Selasa, Januari 26, 2021

Dana Desa dan Stok Pengetahuan

Perang Suriah, Konflik Agama Sunni-Syiah?

Awal tahun 2012 saya berkunjung ke Arab Saudi. Saya ingat pada saat itu Revolusi Arab sudah menjadi isu hangat yang menarik perhatian dunia Islam,...

Bolehkah Muslim Masuk ke Gereja?

Bolehkah Muslim masuk ke gereja? Jangan emosi, kita ngaji kitab fikih, yuk! Sahabat dan guru saya, Ustaz Yusuf Mansur, meminta saya menjelaskan bagaimana hukumnya seorang Muslim memasuki...

Nasi Bungkus dalam Pusaran Politik Indonesia

"Doel udah makan?" "Belum Nyak, tadi cuma sarapan roti di kantor" (Si Doel Anak Sekolahan) Sebagai bahan pangan pokok, beras dan segala produk turunannya memainkan fungsi penting...

Kontroversi Sertifikasi Profesi untuk Sejarawan

Entah apa yang terjadi di dalam internal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tepatnya pasca reshuffle kabinet dan pergantian pucuk pimpinan instansi dari Anies...
Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, penikmat kopi dan film.

Intisari pembangunan adalah ekspansi kapabilitas manusia. Mantra itu selalu disampaikan oleh Amartya Sen, ekonom peraih nobel yang juga getol bicara perkara kelaparan, pendidikan, kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia.

Kapabilitas manusisa itu disokong oleh pendidikan dan kesehatan. Kata kunci pendidikan tidak lain adalah pengetahuan, lebih luas dari sekadar persekolahan.

Oleh karena itu, pembangunan desa juga mesti didekati dengan cara ini: menambah stok pengetahuan. Dengan jalan inilah kepastian pemberdayaan terselenggara di desa. Program-program kunci pembangunan di desa, seperti ekonomi, budaya, ekologi, dan lain-lain akan kuat dan langgeng bila punya alas kapabilitas warga tersebut.

Jalur penambahan stok pengetahuan beragam, tidak tunggal. Salah satunya yang terjadi di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

Pada siang hari yang terik saya berkeliling di perkebunan kelapa sawit bersama Bupati. Bang Kirman, begitu saya biasa memanggil Pak Bupati Soekirman yang berlatar belakang aktivis LSM, memiliki tabiat antik, yakni suka berkeliling menyapa warga dan, ini yang penting, di bagasi mobilnya selalu tersimpan jala/jaring ikan. Jika melewati sungai atau kali yang menggoda, dia lantas mengambil jala tersebut dan “nyemplung” ke kali untuk mengambil ikan dan hasilnya dibagikan ke warga. Kegiatan unik ini sudah dikerjakan lama, jauh sebelum menjadi Bupati. Menurutnya, di samping bisa mendekatkan dengan warga, aktivitas ini juga membuat pikirannya lapang. Aneka kesuntukan tugas langsung terbang.

Namun, bukan soal ini yang paling menarik. Desa-desa di sana sangat melek literasinya karena dikembangkan “jurnalisme desa”. Tiap desa punya koran online dan bisa diakses oleh semua warga, misalnya Desa Tanjung Harap.

Dana Desa sebagian dipakai untuk membeli perlengkapan jurnalistik, seperti komputer, pelatihan penulisan, dan desain koran online. Tiap kantor desa sekarang menjadi pangkalan kegiatan jurnalisme warga tersebut. Setiap orang berhak membikin tulisan atau reportase tentang desanya atau pengetahuan lain yang bermanfaat bagi penduduk desa.

Dalam waktu yang singkat, desa menjadi deras oleh informasi.

Saat saya ikut pertemuan dengan warga di Desa Melati, yang berlokasi tak jauh dari Desa Tanjung Harap, dengan tangkas warga bicara aneka topik. Mereka bukan lagi sekadar sebagai konsumen informasi yang berasal dari kota, tetapi juga produsen pengetahuan.

Warta ini kurang lebih juga terjadi di Desa Mantaren II, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Desa ini belum tergolong desa maju atau mandiri. Ketika menuju desa itu, separuh jalan dalam kondisi rusak dan sebagian rumah penduduk tidak bisa digolongkan layak huni. Demikian pula sarana ekonomi desa masih kurang, seperti pasar desa atau sarana pengembangan ekonomi lokal. Istri Kades memang sudah mulai menginisiasi produksi barang olahan, seperti keripik pisang, tetapi secara umum sebagian besar warga baru membuat barang mentah di sektor pertanian sehingga penghasilan yang diterima oleh para petani belum meyakinkan.

Sungguh pun begitu, warga desa berpikiran maju. Musdes yang diselenggarakan tidak hanya memutuskan perlunya membangun infrastruktur atau sarana ekonomi, tetapi sabagian Dana Desa digunakan untuk menegakkan perpustakaan desa yang kelak akan diisi dengan buku-buku dan sarana pelatihan.

Ketika Pak Jokowi berkunjung ke sana pada 19 Desember 2016, pembangunan perpustakaan itu belum sepenuhnya jadi. Namun, bangunan dua lantai itu sudah terlihat gagah di desa tersebut. Kita layak bahagia karena warga dan perangkat desa sadar betul kemewahan pengetahuan, meski mereka tinggal di pinggiran.

Dalam benak mereka: pikiran mesti melampaui perkembangan zaman.

Itu semua dapat dieksekusi karena tersedia Dana Desa dan, tentu saja, komitmen kuat dari Kades serta warga. Literasi warga desa tumpah ruah dan stok pengetahuan menjadi melimpah. Revolusi Dana Desa: Desa Bicara!

Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, penikmat kopi dan film.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.