Sabtu, Januari 16, 2021

Kewarganegaraan Ganda, Siapa Takut ?

Hantu PKI di Pendataan Kiai

Ditemani jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Jombang, akhirnya Kapolda Jawa Timur Inspektur Jendera Pol Machfud Arifin sowan ke KH Salahuddin Wahid di Tebuireng, Jombang....

Membunuh Calon Perseorangan

Haluan perubahan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 yang awalnya diarahkan untuk menjawab sederet catatan buruk yang ada, agaknya sedang dibelokkan Dewan Perwakilan Rakyat. Bukannya...

Selamat Ulang Tahun Papua

Tidak ada yang lebih menyakitkan hari ini selain mengucapkan selamat ulang tahun kepada bangsa yang masih terjajah, diliputi kemiskinan, menghadapi perampasan tanah tanpa henti,...

Surat Bodong Golkar

Pekan lalu jagat media sosial sempat dibuat gempar dengan beredarnya Surat Pengesahan Pasangan Calon Kepala Daerah dari Partai Golkar untuk Wali Kota Bandung Ridwan...
Avatar
Budi Setiawan
Pengamat Sosial dan Hubungan Internasional, tinggal di Jakarta

Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) asal Jawa Barat Gloria Natapraja Hamel (kanan) dan Alldy Padlyma (kiri) mengekspresikan kegembiraan seusai bertugas sebagai Tim Penjaga Gordon saat Upacara Penurunan Bendera HUT ke-71 Kemerdekaan RI di Halaman Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/8). Penjaga Gordon adalah Paskibraka yang berdiri dan bertugas di sisi belakang podium tempat Presiden dan Wapres saat Upacara HUT ke-71 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/foc/16.

Status warga negara Indonesia (WNI) kontroversial akhir-akhir ini memunculkan pemikiran bahwa Indonesia sebaiknya menganut saja kewarganegaraan ganda. Pemikiran ini sangat relevan mengingat dunia sekarang nyaris tanpa batas (borderless) karena kemajuan zaman lengkap dengan konektivitas transportasi udara maupun internet.

Dwi kewarganegaraan akan memudahkan mereka yang bermukim di negara lain bisa keluar-masuk Indonesia. Mereka yang sudah warga negara asing (WNA) bisa berinvestasi di dalam negeri. Makin besar investasinya di Indonesia akan semakin besar pula kemungkinan mereka untuk kembali. Karena, bagaimanapun, investasi itu harus mereka amankan dengan tangan mereka sendiri. Jadi, dwikewarganegaraan juga punya dampak ekonomi.

Kewarganegaraan ganda tidak akan menggerus nasionalisme, karena faktanya orang Indonesia bukan bangsa lain yang doyan ngendon di luar negeri melupakan tanah airnya. Orang Indonesia adalah kelompok diaspora yang unik. Mereka cintanya setengah mati pada Indonesia. Mereka cuma ingin meraih berkah ekonomi di negara-negara tempat bermukim. Mereka mau balik lagi ke Indonesia asalkan gaji mereka cocok atau sudah merasa cukup mencari nafkah di luar negeri.

Buktinya ada. Meski sudah WNA, banyak orang Indonesia yang memperpanjang passport RI mereka. Padahal, passport hijau itu tidak bisa dipakai jika masuk Indonesia. Ini menunjukkan bahwa mereka suatu saat ingin kembali.

Ketika bertugas di Singapura dan Amerika, saya mendapati banyak warga tua asli Indonesia tapi sudah menjadi WNA ingin kembali ke tanah air ingin menikmati masa tua dan dimakamkan di tanah air. Dalam beberapa kesempatan, saya menyaksikan kedutaan memberikan kemudahan bagi mereka.

Sekali lagi, ini bukti nasionalisme orang Indonesia. Sekarang soal kekhawatiran terjadi brain drain atau banyak orang Indonesia yang pintar-pintar yang pergi ke luar negeri tapi tidak mau balik lagi. Hal ini hanya perasaan yang sifatnya emosional belaka tanpa ada data yang cukup. Faktanya itu tidak terjadi. Banyak orang kita yang pintar-pintar terpaksa ganti kewarganegaraan bukan karena benci ndonesia.

Mereka menjadi WNA hanya untuk mempermudah mobilitas mereka dalam mencari nafkah, mengembangkan diri serta menyebarkan keilmuannya hingga mengharumkan nama Indonesia, tanpa harus urus visa. Seperti yang dilakukan Arcandra Tahar dan banyak orang-orang pintar kita yang kini bermukim disana. Jika diberi atau ada kesempatan, kita yakin mereka akan berbondong-bondong ke Indonesia karena negara memperlakukan mereka dengan sangat layak.

Lihat saja ada seorang ahli nuklir Indonesia yang sekarang mengajar di Korea Selatan. Dia sekarang mengajar cara membuat reaktor nuklir mini untuk negara-negara di Timur Tengah. Di tanah air, keahliannya tidak atau belum terpakai karena baru sampai tahap gagasan, ide pembangunan reaktor nuklir sudah ditolak. Dia akan dengan serta merta menanggalkan jabatan dan gaji besar jika tanah air memanggil.

Karena, pada dasarnya, itulah penantian dia selama ini. Masalahnya, harus diakui bahwa dalam banyak hal negara belum sanggup memberikan ruang bagi mereka. Tapi itu bukan hambatan. Dengan dwi kewarganegaraan, mereka bisa memberikan sumbangsihnya, meski tidak total kepada negara, misalnya mendirikan perusahaan di tanah air atau menjadi konsultan. Dengan demikian, dwi kewarganegaraan mempermudah mobilitas mereka. Dari sini jelas bahwa kewarganegaraan hanyaah status.

Tak ada hubungannya dengan nasionalisme ataupun brain drain. Orang Indonesia pasti balik sejauh dia masih menangis menyanyikan Indonesia Raya atau Tanah Airku. Jadi, dwi kewarganegaraan bisa dipandang sebagai satu bentuk penghormatan negara bagi mereka yang hatinya selamanya tetap Indonesia…

Avatar
Budi Setiawan
Pengamat Sosial dan Hubungan Internasional, tinggal di Jakarta
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Fisika dan Kemajuan Teknologi Bidang Transportasi

Era globalisasi telah mengubah kehidupan manusia di muka bumi ini akibat dari Revolusi Industri 4.0 yang ditandai dengan penemuan internet pada akhir–akhir Revolusi Industri...

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda”

“HUTRI72 – Makna ‘Dari Sabang sampai Merauke’: Pesan untuk Pemimpin dan Generasi Muda” Oleh Ali Romdhoni   “…’Dari Sabang sampai Merauke’, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.