Banner Uhamka
Sabtu, September 19, 2020
Banner Uhamka

Corona, Mobilitas Global, dan Insentif Pariwisata

Koran Tumbang, Jurnalisme Bertahan

Pada tahun 2014, Serikat Perusahaan Pers (dahulu Serikat Penerbit Suratkabar – SPS) menerbitkan sebuah buku kecil berjudul Umur Koran Masih 100 tahun. Buku kecil...

Benarkah Ahok Menodai Agama?

Terus terang, sampai sekarang saya masih dihantui pertanyaan yang terus bergemuruh di dalam hati, "Apakah Ahok benar menodai agama?" Faktanya, proses hukum masih berlangsung,...

Muramnya Satu Tahun Presiden Sipil

20 Oktober 2015, Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla genap satu tahun memerintah. Sebagai Presiden yang berasal dari kalangan sipil, pemerintahan Jokowi...

Adakah yang Salah dengan Penggemar Tik Tok dan Bowo Alpenliebe?

Tik Tok sempat diblokir Kominfo pada awal Juli silam. Alih-alih tertarik pada isu pembatasan berekspresi dan berkreasi dengan senjata narasi moralitas ala pemerintah, saya...
Sarani Pitor Pakan
Dosen SV UGM

Juli tahun 2019 lalu, pada International Symposium of Journal Antropologi Indonesia (ISJAI) di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, antropolog Anna Tsing bercerita soal nyamuk Aedes Aegypti. Saya ingat ia menyebut nyamuk itu sebagai spesies transnasional.

Salah satu teori sejarah persebarannya, seperti yang diceritakan ulang oleh Tsing, mengisahkan nyamuk itu berasal dari wilayah sub-Sahara Afrika dan menyebar ke belahan dunia lain bersama sejarah perbudakan, kolonialisme, migrasi dan perdagangan.

Powell dan Tabachnick, dalam artikel “History of domestication and spread of Aedes aegypti” (2013), memastikan bahwa persebaran Aedes Aegypti–dan kemudian yellow fever–di Benua Amerika sejalan dengan sejarah datangnya bangsa Eropa ke sana. Nyamuk-nyamuk itu ‘menumpang’ kapal-kapal laut Spanyol dan Portugal yang membawa budak-budak dari Afrika meunju Benua Amerika yang ketika itu baru ditemukan.

Setelah itu, nyamuk itu terus menyebar ke arah barat hingga tiba di Australia dan Asia. Tiba di Asia, nyamuk itu membawa virus demam dengue (bukan yellow fever seperti di Amerika). Jadi, kita mungkin tak akan mengenal demam berdarah seandainya kapal-kapal Spanyol dan Portugal itu tak pernah berlabuh di Afrika.

Virus transnasional

“Kita bicara tentang virus yang tak menghormati batas (antarnegara),” ujar Menteri Kesehatan Italia, Roberto Speranza, mungkin dengan gusar. Italia adalah negara Eropa yang paling menderita karena Corona (Covid-19). Sejauh ini, Italia ada di urutan ketiga negara dengan jumlah kematian terbanyak akibat Corona, di bawah Cina dan Iran.

Tak hanya itu, Italia turut menjadi aktor penting yang membawa Corona berpergian ke banyak negara, seperti Islandia, Yunani, dan Nigeria, entah itu melalui warga negaranya sendiri, atau pun warga negara lain yang kebetulan sempat singgah di Italia, baik untuk liburan musim dingin maupun kepentingan lain.

Dalam peta interaktif dan live update yang disediakan BNO News, kita bisa memahami betapa luasnya cakupan Corona. Ia tumbuh di Wuhan, Cina, dan dalam sekejap berpindah ke banyak tempat di muka bumi. Ia bahkan telah mencapai Canary Islands, wilayah Spanyol di barat Afrika, serta tiba di Tromso, Norwegia, di dekat kutub utara sana.

Seperti halnya Aedes Aegypti ratusan tahun lalu, Corona telah menjelma virus transnasional. Ia melewati batas-batas administratif dan geografis, serta memberi nuansa baru bagi pertanyaan berikut: “apa rasanya hidup hidup dalam semangat transnasionalisme, ketika batas-batas kian kabur oleh mobilitas global yang semakin masif?”

Kisah penyebaran Corona oleh seorang pria Inggris adalah contoh menarik. Dalam artikel “From Singapore to UK via the Alps: how one man spread coronavirus, pria itu disebut menghadiri sebuah konferensi di Singapura, dimana ia ‘mengambil’ virus itu, lalu membawa virus itu serta dalam liburannya di wilayah Pegunungan Alpen di Prancis, sebelum didiagnosis positif Covid-19 ketika kembali ke Inggris. Pria itu telah ‘membagikan’ Corona ke setidaknya sebelas pasien lain tanpa pernah menginjakkan kaki di Cina.

Mobilitas global abad 21

Jika kolonialisme, perbudakan, migrasi, dan perdagangan abad 17 adalah konteks yang melatari persebaran aedes aegypti – beserta yellow fever dan demam dengue-nya, maka Corona hari ini harusnya dipahami secara lebih menyeluruh dengan memahami konteks persebarannya. Dunia seperti apa yang memungkinkan ia ‘pergi’ kemana-mana?

Dibanding abad 17, mobilitas global hari ini lebih sederhana dan kompleks secara sekaligus. Saat aedes aegypti mesti menempuh perjalanan laut yang panjang untuk tiba di lahan barunya, Corona ‘menumpang’ pesawat dan dalam hitungan waktu relatif singkat sudah mendapati rumah barunya. Namun, di saat bersamaan, wujud perpindahan, mobilitas, dan migrasi hari ini jauh lebih beragam, bahkan hingga kita tak memahami batas-batas di antaranya.

Sekarang, ada banyak alasan untuk berpergian ke belahan dunia lain: berwisata, sekolah, pekerjaan, pernikahan beda negara, mengunjungi teman/keluarga, bekerja sambil jalan-jalan (digital nomad), mencari suaka (karena politik, perang, orientasi seksual, perubahan iklim, dan lain-lain), perdagangan internasional, dan sebagainya.

Beragam hal di atas memungkinan Corona tersebar. Jika persebaran aedes aegypti dipercaya satu arah (ke arah barat, dari Afrika hingga Asia), maka arah persebaran Corona tak bisa dideteksi. Ia mengikuti laju manusia kontemporer yang perpindahannya kian tak keruan, dengan berbagai alasan yang mendasari. Salah satu alasan yang dominan adalah turisme, baik dalam bentuknya yang murni plesir, bisnis, maupun varian lain.

Turisme berkelindan erat dengan wabah ini. Di Filipina, dua kasus pertama adalah sepasang turis asal Wuhan. Bahkan, sang suami akhirnya meninggal dan menjadi kasus kematian akibat Corona pertama di luar Cina. Sementara, di Thailand, kasus penularan antarmanusia pertama dialami supir taksi yang terjangkiti Corona dari turis Cina yang menumpang taksinya.

Bergantung pada yang rentan

Di sini, saya berusaha memahami Corona sebagai virus transnasional dalam konteks mobilitas global, dan turisme adalah salah satu wadah dimana si wabah bergerak ke banyak tempat. Oleh karena itu, saya kesulitan mencerna logika pemerintah yang sempat berniat memberi insentif pariwisata untuk mendongkrak kunjungan turis, di tengah wabah global yang salah satu faktor persebarannya adalah pariwisata.

Walau akhirnya ditunda usai munculnya kasus Corona perdana di Indonesia, niat awal pemerintah untuk memberi insentif pariwisata perlu ditelisik. Rencana semacam itu menunjukkan kegagalan pemerintah dalam memahami konteks dan kenyataan sosio-demografis bahwa turisme berperan dalam persebaran Covid-19. Baik untuk menyasar turis domestik maupun internasional, insentif pariwisata berpeluang memberi karpet merah bagi Corona.

Kendati begitu, saya juga berusaha memahami logika pemerintah di balik rencana insentif pariwisata itu. Pemerintah mungkin mengkhawatirkan industri pariwisata yang akan menderita jika situasi terus-terusan seperti ini. Sedangkan, sebagai salah satu industri terpenting, jumlah aktor yang terlibat dalam sektor ini sangat banyak, sehingga Corona dan macetnya mesin industri pariwisata membuat nasib mereka menjadi tanda tanya.

Lebih jauh lagi, rencana insentif pariwisata adalah simtom bahwa negara sudah terlalu bergantung pada pariwisata. Ia telah jadi sektor industri yang terlalu besar, sehingga terlalu besar pula harga pertaruhan yang mesti dibayar untuk risiko-risikonya. Intinya, industri pariwisata tak boleh ambruk, jika tidak ekonomi nasional bisa jadi rontok. Langkah kikuk berupa insentif pariwisata menunjukkan gelagat ketakutan negara atas risiko yang menghantui.

Peliknya, pariwisata adalah sektor yang rentan, baik akibat fluktuasi kurs mata uang, sentimen pasar, masalah sosial-politik, terorisme, bencana alam, atau epidemi global. Bergantung pada sektor pariwisata, terlebih untuk menjaga kestabilan ekonomi, sejatinya sangat rentan. Namun, itulah jalan terjal yang ditempuh pemerintah, yang sedang sibuk menggenjot sektor pariwisata, baik lewat proyek Bali-bali baru maupun inisiatif lain.

Sarani Pitor Pakan
Dosen SV UGM
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Madilog Sekali Lagi

Gerakan modernisasi dan perkembangan teknologi terjadi begitu cepatnya saat ini, memunculkan berbagai dampak, baik positif maupun yang negatif, mulai dari dampak yang terlihat maupun...

Harmonisasi Agama, Negara dan Dakwah (I)

Agama (Islam) mengakui eksistensi ‘kabilah’, kaum, suku dan bangsa untuk saling mengenal dan bekerjasama demi kemanusiaan dan peradaban (surah al-Hujurat 9:13). Islam menekankan pentingnya semangat/cinta...

Solusi Bersama untuk PJJ

Gebrakan dari Mas Manteri Nadiem Makarim di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dalam memerdekan pendidikan di Indonesia patut diacungkan jempol. Berbagai konsep pendidikan seperti...

Kita Lengah Karena Syariatisasi Ternyata Masih Berjalan

Kebijakan Bupati Gowa yang akan memecat ASN (Aparatus Sipil Negara) yang bekerja di lingkungannya yang buta aksara al-Qur’an membuat kita sadar jika syariatisasi di...

Sepak Bola, Cara Gus Dur Menyederhanakan Politik

Tahun 1998 adalah masa pertama penulis mulai gemar menonton sepak bola. Kala itu, bersamaan dengan momentum Piala Dunia (World Cup) di Prancis. Ketika opening...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.