Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Entropi Ramadhan: dari Selfie, Riya’ hingga Citra

Di Balik Pesta Kaum Gay

Ulah kaum penyuka sesama jenis atau homoseksual belakangan ini boleh dibilang cenderung permisif, terorganisir, dan ekspresif. Seolah tidak kapok dengan kasus penangkapan sejumlah kelompok...

Semen Baturaja untuk Indonesia

Geliat pembangunan tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan semen sebagai bahan utama dalam konstruksi. PT Semen Baturaja (Persero) Tbk sebagai badan usaha milik negara (BUMN)...

Seri Bunga Bank bukan Riba: Apakah Riba Itu?

Setelah publikasi tulisan Fazlur Rahman, sarjana Muslim asal Pakistan, berjudul Riba and Interest pada 1964, hampir tak ada argumen baru dalam perbincangan serius terkait...

Habis Zonasi Halal, Terbitlah Festival Babi

Ada orang bertanya kepada saya terkait ide wisata halal di Danau Toba. Apa jawaban saya: seberapa penting itu? Apa tak ada yang lebih penting (seperti...
Avatar
Mayretha Yuniar
Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Jawa Timur.

lagi-puasaPuasa hakikatnya adalah masa dan cara bagi seseorang untuk belajar menahan hawa nafsu, menahan lapar dan dahaga untuk belajar berempati terhadap kehidupan dan kesengsaraan masyarakat yang kurang beruntung. Tetapi, dalam kenyataan yang terjadi selama Ramadhan justru kebutuhan belanja keluarga meningkat, makan menjadi lebih mewah dari biasanya–meski frekuensi dan jamnya bergeser.

Bagi sebagian orang, berpuasa tampaknya justru menjadi legitimasi untuk membenarkan mereka sedikit merasakan kemewahan tambahan daripada hari-hari biasa yang dijalani sebelumnya. Ketika seseorang telah berusaha menguatkan iman menahan rasa lapar dan dahaga, bukankah tidak ada salahnya jika kemudian mereka sedikit merayakannya dengan kompensasi makan dan minum yang lebih berkualitas?

Coba bertanya kepada ibu-ibu tentang apa yang mereka lakukan dan apa yang terjadi selama bulan puasa? Jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi selama Ramadhan justru lebih banyak dari biasanya. Jika sebelumnya cukup hanya makan lauk telur, maka pada saat Ramadhan tidak sedikit umat Muslim yang meningkatkan lauknya menjadi daging sapi. Jika pada hari biasa hanya makan makanan utama, tiba-tiba saat Ramadhan seperti kurang afdhol jika tidak ada takjil seperti kolak pisang, kurma, dan sebagainya.

Inilah yang menjelaskan mengapa sebagian orang justru mengalami kenaikan berat badan saat Ramadhan. Sebab, sebagian besar orang terus mengunyah sepanjang malam dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur di sepanjang siang.

Hakikat perintah puasa yang ditujukan agar umat Islam bisa berempati pada saudaranya yang berkekurangan justru mengubah sebagian besar masyarakat menjadi predator yang selalu ingin dan sah mengonsumsi berbagai kemewahan. Kontradiksi ini merupakan fenomena Ramadhan yang sudah kehilangan maknanya. Semua yang dilakukan tak lebih dari sekadar realitas simbolik tanpa arti.

Ramadhan, bagi sebagian orang, harus diakui telah kehilangan kedalaman nilai luhur yang justru ingin disampaikan. Inilah yang dinamakan dengan fenomena entropi Ramadhan, yakni keadaan di mana apa pun yang terjadi hanya sebatas dilakukan tanpa ada lagi nilai dihayati dan diresapi. Manusia seolah hanya menjadi robot yang melakukan berbagai ritual, tetapi tidak betul-betul menyadari apa yang sebenarnya sedang dilakukannya dan apa yang menjadi tujuannya.

Semua yang dilakukan seperti cangkang yang bisa dilihat wujudnya, namun sebenarnya kosong tanpa isi. Ritualitas hanya tinggal ritualitas yang praktiknya sudah banyak melenceng dari yang diajarkan.

Hal serupa terjadi pada realitas bersedekah pada mayoritas orang. Obral pahala yang dijanjikan selama Ramadhan kerap mendorong banyak orang untuk turut beramal, mendonasikan sebagian hartanya pada yang membutuhkan. Sedekah yang dianjurkan adalah sedekah yang diumpamakan seperti tangan kanan yang memberi, tetapi tangan kiri tidak boleh sampai mengetahui. Tetapi, hal ini ada kesan kuat tidak diperhatikan, terutama sejak kesempatan orang untuk beraktualisasi diri menjadi lebih mudah berkat maraknya teknologi informasi.

Hampir semua orang yang melakukan kegiatan sosial melakukan dokumentasi, baik donasi oleh instansi, komunitas, maupun keluarga. Umumnya, dokumentasi ini nantinya akan dipublikasikan di banyak sosial media.

Hakikat sedekah bergeser menjadi kebutuhan citra dan eksistensi. Tak heran, bagi sebagian orang, sedekah berubah menjadi alat pengakuan status sosial. Seperti seorang artis yang bersedekah dengan mengajak insan media. Bagi sebagian orang, aktivitas amal semacam ini tampaknya telah mengalami proses komodifikasi.

Disadari atau tidak, hal ini juga dimanfaatkan oleh sebagian umat. Ini bisa dilihat dari peningkatan jumlah pengemis dan peminta-minta sepanjang Ramadhan dan lebaran. Juga ketika pembagian zakat fitrah. Ramadhan setiap tahun hampir selalu diwarnai dengan kericuhan pembagian zakat fitrah. Banyak korban berjatuhan akibat saling serobot saat antri. Bahkan masih kita ingat insiden beberapa tahun lalu ada yang sampai meninggal karena terinjak saat mengantri. Sungguh ironi, beras zakat fitrah yang hanya beberapa kilo harus diraih dengan bertaruh nyawa.

Peristiwa ini seharusnya bisa dicegah jika si pembagi zakat rela mengeluarkan tenaga lebih untuk mensurvei dan membagikan berasnya langsung pada yang berhak. Tanpa mengharuskan si penerima untuk mengantri, kemungkinan akan mewujudkan mekanisme pembagian yang lebih efisien tanpa korban akan terwujud.

Namun, hal ini tidak juga dilakukan karena tujuan utama zakat seringkali sudah bergeser. Tujuannya bukan lagi berbagi dan mensucikan harta, tetapi juga sekaligus memberi pengumuman kepada khalayak, bahwa dialah hartawan yang dermawan. Bulan ini menjadi sarana panggung besar bagi yang gandrung dan haus citra.

Sangat disayangkan jika bulan mulia ini hanya dijadikan sebagai ritual pemanis dari sebelas bulan lainnya. Berlalu tanpa arti dan makna bagi sebelas bulan ke depan. Selain ibadah individual, sesungguhnya bulan ini lebih banyak mengajarkan tentang solidaritas, kesalehan sosial, dan segala bentuk toleransi. Nampaknya tidak hanya mempraktikkannya, tapi juga harus senantiasa melakukan koreksi niat agar apa pun yang dilakukan tidak hanya sekadar menjadi simbol dan ritual belaka.

Agar semua yang dilakukan tidak sia-sia, mungkin sudah saatnya untuk tidak melihat sesuatu dari apa-apa yang terlihat saja. Semoga setiap kita tidak lagi lupa tentang merasakan apa yang ada di dalam hati. Menanyakannya adakah ia sudah benar dalam beniat, adakah hal lain yang juga ingin dituju selain Allah itu sendiri. Sombong dan riya’ seringkali lancang merasuk dalam qalbu sekalipun kita sudah merasa ikhlas, hingga berdialog dengan hati adalah upaya yang boleh dilakukan siapa pun. Demi Ramadhan yang penuh kesadaran dan penghayatan, bukan sekadar ikut-ikutan.

Selamat menjalankan ibadah puasa di sepuluh akhir Ramadhan. Semoga Ramadhan kali ini dan Ramadhan mendatang bisa kita lewati dengan penuh makna.

Avatar
Mayretha Yuniar
Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Airlangga, Jawa Timur.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.