Jumat, Maret 5, 2021

Dunia Tanpa Amerika Serikat

Menuntut Pertanggungjawaban Presiden

Asap adalah bencana di republik ini. Akibat pemerintah yang tidak mampu menemukan solusi pembakaran hutan, asap telah melumpuhkan puluhan kota, menyebabkan ratusan orang menderita...

Merica Membawa Kura-Kura Berjanggut Berjalan Sampai 921 Halaman

Dari sekian banyak kemungkinan, saya memilih mengandaikan Kura-Kura Berjanggut karya Azhari Aiyub yang mencapai 921 halaman sebagai rangkaian kereta. Dan lokomotif yang menarik gerbong-gerbong...

Awal Kemenangan Rakyat Kendeng

Selasa, 17 November 2015, rasa lelah karena long march “Kendeng Menjemput Keadilan” sejauh 122 kilometer akhirnya terbayar. Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang...

Ancaman Global ISIS di Indonesia

Terorisme Beirut-Paris adalah bagian pementasan panjang Islamic State (IS) yang diakhiri dua babak kontras: satu dilakukan pada pengungsi Palestina dan Syiah di Beirut (12/11),...
Ludiro Madu
Dosen di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Peminat studi ASEAN, Asia Tenggara, Politik Luar Negeri & Diplomasi Indonesia, dan kaitan internet-hubungan internasional

Satu ‘normal baru’ dalam perkembangan dunia di tengah pusaran pandemi Covid-19 saat ini adalah dunia berjalan tanpa kepemimpinan global Amerika Serikat (AS).

Untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia ke-2, hubungan internasional harus menghadapi kenyataan bahwa AS tidak hadir dengan kepemimpinan globalnya. Negara-negara di dunia harus melawan pandemi global Covid-19 tanpa dipimpin AS.

Pandemi Covid-19 seolah menjadi game changer dari tatanan global selama ini yang selalu memerlukan kehadiran AS. Yang membuat pandemi Covid-19 berbeda dibanding pandemi lainnya adalah semua negara menjadi korban. Hampir tidak ada negara di dunia yang luput dari serangan global Covid-19, termasuk AS. Dunia tanpa kehadiran dan kepemimpinan global AS seolah sesuatu yang tidak biasa.

Orientasi Domestik AS

Sekarang ketika dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19, AS justru mengalami kerusuhan rasial terparah di sepanjang sejarah bangsa itu. Akibat langsungnya, AS akan lebih banyak berorientasi ke urusan domestik.

Padahal sebelumnya kecenderungan orientasi domestik AS sudah muncul. Perang Dagang AS-Cina paling tidak menjadi pemicu awalnya. Kepentingan perlindungan data domestik menjadi salah satu alasan AS dengan target perusahaan Cina, Huawei.

Pemicu kedua adalah pandemi Covid-19 ini. Lepas dari kontroversi perdebatan penanganan Covid-19 di antara aktor-aktor domestik di AS, perdebatan AS tentang pandemi Covid-19 lebih mengarah pada hubungan AS dan Cina.

Setelah isu perang dagang AS-Cina, kedua negara sepertinya ‘menikmati’ perseteruan bilateralnya yang berdimensi global, yaitu soal asal-usul Covid-19. Bersifat bilateral karena melibatkan dua negara saja, AS dan Cina. Berdimensi global terkait dengan pengaruhnya kepada negara-negara lain. Berawal dari inisiatif AS agar menyelidiki asal-usul virus Corona dan narasi Presiden AS Donald Trump secara global melalui penyebutan virus Corona sebagai virus Cina.

Pemicu ketiga adalah protes AS atas perlakuan WHO yang cenderung ‘lunak’ kepada Cina. Protes AS menyebabkan AS mengancam menunda dan, bahkan, menghentikan kontribusi keuangan ke lembaga kesehatan dunia itu. Terakhir, AS juga mengancam keluar dari keanggotaan di WHO.

Ketiga peristiwa besar itu mendorong AS untuk mengabaikan peran globalnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan internasional, AS cuek soal dunia walaupun dunia sedang mengalami krisis akibat pandemi Covid-19 sekarang ini.

Khawatir Anarkis

Akibat cueknya AS terhadap situasi dunia, ada kekhawatiran muncul anarki global di antara berbagai negara sebagai respon nasional mereka terhadap pandemi Covid-19.

Kekawatiran ini bisa dirunut dari kebiasaan atau normal ‘lama’ dalam hubungan internasional selama ini.

Suka atau tidak suka, selama ini berbagai negara ‘menikmati’ keberadaan AS. Walau tidak terasa nyata, keberadaan AS ada bahkan di antara negara-negara yang sedang berkonflik. Entah itu dalam pengertian positif atau negatif.

Hubungan Internasional sejak Perang Dunia ke-2 memang sudah terbiasa dipimpin AS. Berbagai negara bahkan sudah sampai pada tahap ‘addicted’. Tanpa kehadiran AS terasa ada yang kosong. Tanpa perlindungan ‘polisi’ global.

Sebaliknya dunia sudah terbiasa tanpa Uni Soviet (US) sejak Perang Dingin berakhir di 1990. Berbagai negara mulai membiasakan diri tanpa kehadiran US. Walaupun masih ada Rusia sebagai pewaris utama US, namun jangkauan kekuasaan global Rusia sangat beda dengan US. Sejak itu pula masyarakat internasional berjalan tanpa US lagi.

Normal lama itu sekarang bertransformasi menjadi normal baru sebagai akibat dari pandemi global Covid-19. Ada ruang vakum yang selama ini berisi kepemimpinan AS. Tiba-tiba saja ruangan itu tidak ada isinya, padahal dunia sedang diserang krisis global bernama pandemi Covid-19.

Sekarang pandemi Covid-19 tiba-tiba memaksa berbagai negara mengambil kebijakan nasional masing-masing secara langsung. Mereka tidak perlu berkonsultasi ke AS. Tidak merasa perlu menunggu respon AS terhadap pandemi Covid-19 yang kemudian bisa dipakai sebagai rujukan kebijakan di tingkat nasional.

Negara-negara di Asia Tenggara abai dengan ASEAN, seolah kebijakan nasional mereka tidak terkait dengan kesepekatan regional di kawasan Asia Tenggara. Sebagian negara-negara di Eropa malah kecewa dengan respon Uni Eropa (UE). Jepang dan Korea Selatan bersitegang soal penanganan warganegaranya di negara lain. Jerman, Perancis, Italia protes ke AS yang merebut pesanan alat kesehatan dari Cina. Negara-negara anggota Uni Eropa (UE) dan NATO curiga dengan bantuan Rusia dan Cina kepada Italia.

Kebijakan nasional yang unilateral atau sepihak itu dikawatirkan menciptakan ketidakaturan dalam hubungan internasional. Khawatir juga tidak ada pemimpin global yang bertanggung jawab untuk bersama-sama menangani Covid-19 ini.

Sebagian besar negara di dunia tidak menoleh ke Cina atau negara-negara kuat lain sebagai pengganti AS. Walau menerima bantuan dan kerjasama ekonomi, mereka masih sangsi dengan niat dan kemampuan Cina secara global. Bagi negara-negara Di Eropa dan kawasan lain, kehadiran AS tetap diperlukan walau dalam tingkatan yang berbeda.

Akhirnya

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan lebih dari 200 negara terinfeksi. Persebaran global virus Covid-19 tidak mengenal negara kaya atau miskin, wilayah maju di Eropa atau terbelakang di Afrika, atau mayoritas/minoritas rasial/agama tertentu, bahkan negara-negara beriklim berbeda. Hampir semua negara terkena Covid-19 tanpa terkecuali.

Situasi ini menyebabkan dunia tanpa AS tampaknya sudah menjadi normal baru dalam hubungan internasional pada saat ini. AS sudah cuek soal ini, kenapa negara-negara lain tidak bisa cuek juga?

Toh, sepanjang tiga bulan pandemi global Covid-19 ini, berbagai negara sudah berkontribusi sesuai kemampuan nasional masing-masing. Tanpa menengok peran kepemimpinan global AS dalam menangani Covid-19. Dunia pun tetap berjalan seperti biasa, menghadapi normal baru … tanpa AS

Ludiro Madu
Dosen di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta. Peminat studi ASEAN, Asia Tenggara, Politik Luar Negeri & Diplomasi Indonesia, dan kaitan internet-hubungan internasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

Demitologisasi SO 1 Maret

Menarik bahwa ada kesaksian dari Prof. George Kahin tentang SO 1 Maret 1949. Menurutnya, SO 1 Maret bukanlah serangan balasan pertama dan terbesar dari...

Polwan Yuni Purwanti yang Terjebak Mafia Narkoba

Publik terkejut. Jagad maya pun ribut. Ini gegara Kapolsek Astana Anyar, Kota Bandung, Kompol Yuni Purwanti Kusuma Dewi terciduk tim reserse antinarkoba Polda Jabar....

Stop Provokasi, Pelegalan Miras? Mbahmu!

Lampiran Perpres yang memuat izin investasi miras di daerah tertentu, baru saja dicabut oleh Presiden. Ini disebabkan karena banyak pihak merasa keberatan. Daripada ribut...

ARTIKEL TERPOPULER

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Artidjo Alkostar, Sebuah Kitab Keadilan

Gambaran apa yang muncul di benak Anda setiap mendengar profesi pengacara dan kepengacaraan? Apapun citra itu, Artidjo Alkostar menghancurkannya berkeping-keping. Sebagai pengacara hingga akhir 1990an,...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.