OUR NETWORK

Etnografi Outbreak

Dan betapa banyak orang seperti itu pada hari-hari ini, puluhan, ratusan, puluhan ribu, ratusan ribu dan bahkan mungkin akan menjadi jutaan jika situasinya tidak berhenti. Siapa yang harus bertanggung jawab, pemerintahkah? Tidak mungkin, tempat mereka bekerjakah, tidak mungkin, tempat pendidikan merekakah? Tidak mungkin. Lalu siapa?
Foto: katadat.id

Pagi ini, di dapur kami, saya ngobrol sama istri dan mak (ibu) tentang nasib orang-orang berpenghasilan harian dalam masa wabah ini. Tadinya, saya cerita viral di media sosial tentang seorang driver Gojek yang sudah seharian menunggu order namun baru dapat orderan GoFood.

Sayangnya, restoran di mana dia harus pesan sudah mau tutup. Bahan dan peralatan sudah dirapikan semua. Namun, dengan kebaikan hati pemilik restoran tersebut akhirnya driver GoFood bisa mendapat rezeki. Bahkan si pemilik restoran juga memberi tambahan makanan buatnya.

“Saya menangis membacanya”, kata saya kepada istri dan mak saya. Bayangkan kalau itu terjadi pada saya, sedih. Dan betapa banyak orang seperti itu pada hari-hari ini, puluhan, ratusan, puluhan ribu, ratusan ribu dan bahkan mungkin akan menjadi jutaan jika situasinya tidak berhenti. Siapa yang harus bertanggung jawab, pemerintahkah? Tidak mungkin, tempat mereka bekerjakah, tidak mungkin, tempat pendidikan merekakah? Tidak mungkin. Lalu siapa? Saya juga tidak tahu jawabnya.

Lalu emak saya bercerita tentang bagaimana orang-orang kampung saya, di Jepara sana, menangkal virus Corona ini. Ceritanya sebenarnya sama dengan apa yang pernah saya alami waktu dulu masa kecil hidup di kampung.

Ketika ada pagebluk, orang-orang kampung saya sigap untuk istighosah, membaca shalawat nariyah ribuan kali, dan ziarah tawassulan ke makam wali desa. Nama makam para wali desa itu disebut punden. Selain itu, mereka akan meminta ijazah untuk bacaan apa yang harusnya mereka baca pada saat bencana, kesulitan dan wabah. Dulu waktu masa kecil saya juga ikut ayah saya untuk ritual yang demikian ini.

Ketika saya melihat praktik itu dari kaca mata saya sekarang, maka praktik-praktik keliatan tidak masuk akal. Cara menangkalnya sudah terlalu out of date, wabahnya sudah macam-macam jenisnya, sudah mengalami perubahan cari penularan, dan lain-lain, tapi ritualnya masih itu-itu.

Tapi saya harus adil melihatnya. Ketika lapis-lapis yang harusnya memberi safety net tidak berjalan dan tidak bisa diharapkan maka mereka memiliki caranya sendiri untuk menghadapinya. Orang kelas menengah memiliki safety net berlapis-lapis, sementara safety net para driver Gojek Grabike, Tukang Bakso, ketoprak, somay, roti, dan lain sebagainya, hanya satu, yaitu mereka bergerak keluar untuk berikhtiar mencari uang.

Kalau mereka memikirkan resep pemerintah tentang “social distancing” apalagi “lockdown” apa yang bisa diharapkan dari kebijakan ini untuk mengganti belanja harian mereka yang mulai mahal pada saat ini.

Orang-orang kampung saya yang terus yakin dengan cara mereka karena itulah yang hanya mereka bisa lakukan. Sebagian mereka mungkin sudah banyak yang tahu bahwa istighosah, tawassulan ke makam orang soleh, dan lain sebagainya, justru berbahaya untuk penularan Covid-19 karena pasti akan berkumpul banyak orang di sana, namun niat mereka lebih kuat, doa mereka lebih akan terkabul, sehingga itu semua mengalahkan kekuatiran mereka.

Jangan salah paham, menjalani ritual sebagaimana yang saya sebutkan di atas sebenarnya adalah senjata pamungkas mereka. Selain itu, sebab standar mereka tentang pagebluk juga sebenarnya sangat tinggi, tidak sembarangan.

Dalam keadaan biasa mereka tidak akan melakukan hal-hal yang heroik seperti ini. Saya sebut heroik karena mereka tidak memikirkan diri mereka sendiri namun nasib kolektif: ibu, bapak, suami, istri, anak, dan cucu.

Standar tinggi pagebluk bagi orang kampung adalah jika semua pihak, dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, puskesmas, dokter-dokter, tabib-tabib dan dukun-dukun sudah tidak bisa mengatasinya, maka mereka baru menjalan ritual ini untuk melawan pagebluk.

Di sini, sebenarnya, mereka memiliki tingkat rasionalitasnya sendiri. Kajian antropologi penyakit menular memberikan informasi yang menarik soal mereka ini dari kasus-kasus dan studi pelbagai latar negara.

Sebagai catatan, problem kita selain wabah yang berat ini adalah soal “social, economic and knowledge inequality.” Mengapa Indonesia nampaknya akan lebih berat menghadapi wabah Corona virus ini karena ketidaksetaraan sosial, ekonomi dan pengetahuan di antara warga negara yang masih sangat tinggi. Keadaan ini mempersulit untuk disiplinasi kebijakan.

Pusnishment tidak efektif karena diberi denda pun mereka juga tidak mampu bayar. Jangankan membayar denda, makan saja belum tentu bisa stabil. Negara-negara yang memiliki kesenjangan tinggi akan mengalami kesulitan untuk menjalankan kebijakan “social distancing” apalagi “lockdown.”

Dua ilustrasi yang saya sajikan di atas adalah contoh yang paling nyata. Sekian etnografi outbreak hari ini.

Semoga kita semua sehat dan semoga badai cepat berlalu. Jangan lupa senyum dan berbagi di hari ini.

Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…