Jumat, Februari 26, 2021

Dua Jurus Kungfu Ahok, Satu Tujuan

Nabi Muhammad Bukan Patriarkis

Islam sering kali digambarkan sebagai ajaran yang sedemikian patriarkis. Mulai dari Taliban yang melarang kaum perempuan bersekolah, bahkan keluar rumah, hingga aneka kartun media...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Awas! Ada Musang Pro Koruptor Di KPK

Tidak kurang dari 384 orang siap “bersitungkus lumus” untuk memenangkan bursa pemilihan calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sejauh yang dapat diamati, daftar...

Berkoalisi Membinasakan KPK

Dipenghujung masa jabatan Dewan Perwakilan Rakyat periode 2014-2019, seluruh fraksi bersepakat untuk merevisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi...
Avatar
Nazhori Author
Penulis lepas, pegiat sosial, dan kader Muhammadiyah. Tinggal di Jakarta.

ahoklgGubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Pangkostrad Letjen TNI Edy Rahmayadi (kedua kiri), Pangdam Jaya Mayjen TNI Teddy Lhaksmana (kiri), Danjen Kopassus Mayjen TNI Muhammad Herindra (kanan), dan Danlanud Halim Perdanakusuma Marsma TNI Umar Sugeng Hariyono (tengah) berjalan menuju lokasi Upacara Gabungan TNI, Polri dan Aparat Pemprov DKI Jakarta di Markas Kodam Jaya, Jakarta, Rabu (17/2). ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf.

Pagi itu, suasana di salah satu kelurahan kawasan Cakung, Jakarta Utara, tak seperti biasanya. Ada perubahan mencolok: posisi meja layanan yang tertata rapi dan kualitas layanan publik yang tidak berbelit-belit. Selesai mengurus dokumen langsung ucapkan terima kasih, tanpa embel-embel atau ketabelece, kata seorang warga.

Entah ada kesadaran atau rasa takut di tingkat kelurahan dan kecamatan, yang pasti semua proses layanan publik berjalan normal. Saat ini sudah tidak ada lagi keluhan dari warga. Jika pun ada, akan berbuntut panjang, karena masyarakat mulai sadar akan pentingnya prosedur pengaduan masalah layanan publik.

Kelurahan dan kecamatan merupakan instansi pemerintah yang mendapat perhatian serius dari Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Setelah Joko Widodo meletakkan posisinya sebagai Gubernur DKI Jakarta digantikan oleh Ahok, wajah instansi layanan publik di Jakarta mendadak tertib.

Ada apa sebenarnya? Tentu saja hanya warga Jakarta yang mengetahui dan mengalaminya. Secara empiris, persepsi negatif terkait pelayanan publik di kelurahan ataupun kecamatan beberapa waktu lalu masih menyisakan nokta merah dalam ingatan sosial umumnya warga Jakarta. Persisnya sebelum kedatangan mantan Wali Kota Solo dan Bupati Belitung Timur itu, warga Jakarta sudah kenyang dengan pola layanan dan komunikasi aparat pemerintah DKI Jakarta yang berbelit-belit.

Namun pengalaman yang dialami warga Jakarta berubah. Kedatangan Jokowi dan Ahok memimpin Jakarta menemukan momentumnya. Apa pun alasannya, Jakarta adalah miniatur negara impian. Negara impian yang diidamkan-idamkan Al-Farabi, guru kedua setelah Aristoteles, yaitu negara utama (al-madinah al-fadilah) yang bebas dari kerusakan, kesesatan, dan kemerosotan.

Pesona Jakarta memang memikat banyak orang. Apalagi untuk urusan kepemimpinan. Untuk menjadi orang nomor satu di Jakarta siapa pun harus siap bertarung dengan segala risikonya. Pengalaman berharga pencalonan Jokowi-Ahok menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta adalah pemetaan fenomena politik yang bercampuraduk dengan isu agama secara gamblang.

Agama dan politik adalah dua fenomena yang saling terkait. Tidak terkecuali dengan Ahok. Isu agama dan politik masih menyertainya sampai saat ini. Bagi yang kontra Ahok, ketika melihat sepak terjangnya, yang ada dalam benaknya seperti melihat api dan merasakan panas.

Dalam benak mereka, Ahok laksana api yang membakar dan panas. Di samping kebijakannya yang kontroversial, sikap ceplas-ceplos, dan perkataan yang keluar dari mulutnya dimaknai berbeda seolah sombong dan tidak sopan. Padahal, dalam dunia nyata, Ahok bukan api yang menimbulkan efek panas bagi siapa pun yang menjadi lawan politiknya.

Persoalan pemotongan hewan kurban, sengketa APBD 2015, penertiban warga Kampung Pulo, kasus Metro Mini, sampai yang terbaru pembongkaran Kalijodo. Ketika mendapat perlawanan dari penentangnya, jawaban Ahok begitu pasti dan seolah apriori. Solusi yang ditawarkan selalu simpel, yakni bertahan atau ingin berubah ke arah yang lebih baik.

Perhatikan jawaban Ahok saat ditanya soal Kalijodo. Tanpa perlu teori atau pembuktian rinci, Ahok mengatakan prostitusi sudah ada sejak lama. Paralel dengan sikap dan pendiriannya itu, pun ketika ditanya soal lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), lagi-lagi jawaban Ahok tajam dan pasti, “Tuhan menciptakan Adam untuk Hawa, bukan Adam dengan Ali”.

Jika pernyataan Ahok itu dimaknai, secara tersirat ia menginginkan suatu manajemen tata kelola yang baik dan bertanggung jawab sesuai dengan dasar hukum. Terlebih dengan ribuan persoalan yang merundung Ibu Kota, ketegasan dan sikap yang kuat tentu dibutuhkan, seperti ditunjukkan Ahok.

Secara prinsip Ahok memiliki dua gerakan tata kelola untuk membenahi Jakarta. Karena dalam prinsip gerak, hanya ada dua pilihan: tetap atau berubah. Hal ini pula yang perlu dicermati oleh masyarakat Jakarta. Sejalan dengan itu, gaya kepemimpinannya yang tegas meniscayakan gerak awal dan akhir.

Gerak awal yang dimaksud adalah gerakan kontrol yang diperhitungkan dan dievaluasi. Tentu saja mempertimbangkan baik dan buruknya yang dilengkapi dengan solusi. Sementara itu, gerak akhir adalah gerakan eliminasi yang memungkinkan lahirnya suatu kebijakan yang tidak bisa memberikan satu peluang pun untuk memilih.

Misalnya kasus Metro Mini. Gerak awalnya (kontrol) jika setelah dievaluasi masih saja belum berbenah dan menyisakan pilihan yang moderat tapi masih diindahkan, gerak akhir sebagai gerak kedua memberikan jawaban eliminasi. Tentu saja pemilik Metro Mini akan berpikir dua kali agar asap di dapurnya tetap ngebul.

Begitu pun dengan penertiban warga Kampung Pulo. Dengan pola dua gerak yang sama, akhirnya warga Kampung Pulo dapat menikmati rumah susun yang layak, meski di sana-sini masih ada kekurangan. Tujuannya hanya satu: mengajak berpikir masyarakat mencari solusi sebuah persoalan.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, eksperimentasi tata kelola Jakarta yang dibuktikan Ahok didasari dalil empiris. Dengan kata lain, logika kepemimpinan Ahok didapatkan melalui eksperimentasi yang dilakukan dengan model dua gerakan alias dua jurus kungfu secara bertahap.

 

Avatar
Nazhori Author
Penulis lepas, pegiat sosial, dan kader Muhammadiyah. Tinggal di Jakarta.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.