Senin, Maret 8, 2021

Gender dan Relasi Keberagamaan dalam Ayat-Ayat Cinta 2

AADC 2 dan Antusiasme Penggemar Budaya Populer

Film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2 yang kini tengah diputar di berbagai gedung bioskop di kota-kota besar di Indonesia, dan bahkan di beberapa...

Ketika Dilan Memilih Puisi atau Nasi?

Kelas 2 SMA belajar morfologi? Jangan. Itu Berat. Biar Dilan saja yang melakukannya. Dilan yang serba bisa. Dilan yang begitu ajaib. Sayangnya, Dilan bersama kawan-kawannya...

Perjuangan Tiga Perempuan Kulit Hitam Melawan Diskriminasi di NASA

Film kerap mengandung pesan politis, atau bahkan memiliki pendirian politik tertentu. Meskipun terkesan aneh, kombinasi ini telah bertahan lama dan masih berhasil menarik perhatian....

Mengenal Dunia Lewat Film

Masih dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, perjuangan hak anak masih terus digaungkan. Keluarga menjadi pokok dalam perjuangan itu. Bagi orangtua, tentu membesarkan anak...
Ahmad Muttaqin
Santri Quranic Studies. Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Natal, 25 Desember 2017, saya menunaikan hajat penasaran untuk menonton film Ayat-Ayat Cinta 2” (baca: AAC2). Film ini baru dirilis 21 Desember 2017 dan telah mendapat sambutan hangat di tengah masyarakat. Sampai-sampai Ketua MUI KH Ma’ruf Amin, Prof. BJ. Habibie, dan tokoh lain ikut memberikan testimoni positif.

Film yang disutradarai oleh Guntur Soehardjanto ini sejatinya diangkat dari novel Habiburrahman El Shirazy dengan judul yang sama. Saya sendiri belum sempat membaca novelnya. Asumsi saya, kesuksesan novel dan film Ayat-Ayat Cinta yang membuat film AAC2 ini punya magnet kuat menyerap banyak penonton, setidaknya sampai saat saya menontonnya.

Film ini mengisahkan sosok Fahri sebagai dosen di salah satu universitas Eropa yang mengajar tentang Islam. Ia merasa kehilangan istrinya, Aisha, yang telah lama pergi menjadi relawan di jalur Gaza namun belum kunjung ada kabar. Saat rasa kehilangan itu, muncul Hulya dalam hidup Fahri, yang juga sepupu Aisha.

Relasi Keberagamaan

AAC2 menampilkan sosok Fahri sebagai Muslim yang hidup di tengah keragaman beragama. Tetangga Fahri, nenek Catarina, adalah seorang Yahudi. Keira, tetangga depan Fahri, adalah seorang beragama Katolik. Fahri digambarkan sebagai seorang Muslim yang taat dan sangat mengedepankan rasa kemanusiaan. Ia tak segan memberikan bantuan kepada tetangga-tetangganya yang sedang dalam masalah, walau mereka bersikap kasar kepada Fahri.

Film ini sedang memberikan edukasi pentingnya menghargai perbedaan dan menolong kepada siapa pun atas nama kemanusiaan. “Yang paling patut kita cintai adalah cinta itu sendiri dan yang paling patut kita musuhi adalah permusuhan itu sendiri”, ungkap Fahri dalam salah satu scene film.

Ketika Fahri difitnah oleh nenek Catarina, ia justru tetap menawarkan bantuan mengantar nenek Catarina ke Sinagog untuk beribadah. Ketika adik Keira dalam masalah dengan kasus pencurian di mini market milik Fahri, Fahri justru melakukan pendekatan persuasif dengan menampilkan akhlak sebagai Muslim yang ramah dan memaafkan.

Keira yang kesulitan melanjutkan sekolah musik, diam-diam oleh Fahri disewakan guru biola yang terkenal. Berkat itu, Keira mampu sukses berkarir dalam musik biola tanpa sepengatahuan jasa Fahri yang mendatangkan guru biola dengan biaya yang mahal.

Scene yang diperankan Fahri adalah inspirasi dari sunnah Nabi. Fahri menyebutkan membantu tetangga adalah perintah Rasulullah. Artinya, film ini juga bentuk living sunnah di mana komunitas film meresepsi hadis Nabi kemudian dituangkan dalam AAC2. Nilai-nilai sunnah Nabi berusaha dihidupkan dalam film ini.

Sampai di sini, Fahri digambarkan sebagai sosok Muslim yang baik dan bijak yang patut dicontoh. Bentuk toleransi Fahri terhadap pemeluk agama lain juga memberikan gambaran Fahri sebagai Muslim Indonesia yang memegang nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, bukan hanya dalam teori tapi juga dalam tingkah laku kehidupan sehari-hari.

Hanya saja, ketika film ini berusaha membangun nilai-nilai toleransi, di saat yang sama ia menampilkan ketidakadilan toleransi. Beberapa scene di awal lebih banyak menampilkan sikap toleransi Fahri sebagai Muslim kepada non-muslim. Sebaliknya, tokoh-tokoh non-Muslim yang ada dalam kehidupan Fahri dicitrakan sebagai penganut agama yang fobia dan benci kepada Islam, termasuk kepada Fahri sebagai Muslim.

Ketika film ini menampilkan flashback Aisha di jalur Gaza, bentuk toleransi yang sedari awal ingin dibangun menjadi lumpuh. Scene tentara Israel yang menganiaya Aisha memberikan penggambaran tentara Israel sebagai representasi Yahudi yang kejam. Film ini akhirnya menimbulkan kesan bukan saling toleransi antaragama, tetapi sebatas toleransi Muslim kepada non-Muslim. Sebaliknya, non-Muslim tidak ditampakkan sebagai toleran kepada Muslim.

Dalam dunia perfilman hal ini mungkin dianggap biasa untuk menambah dramatisasi alur cerita demi meningkatkan emosi agar pesan tersampaikan kepada penonton. Tetapi harus segera disadari bahwa film punya peran penting untuk membuat opini dan mengkonstruksi persepsi masyarakat. Jika tidak bijak, maka massa penonton menjadi prioritas utama, sedangkan pesan damai dan toleransi tak tersampaikan dengan baik.

Relasi Gender

Sebagai sebuah produk, AAC2 patut diapresiasi dengan banyak cara. Salah satunya dengan memberikan komentar. Film ini memiliki alur cerita yang bagus dan mampu mengaduk emosi penonton. Saya sendiri merasa terenyuh menonton film ini. Terdengar jelas isak tangis para penonton, terutama kaum hawa ketika menyaksikan beberapa scene yang terbilang menyentuh.

Jika dilihat dari sisi relasi gender yang ditampilkan, ada beberapa alur cerita  yang membentuk kesan ketidakadilan ataupun ketimpangan gender. Merujuk kepada almarhum Mansour Faqih, ada lima hal yang perlu diperhatikan dalam melihat relasi gender dianggap sebagai sebuah ketidakadilan. Namun dalam film ini ada empat hal yang perlu disoroti.

Pertama, marginalisasi terhadap kaum perempuan. Aisha dalam film ini menjadi tokoh yang terasingkan dalam kehidupannya. Ia layak bahagia bersama Fahri namun tak tega jika jujur kepada Fahri. Ungkapan Aisha “Saya bahagia melihat Fahri bahagia” adalah bentuk keterpaksaan. Scene lain yaitu ketika Fahri setelah menikahi Hulya dan memintanya untuk berhijab adalah pengukuhan posisi keterbatasan Hulya menjalankan yang diyakininya benar.

Kedua, stereotip. Keira dicitrakan sebagai perempuan yang berani “menjual diri” untuk memenuhi keterbatasan ekonomi. Keira adalah cerminan perempuan lemah yang butuh bantuan sampai-sampai harus dibiayai untuk kursus musik oleh Fahri. Keira merasa bodoh karena telah dibantu.

Selain itu, dalam film ini ditampilkan sosok Fahri yang dikagumi oleh banyak perempuan. Ini memberikan kesan bahwa kaum perempuan lebih mudah tertarik dan agresif kepada laki-laki. Bahkan, Aisha pertama kali bertemu kembali dengan Fahri dalam keadaan imigran ilegal yang disangka sebagai pengemis oleh orang-orang.

Ketiga, subordinasi. Perempuan digambarkan sebagai makhluk nomor dua. Fahri digambarkan sebagai dosen, berpendidikan tinggi, dan pengusaha sukses. Adapun Aisha memilih penyamaran sebagai imigran ilegal yang butuh bantuan dan akhirnya menjadi pembantu rumah tangga di rumah Fahri.

Selain itu, scene Hulya yang ingin melanjutkan pendidikan postgraduate harus menerima saran orangtuanya agar menikahi Fahri yang telah beristri. Di scene lain, Keira karena sumpahnya, rela berlutut agar dinikahi Fahri yang pada saat itu Hulya jelas-jelas telah menjadi istri Fahri. Pada bagian akhir, Aisha merunduk meminta maaf kepada Fahri, hanya karena ingin melihat Fahri bahagia dan merasa tak pantas menjadi istri Fahri lagi.

Keempat, kekerasan. Kekerasan fisik terlihat perempuan menjadi tahanan para tentara Israel bahkan Aisha rela melukai diri dan tubuhnya demi menjaga kehormatannya. Selain fisik, kekerasan emosional juga ditampilkan ketika Aisha harus menerima kenyataan Fahri menikahi Hulya. Menurut penuturan beberapa penonton kaum hawa, scene inilah yang paling menguras emosi, membuat air mata tak tertahankan.

Berbahagiakah pernikahan keduanya? Bagaimana dengan nasib Aisha?

Kolom terkait

Surga (Patriarkis) yang Tak Dirindukan 2

Problem Gender dalam Islam

Fenomena Poligami Ustadz Zaman Now

Isu Poligini di Kongres Ulama Perempuan Indonesia

Ahmad Muttaqin
Santri Quranic Studies. Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.