Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Selamat Jalan, Mas Dawam Rahardjo

Mengapa Soeharto dan Sarwo Edhie Bukan Pahlawan

Dalam film dokumenter Ridding the Tiger, saya melihat seorang bapak tua bilang, “Saya berjuang agar tidak dijajah.” Saya juga pernah dengar lagu "Pahlawan yang...

Mr. President, Njenengan Salah Pilih Menag!

Awal periode kedua Presiden Joko Widodo menegaskan: “Harus ada upaya serius untuk mencegah meluasnya, apa yang selama ini banyak disebut sebagai radikalisme. Kita ingin...

Transformasi BUMN

Dengan terbitnya UU No. 2 tahun 2020 dan Inpres No.6 tahun 2020, telah memberikan gambaran pada kita bahwa pemerintah sedang mengerjakan dua prioritas penting....

Penistaan Etnis Rohingya

Kekejaman dan penistaan kemanusiaan terhadap etnis Muslim Rohingya yang dimulai sejak beberapa tahun lalu seakan tiada berujung dan berakhir. Di saat Indonesia, dengan mayoritas Muslim...
Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES).

Kring! Pagi itu, sekira jam 8-an, lima belas tahunan lalu. Saya terima telepon dari nomor asing. Kaget bukan main, saya ditelepon oleh Profesor Dawam Rahardjo, salah satu pemikir ekonomi yang saya kagumi sejak saya masih kuliah.

Sangat mengagetkan dan entah dari mana beliau mendapat nomor saya. Tapi yang jelas itulah pembicaraan saya pertama secara langsung dengan Profesor Dawam yang sering saya panggil Mas Dawam. Panggilan yang saya suka dan saya ikut-ikutan saja seperti kolega senior saya lainya.

Pagi itu Mas Dawam tiba-tiba saja mengenalkan dirinya. Saya langsung menyambutnya dengan hati gembira seperti bicara dengan idola.

Pembicaraan dimulai dengan pertanyaan beliau tentang koperasi kepada saya. Dengan nada menguji, beliau sedikit bertanya kenapa saya menyukai koperasi. Tegas dan terang saya katakan karena itulah konsep demokrasi ekonomi! Sistem ekonomi sesuai Konstitusi.

Saya terangkan panjang dan lebar tentang apa itu demokrasi ekonomi seperti yang saya pahami. Saya bumbu-bumbui dengan pandangan-pandangan para ahli dan tak lupa Bung Hatta sebagai salah satu tokoh peletak dasar konsep demokrasi ekonomi di Konstitusi. Sebetulnya, dalam hati saya berharap juga agar beliau jangan sampai kecewa mendengarkan jawaban saya. Seperti seorang mahasiswa yang sedang menghadapi yudisium saja di depan profesor pengujinya.

Seperti pembicaraan-pembicaraan selanjut, Mas Dawam kemudian menyanjung dengan jawaban: Betul! Lalu beliau memberikan penjelasan tambahan panjang lebar tentang apa itu konsep demokrasi ekonomi.

Entah kenapa setiap alur pembicaraan saya dengan beliau menjadi asyik dan kemudian mengalir sampai telepon genggam saya terasa panas. Seringkali sampai berjam-jam kami diskusi di telepon dan selalu diakhiri dengan janji ketemu di kantor.

Kami bisa berdiskusi panjang lebar sampai lupa waktu. Sesekali sambil tertawa lebar mengolok seseorang yang kami sedang gunjingkan atau apa pun itu tentang cerita yang lucu. Kalau di kantor, sesekali saya lihat Mas Dawam mengunyah makanan kecil kesukaanya: stick keju.

Setiap diskusi, yang kami bahas tak lepas dari demokrasi ekonomi, Pancasila, dan konstelasi ideologi-ideologi dunia. Tentang Islam, konsep ekonomi Islam, toleransi umat beragama, koperasi, terkadang Mahabarata dan sesekali sinetron. Mengenai yang terakhir saya kurang begitu suka, tidak tahu, dan selalu mengiyakan saja.

Mas Dawam setelah itu menjadi teman diskusi yang intensif sebelum sering jatuh sakit kira-kira setahun lalu. Sesekali saya bertelepon yang sering nyasar ke handphone Ibu Dawam atau Mbak Mala sekretaris pribadi beliau yang sangat setia.

Dalam kesempatan diskusi, saya juga sempat tanyakan mengenai pergulatannya di Panitia Ad Hoc Amademen UUD 1945 tentang Pasal Ekonomi yang dulu sempat menyatakan walk out bersama Prof Mubyarto. Beliau bicara dengan nada tinggi, seperti marah kepada murid-muridnya sendiri: Sri Mulyani (Menkeu), Sri Adiningsih (Ketua Watimpres), Didik Rachbini (Dosen) dan Syahril Sabirin (Mantan Gurbernur BI) sebagai anggota Panitia Ad Hoc yang beliau anggap mau mempreteli substansi demokrasi ekonomi dari Konstitusi.

Entah kenapa, semenjak saya undang beliau diskusi di kampung saya Purwokerto yang ditemani stafnya di Universitas Proklamasi, Mas Tarli Nugroho, beliau begitu bertambah gairah membahas masalah koperasi. Itu mungkin karena kami berdua sepakat bahwa demokrasi ekonomi itu manifestasinya ya koperasi itu. Bahkan kami berdua sepakat bahwa konsep koperasi itu adalah konsep poskapitalisme dan posrevolusioner. Bahkan beliau begitu yakin abad 21 ini harusnya menjadi abad koperasi.

Kami sering ketemu dalam sesi diskusi terutama di Ibnoe Soedjono Center setelah itu. Yayasan yang didirikan untuk tujuan promosikan pemikiran alm. Ibnoe Soedjono, mentor saya. Dalam beberapa kali diskusi, saya sampai kaget, beliau menyebut nama saya sebagai penganut satu aliran pembangunan koperasi dalam ketegori universalis sosialis. Satu pandangan yang ditulisnya dalam makalah berjudul “Aliran-Aliran Pemikiran Pembangunan Koperasi di Indonesia”.

Mas Dawam bukan hanya seorang penguji pemikiran. Saya beberapa kali kaget karena tiba-tiba saya diminta datang untuk promosikan pemikiran saya dengan coba kawin-silangkan antara koperasi dan konsep ekonomi Islam.

Dimulai dengan memperkenalkan saya dalam diskusi di Universitas Asyafiah Jakarta Timur, yang pada waktu itu dipimpin langsung oleh Alm Tuti Alawiah, lalu berkenalan dengan teman Pengurus PP Muhamadiyah, kami kemudian intensif diskusi bagaimana mengonsep gagasan bank sosial Islam yang kemudian berujung pada diskusi saling berbalas makalah dengan beliau.

Saking intensifnya pergaulan saya dengan Prof Dawam Rahardjo, untuk bicarakan konsep-konsep, saya pernah diundang diskusi oleh Mas Adi Sasono di kantornya sekira setengah tahunan sebelum beliau meninggal. Beliau sempat berkelakar, “Jangan terlalu intens dengan Mas Dawam. Nanti jadi Profesor. Ha-ha-ha.”

Mas Dawam Rahardjo, menurut saya, adalah pemikir demokrasi ekonomi yang terang. Benang merah pemikiranya tentang demokrasi ekonomi sangat tegas. Beliau juga adalah sedikit dari ekonom yang mau menggali pemikiran konsep ekonomi dengan dasar pijak ilmiah dan kontekstual dengan persoalan bangsa.

Itu kenapa beliau sangat marah ketika ada banyak ekonom menyebut konsep welfare state sebagai konsep ekonomi konstitusi. Keblinger sekali, katanya. Welfare state itu ujung dari sistem kapitalisme historis, ketemu presedennya di Eropa dan sangat tidak pas bila diterapkan di Indonesia dan juga bertentangan dengan konsep demokrasi ekonomi … neo kapitalisme, di mananegara yang tadinya penjaga malam berubah jadi pembersih toilet …. konsep yang sebabkan bangsa ini sekarang diperkosa bangsa lain.

Selamat jalan, Mas Dawam … damailah di surga. Sampai ketemu nanti.

Suroto
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES).
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pancasila dan Demokrasi Kita Hari Ini

Perjalanan demokrasi di Indonesia tidak selamanya sejalan dengan ideologi negara kita, Pancasila. Legitimasi Pancasila secara tegas tercermin dalam Undang-Undang Dasar 1945, dan difungsikan sebagai...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Lebih Baik Dituduh PKI daripada PKS

Ini sebenarnya pilihan yang konyol. Tetapi, ketika harus memilih antara dituduh sebagai (kader, pendukung/simpatisan) Partai Komunis Indonesia (PKI) atau Partai Keadilan Sejahtera (PKS), maka...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.