OUR NETWORK

Doa yang Tertunaikan, Ode untuk Bohemian Rhapsody

Pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik

Tiap orang tua menyusup ke hati anaknya lewat doa. Doa tak pernah buruk, hanya kadang sulit dimengerti oleh sang penerima. Itu pula yang dilakukan oleh Bomi Bulsara. “Pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik”.

Doa dan harapan itulah yang selalu dipanjatkan oleh Bulsara, Ayah dari Freddie Mercury. Seolah hanya kata itu yang diingat dan dimaui olehnya. Bulsara percaya tak ada doa yang tertolak, apalagi doa suci untuk anaknya.

Freddie paham dirinya bukanlah orang yang tekun di atas meja belajar atau di dalam kelas. Oleh sebab itulah dia selalu bentrok dengan Ayahnya: keluar dari koridor doanya. Hasratnya hanya pada lagu, dan hidupnya sendiri adalah lirik. Cuma itu yang bisa membuatnya menyala.

Namun, sejarah kelak mencatat dia tuntaskan seluruh masa hidupnya untuk tujuan dan ia menjadi monumen. Dia percaya bisa, karena ada tiga perkara yang ia selalu pegang: keyakinan, karya, dan kasih.

Ia amat yakin dengan bakatnya mengolah suara dan mempermainkan nada. Brian May dan kawan-kawan tak bisa menampiknya sebab Freddie bersuara, bukan sekadar bergaya. Keyakinan itu dia rawat, bahkan ketika dalam masa-masa gawat.

Tatkala produser tak ingin genre lagu (rock) opera dan berdurasi panjang (6 menit), Freddie tak surut. Racikan lagu tak laik dibuang karena urusan uang. Dia tak mau kompromi, karena keyakinan tak bisa ditransaksikan. Baginya, pasar dan modal tak boleh mendikte keyakinan.

Freddie juga tegak dengan standar: sebuah karya tak boleh hanya bagus, tapi harus mahabagus. Ideologinya adalah: Mahakarya. Tiap ciptaannya adalah “masterpiece”. Karyanya abadi karena dituntun oleh hati.

Dia tak berhenti hanya karena lagunya dibilang bagus. Ia baru mau usai bila lagunya dipandang akbar. Standar lagu dan penampilannya melampaui kemauan publik. Sebab, ia tak ingin didikte pula oleh selera publik. Dalam soal ini, Freddie amat benar: lagu yang agung menciptakan kupingnya sendiri.

Hidupnya sendiri bermula dari cinta dan berujung kepada kasih. Lagu pertama yang ia senandungkan di panggung kecil bersama Queen (pada saat itu masih bernama Smile), ia persembahkan untuk Mary Austin, cinta pertama dan terakhirnya.

Mary selalu ada dalam napasnya, yang ia tunjukkan dalam lagunya yang menyayat: Love of My Life. Mary tak pernah ada dalam sertifikat kepemilikannya, namun ia hadir di dalam detak nadinya. Maut pun tak bisa memisahkan, sebab lagunya terus berbunyi di kendang telinga Mary. Pada tepi hidupnya, ia dapat kepastian: kasih Mary tetap untuknya.

Pada hampir seluruh lekuk hidupnya, Freddie memenangkan nyaris semua pertempuran. Dia bukan pelajar yang tekun, namun terbukti sebagai penyanyi yang anggun. Dia tak hanya memberi nama Queen, tapi yang mengelola dan memimpin ideologi bermusik grup raksasa tersebut.

Tak boleh ada yang mengatur sikap hidup dan bermusiknya, termasuk uang sekalipun. Banyak yang merasakan pahitnya ditendang oleh keputusannya akibat ingin menjauhkan ia dengan “rumahnya”. Queen adalah rumah tempat ia kembali, selamanya.

Lantas, apa sisa perkara yang tak pernah dimenangkan oleh Freddie? Dirinya sendiri. Tapi itu bukan salah dirinya, seperti ucap Mary. Ujung hidupnya sendiri seperti menebus “kesalahan” yang pernah singgah dalam hidupnya.

Saat akan berangkat ke konser amal Live Aid pada 13 Juli 1985, dia berpelukan haru dengan Ayahnya. Dan muncullah sabda itu kembali: “Pikiran yang baik, perkataan yang baik, dan perbuatan yang baik.” Bulsara tahu, doa yang selalu ia tiupkan ke nadi anaknya telah tertunaikan. Kita pun  mengerti, siang itu langit Wembley telah dilubangi oleh lengkingan Freddie….

Staf Khusus Presiden RI.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…