Selasa, Januari 19, 2021

Di Mana Keluarga Saat Si Anak Memperkosa?

Cemburu pada Sebuah Demo

Rasanya baru kali ini aparat kemanan Indonesia menyiapakan sebuah demonstrasi dengan luar biasa. Disambut dengan hangat, meriah, dan bahkan dengan fasilitas yang serba mewah....

Setelah Heboh Terjemahan Awliyā’ sebagai ‘Teman Setia’

Di antara lebih dari enam ribu ayat al-Qur'an, al-Ma’idah ayat 51-lah yang dalam dua pekan terakhir menjadi primadona di Indonesia. Adalah Gubernur Jakarta Basuki...

Bisnis dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan: Lawan atau Kawan?

Jurnal terkemuka Sustainable Development telah mengeluarkan sebuah artikel early view. Judulnya, The Private Sector and the SDGs: The Need to Move Business as Usual....

Membaca Kekerasan Seksual di Media

Di tengah merebaknya isu komunisme dan pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi yang semakin sering terjadi di Indonesia, kabar-kabar tentang kekerasan seksual yang menyedihkan hadir di...
Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com

perkosa”Seluruh desa dibutuhkan untuk membesarkan seorang anak,” kata pepatah Nigeria. Kalimat ini kemudian dikutip Hillary Clinton, menjadi judul bukunya It Takes A Village pada 1996. Saat itu dia masih The First Lady Amerika Serikat.

Nyaris sama dengan pepatah Nigeria yang dikutipnya, buku itu menyoroti pentingnya peran lingkungan di luar keluarga untuk membesarkan anak. Seolah Hillary ingin mengingatkan publik Amerika Serikat yang kian individualis dan tak peduli pada pentingnya semangat gotong royong dalam mendidik anak. Sampai-sampai dia mengadopsi budaya Nigeria yang menganggap bahwa seorang anak merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata keluarga inti yang bersangkutan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohanna Yembise sempat dicerca netizen saat berkomentar atas kasus perkosaan dan pembunuhan Yuyun di Bengkulu. “Kasus Yuyun itu yang salah orangtua. Orangtuanya sudah beberapa hari di kebun. Bagaimana mau memperhatikan anak itu?” kata Yohana seperti dikutip banyak media.

Kontan publik kita mengecam keras komentar yang menyudutkan keluarga korban ini. Dari situ jelas terlihat, masyarakat Indonesia masih punya spirit kebersamaan ketika ada anak yang jadi korban mengenaskan. Bisa jadi memang tradisi asli kita tak jauh berbeda dengan Nigeria yang menganggap bahwa keluarga inti bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas pembimbingan dan pendidikan pada anak. Ada keluarga besar, kemudian tetangga, lingkungan sekitar, dan sekolah. Semua sama-sama sangat berperan dalam membesarkan seorang anak.

Kasus perkosaan terhadap anak di bawah umur, dengan pelaku anak remaja juga, menjadi bukti bahwa keluarga inti, keluarga besar, tetangga, lingkungan maupun sekolah sudah bersikap abai terhadap mereka. Semua sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri, dan selalu faktor ekonomi menjadi alasan utama.

Jangankan di kota besar, di desa kecil seperti tempat tinggal Yuyun di Rejang Lebong, Bengkulu, pun warganya tersinyalir tak peduli pada pendidikan anak. Keluarga inti 14 remaja pelaku perkosaan sibuk dengan dunianya sendiri, hingga tak tahu betapa nakalnya mereka selama ini.

Begitu juga keluarga besar mereka, paman, bibi, kakek, nenek. Mungkin mereka tahu kenakalan anak-anak itu, tapi cenderung meremehkan dan mengabaikan. Menganggap itu kenakalan biasa. Tetangga dan lingkungan sekitar pun setali tiga uang. Sekolah bisa jadi sudah putus asa, tak punya waktu untuk mencermati moral anak didiknya.

Kembali ke pepatah Nigeria, yang sesungguhnya juga berlaku di keluarga Indonesia zaman dulu. Ya, zaman dulu, sebelum bangsa kita terdegradasi oleh pesatnya kemajuan teknologi, hingga menganggap mengurus anak adalah memberikan mereka gadget terkini. Atau memberi mereka uang jajan agar merasa senang di mal bersama teman-teman. Kerisauan Hillary Clinton di tahun 1996 atas makin memprihatinkannya pola asuh warga Amerika sudah menjadi kerisauan saya atas publik Indonesia hari ini.

Nilai-nilai budaya kita kian terkelupas zaman. Idealnya, setiap orang dalam keluarga berpartisipasi dalam membesarkan seorang anak. Ayah, ibu, anak-anak yang lebih besar, mengasuh anak yang lebih kecil. Kemudian keluarga besar, yaitu kakek, nenek, paman, bibi, ikut mengawasi si anak. Inilah budaya yang banyak berlaku di sistem kekeluargaan suku-suku di Nusantara sejak lama.

Maka, ada yang namanya rapat keluarga besar, untuk memutuskan solusi jika seorang anak terbentur masalah. Kemudian tetangga dan lingkungan sekitar pun turut serta membimbing si anak, sehingga kita mengenal istilah “Ketua Adat”, orang yang disegani di suatu lingkungan.

Sama seperti di suku-suku Nusantara, kelahiran seorang anak dirayakan secara spesial juga di suku-suku Afrika. Anak dianggap sebagai anugerah dari Tuhan bagi seluruh lingkungan. Maka, lingkungan itu bertanggung jawab atas pengasuhan si anak. “Tak cukup satu tangan saja untuk merawat anak,” demikian pepatah Swahili.

Sayang berjuta sayang, budaya luhur itu makin terlupakan di masa kini. Alih-alih kota besar, kota-kota kecil pun sudah membuat para ayah, ibu, paman, bibi, terperangkap dalam kesibukan mereka sendiri. Mencari nafkah sebanyaknya, memperluas koneksi bisnis, bersosialisasi sana-sini, hingga mereka kian jarang di rumah.

Dipikir, seorang anak bisa tumbuh baik dengan sendirinya di bawah pengawasan baby sitter, nanny, pembantu dari yayasan populer. Keluarga besar terpencar di kota-kota yang saling berjauhan. Tetangga? Bisa jadi tidak kenal. Sekolah pun hanya akan peduli jika SPP tertunggak atau nilai anak merosot, atau memberi teguran ala kadarnya pada kenakalan anak.

Lunturnya budaya “membesarkan anak bersama-sama” ini tak heran melahirkan generasi yang juga abai pada sekitarnya. Tak peduli ketika ada anak tetangga beramai-ramai menonton film porno. Merasa biasa saja saat segerombolan remaja pria menggodai perempuan belia. Ayah dan ibu mereka? Sedang sibuk pastinya. Paman dan bibi atau kakek dan nenek? Entahlah.

Jangan heran jika angka perkosaan dengan pelaku dan korban anak di bawah umur terus bertambah. Sebab, keluarga inti, keluarga besar, lingkungan, dan sekolah, kian bersikap abai terhadap perkembangan seorang anak. Kalau hal ini terus dibiarkan, seberat apa pun hukuman bagi pemerkosa anak, tidak akan memunculkan efek jera.

Ke mana gerangan spirit membesarkan anak secara bersama-sama seperti yang pernah berlaku di masyarakat kita? Apakah anak kian menjadi “produk tak disengaja” atau “produk tak diharapkan”, dan bukan anugerah dari Tuhan?

Ya, apa saja yang dilakukan sebuah keluarga saat ada anak-anak di bawah umur memperkosa sesamanya? Sungguh, sebuah fenomena yang sangat miris.

 

Merry Magdalena
Founder & CEO PoliTwika.Com
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Revolusi Mental Saat Pandemi

Vaksin Sinovac memang belum banyak terbukti secara klinis efektifitas dan efek sampingnya. Tercatat baru dua negara yang telah melakukan uji klinis vaksin ini, yakni...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Tanpa Fatwa Halal, Pak Jokowi Tetap Harus Menjalankan Vaksinasi

Akhirnya MUI mengatakan jika vaksin Sinovac suci dan tayyib pada tanggal 8 Januari 2021. Pak Jokowi sendiri sudah divaksin sejak Rabu, 13 Januari 2021,...

Dilema Vaksinasi dalam Menghadapi Masa Transisi

Pandemi covid-19 telah membawa perubahan kebiasaan yang fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Selama masa pandemi, kebiasaan-kebiasaan di luar normal dilakukan dalam berbagai sektor, mulai dari...

Wacana sebagai Represifitas Tersembunyi

Dewasa ini, lumrah dipahami bahwa represifitas diartikan sebagai tindakan kekerasan yang berorientasi pada tindakan fisik. Represifitas juga acap kali dikaitkan sebagai konflik antara aparatus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

penerapan etika bisnis dalam CSR dan lingkungan hidup

Di dalam perkembangan zaman yang semakin maju dan kompetitif menuntut para pembisnis untuk meningkatkatkan daya saingnya. Namun kebanyakan dari mereka masih belum mengerti bagaimana...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.