OUR NETWORK

COVID-19, Perspektif Fikih Kebencanaan

Jika kita cermati dari perspektif Fikih Kebencanaan, Covid-19 merupakan bencana yang melumpuhkan sendi-sendi sosial yang selama ini sudah dibangun untuk menopang kebutuhan-kebutuhan manusia baik secara fisik maupun mental

Secara geografis Indonesia berada di daerah rawan bencana. Pulau-pulau Indonesia terbentuk dari tiga lempeng tektonik dunia yaitu lempeng Australia, lempeng Pasifik, dan lempeng Eurasia. Indonesia juga berada di zona ring of fire (cincin api).  Kondisi ini menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang mempunyai potensi tinggi terhadap bencana alam.

Selain itu, posisi Indonesia juga berada di garis katulistiwa dengan iklim tropis yang berpotensi menjadi tempat penyebaran wabah yang populer sebagai “penyakit tropis” seperti demam berdarah, kaki gajah, malaria, skistosomiasis (cacingan), infeksi jamur, tuberkolosis, kusta, dan beragam jenis flu.

Muhammadiyah sebagai organisasi yang landasan gerakannya pada aksi-aksi kemanusiaan, berupaya agar bisa memahami, mengantisipasi, serta menyikapi serta menjelaskan kepada masyarakta akan peristiwa-peristiwa kebencanaan yang terjadi di Indonesia.

Sebagai respon dan bukti komitmen terhadap hal tersebut melalui Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, menerbitkan Fikih Kebencanaan. Tujuannya agar masyarakat maupun stakeholder kebencanaan lainnya memiliki panduan dalam menyikapi setiap bencana yang terjadi sesuai dengan syariat agama.

Seperti halnya pandemi corona virus disease tahun 2019 (Covid-19) yang sedang mewabah didunia termasuk Indonesia saat ini.  Badan Kesehatan Dunia WHO telah menetapkannya sebagai pandemi. Pemerintah Indonesia telah menetapkan sebagai jenis penyakit yang menimbulkan kedaruratan kesehatan masyarakat. Dan telah ditetapkan sebagai bencana nasional. Covid-19 termasuk bencana non-alam.

Muhammadiyah memandang Covid-19 tergolong dalam bencana non alam yang disebabkan oleh perilaku manusia. Lazimnya bencana non alam terjadi akibat kelalaian manusia dalam mengantisipasi dampak yang terjadi. Manusia yang gagal menjalankan fungsi kekhalifahannya sebagai hamba Allah di muka bumi ini. Harusnya manusia mampu mengendalikan dan menyeimbangkan hak dan kewajiban pada alam semesta.

Jika kita cermati dari perspektif Fikih Kebencanaan, Covid-19 merupakan bencana yang melumpuhkan sendi-sendi sosial yang selama ini sudah dibangun untuk menopang kebutuhan-kebutuhan manusia baik secara fisik maupun mental. Masjid, musala, sekolah, pasar, dan lain-lain mengalami disfungsi karena semua kegiatan yang berkaitan dengan tempat-tempat ini sebisanya harus kita lakukan dari rumah.

Untuk memfungsikan kembali sendi-sendi itu, selama vaksin Covid-19 belum ditemukan maka akan sangat tergantung pada bagaimana kedisiplinan kita dalam mematuhi berbagai protokol yang sudah ditetapkan pemerintah, juga fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan oleh para ulama baik dari MUI, Muhammadiyah, NU, dan lain-lain.

Sangat manusiawi manakala kebijakan PSBB yang diikuti dengan phisikal distancing dan stay at home yang diberlakukan pemerintah menimbulkan ketidaknyamanan. Banyak warga yang tidak siap, tidak tahu harus melakukan apa, kesal, bosan, dan bahkan setres dalam menghadapi situasi ini.  Tapi, yakinlah, lorong segelap apa pun akan ada ujungnya. Agar kita menemukan titik terang di ujung lorong gelap itu, dibutuhkan kerjasama berbagai pihak.

Cara yang bisa ditempuh: pertama, pemerintah sebagai pengemban amanah otoritas tertinggi dalam mengatur urusan publik, harus mengerakkan semua potensi yang dimiliki sebesarnya-besarnya untuk kepentingan rakyat. Negara harus memenuhi hak-hak rakyat sesuai tujuan berdirinya negara ini yaitu untuk “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah dara Indonesia.”

Kedua, bencana merupakan tanggung jawab kita bersama, pemerintah saja tidak cukup, perlu didukung oleh komponen bangsa yang lain. Karena salah satu kewajiban warga negara adalah melakukan bela negara dan saat ini negara sedang memanggil kita, meminta sedikit saja rasa anasionalisme kita.

Lupakan ego sektoral karena bencana ini tidak mengenal batas sosial, ras, etnik, bahasa, budaya serta agama. Bahaya Covid-19 harus dihadapi secara bersama-sama, kita isi sisi yang kurang dari pemerintah. Inilah mengapa Muhammadiyah (termasuk Aisyiyah) menggelorakan spirit ta’awun (gotong royong) dalam menghadapi bahaya Covid-19 dengan membentuk MCCC (Muhammadiyah Covid-19 Comand Center).

Ketiga, dengan meyakini bahwa bencana ini sebagai ujian dari Allah yang harus kita hadapi dengan kesabaran yang proporsional. Artinya bukan hanya pasrah, tapi tetap melakukan ikhtiar dengan selalu positif thinking, tetap melakukan segala hal terbaik yang bisa kita lakukan kapanpun dan di manapun kita berada, Sabar juga berarti menjaga bahkan meningkatkan ibadah.

Dan yang lebih penting lagi harus dibarengi dengan ikhlas dan tetap bersyukur karena di balik wabah ini pasti terkandung hikmah yang luar biasa. Udara menjadi lebih bersih, air menjadi lebih jernih, lingkungan lebih sehat, dan lain-lain. Kita yakin bahwa apa yang terjadi di dunia ini semuanya atas kehendak Allah SWT. Dia yang maha mengetahui apa terbaik untuk makhluk-Nya.

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan sia-sia begitu saja?” Firman Allah SWT dalam al-Quran surat al-Qiyamah ayat 36 mengisyaratkan bahwa Allah akan ikut andil dalam menanggulangi bencana yang dihadapi manusia. Bagaimana caranya? Dengan memberi kemudahan dalam beribadah, dengan mengutamakan keselamatan nyawa dari segala-galanya.

Fikih Kebencanaan mengunakan dua prinsip umum yaitu kemudahan (taysir) dan perubahan hukum sesuai dengan perubahan situasi (taghayyuru al-ahkam bi taghayyuri al zaman wa al makan wa ah ahwal). Dalam situasi apapun manusia harus tetap melaksanakan kewajibanya kepada Tuhan Nya, dalam batas maksimal yang dimilikinya. Namun syariat Islam memberikan solusi kemudahan untuk pelaksanaanya. Islam tidak membebani kewajiban yang berada diluar kapasitas umatnya.

Yang lebih penting dari semua adalah bagaimana meluruskan persepsi kita dalam memandang bencana. Cara pandang yang keliru akan melahirkan respon yang kurang tepat juga. Kita harus yakin bahwa bencana merupakan ujian sekaligus rahmat dari Allah, maka kita harus menyikapinya dengan positif, tidak menyalah-nyalahkan dan berprasangka negatif terhadap Tuhan. Yakinlah bahwa bencana ini akan berakhir. Keyakinan ini penting untuk terus kita tumbuhkan agar tetap semangat dan optimistis melihat masa depan.

Erni Juliana Al Hasanah Nasution
Dosen Institute Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB-AD), Jakarta; Alumni PPRA LIX Lemhannas RI

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…