OUR NETWORK

Dari Kepa Arrizabalaga untuk Pep Guardiola

Jadi, bisa empat, Pep?

Maurizio Sarri hanya berjarak sedepa dengan trofi pertamanya. Lebih tepatnya, berjarak sebentang kedua tangan kiper termahalnya, Kepa Arizzabalaga. Sampai nama terakhir itu menggagalkannya.

Di depan hampir delapan puluh dua ribu penonton di Stadion Wembley, dan ratusan juta penonton televisi di seluruh dunia, Kepa menunjukkan pembangkangannya. Ia yang ambruk dua kali di perpanjangan waktu karena kram menolak keluar ketika di pinggir lapangan nomor punggungnya tertulis merah di papan elektronik yang diacungkan wasit keempat, dan kiper cadangan Willy Caballero berdiri menunggu sembari melakukan perenggangan. Kepa awalnya hanya mengacungkan ibu jarinya, memberi tahu ke bangku cadangannya bahwa ia oke, bisa melanjutkan pertandingan. Namun, setelahnya, ia kibaskan tangan tanda penolakan. Dan ia kembali mengibaskan tangan, dua kali lebih kuat, bahkan setelah pemain senior David Luiz berbicara kepadanya.

Kepa tak mau diganti. Ia ingin berjuang sampai akhir, mungkin begitu pikir pendukung Chelsea yang berpihak kepadanya. Namun, lebih banyak yang berpendat, ia ingin menjadi pahlawan di pertandingan final ini. Dan lebih banyak lagi yang bilang, itu pertunjukan keangkuhan seorang kiper termahal di dunia terhadap pelatih dengan jerat pemecatan sudah terkalung di lehernya. Apa pun itu, Kepa menciptakan atmosfer aneh yang tidak penting di saat yang tidak tepat.

Ia membuat wasit bingung, Sarri dan Zola gusar (Sarri bahkan sempat meninggalkan bangku cadangan, sebelum kemudian membatalkan niatnya), dan Caballero, seorang master dalam adu tendangan penalti, berdiri kikuk—kemudian dengan menggelengkan kepala, melepaskan sarung tangan, dan duduk lemas di tangga naik bangku cadangan.
“Ini kejadian yang baru saya saksikan setelah sekian lama,” kata komentator televisi.

Sebenarnya, untuk kasus yang sama persis, apalagi di sebuah final, yang disiarkan langsung oleh televisi, ini terjadi untuk pertama kali.

Dan Kepa tak membuat keajaiban, seperti yang mungkin dipikirkannya. Ia membuat penyelamatan bagus atas tendangan Leroy Sane, tapi ia membiarkan bola hasil tendangan Aguero yang buruk tetap bergulir masuk. Pada akhirnya, bukan ia kiper yang diburu oleh rekan setim untuk merayakan gelar juara, melainkan Ederson. Dan Piala Liga, trofi kecil yang akan sangat penting bagi Sarri, orang yang paling malang sore itu, yang mungkin saja bisa menyelamatkan pekerjaannya di Chelsea, jatuh ke tangan Guardiola, seorang pelatih dengan segudang medali.

Seusai pertandingan, baik Kepa maupun Sarri hanya bilang bahwa ini soal kesalahpahaman. Sementara kapten Cesar Azpilicueta bahkan bilang tak tahu apa-apa; “Aku ada di sisi lapangan yang lain,” katanya. (O … Captain! My Captain!) Tapi, Chelsea secara resmi telah mendenda kiper mahalnya 190.000 Pound, karena telah melakukan “kesalahan besar”. Kepa, setelah secara resmi meminta maaf kepada klub, fans, pelatih, dan seluruh rekan setim, hanya kehilangan seminggu gaji. Tapi, entah secara sadar atau tidak, baik dengan sarung tangan atau tangan telanjang, ia telah menarik naik tali gantungan di leher pelatihnya. Stamford Bridge, usai pertandingan Liga antara Chelsea-Spurs, sangat mungkin akan jadi penentunya.

***

Pep Guardiola, bersama Man City, mendapatkan trofi ketiganya—keempat kalau pakai hitung-hitungan Jose Mourinho. Dan karena mereka masih ada di semua ajang kompetisi yang mereka ikuti, mereka mungkin akan bersiap untuk trofi berikutnya dan berikutnya, demikian yang mulai banyak orang sebut. Bahkan ada yang menulis, mereka bahkan bersiap untuk quadruple musim ini.

Bersama Barcelona, tepat sepuluh tahun lalu, Pep pernah mendapatkan enam gelar dalam semusim. Jadi, apa susahnya empat? City memang tak punya Messi, dan Xavi, dan Iniesta, dan Busquet, dan Puyol, tapi mereka berjalan dengan mesin yang sama, bukan? (Memang apa gunanya mereka mengupah mahal Ferran Soriano dan Txiki Bigiristain, dan kemudian Pep Guardiola?) Mereka bahkan dijalankan dengan uang yang jauh lebih besar. Jadi, kenapa tidak, Kisanak? Ha ha ha ….

Piala FA tampaknya akan menjadi yang kedua di musim ini, dan mungkin mereka akan menebus kagagalan di musim lalu di tangan klub pupuk bawang yang selalu jadi batu kriptonik mereka, Wigan Athletic. Di delapan besar, hanya Swansea yang menghadang mereka. Di antara klub yang tersisa, hanya MU yang tampak menjadi penantang serius. Sisanya adalah klub-klub semenjana. Bahkan ada Millwall, klub yang hanya akan bisa kita temukan di kedalaman klasemen Championship. Jalan mereka untuk mendapatkan Piala FA keenam—ya, keenam—tampak lempang.

Liga Champions juga terlihat tak terlalu mustahil. Mereka sudah setengah badan di perempat final, ketika berhasil membalikkan kedudukan di kandang Schalke. Pada saat yang sama, tak ada tim-tim tradisional yang terlihat tampil meyakinkan; Madrid, Barca, Munchen, Liverpool, terlihat tak meyakinkan; Juve (dengan Ronaldonya), klub yang seharusnya paling siap, dan paling ingin, mungkin malah akan angkat kaki lebih awal—setelah mereka secara mengejutkan tertinggal dua gol dari Atleti, klub yang mengandalkan pertahanan dan bola mati. Kemenangan Atleti atas Juve, juga Spurs atas Dortmund, dan PSG atas MU, mungkin memberi petunjuk bahwa musim ini akan ada juara baru. City bisa memanfaatkan ini, dan seharusnya bisa.

Di Liga, hanya satu poin yang kini memisahkan City dan Liverpool. Dan tak ada lagi selisih jumlah pertandingan. City baru saja dapat piala, sementara Liverpool justru dapat hasil imbang: keempat kalinya dalam lima pertandingan. Untuk hitung-hitungan, di sebelas pertandingan sisa, City masih menyisakan lawan berat pada Spurs dan MU di nyaris pengujung musim, sementara Liverpool punya Spurs dan Chelsea di paruh awal April.
Kemenangan dalam pertandingan-pertandingan sulit mungkin akan sangat menentukan siapa yang jadi juara. City, seperti yang ditunjukkannya di final Piala Liga akhir pekan lalu, tampaknya bisa melakukannya.

Jadi, bisa empat, Pep?

***

Hampir kosong. Itulah peluang yang dihasilkan Liverpool di Old Trafford, ketika mereka menghadapi tim gawat darurat Ole Gunnar Solksjaer. Itu membuat mereka kembali memimpin Liga, setelah dua minggu. Tapi, dari keunggulan tujuh poin di akhir tahun lalu, kini hanya tinggal satu.

Liverpool tetap tim yang sulit dikalahkan. Mereka hanya kebobolan 15 gol sejauh ini, dan baru sekali kalah. (Virgil van Dijk, di mana pun nanti posisi Liverpool berada di akhir musim, jelas pantas untuk menjadi pemain terbaik Liga.) Tapi mereka tak bisa menipu para penggemarnya bahwa mereka sedang ada masalah. Terlalu banyak hasil imbang adalah statistiknya. Permainan yang tawar dan membosankan saat melawan MU adalah gambarannya. Dan Henderson yang manyun saat diganti di babak kedua, setelah sepanjang pertandingan hanya bisa mengumpan ke samping dan ke belakang dan/atau membuang bola ke arah kiper lawan, “lupa” menyalami pelatihnya yang sedang murka, cuma sedikit tanda.

Dan Jurgen Klopp kembali menyebut-nyebut tentang perjalanan Liga yang memang sulit. Di awal musim yang mengatakan hal yang sama, tapi saat itu dengan nada merendah. Kini, ketika ia mengatakannya kembali, ia sedang membela diri.

“Selalu ada masanya perjalanan menjadi sulit, kecuali jika kami memimpin dengan 25 poin. Leicester City mengalaminya. Chelsea mengalaminya. Hanya City di musim lalu yang tidak,” kata Klopp.

Lalu ia mulai terdengar seperti Mourinho: “Perkembangan tim luar biasa. Aku tidak bermaksud memuji diri sendiri, tapi tim ini memang luar biasa. Kami sudah masuk tiga final … Aku tidak tahu ada banyak tim yang masuk tiga final dalam tiga tahun terakhir.”

Dan, pada akhirnya, ia terdengar seperti pendukung Liverpool sedunia. “Ini bukan kesempatan terakhir kami. Ini kesempatan pertama kami. Dan itu dua hal yang sangat berbeda.”

Penulis Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu"; Pengelola Blog Belakanggawang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…