Banner Uhamka
Senin, September 21, 2020
Banner Uhamka

Edutainment Bukan Infotainment

Nasib Partai Islam dan Perjuangan PPP di Pusaran Pemilu Serentak 2019

Salah satu pertanyaan yang kerap saya terima belakangan adalah, bagaimana nasib partai Islam? khususnya PPP dalam Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 yang dilaksanakan serentak. Asumsi dasar...

Posisi NU dan Keseimbangan Sosial-Politik

Senar gitar itu kalau terlalu kencang akan mudah putus. Tetapi kalau terlalu kendor, suaranya akan sumbang. Maka, diperlukan sikap yang moderat, plus bacaan yang...

Manuver Ombudsman di Ujung Periode Jabatan

Kita membaca begitu ramai pembahasan publik terkait rangkap jabatan di dalam lingkungan BUMN. Banyak pendapat yang mengecam tindakan rangkap jabatan di dalam lingkungan BUMN....

Tanpa Rekonsiliasi PPP Akan Hancur

Penetapan Muhammad Romahurmuzy (Rommy) sebagai tersangka dalam kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) pada 16 Maret lalu, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi...
Avatar
Taufiq Saifuddin
Peneliti di Azkia Institute, Jakarta, dan Aliansi Indonesia Damai

tv2Ada apa dengan tayangan televisi kita hari ini? Pertanyaan ini sebenarnya nampak biasa saja, sebab hampir sebagian besar masyarakat kita memiliki televisi. Namun, akan berbeda kemudian jika pertanyaan tersebut dilihat dari segi manfaat yang dihasilkan dari tontonan yang didapatkan di televisi. Benarkah ada tuntunan dari tontonan kita selama ini dengan tren infotainment yang kini merajai semua stasiun televisi?

Hiburan kita hari ini menjadi sedemikian sempitnya, keluarga sebagai pintu pertama pendidikan seolah kehilangan arah. Ibu-ibu hari ini lebih disibukkan dengan aktivitas gosip daripada mendampingin anaknya mengerjakan pekerjaan rumah (PR). Wajah pendidikan seolah lebih didominasi warna hiburan tanpa arah.

Munculnya lagu “cinta satu malam” yang berlanjut dengan lagu “hamil tiga bulan” menambah deretan panjang persoalan atas bagaimana memposisikan pendidikan yang menyenangkan sebenar-benarnya. Keluarga seharusnya menjadi garda terdepan pendidikan alternatif bagi anak-anak bangsa kelak.

Di tanah air, pertumbuhan infotainment diproduksi bersamaan dengan sinetron dan reality show. Proses ini menciptakan tren baru, seolah-olah tidak ada lagi hiburan selain program tersebut di atas. Oleh sebab itu, industri televisi menciptakan selera pasar sambil menyatakan inilah “selera pasar” dan memaksa stasiun televisi mengakui serta mengakumulasi program sejenis, di saat bersamaan menyeimbangkan program lain. Problemnya adalah, sekian banyak tayangan yang disuguhkan tersebut sama sekali tidak memiliki unsur edukasi.

Infotainment pada dasarnya adalah jenis soft journalism atau soft news yang berkembang di Amerika Serikat. Kategori ini bukan hanya menampilkan informasi dunia hiburan semata tapi beraneka ragam berita dari olahraga, politik, sosial budaya, dan kriminal, yang dikemas menjadi lebih lunak dan menghibur.

Namun di Indonesia, isinya lebih pada berita-berita sensasional dari kehidupan selebritis dan tokoh-tokoh publik, dengan dalih memenuhi selera pasar. Dalam perkembangannya bahkan infotainment  makin menukik pada kehidupan pribadi subyek sekaligus obyek beritanya yang diungkap secara transparan, bahkan benar-benar menelanjangi obyek beritanya.

Yang lebih mengherankan, dari sekian banyak suguhan tontonan yang demikian itu, sangat sedikit tontonan bersifat mendidik. Hal ini semakin diperparah oleh tayangan-tayangan berita yang berbau kriminal, seolah tak ada sisi baik lagi dari negeri ini yang bisa disaksikan oleh generasi muda kita. Polarisasi ini secara sadar tentu berpengaruh pada pembentukan generasi muda.

Televisi tentu merupakan salah satu bagian dari perkembangan teknologi yang telah dicapai oleh umat manusia. Maka, mengarahkan tayangan-tayangan pada hal edukatif tidaklah sulit. Pemanfaatan teknologi demikian itu akan memberi manfaat pada pembentukan generasi muda negeri ini.

Porsi untuk tayangan-tayangan yang lebih edukatif namun tetap menghibur adalah alternatif guna memberikan sesuatu yang berarti kepada masyarakat serta memaksimalkan fungsi televisi sebagai alat pendidikan bangsa.

Pendidikan merupakan bagian penting dalam pembentukan sebuah peradaban bangsa. Karenanya, memasukkan nilai-nilai pendidikan dalam hiburan yang nanti ditayangkan di televisi harus menjadi perhatian para pelaku industri pertelevisian. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat tren baru tayangan-tayangan televisi guna menjadi industri baru dalam merumuskan program-program bernilai edukasi kepada masyarakat.

Usaha ini bukan hal yang sia-sia, sebab penentu dari acara televisi adalah pelaku industri televisi itu sendiri. Maka, menjadi hal yang mungkin untuk menjadikan edutainment sebagai industri baru pertelevisian.

Menyerukan kepada masyarakat untuk mematikan televisi tentu bukan solusi dalam menanggulangi tontonan yang minim tuntutan. Fungsi kita sebagai masyarakat dalam hal ini adalah sebagai alat kontrol terkait suguhan tayangan televisi yang menjadikan kita konsumennya. Dibutuhkan antisipasi kritis dalam menyikapi sekian tayangan yang kita dapatkan.

Pendampingan terhadap anak dalam sebuah keluarga tidaklah cukup. Lebih dari itu, pendidikan keluarga yang mengaitkan norma budaya dan agama akan lebih memberi alternatif pemikiran baru bagi anak-anak kita di rumah. Kita tentu membutuhkan hiburan, namun hiburan tanpa nilai pendidikan juga akan berakibat negatif bila kita tidak mampu memposisikan hiburan sebagai sesuatu yang mendidik.

Perumusan suatu regulasi tentang penataan isi media yang lebih spesialis membahas apa yang mesti ditayangkan dan tidak, tidaklah cukup jika upaya dari semua pihak tidak terlaksana (pelaku industri televisi, pemerintah, dan masyarakat).

Seluruh komponen berhak memberikan kontribusinya guna menjadikan televisi wahana membangun Indonesia lebih baik lagi. Dan edutainment menjadi salah satu alternatif yang bisa dikembangkan lagi dalam bentuk program tayangan bagi stasiun televisi.

Ekonomi Politik Industi Hiburan

Industri hiburan merupakan tempat akumulasi kapital berjalan sangat pesat. Industri ini secara terus-menerus mampu melipatgandakan keuntungan melalui suguhan hiburan. Model hiburannya pun sangat beragam, dari pencarian bakat, musik, sinetron, infotainment, dan lain sebagainya. Tak pelak generasi muda yang menjadi tujuan pasarnya pun secara dominan berbondong-bondong ingin masuk kedalam industri ini.

Dalam memajukan perekonomian bangsa, kita tentu saja membutuhkan medium. Salah satu dari banyak wadah tersebut adalah industri hiburan. Sebab, lewat industri ini telah banyak pengangguran teratasi. Namun problem mendasar dari industri hiburan kita adalah, materi dari suguhan hiburannya yang belum mampu menciptakan trennya sendiri.

Hiburan, selama ini, kita konsumsi seolah-olah menjadi suguhan “ikut-kutan”: apa yang ditampilkan tidak berangkat dari apa yang kita miliki sendiri. Seolah-olah kebudayaan maupun tradisi sendiri kita tidak mampu dijual kepada masyarakat.

Ekspresi berkesenian adalah alat dalam menghiasi industri hiburan kita. Maka, secara kolektif kita tentu harus mampu mengangkat kebudayaan Indonesia dalam persaingan industri dunia. Hal ini akan terlaksana secara maksimal jika ide kreatif pelaku hiburan mampu mengintegrasikan karakter bangsa dalam suguhan hiburannya.

Masyarakat sebagai penikmat hiburan tentu tak bisa berbuat banyak atas tampilan hiburan melalui televisi. Maka, globalisasi yang menjadi tren masyarakat modern harus mampu juga dimanfaatkan oleh pelaku industri hiburan untuk mengangkat nilai-nilai kebudayaan sendiri.

Kebudayaan kita punya kekayaan tersendiri, yang dalam konstelasi internasional punya tempatnya sendiri. Karena itu, melestarikannya melalui industri hiburan sangat potensial untuk mampu bersaing sejajar dengan bangsa-bangsa lain.

Kita tentu punya musisi-musisi yang juga tidak kalah dari Lady Gaga. Problemnya adalah sejauhmana kemudian kita mampu menjual karya anak bangsa tersebut untuk kemaslahatan bersama. Dengan demikian, masyarakat akan lebih terbuka dalam menyikapi sekian banyak suguhan hiburan yang ada, karena efek positifnya juga dirasakan sendiri oleh masyarakat.

Pendidikan yang menghibur tentu datang dari gagasan dan kesadaran bersama. Kita adalah pelaku industri, sehingga sangat berkepentingan untuk memoles tampilan hiburan yang mengedukasi. Sesuatu yang bernilai edukasi belum tentu tidak menjual. Maka, sudah sepatutnya pelaku industri hiburan juga turut serta memberikan wawasan bermanfaat bagi pemirsanya.

Avatar
Taufiq Saifuddin
Peneliti di Azkia Institute, Jakarta, dan Aliansi Indonesia Damai
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berperang Melawan Infodemi

Menurut (Eshet-Alkalai, 2004) ruang maya atau cyberspace bukan hanya desa global atau global village melainkan hutan belantara yang lebat dengan segala informasi. Informasi tersebut bisa jadi...

Religion in Academic Study; An Introduction

"Religion" in relation to ritual practice became an item in an inventory of cultural topics that could be presented either ethnographically in terms of...

Optimisme di Tengah Ketidakbersatuan ASEAN

Optimisme ASEAN yang memasuki usia 53 tahun pada 8 Agustus lalu harus dihadapkan pada kenyataan pahit dan diliputi keprihatinan. Negara-negara anggota ASEAN dipaksa atau...

Investasi dalam Bidang SDA dan Agenda Neoliberal

Hari telah menuju sore, dengan wajah yang elok Presiden Joko Widodo membacakan naskah pidatonya saat dilantik untuk kedua kalinya pada tahun 2019 lalu. Sepenggal...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.