Sabtu, Desember 5, 2020

Ekopedagogik dan Manusia Otentik

Menjaga Intergritas Demokrasi dari Daerah

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak tahap ketiga berlangsung 27 Juni 2018 di 171 daerah, dengan rincian 17 provinsi, 115 kabupaten, dan 39 kota. Ini...

Duhai Pejabat, Kalau Bersih Kenapa Risih

Direktur Utama BPJS Ketenagakerjaan Agus Susanto di gedung KPK, Jakarta, Kamis (31/3). Bersama Direksi, Agus menyampaikan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN).  ANTARA FOTO/M...

Saat Penegakan HAM Era Jokowi Tak Berarah

Penegakan hak-hak asasi manusia (HAM) selama dua tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo masih jauh dari harapan. Terkait dengan kewajiban negara untuk menyelesaikan tujuh kasus...

Senjakala Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus

Belakangan ini hingga sekarang, kampus-kampus ternama di negeri ini sedang mengadakan rangkaian penerimaan mahasiswa baru. Rangkaian penerimaan ini biasanya berjenjang mulai dari tingkat Universitas,...
Teguh Fachmi
Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Diskursus mengenai relasi persaudaraan kosmik antara manusia dan alam tidak hanya berhenti pada perbincangan filsafat saja, tetapi juga menjadi sebuah telaah menarik dalam kajian studi agama-agama, sosial dan budaya.

Ide mengenai persaudaraan kosmik manusia dan alam belakangan mengisi ruang-ruang diskusi publik, percakapan ini menjadi serius pasca kejadian banjir bandang dan beberapa bencana alam lainnya.

Manusia dinisbatkan sebagai aktor tunggal yang paling bertanggung jawab atas degradasi semesta raya ini, kesemuanya itu disebabkan karena ulah perbuatan manusia. Anggapan demikian memang dapatlah diamini karena hasrat dan habitus manusia dalam mengeksploitasi alam raya kerap kali sangatlah berlebihan. Akhirnya menciptakan disequilibrium ekologis atau ketidakseimbangan semesta raya yang merugikan.

Manusia seringkali dicitrakan seolah makhluk superior, sebagai penguasa alam raya karena dibekali akal budi. Kenyataanya, hal demikian adalah pandangan keliru yang dikultuskan, karena hakikat manusia hanyalah bagian terkecil dari ekosistem alam raya, maka manusia seharusnya benar-benar mengetahui siapa dirinya dan dimanakah perannya dalam semesta raya, ia sepantasnya juga memahami betul dimana ia tinggal, mengapa ia ada disana, untuk apa, dan bagaimana jika semesta raya terganggu keseimbangannya.

Akankah ia bisa tetap tinggal didalamnya, ataukah mungkin akan ikut binasa. Perenungan radikal mengenai beberapa pernyataan diatas akan mengantarkan manusia pada sebuah pemahaman empatik yang menubuh dengan semesta raya.

Sebagai makhluk hidup, manusia sangatlah bergantung pada alam. Ketergantungan manusia pada alam bukan hanya sebatas untuk pemenuhan kebutuhan hal mendasar saja, tetapi lebih daripada itu manusia memerlukan alam untuk membentuk dirinya sendiri, ketidakseimbangan pada alam akan menghasilkan manusia yang tidak bahagia, terasing, dan tidak otentik. Mengapa demikian?

Karena manusia dan alam memiliki status ontologis yang sama, ia memiliki persenyawaan kosmos satu sama lain. Tubuh manusia bersenyawa dengan bumi, pun demikian sebaliknya.

Seperti dalam tradisi filsafat Islam diuraikan bahwa manusia merupakan miniatur semesta raya, pada tubuhnya terdapat anasir-anasir semesta raya. Bahwa dengan bercermin kepada alam manusia akan mengetahui siapa dirinya, atau sebaliknya ketika seorang mengkaji dirinya, maka ia akan mendapatkan citra-citra semesta raya yang bersifat mikroskopik.

Ekopedagogik: Ikhtiar Merajut Persaudaraan Kosmik Manusia dan Alam

Ekopedagogik terdiri dari dua entitas yakni ekologi (ecology) bermakna ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungan dan pedagogik (pedagogy) yang berarti ilmu pendidikan. Lebih lanjut ekopedagogik dipahami sebagai ilmu pendidikan lingkungan atau disingkat menjadi pendidikan lingkungan. Karel Surata, mendefinisikan ekopedagogik sebagai tipe pembelajaran berbasis cinta, partisipasi, dan kreativitas.

Ketika konsep ekopedagogik ini menjadi ruh dalam proses kegiatan pembelajaran maka paling tidak siswa diarahkan kepada tiga hal. Pertama, ekoliterasi teknis/fungsional untuk memahami dasar-dasar sains, konsep ekologi dan biologi, serta dampak positif dan negatif manusia terhadap sistem ekologi.

Kedua, ekoliterasi budaya untuk meningkatkan wawasan, kesadaran, dan pemahaman tentang berbagai perspektif budaya, dan Agama dalam hubungan antara manusia dan lingkungan yang menghasilkan keberlanjutan kehidupan. Ketiga, ekoliterasi kritis untuk melibatkan siswa memahami ke dalam politik ekologi, kemajuan teknologi dan komunikasi melalui dialog yang kritis dan konstruktif.

Lebih lanjut lagi, ekopedagogik ialah gerakan yang berorientasi ke masa depan sebagai upaya mengembangkan apresiasi dan membangun kesadaran kolektif manusia akan pentingnya menjaga keselarasan lingkungan. Ekopedagogik mengarahkan manusia agar dapat menemukan ego otentik-nya.

Menjadi pribadi otentik yang penuh dengan spirit ruh fitri (suci) yang menubuh bersama semestabukan lagi berdasarkan ego tubuh (body ego), ego intelektual (intellect ego), ego rasionalitas (ratio ego), tetapi menjadikan ego ruhiyah (sprit ego) yang menubuh bersama semesta agar mencapai infinitum titik ilahiyah tertinggi sebagai persona otentik yang penuh kepekaan terhadap lingkungan.

Teguh Fachmi
Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kerusakan Lingkungan Kita yang Mencemaskan

Menurut data dari BPS, pada tahun 2018 jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 146.858.759 unit, jumlah tersebut meliputi mobil pribadi, mobil barang, bis dan...

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.