OUR NETWORK

Di Balik Polemik Serangan di Istanbul

bom-ataturk
Seorang teman Gulsen Bahadir, korban serangan Selasa di Bandara Ataturk, menangis di peti jenazah terbungkus bendera dalam upacara pemakamannya di Istanbul, Turki, Rabu (29/6). ANTARA FOTO/REUTERS/Osman Orsal

Ketika militan Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS mengakui pihaknya berada di balik serangan di Orlando, banyak kalangan yang menyangkal, termasuk Pemerintah Amerika Serikat. Namun, kini, saat terjadi serangan teror di Istanbul, Turki, banyak kalangan, termasuk pejabat tinggi Turki, menuding ISIS adalah pelakunya, meski ISIS tak pernah mengklaim sebagai dalang teror tersebut.

Hingga tulisan ini dibuat, saya pun tidak menemukan dari sumber-sumber yang mu’tabar (terpercaya) rujukan kalangan jihadis tentang pernyataan ISIS bertanggung jawab atas serangan di Istanbul. Sementara itu, di media sosial para pendukung ISIS juga tetap tenang seolah “tak tahu menahu” peristiwa mematikan yang baru saja terjadi di Bandara Internasional Attaturk itu.

Elang Kemerdekaan Kurdistan (TAK), kelompok separatis Kurdi yang sebelumnya juga sering mengklaim beberapa aksi pemboman mematikan di Turki, juga bungkam perihal peristiwa di Istanbul.

Serangan di Istanbul ini sangat brutal, tercatat 41 korban tewas, dan ratusan orang luka-luka. Laporan terakhir pihak keamanan Turki menyebutkan tiga pelaku serangan yang ikut tewas dalam serangan itu diidentifikasi adalah warga asing, yakni Rusia, Uzbekistan, dan Kyrgyztan. Dan dugaan bahwa ISIS adalah pelakunya semakin santer. Namun, sekali lagi, ISIS masih saja “cuek”.

Mesin-mesin media propaganda ISIS justru tampak sibuk melaporkan aksi terbarunya di Bangladesh yang melakukan serangan biadab di sebuah restoran di kota Dhaka yang menewaskan 20 warga sipil dan dua polisi setempat.

Bangladesh belakangan memang babak belur dilanda aksi teror. Korbannya lintas agama dan ISIS tanpa malu mengakuinya, meskipun korbannya satu orang. Hanya saja Pemerintah Bangladesh selalu menyanggahnya. “Tidak ada ISIS di negeri ini,” kata pejabat negara itu. Mengiyakan bahwa ISIS adalah pelakunya mungkin bagi mereka sama seperti mengakui pihaknya telah kecolongan, bahwa ini adalah sebuah aib.

Kembali ke soal serangan di Istanbul, siapa di balik aksi teror ini makin menjadi polemik. Teror ini seolah menjadi “teror” tambahan karena tak satu pun kelompok yang mengklaim di balik aksi itu. Karenanya timbul tanda tanya, apa tujuan dan motif serangan di Istanbul.

Jika dicermati, kejadian ini tak lama setelah Pemerintah Turki melakukan normalisasi hubungan diplomatiknya dengan Israel yang putus selama 6 tahun. Ditambah pulihnya hubungannya dengan Moskow yang sebelumnya memanas karena insiden di Suriah.

Juga terkait dinamika politik luar negeri Turki ini, sebagian pengamat tampak berusaha meraba-raba kemungkinan ada keterkaitan dengan kejadian teror tersebut. Sebagian lagi mengatakan kejadian ini bertepatan dengan hari jadi atau ulang tahun Khilafah ISIS ke-2. “Ini cara ISIS merayakannya,” kata pengamat lain yang ingin menguatkan argumentasi bahwa ISIS pelakunya.

Turki bukan kali ini saja mengalami teror, bahkan sering, Turki juga bukan kali ini meng-“kambing hitam”-kan ISIS. Sebaliknya ISIS pun bukan kali saat ini saja “cuek” atas tudingan itu. ISIS tercatat hanya mengklaim 3 operasi serangan, dari sekian banyak aksi terorisme yang terjadi di Turki.

Disadari atau tidak, klaim sebuah kelompok yang bertanggung jawab atas sebuah aksi teror sedikit “mempermudah” sejumlah pihak untuk menganalisa lebih jauh latar belakang dan motif aksi teror.

Terlepas dari polemik para pengamat mengenai latar belakang teror di Istanbul, serangan ini jelas telah menampar muka pemerintah Turki. Maka, sangat naif jika menunggu ISIS “angkat bicara” jika hanya untuk mengungkap ISIS adalah pelakunya. Bagi kebanyakan rakyat Turki, tidak terlalu penting tahu siapa nama kelompok di balik serangan Istanbul. Mereka hanya tahu pemerintah telah gagal melindungi rakyatnya.

Bandara Attaturk Istanbul adalah bandara tersibuk ketiga di Eropa. Tentu kejadian ini adalah pelajaran penting bagi negara-negara lain untuk meningkatkan kewaspadaan atas ancaman teror serupa.

Salah satu petunjuk bahwa ISIS adalah aktor kuat di balik serangan Istanbul adalah taktik yang digunakan pelaku serangan. Dalam sebuah rekonstruksi dalam bentuk video yang dirilis media Turki, pelaku serangan terlihat menggunakan taktik baru, yakni inghimasi.

Secara bahasa, inghimasi artinya menyusup (Arab).  Secara istilah inghimasi ialah tindakan “menceburkan diri” dalam barisan musuh untuk membuka jalan bagi pasukan di belakangnya menyerang kekuatan basis musuh yang menjadi target.

Sebenarnya inghimasi bukan sepenuhnya baru. Istilah ini muncul di kalangan jihadis yang berperang di Suriah pada tahun 2013. Ini taktik yang sering dilakukan ISIS di medan perang di Irak dan Suriah.

Inghimasi berbeda dengan aksi bom bunuh diri yang memiliki durasi serangan singkat. Para pelaku inghimasi membawa senjata otomatis untuk melakukan manuver bertempur selama mungkin, demi mendapatkan korban sebanyak-banyaknya. Di samping itu, mereka membekali diri dengan bom yang melilit tubuhnya dan meledakkan diri di tengah musuh sebagai taktik terakhir jika mereka terdesak.

Dalam banyak kasus pelaku inghimasi memang berakhir dengan melakukan bom bunuh diri. Kalangan jihadis seperti ISIS meyakini taktik inghimasi dibenarkan menurut agama. Bagi mereka, ini adalah salah satu bentuk istisyhadiyah (mencari kesyahidan).

Ketika teknik yang lazim dilakukan di medan perang kemudian dioperasikan untuk “target lunak”, yakni penumpang sipil bandara, dampaknya tentu sangat mengerikan. Maka, bom di Istanbul menegaskan bahwa ancaman terorisme terus berkembang. Semua pihak dituntut terus berpacu mengantisipasi dan mencegah kejadian serupa terjadi lagi, tak terkecuali Pemerintah RI.

Iqbal Kholidi
Penulis adalah pemerhati terorisme dan politik Timur Tengah

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…