in ,

Dua Wajah Agama


Sejumlah perwira polisi berada di dekat barang bukti hasil penyisiran aparat di Kabupaten Poso yang digelar di Mapolda Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (31/12). Barang bukti dengan atribut yang jelas tersebut menunjukkan adanya jaringan Islamic State of Iran and Suriah (ISIS) yang beroperasi di daerah bekas konflik horizintal itu. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/15
Sejumlah barang bukti hasil penyisiran aparat di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Kamis (31/12). Barang bukti ini mengindikasikan adanya jaringan Islamic State of Iran and Suriah (ISIS) di daerah tersebut. ANTARA FOTO/Basri Marzuki

Agama adalah sebuah kata yang tak bisa lepas jika kita membicarakan sejarah dunia. Hampir bisa dikatakan agama akan selalu hadir dalam jejak rekam kehidupan manusia. Entah langsung atau tidak, agama selalu hadir dalam sejarah panjang kisah manusia di dunia.

Kita (dulu dan bahkan sampai sekarang) dikejutkan dengan munculnya gerakan separatis kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). ISIS berhasil menyedot perhatian dunia, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan penganut Muslim terbesar. Cita-cita untuk membangun negara Islam akhirnya membawa mereka menghalalkan segala cara. Mereka membunuh dengan semena-mena. Kepala manusia hanya sebuah objek tak berguna. Nyawa manusia serasa tak berharga dibanding penggenapan nubuatan profetik yang diyakini secara dogmatis literal.

Bagi mereka, hak azasi manusia hanyalah isapan jempol. Memeluk sebuah keyakinan sebagai salah satu hak yang azasi tidak digubris. Mereka dengan begitu arogan pamer kekuatan dengan meledakkan bangunan dan rumah ibadah, makam-makam yang disakralkan, dan imbauan-imbauan yang bersifat provokatif agar umat Muslim lainnya ikut bergabung dengan mereka. Bagi mereka, hanya ada dua jenis manusia: seperti mereka atau bukan seperti mereka. Di luar aku, kamu musuh.

Agama Islam ditampilkan dalam wajah sangar. Saya yakin bahwa apa yang ISIS tampilkan bukanlah Islam yang sesungguhnya. Tapi kita tidak bisa pungkiri bahwa agama, dalam penafsir partikularnya, mereka gunakan sebagai ideologi dan dasar legitimasi teologis untuk segala tindakan biadabnya.

Baca Juga :   ISIS dan “Selfie” Terorisme

Dalam sejarah Kristen pun pernah terjadi hal serupa. Konflik Irlandia Utara yang terjadi sejak tahun 1969 (yang diyakini berhenti tahun 1998) juga menyuguhkan kepada kita wajah sangar kekristenan. Didasari permasalahan politis, dominasi agama dirasa tidak mampu meredam konflik yang begitu hebat dan memakan korban jiwa. Agama dirasa mandul dalam memberi pencerahan dan semangat cinta kasih untuk memihak pada kehidupan. Perang “Protestan vs Katolik” menjadi sebuah judul duel yang tak sedap dipandang mata.

Dalam tulisan Marx dan Engels, Manifesto Partai Komunis juga mencurigai agama. Agama dipandang sebagai prasangka-prasangka borjuis yang di belakangnya bersembunyi berbagai kepentingan. Marx, yang mengikuti Feuerbach, begitu mencurigai agama. Agama ditudingnya sebagai biang kerok kebuntuan politik Jerman yang kala itu dipenuhi filsafat idealisme Hegelian. Marx bahkan meneruskan kalau agama hanyalah candu rakyat. Dia tak lebih sebagai opium yang menghilangkan kesadaran manusia pada realitas.

Hasil penelusuran kompas.com (25 Juli 2014), dengan judul artikel, “Riset: Anak Religius Kesulitan Membedakan Fakta dan Fiksi” juga memberi kita sebuah gambaran lain tentang pengaruh agama pada anak. Agama hadir sebagai sarana “pembodohan”. Penelitian itu mengatakan bahwa anak yang akrab dengan agama malah tidak bisa membedakan antara fakta dan fiksi. Ini ironis. Bagaimana mungkin agama justru menumpulkan daya kritis?

Tapi cerita tentang agama tidak berakhir di sini. Situs huffingtonpost.com (31 Juli 2014), memunculkan juga sebuah hasil riset yang cukup menarik. Dari data pengamatan, disimpulkan bahwa manusia yang taat beragama justru memiliki rata-rata umur yang lebih panjang. Mereka, yang memeluk agama, disebut memiliki pola hidup yang sehat dan teratur. Ini disebabkan agama mampu mendorong pemeluknya untuk melatih diri dalam sebuah pola hidup yang lebih baik. Agama mampu mendorong pemeluknya untuk menjalani diet sehat dan memiliki kehidupan sosial yang lebih baik.

Baca Juga :   Ketika Ridwan Kamil dan Ganjar Berkicau

Agama juga ternyata mampu mendorong manusia untuk mau berkomitmen sungguh-sungguh pada kemanusiaan. Dunia mengenal sosok Bunda Theresa. Perempuan ini dikenal sebagai seorang yang rela mengulurkan tangannya untuk mereka yang menderita dipinggir jalan Kalkuta, India.

Dengan cinta kasihnya, dia menggendong, mengangkat, membawa pulang, memandikan, dan memberi makan gelandangan dan orang-orang telantar. Bunda Theresa hadir bagi mereka. Bunda Theresa datang menjadi solusi atas persoalan hidup. Bunda Theresa mampu memberi pengharapan baru bagi mereka untuk hidup sebagai manusia.

Bunda Theresa punya alasan sederhana. Dia hanya mencoba melakukan apa yang Yesus ajarkan. Yesus mengatakan, “Apa yang kau perbuat untuk saudaramu yang haus, lapar, telanjang, dan yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Mat. 25:35-36).” Sesederhana itu! Ajaran agama pun jadi legitimasi untuk berbuat kebaikan.

Pertolongannya kepada orang miskin merupakan bentuk ibadahnya pada Tuhan. Rumah ibadah Bunda Theresa adalah kampung-kampung kumuh di pinggiran kota Kalkuta. Di sana, di tempat kumuh itulah dia melayani Tuhan.

Indonesia juga punya Nurcholish Madjid (Cak Nur). Cendikiawan Muslim ini adalah orang yang terus memperjuangkan keislaman yang modern dan demokratis di Indonesia. Dia menampilkan wajah Islam yang begitu sejuk. Dia berjuang di garis depan untuk memperjuangkan nilai-nilai pluralisme dan toleransi agama. Dia pun punya alasan teologis dalam segala usaha dan perjuangannya.

Baca Juga :   Olimpiade dan Rasa Merdeka

Pemikirannya yang mencoba menginteraksikan pemikiran Islam dengan pemikiran kontemporer (katakanlah demokrasi) adalah sebuah perjuangan mulia untuk bangsa ini. Cak Nur mampu menginspirasi banyak orang untuk berjuang pada nilai-nilai kemanusiaan di Indonesia.

Pejuang-pejuang seperti Mahatma Gandhi,  Martin Luther King Jr, dan Nelson Mandela adalah orang-orang yang digerakkan juga oleh nilai-nilai agama. Mereka berusaha untuk mewujudkan sebuah dunia yang penuh cinta, pengampunan, dan kebahagiaan. Agama memiliki peran penting dalam semangat, perjuangan, motif, dan motor penggerak dalam perjuangan yang mereka lakukan. Agama menjadi salah satu pilar dan alasan kenapa mereka mau berjuang dan mati untuk apa yang mereka perjuangkan.

Agama pada akhirnya memang memunculkan wajah ganda, sebuah ambivalensi. Di satu sisi, agama hadir dalam wajah yang sangar, menakutkan, dan penuh kekerasan. Tapi di sisi lain, agama malah hadir dalam wajah dengan tatapan yang teduh dan senyuman. Agama hadir dalam pelukan yang hangat dan menyeka air mata kesedihan. Ya, inilah ambivalensi wajah agama. Ambivalensi yang muncul dari penafsiran tentang apa itu Tuhan, manusia, dan dogma.


Written by Rinto Pangaribuan

Rinto Pangaribuan

Pegiat di Ut Omens Unum Sint Institute - Jakarta

Tinggalkan Balasan

Loading…

TINGGALKAN KOMENTAR