Banner Uhamka
Selasa, September 29, 2020
Banner Uhamka

Covid-19 dan Kepedulian Parpol

Belajar pada Abdul Sattar Edhi [Catatan Sosial 2016]

Di penghujung 2016 ini, saya ingin mengajak Anda untuk bersama-sama belajar lebih banyak dari Abdul Sattar Edhi, pekerja sosial asal Pakistan, yang wafat 8...

Sulitnya Mengganti Ketua Umum [Catatan Sepakbola Indonesia 2016]

Merenovasi 50 ribu stadion barangkali jauh lebih mudah ketimbang mereformasi struktur kepengurusan FIFA. Lalu, sebuah serbuan ke tempat menginap para pejabat FIFA di Swiss...

Belajar dari Prestasi Sepakbola Portugal

Portugal akhirnya menjadi juara Piala Eropa (EUROPE) 2016. Juara diraih setelah menundukkan tuan rumah Prancis 1-0 pada laga final di Stadion Saint Denis atau...

Menuju “Nasionalisasi” Bahasa Indonesia [Which is Kita Lebih Bangga Berbahasa Asing]

Kado terindah dari sebuah penjajahan adalah bangkitnya rasa nasionalisme. Karena itu, setelah dijajah beratus-ratus tahun, para pemuda kita mengikrarkan sumpah pemuda. Sumpah itu berisi...
Avatar
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah

Gegap gempita pesta demokrasi pada pemilu 2019 lalu, masih belum beranjak dari ingatan kita. Seluruh partai politik hampir pasti tidak ada yang diam. Semuanya gencar melakukan berbagai upaya untuk menarik simpati rakyat yang berbuah pada kemenangan.

Namun, pasca penetapan perolehan suara usai, semua menjadi senyap. Tidak ada lagi yang bersuara untuk memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan rakyat. Semua menutup mata dan seolah tidak tahu apa-apa.

Kini, Indonesia kembali diguncang bukan untuk perhelatan akbar politik, melainkan melawan sebuah serangan dari makhluk terkecil tak terlihat kasat mata, Virus Corona atau Covid-19. Begitu massifnya penyebaran virus ini nyaris tak terbendung. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di 166 negara hanya dalam beberapa hari, jumlah orang yang positif terinfeksi sebanyak 207.860 orang dan 8.657 orang meninggal dunia akibat Covid-19.

Tak terkecuali di Indonesia. Pemerintah telah mengumumkan secara resmi virus corona sebagai bencana nasional. Sejak pertama kali Presiden Joko Widodo mengumumkan dua warga positif Covid-19 pada 2 Maret 2020, sampai dengan tulisan ini dibuat, jumlah kasus positif Covid-19 naik menjadi 893 orang. Dari jumlah itu, 78 orang meninggal dan 35 pasien dinyatakan sembuh. Probabilitas kematian di Indonesia termasuk tinggi dibandingkan negara lain.

Kontribusi Konkrit

Di tengah kegentingan bangsa yang terjadi, tentu saja kontribusi konkrit partai politik sangat dibutuhkan dalam menghadapi ancaman merebaknya Covid-19. Partai politik diharapkan tidak hanya menunjukkan kepedulian saat pemilu saja, tetapi juga ketika masyarakat dihadapkan pada situasi krisis. Jangan ada istilah “Ambil suara rakyat dalam Pemilu, setelah itu lupakan”. Pola pikir seperti ini sangat pragmatis sekali. Terkesan hanya mementingkan kepentingan diri sendiri.

Mungkin ada benarnya dengan apa yang disampaikan oleh Aristoteles, bahwa politisi adalah homo politicus, insan yang haus akan kekuasaan, insan yang memiliki insting terkuat dalam menumpuk kekuasaan. Padahal sejatinya, partai politik dapat hadir di tiga wilayah, yakni ketika kompetisi pemilu, di wilayah pemerintahan, dan di wilayah sosial kemasyarakatan (Hanan, 2020).

Inilah saat yang tepat untuk pembuktian partai politik di wilayah sosial kemasyarakatan. Sudah bukan waktunya lagi untuk pencitraan dan basa basi. Aksi nyata di lapangan sedang ditunggu-tunggu masyarakat. Dikala masker dan hand sanitizer sulit untuk didapatkan, mestinya partai politik bisa melakukan respon cepat (fast respon) dalam memberikan bantuan kepada rakyat. Jangan menunggu dikritik oleh rakyat, baru bergerak. Partai politik harus memiliki kesadaran dan tingkat kepekaan yang tinggi.

Kelak, publik akan melihat partai politik mana yang benar-benar memiliki kepedulian kepada masyarakat dengan yang tidak. Saatnya perlombaan untuk kebaikan dimulai. Lupakan sejenak segala hal yang berkaitan dengan agenda politik. Toh, dukungan publik tidak akan kemana selama partai politik berjuang untuk rakyatnya.

Timbal balik yang didapatkan oleh partai politik akan lebih besar berupa simpati dan penghargaan dari rakyat. Nantinya, masyarakat yang akan melakukan evaluasi secara objektif terhadap kinerja masing-masing parpol.

Kalaulah parpol paham bahwa melakukan kebaikan ini merupakan investasi suara jangka panjang, mungkin tidak akan pernah disia-siakan. Momentum ini juga menunjukkan kepercayaan (trust) public kepada partai politik. Apalagi menjelang Pilkada serentak 2020 yang akan berlangsung di 270 daerah.

Publik berhak memberikan sanksi sosial di daerah bersangkutan dengan tidak memilih pasangan calon yang berasal dari pengusung partai politik tertentu apabila tidak memiliki kepedulian terhadap kondisi bangsa yang sedang sulit.

Tetap Optimis

Penulis tetap optimis masih ada partai politik yang mau memulai untuk bergerak. Beberapa partai politik seperti Golkar, PDIP, Gerindra, Nasdem, PKB, Demokrat dan Partai Solidaritas Indonesia melalui organisasi sayapnya telah memiliki inisasi untuk membagikan cairan antiseptik, masker gratis kepada publik serta membantu memenuhi kebutuhan petugas medis seperti penyediaan alat pelindung diri.

Partai politik tersebut juga ada yang hendak memesan puluhan ribu alat tes cepat Covid-19. Selain itu, hotel bintang lima dengan 300 kamar juga telah dikosongkan untuk digunakan pemerintah menanggulangi Covid-19.

Langkah nyata yang dilakukan oleh partai politik ini perlu diapresiasi. Mereka membantu sebisa mungkin kepada masyarakat yang paling rentan terkena dampak dari segi kesehatan, ekonomi dan keselamatan. Tindakan ikut serta mensosialisasikan ancaman Covid-19 kepada publik dengan cara berdiam diri di rumah atau pembatasan sosial (sosial distancing) sebagai tindakan preventif juga dilakukan oleh partai politik.

Meski memang hal ini baru hanya sebatas wacana, tetapi penulis meyakini bahwa wacana ini akan segera terimplementasikan dalam waktu cepat. Setidaknya ketika partai politik telah bersuara, sudah ada sedikit kepedulian. Tinggal komitmennya terus kita kawal. Dalam hal ini, partai politik pun harus tegas memberikan sanksi kepada kader yang tidak menjalankan himbauan dan instruksi dari pimpinan pusat.

Tak hanya itu, elite–elite partai politik yang menjabat sebagai anggota legislative di berbagai tingkatan bisa ikut untuk bergerak di masing – masing daerah pemilihan (dapil). Anggaran reses dapat diprioritaskan untuk turun langsung ke masyarakat dengan memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan di dapilnya. Bantuan-bantuan tersebut menjadi implementasi dari fungsi pendukung partai politik.

Mengingatkan dan memastikan pemerintah agar tidak salah dalam menangani Covid-19 juga hal yang penting untuk diawasi oleh partai politik. Salah satunya adalah menghasilkan kebijakan publik untuk memastikan ketersediaan masker dan cairan antiseptik dalam kondisi darurat.

Tak lupa, pemberian bantuan tidak dilaksanakan dengan mengumpulkan kerumunan masa. Tetap jalankan protokol yang telah ditetapkan. Semoga dengan kepedulian dan kerjasama semua pihak, wabah virus corona ini cepat mereda dan semua kembali seperti sediakala. Amien

Avatar
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

Optimasi Peran Wakil Rakyat di Tengah Pandemi

Mengutip pendapat Cicero dalam Phoebe E. Arde-Acquah (2015), terdapat sebuah adagium hukum yang menyatakan bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi. Secara konstitusional, adagium hukum...

Miskonsepsi Seks dengan Persetujuan

Pada 13 September 2020 lalu, terunggah sebuah kiriman di Instagram yang berjudul “Kupas Tuntas Pakta Integritas UI dan Pendidikan Sex dengan Persetujuan” yang di...

Jika Cantik Hanya Mengikuti Standar Industri

Belakangan ini perbincangan mengenai bagaimana diri kita maupun bagaimana industri mendefinisikan standart kecantikan kembali ramai diperdebatkan. Mulai dari gerakan perempuan dukung perempuan yang dianggap...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.