besar dalam pemilihan legislatif 2019. Ini karena, PKS sendiri tidak bisa mengusung sendirian calon presiden, di mana perolehan suara secara nasional mereka hanya menempati urutan ketujuh, sebesar 8.480.204 suara (6,79%), di bawah PAN (6) dan PKB (5).

Sementara itu, yang dibutuhkan untuk mengajukan Presiden dan Wakil Presiden harus melewati ambang batas (threshold) 20 persen. Kursi PKS sendiri di DPR-RI dalam perolehan suara legislatif berjumlah 40 kursi, sedangkan syarat minimal kursi yang dibutuhkan adalah 112. Karena itu, PKS tetap membutuhkan mitra politik untuk berkoalisi dalam mencalonkan diri, baik itu dengan satu partai besar, seperti PDI-P, Golkar, Gerindra ataupun membentuk koalisi rombongan dengan PAN dan PKB.

Di sini, koalisi Gerindra yang sebelumnya terjalin sangat mungkin untuk diulang. Namun, narus diakui, elektabilitas Prabowo mulai menurun seiring pidatonya yang mencemaskan dan menjadi bahan tertawaan warganet, terkait Indonesia hilang tahun 2030 yang referensinya diambil dari sebuah novel fiksi. JIka harus berduet kembali dengan Gerindra, PKS juga harus rebutan kursi wakil presiden dengan PAN. Karena itu, di tengah kondisi tersebut, deklarasi yang diucapkan oleh Ketua DPP PKS tersebut hanya bisa menciptakan semacam prakondisi untuk kampanye politik terselubung agar ganti presiden. Ini karena, secara ambang batas mereka sangat tidak mungkin untuk mengajukan sendiri.

Pertanyaan mengenai siapa calon presiden yang diusung pun kemudian bahan perbincangan bagi publik Indonesia mengenai gerakan tersebut. Meskipun di tengah itu, di beberapa titik di Jakarta, muncul spanduk Mardani Ali Sera sebagai calon Presiden 2019 yang diusung oleh Pemuda Islam Untuk Perubahan. Ini merupakan manuver malu-malu yang memungkinkan dirinya menjadi tokoh publik yang dikenal luas. Apalagi, karena gerakan tagar ganti presiden ini, Neno Warisman kemudian menyebutnya sebagai Jenderal Gerakan. Hal ini, tentu saja, memberikan ruang publisitas bagi Mardani secara luas di tengah pencalonan Presiden Indonesia 2019, yang diusung oleh PKS bersama beberapa kader yang lain, seperti Ahmad Heryawan, Hidayat Nur Wahid, Anis Matta, Irwan Prayitno, Mohamad Sohibul Iman, Salim Segaf Al’Jufrie, Tifatul Sembiring, Al Muzammil Yusuf.

Di sisi lain, ada satu faktor celah dari PKS saat membangun gerakan ini. Celah inilah yang bisa menjadi bahan meme sekaligus tertawaan yang tersebar di pelbagai media sosial. Sederhana, tapi dampaknya akan massif jika tidak diantisipasi. Bahkan hal ini justru akan menjadi bumerang yang menyerang PKS sendiri: yaitu ketidakmampuan untuk mencopot Fahri Hamzah.

Meskipun PKS telah mengeluarkan surat resmi untuk pemecetannya di semua jenjang keanggotaan partai dan sebagai Wakil Ketua DPR RI, tetapi hal itu tidak membuatnya kehilangan pengaruh dan jabatannya di parlemen. Sebaliknya, Fahri Hamzah justru menang melawan PKS dalam gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ini karena, ia dipilih oleh lebih dari 100 ribu warga NTB dalam Pemilu 2014 meski menggunakan perahu PKS.

Tentu saja hal ini menjadi sangat kontraproduktif bagi PKS yang ingin melakukan gerakan besar mengganti Presiden 2019. Di luar mereka menggalang aspirasi masyarakat, bersuara keras mengkritik kepemimpinan lima tahun Jokowi, tapi di dalam mereka tidak bisa membenahi urusan rumah tangga sendiri. Inilah yang justru menjadi ganjalan utama dan persoalan mendasar PKS.

Padahal, kunci dan fondasi utama sebuah gerakan sosial yang bisa menginsipirasi banyak orang untuk bergerak adalan kesolidan internal dalam tubuh organisasi.

Avatar
Wahyudi Akmaliah
Peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.