OUR NETWORK

10 Catatan dari Fase Grup Piala Dunia 2018

Piala Dunia tak pernah sekadar event olahraga biasa
  1. Tuhan Sepakbola Selalu Bermain Dadu di Lapangan

Malang tak bisa ditolak, untung tak dapat diraih. Begitulah ketika dewa-dewa sepakbola menggulirkan dadu di atas lapangan. Keberuntungan sepakbola seperti komidi putar, yang berputar dengan cepat. Emosi kita naik-turun dalam tempo sekejap dibuatnya.

Dadu itu memberi nasib baik dan nasib buruk yang tak bisa di duga. Tiga menit menjelang waktu normal, Argentina seperti memanggul kutukan yang tak terperikan. Tiga menit setelahnya, mereka menyebut-nyebut anugerah Tuhan. Begitu juga enam menit terakhir yang menentukan nasib Iran, Spanyol, dan Portugal.

Dadu-dadu pembawa keberuntungan dan sial itu akan terus menggelinding, menghadirkan drama, tragedi, dan juga air mata bahagia.

Selamat datang di permainan nasib.

Keberuntungan adalah bagian yang membuat sepakbola tak melulu berisi rencana, persiapan, bakat-bakat, dan strategi permainan. Ia membawa kita melanglang ke tikungan-tikungan yang mengejutkan. Wajah sepakbola tak selamanya bisa diraba. Ia selalu menjadi misteri.

Tambahan satu lagi, dadu-dadu yang menggelinding itu membuktikan kebenaran pepatah lama: pandit-pandit sepakbola berpikir dan Tuhan tertawa.

  1. Teknologi VAR Bisa Menciptakan Keadilan

Awalnya kita tak nyaman melihat pria paruh baya yang berlari ke sana kemari sambil bicara dengan benda aneh di telingannya. Lalu datanglah penalti-penalti buruk, pembatalan keputusan, dan kebingungan yang mendera penonton—baik di stadion maupun di depan televisi. Lebih buruk lagi, tiap kali pria dengan peluit itu memberi tanda kotak, irama permainan berhenti, pelatih-pelatih bertengkar, dan pemain-pemain yang santun itu mendadak seperti orang Italia—mengibas-ngibaskan tangan meminta pinalti atau pelanggaran.

Namun, di saat yang tepat teknologi Video Assistance Referee (VAR) bisa memberi keputusan yang tepat dan memenuhi asas keadilan manusia. Coba bayangkan jika gol Korea Selatan dianulir, lalu semenit kemudian Jerman mencetak gol, dan dua minggu dari sekarang kita lihat mereka tertawa bahagia?

  1. Stadion Sebagai Tempat Penziarahan Modern

Konon, stadion sepakbola adalah katedral modern. Jika demikian, tak ada yang lebih khidmat daripada pengalaman menyaksikan langsung pertandingan Piala Dunia. Apalagi jika harus menunggu lama untuk bisa mewujudkannya. Keinginan untuk bisa menjadi saksi langsung buat negaranya membuat banyak suporter Peru dan Mesir menjual rumah dan menghabiskan tabungan. Pastilah, melihat benderanya dibentangkan dan lagu kebangsaan dikumandangkan adalah sebuah pengalaman seumur hidup yang layak dikenang. Pergi ke Rusia, berjubel dengan jutaan orang, mabuk bersama, dan mengalami ekstase kolektif bagi para suporter barangkali mirip dengan naik haji buat petani Tasikmalaya. Itu adalah sebuah pengalaman spiritual menziarahi tempat keramat.

  1. Nasionalisme Ganjil di Atas Lapangan

Nasionalisme adalah satu-satunya ideologi besar yang gemanya masih menggerakkan emosi di abad 21 ini. Dan dia berhutang banyak pada sepakbola. Di tengah gelombang perdagangan bebas, arus imigrasi, dan perubahan iklim, cinta tanah air masih punya relevansi.

Perayaan gol Granit Xhaka dan Xherdan Shaqiri menusuk jantung orang-orang Serbia dan Rusia, dua negara yang menolak kemerdekaan Kosovo dan Albania. Gol-gol Xhaka dan Shaqiri bukan hanya memenangkan Swiss, tetapi juga mewakili rasa lega jutaan orang Kosovo dan Albania yang selama berabad-abad menderita.

Namun, kita juga melihat nasionalisme yang pemain-pemain sepakbola bawa ini adalah nasionalisme yang tak biasa. “Kenapa mereka tak bermain untuk Kosovo saja, jika marah kepada Serbia?” Seorang pemain Serbia bertanya. Tak mudah menjawabnya. Perayaan Diego Costa jika mencetak gol ke gawang Brasil barangkali sedikit memberi gambaran kira-kira apa jawabannya.

  1. Vladimir Putin Lebih Hebat dari Benito Mussolini dan Nelson Mandela

Tak dipungkiri, Piala Dunia adalah soft-diplomacy Vladimir Putin dan rezimnya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa si beruang merah telah kembali dari hibernasinya pasca-Perang Dingin. Inggris, lawan tender Russia yang kalah, menuduh rezim Putin bermain kotor dan menggunakan politik dan kekuasaan untuk mewujudkannya.

Sebelum Piala Dunia ini di gelar, kita disuguhi, terutama oleh pers Inggris, berita-berita yang menakutkan: skandal doping, rasisme, serangan para begundal, ancaman anti-orang homo, hingga korupsi. Sejauh ini, berita-berita itu tak terbukti. Justru, suporter Inggris-lah yang paling bahagia di sana. Bir murah. Makanan murah. Gadis-gadisnya cantik dan semampai. Laporan tentang layanan transportasi dan akomodasi selalu bagus. Berita kekerasan sangat jarang dan tak ada pemukiman orang miskin yang dilenyapkan—seperti yang terjadi di Brasil dan Afrika Selatan.

Penampilan Rusia yang tidak mengecewakan mungkin membuat hati orang Russia lebih hangat. Namun yang pasti, ini karena Putin tahu benar cara menggunakan sepakbola. Ia tak seburuk Mussolini, Jenderal Videla, atau Nelson Mandela.

  1. Akhirnya Kita Tahu Schadenfreude Itu Berasal dari Bahasa Jerman

Akhirnya, hari yang dinanti-nanti itu telah tiba. Ia datang tanpa disangka-sangka. Jutaan pembenci menunggu Jerman tergelincir menggelikan. Tiap kali di akhir acara, justru mereka yang selalu memberi senyum penuh ejekan. Jerman memberi kosa kata schadenfreude kepada dunia. Namun, di Piala Dunia, kata itu tak pernah teruju untuk mereka. Bertahun-tahun, suporter Hungaria, Prancis, Argentina, Inggris, Cekoslowakia, Belanda hidup dengan rasa pahit di mulut ketika membicarakan Jerman. Sebaliknya, orang Jerman selalu menyeringai penuh kemenangan menyaksikan bakat-bakat terbaik sepakbola—Ferenc Puskas, Johan Cruijff, hingga Messi gagal lewat kekalahan yang memedihkan.

Jerman, kini telanlah kata itu ke tenggorokanmu. Jutaan orang punya hari yang sangat indah dan layak dikenang untukmu.

  1. Piala Dunia Bukan untuk Hiburan

Bagi penonton netral, Maroko dan Peru adalah tim-tim yang mencuri panggung. Mereka bermain antusias, bebas mengalir, dan sedap dipandang mata. Hakim Ziyech dan Noordin membuat Pepe atau Sergio Ramos seperti bek amatiran. Sementara itu Carlos Cueva atau Jose Carillo tak gentar mengajak Raphael Varane atau Simon Kjaer berduel satu lawan satu.

Di kaki para pemain Maroko dan Peru, bola selalu mengalir, dengan tempo cepat, dan lapangan seperti kabur oleh kelebatan warna merah marun dan putih bergaris diagonal. Secara taktik, kedua negara itu juga sangat berani. Tak seperti kebanyakan tim yang bermain dengan tempo lambat untuk mengontrol pertandingan, Ricardo Gareca dan Rene Hervard seperti membebaskan para pemainnya berpetualang.

Menjadi cantik seperti mereka tentu saja menarik. Namun, tanpa keahlian menjaga kedisiplinan dan striker yang bagus, cantik tak membawa mereka ke mana-mana. Barangkali, yang dibutuhkan untuk turnamen singkat dan padat macam Piala Dunia ini adalah strategi dan kematangan ala Uruguay.

  1. Striker Klasik Masih Penting

Para pandit memaklumatkan striker klasik hampir punah dalam sepakbola kontemporer. Nomor 9 palsu atau inverted winger adalah spesies baru yang akan bertahan dalam evolusi permainan ini. Harry Kane, Romelo Lukaku, atau Diego Costa menunjukkan bahwa anggapan itu salah besar. Seorang predator klasik masih penting dalam sepakbola. Kehadiran mereka di kotak penalti memperbesar peluang tim mencetak gol. Dan tidak ada orang yang paling tahu tentang hal ini kecuali Cristiano Ronaldo. Kehebatannya terbesarnya, merujuk apa yang dibilang Slaven Bilic, adalah kemampuan untuk mengubah gaya main, beradaptasi dengan kotak pinalti, dan terutama menyergap bola umpan silang dengan satu sentuhan—entah dengan kepala, lutut, atau kaki. Kemampuan itu hanya dipenuhi oleh seorang striker klasik.

  1. Kuda Hitam Sedang Meringkik

Sudah agak lama Piala Dunia tidak mendengar kuda hitam yang meringkik dengan keras. Kali ini Belgia dan Kroasia bersiap-siap menggoyahkan tim-tim mapan. Keduanya punya bekal yang besar.

Tentu agak terlalu dini membayangkan Piala Dunia kali ini menyaksikan kemunculan juara baru. Namun, keduanya punya bakat yang luar biasa. Keduanya sudah belajar dari kegagalan Piala Eropa lalu. Dari tiga pertandingan, mereka selalu mengontrol permainan. Menang dengan meyakinkan.

Bersama Uruguay, mereka adalah tiga tim yang meraih poin maksimal. Dejan Lovren membual bahwa mereka akan membuat prestasi yang lebih bagus dari generasi Kroasia tahun 1998. Kita belum melihat pernyataan serupa dari Belgia. Roberto Martinez justru bicara tentang pengorbanan dan penderitaan untuk meraih hasil bagus. Mengulang prestasi 1986 memang tidak mudah, tapi jika de Bruyne dan Eden Hazard bisa berbagi ruang dan berbagi ego, sementara Kompany kembali bugar di pertandingan-pertandingan krusial, tak ada batas untuk Belgia.

  1. Piala Dunia Tak Pernah Sekadar Event Olahraga

Tangis lega Neymar. Kemurungan Messi. Perayaan liar Jerman saat mengalahkan Swedia dan air mata mereka usai laga melawan Korea. Optimisme Inggris di stadion, pub, dan bahkan kantor parlemen. Semangat yang menyala-nyala pemain Swiss ketika melawan Serbia.

Piala Dunia tak pernah hanya sekadar event olahraga. Ia adalah panggung drama raksasa yang mengaduk-aduk perasaan jutaan orang di seluruh penjuru dunia. Itu adalah perayaan global yang menyingkapkan emosi terdalam manusia. Itulah kenapa sepakbola internasional masih punya relevansi, meskipun secara kualitas permainan, tertinggal jauh, misalnya dari Liga Champions. Aksiden, emosi, ketegangan, rasa gugup dan rentan, kekecewaan dan nestapa, perasaan gembira yang tak tepermanai, sorakan yang menggema ke udara telah kita saksikan di fase grup. Semua pemain ingin menyenangkan bangsanya.

Kejayaan di Piala Dunia tak bisa tergantikan. Lionel Messi bahkan mau menukar semua gelar di klubnya untuk trofi itu. Tak ada event olahraga lain yang bisa menandinginya.

Penulis buku "Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola"; Pengelola blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…