Sabtu, Maret 6, 2021

Dari Presiden Inter Milan menuju Presiden RI 2024-2029

Radikalisme: PR Besar Keislaman-Keindonesiaan

  Telah berulang-ulang tragedi yang bersumber dari radikalisme berbasis ideologi mendera bangsa Indonesia, dari yang berskala letupan kecil sampai pada ledakan pemberontakan berdarah-darah. Tentu potensi...

Khilafah: Konsep atau Keniscayaan?

Setiap membaca kisah Khalifah Umar bin Khattab menyusuri kota Madinah guna membantu kaum miskin dan menegakkan keadilan bagi kaum marginal, bergetar rasanya hati ini. Siapakah...

Covid-19, Agama, dan Sains

Agama mempunyai peran yang cukup penting dalam menghadapi segala aspek kehidupan. Dalam situasi apapun, kegiatan keagamaan menjadi wujud dari eksistensi komunitasnya. Belum lama ini,...

Preseden Buruk Bima Arya

Bima Arya adalah teman saya. Pada saat dia memutuskan terjun ke dunia politik, sebagai teman, saya menyambut baik. Bukan karena pilihannya pada Partai Amanat...

Untuk berkonsentrasi memenangkan pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir mundur dari jabatan Presiden Inter Milan yang dijalaninya sejak November 2013. Pemilihan Presiden 2019 akan menjadi pertaruhan prestasi sekaligus penanda bari Erick menuju dunia baru, dunia politik kepemimpinan nasional.

Kalau mencermati fakta-fakta dan indikator politik yang tersaji saat ini, rasanya Pilpres 2019 sudah “selesai”, karena sejatinya, Pilpres kali ini hanya babak lanjutan dari Pilpres 2014 lalu. Meskipun cawapresnya berbeda, siapa pun yang paham sistem politik di Indonesia, yang berkompetisi sesungguhnya capres, cawapres hanya “ban serep” yang peranannya kurang signifikan.

Kesuksesan Erick Thohir memimpin perhelatan olah raga terbesar di Asia (Asian Games), membuat Presiden Joko Widodo tertarik untuk memintanya memimpin Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. Dengan begitu, sosok yang menarik bagi kelompok milenial yang menjadi target cawapres Sandi Uno itu sebagian besar akan memilih Jokowi-Ma’ruf antara lain karena faktor Erick Thohir.

Artinya, Pilpres hanya rangkaian proses menunggu waktu tiba, sedangkan pemenangnya sudah jelas Jokowi-Ma’ruf. Bahwa tidak sedikit yang menginginkan Prabowo-Sandi menang, itu hal yang wajar, tidak ada masalah. Setiap orang punya hak politik untuk menentukan pilihan.

Karena Pilpres 2019 kita anggap sudah “selesai”, maka mari kita tengok Pilpres 2024. Pilpres ini akan sangat menarik karena tanpa sosok petahana. Yang berkompetisi merupakan aktor-aktor baru yang dari sekarang pun sudah bisa kita prediksi, baik yang berasal dari kepala daerah yang sukses, atau pun dari kader-kader partai yang potensial.

Kepala daerah yang kemungkinan sukses seperti Nurdin Abdullah di Sulawesi Selatan; Tri Rismaharini, Khofifah Indar Parawansa, dan Emil Dardak di Jawa Timur; Ganjar Pranowo di Jawa Tengah; Ridwan Kamil di Jawa Barat; Anies Baswedan di Jakarta; dan Zaky Iskandar di Tangerang Banten, adalah tokoh-tokoh yang layak maju menjadi capres atau cawapres.

Selain kepala-kepala daerah yang berhasil, ada tokoh-tokoh potensial menjadi capres atau cawapres yang berasal dari partai politik seperti Puan Maharani (PDI Perjuangan), Sandiaga Uno (Gerindra), Airlangga Hartarto (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), dan bahkan Grace Natalie–tentu bila Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang dipimpinnya mampu menembus threshold 4% suara dalam Pemilu 2019.

Di samping tokoh-tokoh di atas, akan ada nama baru yang tampil, yang biasanya fokus pada bidang bisnis dan olahraga, yaitu Erick Thohir. Sebelum menggeluti dunia bisnis untuk menggantikan ayahnya, Teddy Thohir, Erick menyelesaikan pendidikan sarjana di Glendale University dan program magister Administrasi Bisnis di National University, keduanya di California, Amerika Serikat.

Berbeda dengan putra pebisnis pada umumnya yang mengawali karier dengan meneruskan usaha sang ayah, Erick lebih diajurkan ayahnya untuk membuka bisnisnya sendiri. Bersama Muhammad Lutfi, Wisnu Wardhana, dan R. Harry Zulnardy, Erick mendirikan perusahaan bernama Mahaka Group.

Mahaka berkembang pesat. Antara 2001-2009 telah berhasil menguasai Harian Republika, majalah a+, Parents Indonesia, Golf Digest, dan Sin Chew Indonesia yang sebelumnya bernama Harian Indonesia. Di media penyiaran, Mahaka menguasai JakTV, stasiun radio GEN 98.7 FM, Prambors FM, Delta FM, dan Female Radio. Di samping itu, Erick juga pemilik saham minoritas Viva Group yang mengelola vivanews.com, TVOne, dan ANTV.

Tak puas di bisnis media, Erick mengembangkan sayap di dunia olahraga. Di klub bola basket, ia memiliki Satria Muda dan Philadelphia 76ers yang berlaga di National Basketball Association (NBA), liga utama bola basket AS yang paling bergengsi di dunia. Di asosiasi bola basket Erick pernah menjadi Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) periode 2006-2010, dan Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara (SEABA) periode 2006 sampai saat ini.

Di klub sepakbola, di samping ikut memiliki Persib Bandung, Erick merupakan pemilik klub di Liga Utama AS (Major League Soccer/MLS), D.C United (AS), dan klub Liga Utama (Seri A) Italia, Internazionale atau Inter Milan yang kemudian mengantarkannya menjadi presiden klub ke-21, dari November 2013 hingga akhir Oktober 2018.

Hadirnya Erick Thohir sebagai tokoh politik diawali dengan memimpin TKN Jokowi-Ma’ruf. Rangkaian kesuksesannya di dunia bisnis dan politik tentu akan memberikan warna baru dan menarik dalam hiruk-pikuk politik Pilpres 2024. Yang paling mengesankan publik Indonesia tentu pada ia saat memimpin Asian Games ke-18, Agustus lalu, yang berhasil meraih tri-sukses: sukses dalam menyediakan sarana dan prasarana, sukses penyelenggaraan, sukses dalam merah prestasi (jauh di atas target yang telah ditetapkan).

Kesuksesan penyelenggaraan Asian Games mendapat apresiasi yang tinggi dari semua pemimpin negara yang ikut berpartisipasi. Nama Indonesia semerbak di negara-negara Asia. Bahkan Presiden Olympic Council of Asia (OCA), Sheikh Akhmad Fahd Al-Sabah, secara khusus menyebut penyelenggaraan Asian Games telah menjadikan mimpi Asia sebagai The Energy of Asia menjadi kenyataan.

Kompetensi sebagai syarat mutlak memimpin negara besar seperti Indonesia ini adalah sesuatu yg tidak bisa ditawar. Munculnya Erick Thohir akan menambah keyakinan bahwa banyak sekali putra putri terbaik bangsa kita yang bagus dan kompeten.

Sayangnya dalam berbagai perbincangan dengan penulis, Erick selalu menolak saat disinggung soal kemungkinan maju dalam Pilpres 2024. Dengan rendah hati dia mengatakan, masih banyak yang jauh lebih bagus dan kompeten ketimbang dirinya. Tapi, jika rakyat menghendaki, menjadi Presiden RI 2024-2029 merupakan hal yang tidak mustahil bagi Erick Thohir.

 

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.