OUR NETWORK

Kematian yang Dirayakan

Jika sampai hari ini Anda belum menonton film komedi juga dramatis ini, bergegaslah. Coco tak cuma berisikan hal tentang menggapai mimpi dengan segala kekuatan. Lebih dari itu, mimpi harus diutamakan, tanpa mengenyampingkan keluarga.
FAMILY REUNION -- In Disney•Pixar’s “Coco,” Miguel (voice of newcomer Anthony Gonzalez) finds himself magically transported to the stunning and colorful Land of the Dead where he meets his late family members, who are determined to help him find his way home. Directed by Lee Unkrich (“Toy Story 3”), co-directed by Adrian Molina (story artist “Monsters University”) and produced by Darla K. Anderson (“Toy Story 3”), Disney•Pixar’s “Coco” opens in U.S. theaters on Nov. 22, 2017. ©2017 Disney•Pixar. All Rights Reserved.

Yang mati tetap mati, tugas mereka yang hidup adalah untuk terus mengingat yang mati.

Kalimat ini begitu mengena. Satu di antara banyak kalimat yang menginspirasi dalam film Coco produksi Disney juga Pixar. Jika sampai hari ini Anda belum menonton film komedi juga dramatis ini, bergegaslah. Banyak hal positif yang bisa Anda bagikan untuk anak-anak tersayang, juga untuk orang dewasa guna memupuk lagi kedewasaannya.

Banyak orang salah kaprah bahwa film Coco ini berisikan hal tentang menggapai mimpi dengan segala kekuatan. Padahal, film ini lebih dari itu. Mimpi harus diutamakan, tanpa mengenyampingkan keluarga. Jadi, yang terutama adalah kasih keluarga. Tentang bagaimana keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup maupun dunia setelah kematian. Untuk apa mimpi besar jika keluarga akhirnya harus terpecah?

Begitu pula seorang yang menyebut diri sebagai orang tua harus mampu melihat segala sudut pandang. Segala kebencian tidak perlu dipelihara, diternak, hingga beranak pinak. Bagaimana memaafkan masa lalu adalah keharusan. Sebab, masa lalu sama sekali bukan kutukan, melainkan pijakan untuk melangkah hati-hati di masa depan.

Film Coco selama kurang lebih 2 jam ini sama sekali tak ada bagian yang membosankan atau monoton. Saya begitu menikmati bagaimana seorang anak bernama Miguel mengayunkan kotak semir hingga beralih mengayunkan gitar. Perjalanan seorang anak berumur 12 tahun sungguh menarik bagi orang dewasa (tampangnya) seperti saya.

Miguel (Anthony Gonzalez) tinggal di sebuah desa di Meksiko. Ia berasal dari keluarga pembuat sepatu yang merupakan satu-satunya keluarga pembenci musik karena mereka percaya bahwa keluarga mereka telah dikutuk oleh musik selamanya. Namun, diam-diam Miguel memiliki ambisi akan musik dengan cita-citanya yang ingin menjadi seorang musisi ternama seperti sang idolanya, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt), yang telah lama meninggal. Kisah bagaimana seorang idola meninggal juga menjadi bumbu sedap film ini.

Miguel merasa bahwa dia dengan sang idola memiliki ikatan kuat yang membuat Miguel pergi ke pemakamannya. Dengan memainkan gitar sang legendaris yang terdapat pada di nisannya, kebahagiaan Miguel tak berlangsung lama karena ia tak menyadari jika pada hari itu merupakan Dia de Muertos, hari di mana semua orang berkumpul di makam untuk bertemu sanak keluarganya yang telah lama meninggal. Hal tersebut membawanya ke Land of the Dead, tempat orang mati berada.

Dan yang buruknya lagi, di sana dia akan bertemu dengan nenek moyangnya yang melarang kehadiran musik di tengah keluarga mereka. Namun, tekadnya semakin menjadi, ia berusaha untuk bertemu sang idola, de la Cruz dengan bantuan dari roh ramah (dalam bentuk kerangka) dan seorang penipu bernama Hector (Gael Garcia Bernal) untuk mencari keberadaan de la Cruz, akan tetapi dia juga harus berpacu dengan waktu untuk kembali ke Tanah Kehidupan (the Land of the Living) sebelum waktunya habis.

Coco menjadi menarik karena kental dengan konflik batin. Konflik batin ini tak berwujud, namun dampaknya amat sangat menyiksa. Inilah yang tengah dialami Miguel, Mama Coco, kakek buyutnya, juga sebagian besar tokoh dalam film ini.

Ide cerita Coco ini mengambil konsep Dia de Muertos, sebuah tradisi di Meksiko yang memperingati kematian para leluhur. Di Meksiko, Dia de Muertos menjadi hari libur nasional yang diperingati setiap 31 Oktober dan berakhir pada 2 November. Sejak 2008, Dia de Muertos dimasukkan dalam daftar Intangible Cultural Heritage of Humanity oleh UNESCO.

Perayaan hari orang mati ini begitu menarik perhatian saya. Bagaimana yang mati masih bisa merasakan kerinduan, masih berharap terus diingat, masih memiliki cinta yang begitu besar untuk mereka yang ditinggalkannya. Sedangkan kita yang hidup selalu berpikir bahwa yang mati telah mati. Tidak akan merasakan apa-apa, telah terbebas dari segala rindu, terbebas dari tangisan, juga hanya kehidupan-kehidupan yang mengejutkan selanjutnya.

Namun, setelah kematian, banyak orang percaya bhawa kehidupan setelah kematian masih sama, bahkan serupa dengan yang hidup. Bedanya, mungkin jika di dunia keegoisan, kemewahan, amarah, iri dengki, menebar fitnah, masih dominan dilakukan.

Dia de los muertos menjadikan hari kematian bukan lagi waktu untuk bersedih melainkan momen bahagia dan perayaan. Selama perayaan berlangsung, keluarga biasanya mengunjungi makam dan membawa ofrendas (persembahan) untuk almarhum, seperti bunga, lilin dan makanan. Kegiatan dalam perayaan ini antara lain membersihkan makam dan menghiasinya, seperti meletakkan mainan di makam anak-anak, dan untuk makam orang dewasa bisa dihias dengan perhiasan dan botol-botol minuman beralkohol.

Sementara itu di rumah-rumah, keluarga membuat altar dan menghormati orang yang telah meninggal dengan roti manis, makanan kesukaan almarhum, foto, marigold (bunga kematian), air tawar, pernak-pernik, dan gula berbentuk tengkorak (sugar skull).

Ada juga makanan yang disiapkan untuk menyambut orang yang sudah meninggal. Jenis makanannya antara lain gula-gula berbentuk tengkorak, labu permen, pan de muerto (roti kematian), yaitu roti telur manis, dan atole yang terbuat dari tepung jagung, kayu manis, kacang vanila, piloncillo (gula khas Meksiko), dan bubur buah pilihan.

Masyarakat setempat percaya bahwa orang yang sudah meninggal akan “menikmati” persembahan tersebut. Penikmatan itu bisa berwujud lain, bergantung bagaimana yang mati menikmatinya. Inilah nilai budaya yang tak pernah abai ditampilkan dalam setiap produksi Disney. Nilai kearifan lokal tetap menjadi sajian mengejutkan di tengah nama Disney yang begitu modern, mendunia, juga paling fenomenal.

Seperti kearifan lokal dalam film Moana yang sungguh-sungguh mengangkat nilai keharmonisan antara alam dan manusia yang terjalin begitu erat. Dalam Coco, nilai budaya menghargai orang mati dan mempertahankan kepercayaan bahwa yang mati akan berkunjung pada hari-hari tertentu berhasil menyuguhkan tradisi yang baik untuk dikagumi. Tradisi menghargai yang mati ini mungkin dimiliki beberapa negara dengan variasi yang berbeda. Ada berbasis ritual, berbasis suka, berbasis hiburan, yang jelas semuanya sarat akan makna bahwa yang mati harus dihormati.

Seperti Dia de los muertos di Meksiko, Bali juga punya banyak cara menghargai yang mati. Apalagi, Bali dengan budaya juga agamnya yang sangat percaya hukum reinkarnasi (kelahiran kembali) bagi setiap mahkluk yang tercipta.

Menyaksikan film Coco, saya teringat cerita ayah saya tentang bagaimana seorang yang mati (dalam Hindu-Bali), arwahnya akan ditempatkan sementara waktu di pura dalem puri untuk ngayah (kerja tulus ikhlas). Sebelum dilakukan upacara ngaben, arwah ini menempati tempat tersendiri di Pura Dalem Puri Besakih. Dengan begitu, masyarakat percaya bahwa pada hari suci tertentu, arwah leluhur ini harus dikunjungi, diberikan sesaji, dan yang paling penting doa terbaik untuk membantu leluhur ini melepas segala karma jahatnya selama hidup.

Apa yang terjadi jika tak ada keluarga yang berkunjung pada hari itu? Atau mungkin lupa berkunjung? Arwah leluhur itu akan menunggu, arwah itu akan mencari-cari di antara banyaknya pengunjung, yang mana ditujukan kepadanya. Jika tetap tak ada, maka arwah itu akan menyesali diri, sebab tak ada lagi yang mengingat, tak ada yang hidup yang datang padanya untuk mendoakan perjalannya menuju nirwana.

Lihat saja, jika tiba hari perayaan di Pura Dalem Puri, seminggu penuh, pelataran pura akan penuh sesak oleh orang-oarang yang datang dari berbagai penjuru. Orang-orang yang masih percaya bahwa leluhurnya mempercayai ada kehidupan setelah kematian yang harus dirayakan, didoakan.

Jika tidak ada lagi yang percaya? Mungkin dunia kematian dan kehidupan tak akan berjarak. Yang mati seolah bisa merasa hidup kapan pun, dan yang hidup seolah merasa mati, tiap hari, tiap menit, bahkan tiap detik.

Ni Nyoman Ayu Suciartini
Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.