OUR NETWORK

Donald Trump dan Fenomena Politik Anomali

Pemilihan Presiden yang baru saja berlangsung di Amerika Serikat memberi kita pelajaran penting. Kemenangan Donald Trump telah “memukul” para pengamat politik dan juga para penyelenggara jajak pendapat. Dari awal kemunculan namanya sebagai calon presiden dari Partai Republik, Trump diprediksi akan kalah telak dari lawannya.

Prediksi kekalahan Trump sangat masuk akal karena dari ucapan-ucapannya yang rasis hingga tingkah lakunya yang cenderung melecehkan lawan-lawan politik menjadikannya sebagai “musuh publik”. Keberhasilan Presiden Barack Obama menyelamatkan Amerika dari depresi ekonomi ikut andil memperpuruk posisi Trump.

Di panggung debat kandidat, antara Trump dan Hillary Clinton, sama sekali tidak menunjukkan Trump akan menang. Gaya bicara Trump menjadi olok-olok, tidak hanya di kalangan publik pendukung Partai Demokrat, di kalangan pendukung Partai Republik pun tak sepi dari kecaman. Tokoh-tokoh Republikan seperti duo Bush (George Bush Sr dan Jr), dan bahkan John McCain mengecam cara-cara kampanye Trump.

U.S. President-elect Donald Trump speaks at his election night rally in Manhattan, New York, U.S., November 9, 2016. REUTERS/Carlo Allegri TPX IMAGES OF THE DAY
U.S. President-elect Donald Trump speaks at his election night rally in Manhattan, New York, U.S., November 9, 2016. REUTERS/Carlo Allegri TPX IMAGES OF THE DAY

Sampai satu hari sebelum pemilihan, para pengamat Indonesia yang menjadi observer di Amerika, semua memprediksi kemenangan Hillary Clinton. Hamid Awaludin di halaman pertama Kompas yang terbit pada hari pemilihan (tanggal 8 November di AS, 9 November di RI) masih memprediksi Hillary Clinton berpeluang besar akan menang.

Kemenangan Trump tentu mengagetkan semua orang. Fenomena apa ini? Jawaban yang paling tepat, inilah fenomena politik anomali.

Secara etimologis, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), anomali berarti ketidaknormalan; penyimpangan dari yang normal. Secara terminologis, anomali diartikan sebagai suatu keganjilan, keanehan atau penyimpangan dari yang biasa atau dari keadaan normal yang berbeda dari kondisi mayoritas.

Anomali merupakan fenomena yang bisa terjadi dalam banyak kasus (cabang ilmu pengetahuan), misalnya dalam kondisi cuaca, suhu udara dan arah angin (meteorologi dan geofisika), dalam kondisi fisik dan kejiwaan seseorang (psikologi), dalam penyimpangan harga-harga (ekonomi), dalam perubahan sosial dan masyarakat (sosiologi), dan dalam perilaku politik seseorang (politik).

Contoh, kondisi cuaca disebut anomali jika banyak turun hujan pada bulan-bulan musim kemarau (di daerah tropis seperti Indonesia biasanya antara April-September); atau seseorang yang karena serangan penyakit tertentu secara medis usianya diperkirakan kurang dari setahun ternyata bisa survive hingga puluhan tahun; dan sebagainya.

Secara politik bisa disebut anomali ketika terdapat penyimpangan dari kelaziman dan aksioma atau norma politik yang sudah berlaku secara umum. Misalnya, jika terdapat pemimpin yang memiliki kekuasaan absolut tapi bersih dari korupsi, maka ia disebut anomali. Karena secara umum terdapat aksioma politik bahwa kekuasaan itu cenderung korup, tetapi kekuasaan yang absolut akan korup secara absolut (power tends to corrupt but absolute power corrupts absolutely). Karena aksioma yang berasal dari negarawan Inggris Lord Acton (1834-1902) ini sudah dipercaya kebenarannya, maka penyimpangan atas aksioma ini bisa disebut anomali.

Anomali tampaknya tengah melanda dunia saat ini. Di Inggris, kemenangan pendukung Brexit (British Exit dari Uni Eropa), dalam batas-batas tertentu bisa dikatakan anomali karena pada umumnya pengamat memprediksi kemenangan “in” (di dalam Uni Eropa) yang didukung pula oleh Partai Konservatif yang tengah berkuasa di Inggris. Kemenangan Brexit mendorong David Cameron—yang memimpin kubu pendukung Inggris dalam Uni Eropa—mundur dari kursi Perdana Menteri.

Di Filipina, Wali Kota Davao Rodrigo Duterte, yang urakan dan sering disebut sebagai Donald Trump-nya Filipina, memenangi Pemilihan Presiden pada 9 Mei 2016 lalu. Duterte adalah tokoh yang sangat kontroversial. Kata-katanya keras menyengat yang membuatnya tidak disukai oleh umumnya elite politik di Filipina, termasuk Presiden Benigno Aquino III.

Di Indonesia, sosok Presiden Joko Widodo (Jokowi) bisa juga masuk dalam fenomena politik anomali. Jokowi telah merusak gambaran umum tentang pemimpin yang sudah lama melekat dalam benak rakyat Indonesia, bahwa pemimpin adalah sosok yang gagah, kharismatik, berwawasan luas, dan memiliki trah bangsawan. Gambaran pemimpin yang gagah dan berpengetahuan luas, misalnya, tampak dalam sosok Sukarno dan Susilo Bambang Yudhoyono. Jokowi tampil bertolak belakang dengan gambaran itu, bahkan bisa dikatakan mewakili gambaran sebaliknya.

Pelanjut Jokowi di Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, jelas mewakili fenomena politik anomali. Basuki penuh kontroversi, tampil di permukaan politik Indonesia dengan “dua kekurangan bawaan”, yakni etnik dan agama. “Kekurangan” ini ditambah pula dengan ucapan-ucapannya yang “melawan” nalar publik.

Apakah politik anomali yang tengah melanda dunia berdampak positif bagi politik global, regional, dan nasional? Dalam konteks Indonesia, tampilnya Presiden Jokowi sejauh ini lebih banyak menunjukkan hal yang konstruktif bagi bangsa ini. Sejumlah jajak pendapat yang mengevaluasi pemerintahan Jokowi menunjukkan tren yang positif. Lantas, bagaimana dengan dampak keterpilihan Donald Trump bagi perkembangan politik global? Kita tunggu saja. Waktu yang akan menjawabnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…