OUR NETWORK

Covid 19 dan Matinya Ilmu Pengetahuan dalam Islam

Saya yakin jika Ibnu Sina masih hidup pasti dia akan mencari jawaban saintifiknya, bukan jawaban-jawaban sebagaimana yang diberikan oleh tokoh-tokoh kita.

Pengumuman Presiden Jokowi bahwa Indonesia sudah tidak bebas dari Corona membuat kita sedih namun sekaligus lega. Sedih karena virus berbahaya itu kini sudah benar-benar di hadapan kita dan lega karena dengan pengumuman ini kita menjadi melakukan persiapan tentang apa yang harus kita lakukan.

Pengumuman tersebut sekaligus juga memberi kepastian atas informasi simpang siur yang hadir di hadapan kita tentang virus ini. Berkali-kali kita menyaksikan bahwa para tokoh agama dan mubaligh di sekitar kita memberikan informasi yang tidak membuat kita tenang tapi justru gagap dan panik. Terus terang, mereka bukan pihak kredibel dalam masalah ini, namun karena mereka memiliki audiens, mereka turut memberikan informasi ke publik. Mereka memang tahu agama namun mereka tidak tahu ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan virus ini.

Misalnya, beberapa waktu yang lalu, meskipun sudah diralat, Ustad Abdus Somad pernah melontarkan pernyataan jika Corona adalah serdadu Allah (jundu Allah) yang dikirimkan ke China untuk membela kaum Muslim Uighurs. Pernyataan ini mungkin ada referensinya dalam tafsir, meskipun itu juga tidak terlalu kuat, namun informasi seperti di atas jelas menyesatkan dan tidak berbasis pada bukti ilmu pengetahuan (evidence based information).

Bagaimana kalau dibalikkan pernyataan UAS di atas dengan kenyataan pemerintah Saudi yang menghentikan ibadah umrah dari negara-negara yang positif sudah terkena Corona. Pertanyaannya, mengapa Rumah Allah takut dengan serdadu Allah, bukankah para serdadu tersebut selalu menjaga Rumah Allah?

Pernyataan-pernyataan yang tidak berbasis pada bukti seperti di atas tidak hanya ditemukan pada diri UAS seorang, namun juga pada tokoh-tokoh dan ahli-ahli agama lainnya. Para agamawan jelas boleh bicara dan menawarkan solusi misalnya dengan memanjatkan doa dan sebagainya, namun para dokter, ahli virus, dan ilmuwan nampaknya yang lebih tepat dan ditunggu untuk berbicara masalah Covid 19 ini ke khalayak ramai.

Mengapa demikian?

Pertama, agama sebenarnya bisa digunakan untuk menjawab pertanyaan tentang virus Corona misalnya, namun jawaban agama biasanya berada pada level moral, bukan pada level bagaimana cara pencegahan dan pengobatan yang praktis. Ilmu pengetahuan dan hasil penelitian tetap yang paling tepat menjawab masalah seperti ini.

Kedua, dalam banyak kasus, agama justru sering dimanipulasi untuk meneguhkan kebencian pada kelompok tertentu. Misalnya, mewabahkan virus ini dan itu adalah azab dan kutukan Tuhan.

Ketiga, jawaban-jawaban para tokoh agama kita pada zaman sekarang mutunya jauh dari jawaban-jawaban para ulama Islam klasik pada saat Islam menjadi pusat peradaban.

Bagaimana sesungguhnya Islam menjawab tantangan-tantangan kebaruan, baik kebaruan itu positif bagi kehidupan manusia seperti temuan ilmu pengetahuan atau negatif bagi kehidupan manusia seperti ditemukannya virus yang mematikan seperti MERS, SARS, Covid 16 dan lainnya?

Mari kita kembali kepada al-Qur’an lebih dahulu. Al-Qur’an mengajarkan hal pertama bagi nabi adalah membaca (iqra’). Makna iqra bukan membaca biasa, namun membaca secara komprehensif atas tanda Tuhan yang bersifat qawliyyah (al-Qur’an) dan kawniyyah (alam semesta). Rasulullah sendiri ketika ditanya persoalan empiris-pengetahuan yang berkaitan dengan kehidupan dunia mengatakan bahwa “kamu sekalian lebih mengerti atas urusan dunia kamu sekalian.”

Jawaban Qur’an maupun Sunnah Nabi tentang persoalan-persoalan kebaruan di atas adalah penelitian dan ilmu pengetahuan.

Mari kita bercermin bagaimana para ulama Islam masa lalu mencarikan jawaban atas persoalan medis yang muncul.

Cermin pertama adalah Ibn Sina atau terkenal di dunia akademik Barat dengan sebutan Avicenna. Ibn Sina yang bernama lengkap Abu Ali al-Husayn ibn Abdullah ibn Ibn Sina lahir di Bukhara (Uzbekistan) pada 980 M dan meninggal di Hamadan, Iran, 1037 M. Dia mendalami agama sejak dini bahkan pada umur 10 tahun, Ibn Sina sudah menghafal 30 juz al-Qur’an.

Ibnu Sina belajar banyak hal termasuk filsafat helenistik dan pada umur 16 tahun dan dia mulai belajar ilmu kedokteran. Pada umur 21 tahun, dia menjadi seorang penulis yang luar biasa. 240 judul karya atas nama dia meliputi ilmu matematika, geometri, astronomi, fisik, metafisik, filologi, musik dan juga puisi. Ibnu Sina lewat dua karya al-Qanun fi al-tibb dan Kitab al-sifa telah mempengaruhi fakultas-fakultas kedokteran di Eropa sampai abad 17 M.

Ibnu Sina mengembangkan Evidence-Based Medicine. Dalam teori ini Ibn Sina mengembangkan rational causation –sebab-akibat yang rasional– dalam pengujian dan konfirmasi obat-obatan. Ibnu Sina menyatakan jika pengobatan itu masuk dalam kategori ilmu empiris. Posisi Ibn Sina yang demikian ini sangat bertolak belakang dengan posisi para agamawan kita saat ini dalam menghadap Corona.

Saya yakin jika Ibn Sina masih hidup pasti dia akan mencari jawaban saintifiknya, bukan jawaban-jawaban sebagaimana yang diberikan oleh tokoh-tokoh kita.

Cermin kedua adalah Abu Bakr Muhammad ibn Zakariya al-Razi. Dia lahir lebih dahulu dari Ibn Sina di daerah Ray, yang saat ini bagian wilayah Teheran, Iran. Dia sejak kecil sudah belajar kedokteran.

Al-Razi menulis buku medis pertama berjudul Kitab al-mansuri. Kitab ini ditulis untuk Mansur Ibn Ishaq yang menjadi gubernur Ray pada tahun 903 M. Pada abas 16, kitab ini pernah menjadi kurikulum kedokteran di seluruh sekolah kedokteran di Eropa karena isinya adalah temuan-temuan baru kedokteran pada zamannya.

Kitab kedua adalah Kitab al-hawi. Kitab ini berisi sistem medis yang disarikan dari pelbagai tradisi ilmu kedokteran yang meliputi Islam, Yunani, dan Hindu. Kitab ini diterjemahkan ke dalam banyak bahasa Siryani, Yunani dan Latin dan menjadi rujukan kedokteran utama juga.

Itu adalah cermin yang pernah diberikan oleh para ulama kita pada masa kejayaan ilmu pengetahuan dan peradaban di dalam Islam. Lalu kita ini sekarang dimana?

Kita berada pada jalur yang sudah terlalu jauh dari anjuran agama yang mendorong kemajuan ilmu pengetahuan dan penelitian. Bahkan ilmu pengetahuan dan riset dimatikan dengan menggunakan dalih agama.

Agama dijadikan tameng dan topeng untuk mematikan ilmu. Pantas jika terjadi benturan-benturan baru yang membutuhkan jawaban dari ilmu pengetahuan dan hasil penelitian kita selalu gagap.

Syafiq Hasyim
Pengajar pada FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…