Rabu, Oktober 21, 2020

Dana Desa dan Stok Pengetahuan

Demokrasi yang Terbajak [Catatan Politik 2016]

Marguerite A. Peeters pernah mengintroduksikan sebuah istilah “pembajakan demokrasi” dalam salah sebuah karyanya, Hijacking Democracy: The Power Shift to the Unelected (2004). Istilah pembajakan...

Menempatkan Perempuan dalam Gerakan Pluralisme [Untuk Mun’im Sirry]

Saya tertarik menanggapi tulisan Profesor Mun’im Sirry yang membincangkan pluralisme agama dan mempertanyakan suara kaum feminis (Geotimes, 12 agustus 2016). Secara umum saya mengamini...

Narasi Heroik Para Pelaku Teror

Banyak orang terkejut mengetahui fakta bahwa keluarga pelaku teror bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, Dita Oepriarto, tidak berasal dari kalangan menengah...

Menakar Jokowi Memberantas Korupsi

Setiap tahun kasus korupsi di negeri ini semakin menjadi-jadi. Korupsi dengan berbagai rupa, macam, dan modusnya. Sudah bermacam rupa, gaya, dan profesi pula orang-orang...
Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, penikmat kopi dan film.

Intisari pembangunan adalah ekspansi kapabilitas manusia. Mantra itu selalu disampaikan oleh Amartya Sen, ekonom peraih nobel yang juga getol bicara perkara kelaparan, pendidikan, kebebasan, demokrasi, dan hak asasi manusia.

Kapabilitas manusisa itu disokong oleh pendidikan dan kesehatan. Kata kunci pendidikan tidak lain adalah pengetahuan, lebih luas dari sekadar persekolahan.

Oleh karena itu, pembangunan desa juga mesti didekati dengan cara ini: menambah stok pengetahuan. Dengan jalan inilah kepastian pemberdayaan terselenggara di desa. Program-program kunci pembangunan di desa, seperti ekonomi, budaya, ekologi, dan lain-lain akan kuat dan langgeng bila punya alas kapabilitas warga tersebut.

Jalur penambahan stok pengetahuan beragam, tidak tunggal. Salah satunya yang terjadi di Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara.

Pada siang hari yang terik saya berkeliling di perkebunan kelapa sawit bersama Bupati. Bang Kirman, begitu saya biasa memanggil Pak Bupati Soekirman yang berlatar belakang aktivis LSM, memiliki tabiat antik, yakni suka berkeliling menyapa warga dan, ini yang penting, di bagasi mobilnya selalu tersimpan jala/jaring ikan. Jika melewati sungai atau kali yang menggoda, dia lantas mengambil jala tersebut dan “nyemplung” ke kali untuk mengambil ikan dan hasilnya dibagikan ke warga. Kegiatan unik ini sudah dikerjakan lama, jauh sebelum menjadi Bupati. Menurutnya, di samping bisa mendekatkan dengan warga, aktivitas ini juga membuat pikirannya lapang. Aneka kesuntukan tugas langsung terbang.

Namun, bukan soal ini yang paling menarik. Desa-desa di sana sangat melek literasinya karena dikembangkan “jurnalisme desa”. Tiap desa punya koran online dan bisa diakses oleh semua warga, misalnya Desa Tanjung Harap.

Dana Desa sebagian dipakai untuk membeli perlengkapan jurnalistik, seperti komputer, pelatihan penulisan, dan desain koran online. Tiap kantor desa sekarang menjadi pangkalan kegiatan jurnalisme warga tersebut. Setiap orang berhak membikin tulisan atau reportase tentang desanya atau pengetahuan lain yang bermanfaat bagi penduduk desa.

Dalam waktu yang singkat, desa menjadi deras oleh informasi.

Saat saya ikut pertemuan dengan warga di Desa Melati, yang berlokasi tak jauh dari Desa Tanjung Harap, dengan tangkas warga bicara aneka topik. Mereka bukan lagi sekadar sebagai konsumen informasi yang berasal dari kota, tetapi juga produsen pengetahuan.

Warta ini kurang lebih juga terjadi di Desa Mantaren II, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Desa ini belum tergolong desa maju atau mandiri. Ketika menuju desa itu, separuh jalan dalam kondisi rusak dan sebagian rumah penduduk tidak bisa digolongkan layak huni. Demikian pula sarana ekonomi desa masih kurang, seperti pasar desa atau sarana pengembangan ekonomi lokal. Istri Kades memang sudah mulai menginisiasi produksi barang olahan, seperti keripik pisang, tetapi secara umum sebagian besar warga baru membuat barang mentah di sektor pertanian sehingga penghasilan yang diterima oleh para petani belum meyakinkan.

Sungguh pun begitu, warga desa berpikiran maju. Musdes yang diselenggarakan tidak hanya memutuskan perlunya membangun infrastruktur atau sarana ekonomi, tetapi sabagian Dana Desa digunakan untuk menegakkan perpustakaan desa yang kelak akan diisi dengan buku-buku dan sarana pelatihan.

Ketika Pak Jokowi berkunjung ke sana pada 19 Desember 2016, pembangunan perpustakaan itu belum sepenuhnya jadi. Namun, bangunan dua lantai itu sudah terlihat gagah di desa tersebut. Kita layak bahagia karena warga dan perangkat desa sadar betul kemewahan pengetahuan, meski mereka tinggal di pinggiran.

Dalam benak mereka: pikiran mesti melampaui perkembangan zaman.

Itu semua dapat dieksekusi karena tersedia Dana Desa dan, tentu saja, komitmen kuat dari Kades serta warga. Literasi warga desa tumpah ruah dan stok pengetahuan menjadi melimpah. Revolusi Dana Desa: Desa Bicara!

Ahmad Erani Yustika
Guru Besar FEB Universitas Brawijaya, penikmat kopi dan film.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa Banyak Abdi Negara Muda Pamer di Media Sosial?

Apakah kamu pengguna Twitter yang aktif? Jika iya, pasti kamu pernah melihat akun @txtdrberseragam berseliweran di timeline kamu. Sebagaimana tercantum di bio akun ini,...

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Jangan Bully Ustazah Nani Handayani

Ya, jangan lagi mem-bully Ustazah Nani Handayani “hanya” karena dia salah menulis ayat Al-Qur’an dan tak fasih membacakannya (dalam pengajian “Syiar Kemuliaan” di MetroTV...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.