OUR NETWORK
Mengenal Dunia Lewat Film

[sumber: kapanlagi.com]
Masih dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, perjuangan hak anak masih terus digaungkan. Keluarga menjadi pokok dalam perjuangan itu. Bagi orangtua, tentu membesarkan anak bukan hal mudah—bukan sekadar perkara menjadikan anak itu tumbuh secara fisik, tetapi juga memberi pendidikan laku sosial yang cukup.

“Beragam-namun-rukun”

Tahun ini, hari anak nasional mengangkat tema “Cinta Tanah Air Melalui Kebhinekaan Dalam Keberagaman Budaya Menuju Persaudaraan dan Kerukunan”. Poin beragam-namun-rukun itu pekerjaan berat untuk Indonesia. Dalam penelitian Lembaga survei Indo Barometer, masalah agama dan SARA berada di peringkat ketiga kategori permasalahan terpenting Indonesia—setelah perekonomian rakyat dan harga pangan—dengan angka 8,3 persen.

Sementara itu, Wahid Institute bekerjasama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI) di 34 provinsi melakukan survei tentang intoleransi dengan menggunakan multistage random sampling. Hasilnya menunjukkan bahwa tingkat intoleransi masih tinggi. Salah satu indikatornya adalah banyak orang yang tidak mau bertetangga dengan orang yang tidak disukai, mulai dari kelompok LGBT, komunis, hingga orang beragama Kristen.

Karena itu, hak anak Indonesia untuk tahu bahwa bagi manusia—apalagi di negara kepulauan Indonesia—perbedaan tak terelakkan. Namun, tak lantas manusia pantas menafikan satu sama lain.

Pekerjaan yang tidak mudah itu bisa dimulai dari penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran. Ini era canggih. Orangtua dengan mudah dapat mengakses lebih banyak media belajar—mulai dari aplikasi belajar daring hingga game.  Anak-anak dapat setiap saat belajar sambil bermain.

Pemisahan tegas antara bermain dan belajar memang tidak perlu. Berdasarkan esensinya, pendidikan adalah sebuah fenomena yang tampak di hadapan manusia—termasuk budi, jiwa, keutuhan pribadinya. Maka, tak ada satu perbuatan pun yang an sich sudah berupa pendidikan. Pendidikan tidak dapat dibatasi dengan perbuatan apa pun. Istilah gaulnya, hidup adalah sekolah terbaik, dan pengalaman adalah guru terbaik.

Perbuatan mendidik sungguh mendalam sifatnya. Ia tidak terikat pada bentuk tertentu, dan yang penting membawa anak ke taraf insani. Bukan tak mungkin menuju beragam-namun-rukun disampaikan melalui media kekinian. Salah satunya film.

Sejak tahun 1950-an, anak-anak sudah gandrung nonton film. Kini, menurut survei Litbang Kompas, 99,5% anak usia 13-18 tahun di Jakarta menonton televisi, mengalahkan aktivitas baca koran yang hanya 63,9%. Persembahan audio-visual yang konkret dapat membuat hal-hal ditangkap dengan lebih familiar, mudah, dan menyenangkan.

Film adalah pendidik—layaknya guru di kelas-kelas—yang memimpin anak didik dalam eksplorasi menemukan realitas. Dalam film, kita disajikan problem dan penyelesaiannya. Transfer ilmu melalui film idealnya dapat lebih maksimal dengan adanya ruang diskusi yang efektif sesama penonton. Dengan diskusi, hubungan timbal balik tetap berlangsung. Penonton film tak duduk diam dan pasif, tetapi juga mengkritisi film.

Karena sifat film—sebagai karya seni—yang tak netral, film jadi lebih asik untuk diperbincangkan. Seorang anak dapat tidak sepakat dengan apa yang terkandung di dalamnya, bisa pula sepakat, atau sepakat dengan syarat-syarat.

Tanpa kita sadari, film adalah salah satu bentuk humanisasi yang membuat manusia bisa meraih perkembangan yang lebih tinggi, seperti tampak dalam kemajuan-kemajuan budaya dan ilmu pengetahuan. Humanisasi itu dapat mengantar manusia menuju kecerdasan intelektual, spiritual, sekaligus sosial.

Berharap pada Film Televisi

Kini, akses terhadap film dipermudah oleh televisi. Masalahnya, berapa banyak film televisi Indonesia yang memberi pengajaran positif kepada anak-anak? Sekarang, film keluarga yang ramah anak jarang ditemukan. Ketika ada film yang menceritakan tentang keluarga dengan anak-anak, sebagian besar sebatas menggunakan anak untuk menyampaikan masalah orang dewasa.

Sungguh wajar jika anak yang lahir di tahun 1990-an merindukan film keluarga macam Keluarga Cemara. Film yang diadaptasi dari cerita bersambung majalah Hai ini ditulis oleh Arswendo Atmowiloto dan tayang tahun 1996 hingga 2005.

Satu hal yang khas dari film ini adalah bagaimana masalah keluarga dikemas dengan apa adanya. Tokoh utama Keluarga Cemara adalah Abah, Emak, Euis, Cemara atau Ara, dan Agil. Setiap anggota keluarga punya masalah masing-masing. Mereka menghadapi dan menyelesaikannya dengan cara masing-masing dengan tidak melupakan orisinalitas dan kesesuaian usia. Perjuangan orang dewasa dalam berjuang hidup layak hingga celotehan asal khas anak-anak ada di Keluarga Cemara.

Abah dan Emak—berusia paling matang—memiliki masalah finansial yang senantiasa membelit. Soal utama memang perkara finansial sebab Abah, Emak, dan Euis harus hidup di bawah bayang-bayang hidup sebelumnya yang mewah di Jakarta. Sementara, Ara dan Agil hanya dapat cerita. “Kata teh Euis, dulu Abah juga punya TV… Kata teh Euis, Abah juga punya mobil.”

Ditambah pula suka duka membesarkan tiga anak perempuan. Sungguh terlihat tidak mudah Abah dan Emak menghadapi kondisi psikologi anak-anak yang beragam kepribadian dan makin berkembang. Euis rajin berjualan opak untuk menambah penghasilan keluarga. Sementara itu, Ara memiliki masalah dengan teman sepermainannya, terutama dengan Pipin, gadis kecil kaya anak Tante Pressier.

Kelebihan film Keluarga Cemara adalah dunia yang tidak melulu hitam dan putih. Keluarga itu memang sering terlihat sial, namun tampaknya keberuntungan dapat diperoleh dengan cara lain. Keberuntungan itu adalah kebahagiaan yang pandai benar mereka hadirkan dengan caranya sendiri. Hidup keluarga itu bagai air danau yang meski beriak sedikit tapi senantiasa kembali tenang akhirnya.

Salah satu musabab kebahagiaan adalah Abah. Selain ekspresi sayang yang tulus, ia selalu berhasil mencari nilai positif. “Alangkah bahagianya air mata, bila itu menghadirkan kelegaan,” begitu ujar Abah. Keutamaan itu tertular terutama pada Euis. Ketika Agil merengek minta makan ayam, Euis menyiasatinya dengan numpang goreng tahu di tukang ayam di pasar. “Baunya juga sama,” katanya menghibur sebelum menyuapi Agil.

Media Film

Keluarga Cemara adalah cerminan keluarga di mana pun yang dituntut untuk selalu sabar. Namun, film itu menunjukkan bahwa mempertanyakan realitas bahkan marah padanya juga perlu. Itu penting dalam proses belajar.

Saya kira pandangan dunia yang tidak melulu hitam dan putih sama dengan mengiya sekaligus menidak, mirip dengan yang dinyatakan filsuf besar Albert Camus. Seperti pula hidup, realitas yang dipersembahkan film pertama-tama harus diterima, sekaligus juga ditolak. Penolakan itu adalah sebuah pemberontakan untuk tidak larut dalam situasi yang dianggap janggal.

Fakta bahwa korupsi itu sudah jadi banal, ya, kita akui; bahwa kita membiarkan diri hanyut dalam praktiknya, tentu tidak. Fakta bahwa keberagaman itu niscaya adanya, ya, kita terima; bahwa kita harus saling menyakiti mereka yang berbeda, tentu tidak. Itu mengapa mempelajari keberagaman dunia lewat film dan mendiskusikannya menjadi relevan.

Persoalan langkanya film keluarga patut menjadi kepedulian dan basis gerakan pendidikan di Indonesia. Tentu tak harus membuat film baru, film lama juga bisa dipakai untuk kampanye dari sekolah ke sekolah, lapangan ke lapangan—dengan layar tancap atau proyektor.

Tentu upaya itu efektif untuk memberi hiburan dan pendidikan. Anak-anak disuguhkan tentang keragaman dan hubungan antar-manusia, kemudian berdialektika tentang cara menghadapinya.

Baca juga:

Hei Orangtua, Anak Bukan Samsak Tinju! [Hari Anak Nasional]

Ketika Anak Bertanya Dalil Mencintai Ibu

Anak, Pendidikan, dan Kebinekaan

Aura Asmaradana

Mahasiswi tingkat akhir di STF Driyakarya, Jakarta. Karyanya, “Solo Eksibisi” – Kumpulan Cerita Pendek (2015)

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

REKOMENDASI

KARTUN HARI INI

OPINI TERBARU

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…