in

Sengsara Garam Menjalar ke Perut


Petani memanen garam di lahan garam konvensional di Desa Bunder, Padewamu, Pamekasan, Jawa Timur, Selasa (25/7). Harga garam di tingkat petani di Madura tahun ini mencapai Rp3,3 juta hingga Rp3,5 juta per ton. ANTARA FOTO/Saiful Bahri

Saya memperhatikan bibir manis pedagang di warung. Bibirnya sangat fasih melafalkan harga. Saya kenal betul harga-harga yang disebutkan. Bayam Rp 2.000. Tempe Rp 3.000. Ayam Rp 10.000, cabai Rp 5.000, dan garam Rp 5.000. Garam seharga Rp 5.000? Saya seperti menekan bibir manis pedagang itu. Bagaimana mungkin garam yang harganya tak pernah mengejutkan kini menjadi begitu menggemparkan?

“Jadi beli gak, dik?” kata si pedagang dengan bibir berubah manyun. Ia menambahkan kalimat yang membuat saya tak berdaya dan tetap membeli garam.

Katanya, ini stok garam tinggal satu di warungnya. Garam halus maupun kasar banyak diburu sepekan ini. Harganya sama-sama naik. Beberapa minggu bahkan bulanan mungkin garam akan menjadi barang langka. Terbiasalah memasak tanpa garam, sarannya.

Semengerikan itukah keadaannya? Bukankah selama ini garam menjadi komoditas yang murah meriah, mudah ditemukan, tak jarang banyak yang abai akan garam. Garam yang tumpah di dekat dapur, bahkan di jalanan sekalipun tak menjadi persoalan berarti. Namun, kali ini garam banyak diperbincangkan, seolah naik daun. Banyak yang merenung ternyata begitu berharganya garam.

Bukan hanya untuk ibu rumah tangga, melainkan untuk seluruh lapisan masyarakat yang biasa makan asam garam kehidupan.

Tentang garam yang banyak dibicarakan. Garam mulai muncul di televisi, media sosial, surat kabar, juga menjadi bahan yang diagendakan Presiden Joko Widodo. Persoalan garam membuat petani garam menjadi mendapat perhatian. Para ahli yang mengaku ahli garam banyak diundang untuk membahas kelangkaan garam di Indonesia. Bahkan, meme tentang garam juga beredar luas.

Ini mengingatkan bahwa sumber daya apa pun yang melimpah ruah di negeri ini, jika kita terus abai, sumber daya itu suatu waktu akan menjadi barang langka. Jika sudah begini, kita yang terbiasa makan garam, haruskan membuat lautan dulu di depan dapur kita?

Awal dari kelangkaan garam ini terjadi di Jawa Timur dan Madura yang selama ini menjadi pemasok garam terbesar. Kekosongan dari pemasok ini berimbas terhadap kelangkaan garam dan melonjaknya harga secara nasional. Alasan gagal panen dan cuaca buruk menjadi penyebab kelangkaan garam ini. Bukankah berkali-kali kita terbiasa dengan cuaca buruk? Mengapa kelangkaan garam kali ini sungguh menyiksa? Yang diserang bukah hanya kantung, melainkan lidah, hingga perut.

Baca Juga :   Membangun Desa, Menagih Nawa Cita Jokowi

Ibu-ibu yang saya temui juga banyak berkomentar. Bahkan, pemikiran mereka sangat jauh ke depan. “Jika garam naik, garam akan langka. Ibu-ibu akan mengurangi penggunaan garam pada setiap makanannya. Namun, jika garam benar-benar susah ditemukan, masakan akan jadi hambar. Jika hambar, suami dan anak-anak gak betah makan di rumah. Jika makan di luar, siapa tahu hal-hal lain bisa dilakukan” ternyata harga garam lengkap dengan kelangkaannya berpotensi sebagai penyebab keretakan rumah tangga atau bisa jadi penyebab perselingkuhan makin marak. Wah…

Merespons kelangkaan garam yang terjadi, Presiden Joko Widodo pun turun tangan. Ia mengimbau para menteri agar secepatnya mengatasi masalah garam yang dapat memberatkan masyarakat, termasuk pengusaha ikan asin dan industri yang menggunakan garam sebagai bahan bakunya. Presiden Jokowi harus menemukan solusi secepatnya, sebelum kekhawatiran ibu-ibu tadi benar-benar terjadi. Bukankah Pak Jokowi sudah terbukti pandai mengendalikan negeri? Buktinya lebaran kemarin, tak ada harga yang melonjak tinggi dan langka, seperti tahun-tahun sebelumnya.


Per tahun, Indonesia membutuhkan garam 4,3 juta ton, mencakup garam industri dengan kadar natrium klorida (NaCl) di atas 97 persen atau garam konsumsi dengan kadar NaCl di bawah garam industri. Sebanyak 1,8 juta ton di antaranya dipasok dari dalam negeri, kebanyakan untuk garam konsumsi yang kini langka.

Nah, sejak awal tahun, pasokan dari ladang dalam negeri sudah seret. Ditambak milik PT Garam di Sumenep, misalnya, produksi garam Mei-Juni hanya 50 ton, sedangkan biasanya bisa mencapai 2.500 ton.

Di Bali, khususnya Denpasar, banyak pedagang menyerah atas pertanyaan kenapa garam naik, kenapa susah cari garam? Harga garam lokal mulai merangkak naik mendekati harga Rp 10 ribu rupiah per kilogram dari harga normal hanya Rp 6.000. Mau tidak mau harus tetap membeli garam. Sebab, sayuran juga daging tanpa garam tak akan mengenyangkan.

Untuk masakan dengan cita rasa khas Bali, garam menjadi bumbu pelengkap namun wajib. Bali yang terkenal dengan pantainya, surga dunia yang dikaruniai pantai-pantai indah tak lantas menjadikan Bali luput dari kelangkaan garam dan harus takluk pada kebijakan impor garam. Ironis.

Baca Juga :   Krisis Garam di Negeri Bahari

Di Bali, sejak tahun 1910, garam diproduksi secara tradisional di ladang-ladang garam yang terhampar di bibir-bibir pantai. Kini, hanya beberapa orang saja yang masih menjalani profesi sebagai petani garam. Petani garam dianggap tidak mampu memberi kehidupan yang layak. Bagaimana bisa, padahal garam nyaris hadir dan diperlukan setiap hari.

Sejak berpuluh-puluh tahun lalu, taraf kehidupan para petani garam tidak pernah membaik. Keberadaan mereka seakan terlupakan, tenggelam di tengah gemerlap dunia pariwisata yang terus hanya melenakan wisatawan.

Kondisi para petani garam semakin memprihatinkan sejak tahun 1980-an, ketika pariwisata semakin berkembang di Bali. Ladang-ladang garam di Bali pun menyusut jumlahnya. Kini, yang tersisa antara lain di Pantai Amed, Tianyar (Karangasem), Pesinggaha, Kusamba (Klungkung), Tejakula, Grokgak (Buleleng), dan Suwung (Denpasar).

Salah satu yang menjadi renungan di tengah kelangkaan garam ini adalah petani garam dan dilema profesinya. Di Bali sendiri, penggiat profesi petani garam bisa dihitung dengan jari jumlahnya. Salah satunya yang masih mempertahankan garam sebagai mata pencaharian yaitu di desa Kusamba. Petani garam tradisional di desa Kusamba masih menggunakan metode seperti palungan (tempat menaruh air laut) yang terbuat dari batang pohon kelapa serta alat tradisional untuk membuat garam.

Pertanian garam tradisional membutuhkan proses panjang yang mencakup mengambil air laut, tegang air laut melalui gundukan pasir khusus disiapkan, menunggu hingga kering dan kemudian diproses lebih lanjut terjadi, akhirnya berakhir dengan garam konsumsi. Karena masih menggunakan cara tradisional, hasil akhirnya tergantung pada sinar matahari, jadi musim hujan menjadi kendala bagi petani garam di desa Kusamba.

Meski sekarang metode modern untuk pengolahan garam tidak bergantung pada sinar matahari, masyarakat petani garam tradisional di desa Kusamba diharapkan untuk melestarikan cara tradisional pertanian garam karena dapat menarik wisatawan yang ingin mengetahui bagaimana garam dibuat secara tradisional, untuk datang ke desa Kusamba. Dengan begitu, desa ini semakin dikenal oleh masyarakat luas.

Permintaan ini terkesan egois. Mereka yang merawat tradisi justru jauh dari kata sejahtera. Mereka bertahan selain karena idealisme ada juga yang tak memiliki pilihan lain. Pariwisata yang begitu membaik ini tak berkontribusi positif pada petani garam tradisional.

Baca Juga :   Butuh Keseriusan Pemerintah Atasi Persoalan Impor Garam

Garam produksi desa Kusamba begitu memiliki nama baik. Namun, nama baik ini tak cukup menyelamatkan perekonomian petani-petani garam. Harga garam khas Kusamba dinilai tak lagi bisa bersaing dengan produk yang didatangkan dari Pulau Jawa atau yang diimpor dari luar negeri.

Sesungguhnya garam para petani Kusamba diminati oleh pasar luar negeri seperti Jepang, Jerman, Korea, dan Australia. Sayangnya, meski produk mereka dibeli berton-ton, tapi tetap saja merugi karena dibeli dengan harga yang sangat murah. Mereka berpikir, asal ada saja yang beli, tidak apa-apa. Petani merasa lemah di pengemasan. Mereka kalah karena label juga embel-embel.

Permasalahan ini sudah bertahun-tahun namun tetap saja seperti angin lalu. Tetua di desa Kusamba pernah berkomentar bahwa suatu ketika ada perusahaan asal Jepang membeli garam petani Kusamba berton-ton dengan harga hanya Rp 10 ribu per kilo. Hanya saja produk itu dikemas begitu apik di Jepang dan dijual kembali ke Bali, Indonesia, dengan harga Rp 16 ribu per gramnya. Ini salah siapa?

Warga Kusamba sendiri tak bisa berbuat banyak. Pemerintah pernah memberikan pelatihan dengan embel-embel mendapat uang saku sebagai pemanis. Hasilnya, tak ada yang bisa berubah. Petani tetap hanya memproduksi garam, tanpa banyak paham tentang bagaimana mengemas produk dengan menarik dan bagaimana pemasarannya.

Sesungguhnya petani ini lebih membutuhkan dari sekadar uang. Mereka harus dicerdaskan agar petani garam tidak punah seperti yang banyak dikhawatirkan. Betapa bangganya mereka bisa dengan senyum lebar menceritakan profesi petani garam bisa menghidupi anak-anak juga membantu memerdekakan negeri ini dari kuasa impor.

Kelangkaan garam ini menjadi sentilan bagi petinggi negeri, pejabat daerah, juga politisi yang berebut kekuasaan. Bukankah Anda yang berdiri paling tinggi di negeri ini sudah makan asam garam kehidupan, mengapa persoalan garam justru begitu memalukan dan membuat sengsara di perut?


Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR