Minggu, Oktober 25, 2020

Game of Thrones vs Ghost Fleet: Ketika Pembela Prabowo Bolos Pelajaran Bahasa

Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?

Bolehkah Muslim masuk ke gereja? Jangan emosi, kita ngaji kitab fikih, yuk! Sahabat dan guru saya, Ustaz Yusuf Mansur, meminta saya menjelaskan bagaimana hukumnya seorang Muslim memasuki...

Sekolah Sehari Penuh, Apakah Perlu?

Setelah dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy langsung mencuatkan wacana sekolah sehari penuh (full day school). Rencana kebijakan tersebut sontak memancing pro-kontra...

Gerakan #SaveDPR

Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang terdiri dari lintas Fraksi, termasuk dari Fraksi Partai Golkar, menggalang gerakan #SaveDPR untuk menyelamatkan citra DPR terkait...

Perempuan Harus Bersatu Merealisasikan RUU PKS

Melalui tulisan ini saya ingin menegaskan sikap: saya setuju dengan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dan siap berada di garis terdepan merealisasikannya....
Iqbal Aji Daryono
Esais, bertempat tinggal di Bantul.

Kian hari, saya kian merasa yakin bahwa banyak kericuhan politik rakyat jelata di Indonesia pada era pasca-2014 terjadi karena seringnya kita dulu membolos pada jam pelajaran Bahasa Indonesia.

Saya tak ingin mengungkit lagi kasus kata ‘pakai’, karena sudah terlalu basi. Kita ambil saja peristiwa terhangat yang muncul dari mulut Jokowi.

Kita tahu, Jokowi menyebut-nyebut satu judul sinetron. Dalam pertemuan IMF-Bank Dunia, ia mengatakan bahwa kondisi ekonomi dunia yang diakibatkan oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan China sekarang ini seperti kondisi yang terjadi dalam sinetron Game of Thrones.

“Namun akhir-akhir ini, hubungan antar negara-negara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat seperti Game of Thrones. Balance of power dan aliansi antarnegara ekonomi maju sepertinya tengah mengalami keretakan. Lemahnya kerjasama dan koordinasi telah menyebabkan terjadinya banyak masalah, seperti peningkatan drastis harga minyak mentah, dan juga kekacauan di pasar mata uang yang dialami negara-negara berkembang.”

Itulah kalimat-kalimat awal penyebutan Game of Thrones dalam pidato Jokowi. Selanjutnya, Jokowi menggambarkan bagaimana situasi perekonomian dunia, sembari mengambil beberapa unsur di dalam peta tersebut untuk dibandingkan dengan konfigurasi konflik dalam Game of Thrones.

Saya tidak percaya Jokowi nonton sinetron Game of Thrones, atau membaca novel tebal karya George R.R. Martin. Andai dia mengatakan “sebagaimana sinetron Game of Thrones yang saya tonton”, tentu pernyataan itu dapat dicurigai mengandung hoax dan bisa diperkarakan oleh Ratna Sarumpaet.

Namun, bukan kegiatan Jokowi yang akan saya bicarakan. Saya pun tidak ingin membahas hal-hal substantif semisal betulkah situasi ekonomi dunia saat ini memang mirip Game of Thrones, atau seberapa inkonsisten pernyataan Jokowi antara di depan bos-bos IMF dan di depan publik dalam negeri.

Sebagai pengamat profesional untuk topik-topik recehan, lebih menarik buat saya untuk mencermati respons massa buih dalam menanggapi pidato Jokowi tersebut. Salah satu bahasan yang paling laris adalah pembandingan antara kutipan Jokowi atas Game of Thrones dengan kutipan Prabowo atas novel Ghost Fleet.

Pada beberapa akun medsos ngetop yang sempat melintas di lini masa saya, muncul misalnya pernyataan semacam ini:

“Dulu novel Ghost Fleet dianggap rujukan yang salah bagi metafora politik karena yang mengutipnya adalah Prabowo. Tapi sekarang film Game of Thrones jadi rujukan yang sah bagi metafora politik karena Jokowi yang melakukannya. Standar ganda teruuuss!”

Poinnya, penempatan Game of Thrones pada pidato Jokowi dianggap sama polanya dengan pengutipan novel Ghost Fleet oleh Prabowo, yaitu sama-sama sebagai metafora untuk menggambarkan sesuatu.

Nah, betulkah demikian? Mari kita bedah saja satu demi satu.

Jokowi menyebut Game of Thrones untuk menggambarkan peta konflik ekonomi global saat ini. Segenap nama tempat, peristiwa, dan nama tokoh dalam film tersebut adalah fiktif. Namun, karena ada pola-pola yang mirip dengan konfigurasi perang dagang global di dalam sinetron tersebut, ia pun dijadikan pembanding. Di sinilah kata kuncinya: perbandingan, atau lebih spesifik lagi perumpamaan.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia, apa yang diucapkan Jokowi itu adalah majas perumpamaan. Jadi, sebenarnya lebih tepat disebut asosiasi daripada metafora. Poinnya adalah perbandingan dan perumpamaan, karena kesamaan beberapa unsur antara dunia nyata saat ini dan semesta Game of Thrones.

Jokowi tidak mengatakan bahwa kisah dalam Game of Thrones terjadi secara riil di dunia nyata ekonomi global. Ia tidak mengatakan, “Awas, Joffrey Baratheon tak lama lagi akan menyerang Indonesia dari arah Selat Malaka!” (Joffrey adalah salah satu tokoh bengis di Game of Thrones, yang saya juga cuma tahu dari Google—wong saya memang enggak nonton, hahaha.) Tidak, dia tidak mengatakan itu.

Sekarang, coba kita cermati pidato Prabowo waktu menyebut-nyebut novel Ghost Fleet. Beginilah kalimat yang diucapkan Prabowo sambil menunjukkan novel tersebut:

Ghost Fleet ini novel, tapi ditulis oleh dua ahli strategi dari Amerika, menggambarkan sebuah skenario perang antara China dan Amerika tahun 2030. Yang menarik dari sini bagi kita hanya satu: Mereka ramalkan tahun 2030 Republik Indonesia sudah tidak ada lagi!”

Perhatikan. Novel tersebut menuturkan narasi cerita tentang kehancuran Indonesia pada tahun 2030. Lalu, dalam pidatonya, Prabowo mengambil narasi itu sebagai acuan. Tidak cuma pada saat ia menyerahkan buku novel Ghost Fleet di FEB Universitas Indonesia, ramalan kehancuran Indonesia itu muncul juga pada sebuah video yang diunggah di akun Facebook resmi Partai Gerindra. Di situ Prabowo berpidato dengan berapi-api.

“Kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian, di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030!”

Nah, nah. Pada video itu Prabowo menekankan pendapat dari kajian-kajian di negara lain, bahwa Indonesia tidak ada lagi di tahun 2030. Di FEB UI, Prabowo mengatakan bahwa satu-satunya hal yang menarik dari novel Ghost Fleet adalah ramalan bubarnya Indonesia pada tahun 2030.

Lalu, di mana metafora atau asosiasinya?

Tentu saja tidak ada. Prabowo sama sekali tidak mengambil pola alur atau tokoh-tokoh dalam Ghost Fleet, lalu jalan cerita di novel itu ia ambil kemiripannya dengan situasi Indonesia. Sama sekali tidak. Prabowo mengambil begitu saja apa yang diramalkan dalam novel itu, sebagai sebuah referensi. Bukan sekadar sebagai sebuah asosiasi atas dua “dunia” yang bisa dibandingkan.

Walhasil, tidak sebagaimana Jokowi yang menyatakan bahwa hubungan antarnegara ekonomi maju semakin lama semakin terlihat “seperti Game of Thrones”, dengan kata “seperti” yang jelas sekali, tidak ada indikasi secuil pun bahwa Prabowo menempatkan Ghost Fleet sebagai pembanding atau perumpamaan dengan kata “seperti”.

Dalam pembentukan majas asosiasi, kata “seperti” berposisi sangat vital. Ia merupakan konjungsi subordinatif hubungan perbandingan, dan dapat pula diganti dengan “ibarat”, “bak”, “bagaikan”, “laksana”, “seolah-olah”, “seakan-akan”, atau “tak ubahnya”.

Kata tersebut diucapkan karena pembanding dan yang dibandingkan bukanlah satu entitas yang tunggal. Contoh, saya mengucapkan, “Saya ganteng seperti Christian Sugiono”. Jelas, kata “seperti” pada kalimat itu menunjukkan bahwa saya bukanlah Christian Sugiono. Namun, dengan kata itu pula, muncul makna bahwa ada unsur mirip yang bisa dibandingkan antara saya dan Christian Sugiono, yakni sama-sama gantengnya. Begitu. Sudah mules?

Kata hubung yang bersifat membandingkan itu tidak ada sama sekali dalam pidato Prabowo tentang Ghost Fleet. Yang dilakukan Prabowo sama sekali bukanlah bermetafora, berasosiasi, atau bermajas apa pun. Prabowo mengutip, merujuk, dan mengambil isi novel Ghost Fleet sebagai referensi.

Antara Jokowi yang mengambil metafora atau asosiasi, dan Prabowo yang mengambil referensi, tidak dapat dipandang sebagai dua aktivitas yang sama dan sebanding. Jokowi mengambil novel fiksi sebagai perumpamaan, Prabowo mengambil novel fiksi sebagai acuan fakta yang harus dicemaskan.

Iqbal Aji Daryono
Esais, bertempat tinggal di Bantul.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.