OUR NETWORK

Mengarahkan Arus ala Pidi Baiq

Di tengah sebagian mereka yang memilih jalan dengan berhijrah, saya banyak berharap pada sosok seperti Surayah Pidi Baiq untuk menyampaikan Islam rahmatan lil ‘alamin.

Drunken Monster, Drunken Molen, Drunken Mama, dan Drunken Marmut merupakan Tetralogi Drunken yang ditulis Pidi Baiq sebelum ia menulis Trilogi Dilan: Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990; Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991; dan Milea: Suara Dari Dilan.

Selain tetralogi dan trilogi tersebut, Pidi Baiq juga menulis sejumlah buku lain seperti at-Twitter: Google Menjawab Semuanya, Pidi Baiq Menjawab Semaunya, al-Asbun: Manfaatul Ngawur, dan Asbunayah.

Nah, berkat film Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 yang diangkat ke layar lebar berdasarkan judul novel yang sama, popularitas Pidi Baiq semakin menjadi-jadi. Awalnya mungkin hanya segelintir individu atau kelompok tertentu yang mengenalnya. Hal ini dapat dipahami karena caranya berkarnya melalui buku dan musik memang tidak lazim. Alih-alih mengikuti arus, ia seolah berusaha mengarahkan arus itu sendiri.

Bersama dengan orang kondang asal Bandung lainnya seperti Yuki Arifin Martawidjaja dan Yana Umar, Surayah notabene menjadi idola, sekaligus panutan, para pemujanya. Film Dilan benar-benar menjadi titik baliknya.

Sebagai warga Bandung, ia pun melekat dengan geng motor dan musik indie. Kedua entitas tersebut memang akan mempengaruhi kepribadian orang-orang yang tinggal di sekitarnya sesuai kadarnya. Karena hubungan individu dan kelompok akan mempengaruhi dan mengubah individu atau kelompok lain maupun sebaliknya. Hingga akhirnya menentukan sistem dan bentuk hubungan sosial sebagaimana diteorisasikan oleh Soerjono Soekanto.

Maka, tak usah heran jika sosok Dilan yang dikisahkan, baik melalui novel maupun film, dikenal sebagai seorang Panglima Tempur. Karena di Bandung sendiri terdapat beberapa perkumpulan motor yang pengaruhnya menyebar ke beberapa kota sekitar seperti Garut dan Tasik. XTC (Exalt To Coitus), BRIGEZ (Brigadir Seven), dan Moonraker merupakan beberapa di antara geng motor tersebut.

Surayah juga tak ketinggalan berkiprah di dunia musik melalui band indie. THE PANASDALAM yang merupakan akronim dari aTHEis, PAganisme, NASrani, hinDu budhA, dan isLAM dijadikannya tempat berdendang; di mana ia mengangkat dirinya sendiri menjadi Imam Besar.

Namun, ada satu entitas yang kurang disinggung olehnya, padahal entitas tersebut menjadi magnet tersendiri bagi warga Jawa Barat. Tak lain dan tak bukan adalah Persib, klub sepakbola asal Kota Kembang yang dua kali merengkum gelar kampiun Liga Indonesia.

Sejauh yang bisa ditelusuri, Surayah hanya mendedikasikan satu lagu saja untuk Persib. Itu pun karena permintaan Heru Joko, Ketua Viking Persib Club, salah satu kelompok suporter yang memiliki basis massa yang jumlahnya sangat banyak. Padahal, jika dihitung secara kalkulasi politik jelang Pilkada Serentak 2018 di Jawa Barat dan Pilpres 2019 nanti, suara suporter tak bisa dikesampingkan. Meski tak ada jaminan juga jika mereka akan satu suara dalam mendukung calon tertentu.

Tapi, namanya juga Surayah, ia tak akan memikirkan hal itu seperti, meminjam judul lagu Pas Band di album Stairwat to Seventh, layaknya Nyoto Rahwono (para politisi).

Di Antara Mereka yang Hijrah

Kota Bandung tahun 90-an seperti yang dikisahkan Surayah dalam Dilan memang sudah berubah. Perubahan tersebut bukan hanya terlihat dari struktur kota dan suhunya, namun juga dalam kontestasi gerakan islam.

Sejak bergulirnya iklim kebebasan dan reformasi pasca demokrasi, dalam dua dasawarsa terakhir ini kita melihat berkembang biaknya kelompok Islam transnasional seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir Indonesia, dan Salafi seperti yang di antaranya terekam dalam buku Ilusi Negara Islam. Dalam konteks kekinian, Bandung pun nge-trend melalui Gerakan Pemuda Hijrah dengan Tengku Hanan Attaki sebagai salah seorang yang ditokohkan. Juga Jamaah Tabligh yang tentu tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Pengaruh gerakan Islam yang menyeruak ke permukaan pasca reformasi ini turut mempengaruhi orang kondang asal Bandung seperti Yana Umar dan Yuki Arifin Martawidjaja. “Bool”, begitu Yana Umar biasa disapa, merupakan salah seorang pentolan Viking. Titik balik yang menimpa Yana terjadi kala ia bermimpi tentang kiamat di suatu malam pada bulan Oktober 2016. Semenjak mengalami mimpi itu, ia menjadi lebih religius. Dari berbagai aktivitas yang diunggah di instagram, Yana kerap membagikan konten terkait ajaran Islam.

Dalam satu dasawarsa terakhir dapat dengan mudah dijumpai beberapa musisi yang berhijrah. Salah satu sosok yang baru, meski mungkin bukan yang paling baru, adalah Yuki Arifin Martawidjaja. Kecelakaan pada Mei 2015 yang menyebabkan bagian pahanya terluka, tulang kering bengkok, lutut retak serta bisnis yang macet (bangkrut) membuat orientasi vokalis Pas band ini berubah. Dari yang semula serba material menjadi lebih sederhana. Puncaknya, ia mengalami titik balik ketika mengikuti khuruj selama tiga hari bersama Jamaah Tabligh di tahun 2017.

Pasca hijrah, Yuki dan Yana Umar kerap mengajak orang-orang terdekat untuk berhijrah seperti yang telah mereka lakukan. Bahkan Yuki sering berdakwah kepada para fans dan mendirikan Passer Hijrah, mengikuti jejak sang idola.

Aktivitas yang dilakukan Yuki mengingatkan kepada studi tentang gerakan sosial yang menekankan rekrutmen dan mobilisasi menjadi bagian penting untuk dapat mengetahui berkembangnya sebuah gerakan seperti dikemukakan Robert H. Lauer dalam Social Movemenets: A Social Movement Theory Approach.

Berbeda dengan Yuki, yang dilakukan Yana Umar dengan mengajak orang-orang terdekatnya untuk berlaku serupa mengingatkan pada beyond resource mobilization theory. Steven M. Buechler dalam Beyond Resource Mobilization? Emerging Trends in Social Movement menyatakan bahwa mobilisasi dalam gerakan tidak hanya terbatas pada jaringan formal, tetapi juga jaringan non-formal yang ada pada masyarakat seperti kekerabatan.

Berbeda dengan Yuki dan Yana Umar yang telah berhijrah dan mempelajari Islam belum lama ini, Surayah telah bersinggungan dengan pandangan keislaman jauh sebelumnya. Melalui diksi “Imam” yang diikuti dengan “Besar The Panas Dalam” adalah buktinya.

“Imam” sendiri merupakan diksi yang sangat melekat pada kelompok Syiah, bukan Sunni yang pandangan keagamaannya dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia. Bahkan diksi “Imam” dipakai Surayah jauh sebelum Rizieq Shihab men(di)deklarasikan sebagai Imam Besar FPI, misalnya.

Namun, dengan memilih diksi “Imam” tidak lantas menjadikan Surayah (atau Dilan) sebagai seorang Syiah. Klarifikasi telah dilakukan dalam postingan Instragram pada 5 Februari lalu sebagai upaya menjawab tuduhan Dilan (atau Surayah, yang keduanya sangat identik dan sulit untuk dipisahkan) adalah Syiah.

Yang perlu dilihat adalah, alih-alih penyesatan Syiah yang merebak dalam beberapa tahun terakhir, Revolusi Iran pada 1979 menjadi inspirasi umat Islam saat itu dan beberapa tahun setelahnya. Bahkan revolusi tersebut dianggap sebagai simbol perlawanan Islam melawan hegemoni Barat.

Bukti lain yang menunjukkan persinggungan pemikiran Surayah dengan pemikiran keislaman dapat dilacak melalui karya-karyanya. Dalam Tetralogi Drunken ada  satu tulisan berjudul “Naruto Bersyukur” yang diadopsi dalam sebuah film pendek dengan judul yang sama. Film tersebut mengajarkan arti pengedalian diri yang mana merupakan watak dasar Naruto. Naruto sendiri merupakan anime karya Masashi Kishimoto.

Bukti lain untuk menunjukkan persinggungan pemikiran sekaligus menasbihkan pemahaman Surayah akan Islam bisa ditelisik dalam lagunya yang berjudul “Kucing adalah Anjingku”. Bagi yang tumbuh dewasa di lingkungan pesantren atau intens melakukan kajian keislaman, akan dengan mudah menebak bahwa lirik dalam lagu tersebut terinspirasi dari hadits populer tentang “jihad yang paling utama adalah melawan diri sendiri (hawa nafsu)”.

Di antara mereka yang hijrah dan mengubah pola hidup serta dakwahnya, Surayah sudah memiliki fondasi dan ciri khas tersendiri. Setidaknya sejak 2006 ketika penulis pertama kali mendengar karya-karyanya melalui The Panas Dalam. Karya-karya yang dihasilkannya menyuguhkan nilai filosofis dengan cara penyampaian yang tak lazim. Sebagaimana disinggung di awal, alih-alih mengikuti arus, ia berusaha mengarahkan arus itu sendiri.

Akhirnya, di tengah sebagian mereka yang memilih jalan dengan berhijrah, saya banyak berharap pada sosok seperti Surayah Pidi Baiq untuk menyampaikan Islam rahmatan lil ‘alamin. Pendekatan Surayah melalui karya-karyanya dengan cara yang tak lazim mengingatkan pada upaya yang ditempuh Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Nusantara melalui pendekatan budaya.

Dakwah-dakwah Wali Songo dan Surayah, dalam pendangan saya, akan jauh lebih diterima khalayak daripada dakwah kelompok-kelompok yang kaku. Terlebih, kelompok yang memilih kematian sebagai jalan utamanya, atau “teologi maut” dalam istilah Buya Syafii Maarif.

Kolom terkait:

Ketika Dilan Memilih Puisi atau Nasi?

Ayat-Ayat Dilan: Dari Surayah ke Tren Hijrah

Dilan dan Situasi Nasional

Kepulangan Rizieq dan Arah Gerakan 212

Pipit Aidul Fitriyana
Manager Program MAARIF Institute for Culture and Humanity

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…