OUR NETWORK

Di Balik Silaturahmi Syekh Al-Azhar dan Paus

azhar-paus
Paus Fransiskus (kanan) bertukar cenderamata dengan Shekh Ahmad Muhammad al-Tayyib, Imam Masjid Al-Azhar Mesir, di Vatikan, Senin (23/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Max Rossi

Senin lalu (23 Mei) pemimpin tertinggi Al-Azhar, Syekh Ahmad Muhammad al-Tayyib, mengunjungi Vatikan dan bertemu dengan Paus Fransiskus. Silaturahmi pemimpin umat Sunni dan Katolik sebenarnya sudah sering terjadi. Tapi, kali ini punya makna tersendiri karena mengakhiri ketegangan antara Al-Azhar dan Vatikan menyusul ceramah Paus Benediktus XVI di Universitas Regensburg (12 September 2006) yang memicu protes luas di kalangan umat Muslim.

Sebenarnya ceramah Benediktus XVI tidak secara khusus menyinggung soal Islam. Poin utama dalam ceramah di Regensburg itu terkait hubungan antara iman (faith) dan peran akal (reason). Seperti kita tahu, Paus yang bernama asli Joseph Ratzinger itu punya latar belakang akademis dan ceramah-ceramahnya kerap menggambarkan teologi yang berbasis akal.

Yang memicu kontroversi dalam ceramah di Regensburg ialah rujukan Benediktus pada episode dialog yang terjadi pada abad ke-14 antara Raja Bizantium Manuel II Paleologus dan seorang Muslim asal Persia. Dalam dialog tersebut, Raja Bizantium menyayangkan kenapa Islam disebarkan dengan kekerasan, bukan dengan cara-cara yang sesuai dengan nalar.

Rujukan pada episode dialog antara Raja Bizantium dan interlokutornya asal Persia itu sebenarnya bersifat marjinal. Hanya satu-dua paragraf. Keseluruhan ceramah Benediktus XVI terfokus pada soal pentingnya akal dalam keimanan. Terlepas bahwa reaksi kaum Muslim memang berlebihan, pertemuan Syekh Al-Azhar dan Paus Fransiskus bisa dimaknai sebagai bentuk kesadaran bahwa hubungan Islam-Kristen perlu dibangun di atas dasar saling menghargai tradisi keagamaan masing-masing.

Kedepankan Hubungan Dialogis
Perlu juga diketahui, Paus Fransiskus sudah sering mengunjungi negara-negara mayoritas Muslim, seperti Turki. Dia juga kerap menggunakan banyak kesempatan untuk mengirim pesan kepada kaum Muslim. Misalnya, beberapa bulan setelah terpilih sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik pada 2013, dia sendiri mengirim pesan Idul Fitri kepada kaum Muslim di seantero dunia. Biasanya, pesan Idul Fitri dikirim oleh kantor Pontifical Council for Interreligious Dialogue, sebuah unit dialog lintas agama yang didirikan setelah Konsili Vatikan II tahun 1962-1965.

Pasca Konsili Vatikan II, Gereja Katolik memang gencar mempromosikan dialog sebagai cara membangun hubungan kesetaraan yang saling menghargai. Pontifical Council adalah bukti betapa serius Vatikan untuk menjalin hubungan dialogis dengan agama-agama lain, terutama Islam. Salah satu misi penting unit itu ialah untuk meningkatkan saling pemahaman, penghargaan, dan kolaborasi.

Paus silih berganti mengunjungi dunia Muslim. Berbagai inisiatif dialog juga dikedepankan dengan beragam program, termasuk seminar dan presentasi. Salah satu buku yang merekam inisiatif dialog Muslim-Kristen ialah karya Thomas F. Michel dan Michael Fitzgerald berjudul Recognize the Spiritual Bonds Which Unite Us: 16 Years of Christian-Muslim Dialogue (1994).

Sebagaimana judulnya, buku ini mendokumentasikan berbagai program dialog Kristen-Muslim yang dilakukan dalam kurun waktu 16 tahun, antara 1978 dan 1994. Judul buku itu pun diambil dari frase ceramah Paus Yohannes Paulus II ketika berkunjung ke Ankara, Turki, pada 1979. Menekankan pentingnya dialog, Paus Yohannes berkata, “I wonder whether it is not urgent… to recognize and develop the spiritual bonds which unite us.”

Saya punya kesempatan bertemu dengan kedua penulis buku tersebut. Fitzgerald pernah berkunjung ke kampus Notre Dame untuk menyampaikan pidato memperingati 50 tahun perumusan dokumen Vatikan II yang historis, yakni Nostra Aetate. Romo Fitzgerald sendiri pernah menjabat sebagai ketua Pontifical Council (2002-2006).

Pertemuan dengan Michel berlangsung 3 pekan lalu dan cukup berkesan. Saya memanggilnya Romo Tom, yang telah menghabiskan lebih dari 12 tahun dari umurnya di Indonesia. Selama 3 hari kami selalu berbincang, terutama saat jamuan makan. Mungkin karena rindu menggunakan Bahasa Indonesia, dia selalu mencari saya untuk bercerita tentang memori manisnya selama tinggal di Yogyakarta dan kesannya ketika mengunjungi Madura. Kebetulan, kami alumni kampus yang sama di Chicago.

Dalam catatan Michel dan Fitzgerald, Paus Yohannes melakukan 60 perjalanan untuk mengunjungi 109 negara yang dimulai dari Turki. Sangat impresif! Paus ini memang dikenal gigih menjalin dialog Muslim-Kristen sebagai jalan meretas hubungan harmonis.

Perlu Dialog Non-Elitis
Terlepas dari signifikansi inisiatif dialog yang melibatkan otoritas tertinggi umat Muslim dan Katolik, diperlukan juga intensifikasi dialog pada level akar-rumput. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Syekh Al-Azhar sangat penting karena memiliki makna simbolik setelah sebelumnya Al-Azhar memutuskan hubungan dengan Vatikan.

Saya sangat menghargai berbagai upaya yang dirintis oleh para pemimpin agama, baik Muslim maupun Kristen, untuk menyelenggarakan dialog, seminar, kunjungan seremonial, dan bentuk-bentuk pertemuan lainnya. Tapi, aktivitas yang melibatkan kalangan elite keagamaan saja tidak cukup. Pertemuan lintas agama di kalangan pemimpin tentu penting, namun seharusnya tidak terbatas pada mereka.

Persoalannya ialah “dialog” itu sering kali dimaknai sebatas pertemuan formal, sementara dimensi-dimensi lain dari dialog cenderung diabaikan. Dalam bukunya Dialogue and Difference (2009), Christian Troll mengusulkan agar dialog dimaknai sebagai “pertemuan iman” (encounter in faith). Dengan pengertian itu, maka dialog mencakup banyak dimensi kehidupan.

Dialog sebagai pertemuan iman mengandaikan kehidupan antar-agama yang saling terkait (interkoneksi) dalam jalinan koeksistensi. Kenyataannya, Islam dan Kristen telah menyebar sedemikian rupa sehingga tidak ada suatu wilayah di dunia tanpa keberadaan umat Muslim dan Kristen yang hidup bertetangga. Di negara mayoritas Muslim, kita temukan umat Kristiani dalam jumlah yang signifikan, dan demikian juga sebaliknya.

Disadari atau tidak, pertemuan antar-iman itu selalu terjadi dalam keseharian. Tidak ada suatu umat beragama yang sekarang hidup terisolasi dari yang lain. Watak kehidupan modern menjadikan umat beragam agama berada dalam suatu jaringan di mana yang satu terkoneksi dengan yang lain.

Di situlah pentingnya memahami dialog sebagai “pertemuan iman”, bukan lagi terbatas pada pertemuan elitis antar-pemimpin agama. Ada makna signifikan lain dari dialog sebagai pertemuan iman, baik dilihat dari aspek spiritualitas maupun dampak sosial. Dari aspek yang pertama, iman dipahami sebagai pengalaman personal yang otentik dan dapat dirasakan oleh masing-masing pemeluk agama. Pertemuan iman merupakan bentuk pengukuhan umat berbeda agama sebagai makhluk spiritual.

Pada level dampak sosial, pertemuan iman dapat menumbuhkan kepedulian, tanggung jawab dan solidaritas untuk kebaikan bersama (common good). Tentu saja pertemuan iman di tingkat akar rumput akan punya pengaruh lebih dahsyat bila ditopang oleh para pemimpin yang juga mengedepankan kehidupan harmonis.

Kita sambut baik silaturahmi Syekh Al-Azhar dan Paus sembari bekerja lebih keras untuk mewujudkan koeksistensi di tingkat akar rumput.

Kolom Terkait:

Umat Kristiani Itu Kaum Beriman, Bukan Kafir

Imam Besar Ahmad Thayyib, Al-Azhar, dan Syiah

Mun'im Sirry
Assistant Professor di Fakultas Teologi Universitas Notre Dame, USA, Owner KEPITING++. Beberapa karyanya: "Islam Revisionis: Kontestasi Agama Zaman Radikal" (Suka Press, 2018), "Polemik Kitab Suci: Tafsir Reformis atas Kritik Al-Quran terhadap Agama Lain" (Gramedia, 2013), "Kontroversi Islam Awal: Antara Mazhab Tradisionalis dan Revisionis" (Mizan, 2015), dan "Scriptural Polemics: The Qur’an and Other Religions" (Oxford University Press, 2014).

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…