OUR NETWORK
Lahir dari keluarga Tionghoa, orang tua beliau memberinya nama Soe Hok Djin, yang kemudian berganti menjadi Arief Budiman.
Foto: tagar.id

Saya mengenal nama beliau sejak zaman sekolah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, paruh pertama tahun 1990-an. Tentu hanya dari tulisannya, yang terkenal ringan dan mudah dibaca. Meski membahas, misalnya, tentang “Operasi Jakarta”, yaitu kudeta militer di awal tahun 1970-an yang membawa Jenderal Pinochet ke kekuasaan dengan menggulingkan Presiden Allende, sosialis pertama yang terpilih secara demokratis di Chile, Amerika Latin.

Dengan ringan beliau menjelaskan bahwa Pinochet belajar dari seniornya Jenderal Soeharto dari Indonesia, yang meraih kekuasaan dengan cara yang mirip di Jakarta. “Operasi Jakarta” adalah penghormatan Pinochet pada Soeharto, sang senior, yang dianggap berhasil mengubah lansekap politik di Indonesia, dengan melahirkan NOB OB, Negara Otoriter Birokratis-Orde Baru, tahun 1965/66.

Tulisan ringan tapi sangat berbobot beliau kemudian membahas lebih jauh soal NOB ini, sebagaimana terjadi di negara-negara pembangunanisme di Asia, seperti Korea Selatan. Menariknya, meski membahas tentang negara lain, semua dikaitkan beliau dengan Indonesia, yang sejak 1965 (hingga setidaknya 1998) adalah NOB, yang, menurutnya, juga dikombinasi dengan praktek (pemburuan) rente.

Karena itu kapitalisme yang berkembang di Indonesia saat itu (dan banyak negara di Asia Tenggara) pun berbeda dari kapitalisme yang berkembang di Eropa Barat, tetapi kapitalisme yang semu (“ersatz capitalism”). Gagasan tentang kapitalisme semu ini bukan datang dari beliau, tetapi rasanya beliaulah yang mempopulerkan dan membawa diskusi serta perdebatan terkait itu di Indonesia, dengan bahasa Indonesia, dengan gaya ringan dan mudah dipahami.

Tulisan-tulisan beliau inilah yang memberi percik dan rangsangan intelektual awal bagi saya waktu sekolah dulu. Yang membawa perhatian saya untuk mendalami hubungan ekonomi dan politik, pengaruh internasional, kaitannya dengan sektor-sektor di masyarakat, demokrasi, dan sebagainya. Yang kemudian masih terus saya lanjutkan dengan mendalami hubungan antara hukum dengan pembangunan. Dan, rasanya, banyak yang mengalami hal serupa dengan saya.

Generasi tahun 1980-an dan 1990-an, yang merasa tidak cukup belajar kalau hanya di kelas-kelas kampus, tetapi (lebih banyak) di lorong-lorong gedung fakultas dan kos-kosan juga kantin-kantin. Melalui kelompok-kelompok diskusi, membaca dan mendebatkan bahan-bahan tulisan dalam bentuk fotocopy (karena bukunya sebagian terlarang), yang membawanya saja bisa membuat dipanggil aparat, bahkan masuk bui.

Dalam situasi seperti itu, beliaulah salah satu dari sedikit intelektual kampus yang mampu menjadi jembatannya. Menulis kritik pada pemerintah Orde Baru, sebuah negara otoriter birokratis, tetapi yang dikritik masih relatif bisa menerima dan tidak jadi merasa harus membungkamnya, setidaknya tidak dengan sangat keras. Koran arus utama pun masih berani menerbitkan tulisannya, dan memberi percik pemahaman pada masyarakat tentang apa yang terjadi, dan terutama anak-anak muda gelisah seperti saya.

Bagi kaum puritan, boleh jadi tulisan beliau tidak dianggap cukup kritis, karena cenderung populer dan tidak blak-blakan membongkar kebobrokan kekuasaan pada waktu itu. Tetapi tulisan-tulisan beliau adalah juga pilihan-pilihan sikap beliau dalam hidup, cerminan dari pengalaman beliau sendiri. Itu persis yang menarik bagi saya.

Tulisan beliau adalah aktivisme beliau dalam kehidupan nyata. Yang sejak mahasiswa memang sudah menjadi aktivis mahasiswa (angkatan 1966), anak-anak muda yang membantu mengakhiri satu era (Demokrasi Terpimpin) dan melahirkan era yang baru (Orde Baru), dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan tulisan-tulisan itulah yang pada waktu itu memberi wawasan awal pada banyak anak muda gelisah, tepat di puncak masa formasinya, seperti saya dan banyak yang lain.

Tepatlah kalau dibilang tulisan-tulisan beliau ikut memberi saya bekal intelektual awal untuk menjadikan saya seperti saya sekarang.

Belakangan saya bisa bertemu secara langsung dengan beliau waktu saya bekerja di LBH, beliau adalah salah seorang anggota Dewan Penyantun LBH. Belakangan jadi lebih kenal waktu membantu mengasistensi tim pengacara LBH yang membantu beliau menggugat pemecatan beliau sebagai dosen oleh Rektor Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, ke Pengadilan Tata Usaha Negara, tahun 1995.

Saya kembali jumpa beliau tahun 1999, waktu sempat tiga bulan ikut pelatihan pengacara di Melbourne, Australia, dan beliau sebagai dosen di Universitas Melbourne. Saban minggu beliau membuat diskusi dengan mahasiswa Indonesia di sana. Membahas hal apa pun tentang negeri yang dicintainya bersama mahasiswa-mahasiswa Indonesia, juga meski sedang jauh dari negeri asalnya.

Saya ingat, waktu masih di Melbourne, sempat ikut berdiskusi langsung tentang referendum Timor Timur (sekarang Timor Leste). Belakangan meski hanya via mailing-list, beliau memfasilitasi diskusi dan debat tentang film semi-dokumenter kontroversial “In Search of Historic Jesus” (1979) yang membahas Nabi Isa sebagai tokoh sejarah, dan AADC – “Ada Apa dengan Cinta”, awal kebangkitan film Indonesia seperti yang kita kenal sekarang.

Ini menjelaskan betapa multi-dimensinya perhatian beliau tentang negeri ini. Soal ekonomi, politik, pembangunan, kebudayaan, seni dan sastra, filem, keberagaman, demokrasi, dan lain-lain.

Saya mengikuti dari jauh dengan antusias, sambil membaca tulisan-tulisannya yang kadang masuk ke koran Indonesia, sambil membayangkan wajah beliau dan keseriusannya waktu mendengarkan dengan saksama celotehan anak-anak muda baru belajar, yang dihormatinya. Dan dari situ, dengan cara itu, beliau mengajarkan kami. Saya beruntung, meski hanya sekilas, boleh mengenalnya, seorang intelektual dan aktivis yang tak kenal lelah.

Lahir dari keluarga Tionghoa, orang tua beliau memberinya nama Soe Hok Djin, yang kemudian berganti menjadi Arief Budiman. Beliau adalah kakak kandung dari Soe Hok Gie, yang menjadi tokoh sentral film “Gie” yang populer itu.

Beliau meninggal dunia kemarin. Tetapi tulisan dan karya serta perjalanan hidupnya sudah dan akan terus memberi inspirasi bagi banyak orang. Termasuk saya.

Kalau nanti ada yang mau membuat film tentang perjalanan hidup dan karyanya, barangkali cukup diberi judul: Djin.

Surya Tjandra
Wamen ATR/BPN

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.