Selasa, Desember 1, 2020

Taktik Conte Setelah Sabtu Malam Kelabu

Trump Versus Hillary di Mata Indonesia

Akhirnya Hillary Clinton menjadi presumptive candidate untuk Partai Demokrat. Presiden Barack Obama sudah mengutarakan pidato persetujuannya yang diunggah di dunia maya. Hanya satu orang...

PJJ, Kompetensi, dan Pasar

Utilitarianisme itu nyata. suatu hal bila tak berguna maka akan tersingkir dari peradaban. karena itu banyak orang dan benda terus mempersolek diri untuk tunjukkan...

Bela Negara dan Ancaman Terorisme

Terorisme saat ini telah menjadi fenomena kejahatan kemanusiaan yang benar-benar merusak peradaban. Betapa tidak, hampir banyak negara telah dikoyak dengan aksi pengeboman. Mulai dari...

Indonesia dan Manuver Arab Saudi Melawan ISIS

Warga dan tentara loyal kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad memeriksa kerusakan setelah serangan bunuh diri di Sayeda Zeinab, sebuah distrik di selatan Damaskus, Suriah,...
Avatar
Muhammad Qomarudin
Penikmat sepakbola layar kaca dan sesekali menulis tentang sepakbola

terry
John Terry dan Antonio Conte (http://atomicsoda.com)

Antonio Conte mulai merasakan pekan-pekan sulitnya di Liga Premier Inggris. Torehan satu hasil imbang dan dua kekalahan dalam tiga laga terakhir di liga membuat Conte berada dalam tekanan. Kekalahan telak dari Arsenal pada pertandingan terakhir menjadi titik balik bagi Conte atas hasil-hasil memuaskan Chelsea di pekan-pekan perdana Liga Inggris.

Rapuhnya lini pertahanan disinyalir menjadi penyebab utama jebloknya performa Chelsea. Absennya John Terry dianggap berpengaruh signifikan pada bobroknya lini belakang The Blues. Branislav Ivanovic yang mulai melamban seiring bertambahnya usia serta Gary Cahill yang belakangan rajin membuat blunder semakin memperkeruh kondisi lini pertahanan Chelsea. Kembalinya si anak hilang David Luiz juga dinilai belum memenuhi espektasi banyak kalangan, termasuk Conte sendiri.

Kritik juga mengalir deras pada performa dua gelandang jangkar milik Chelsea N’Golo Kante dan Nemanja Matic. Keduanya dinilai masih kesulitan berbagi posisi. Kante sebagai pemain baru bahkan dianggap merebut ruang gerak Matic sehingga gelandang asal Serbia itu kesulitan memposisikan diri di skema permainan Chelsea.

Tak berhenti di situ, Thibaut Courtois sebagai penjaga gawang juga tak luput dari sasaran kritik. Kegemilangan Courtois di bawah mistar pada musim-musim sebelumnya mulai dipertanyakan konsistensinya. Respons mantan penjaga gawang Atletico Madrid itu dirasa mulai menurun. Kesalahan komunikasi antara dirinya dan Cahill pada laga kontra Arsenal semakin mempertegas jika Courtois mulai melamban dalam hal merespons situasi.

Begitulah kritik bekerja. Tanpa pandang bulu. Sekenanya dan terkadang tanpa basa-basi. Publik figur harus sadar akan hal itu. Kritik jangan sampai diperlakukan sebagai hal tabu. Nikmati saja, meski kadangkala kritik membuat sang publik figur susah tidur.

Muara dari semua kritik atas buruknya performa Chelsea tertuju pada sang peramu taktik, Antonio Conte. Sebagai penanggungjawab utama, Conte dengan besar hati menerima semua kritikan itu dan mengemasnya dengan rapi sebagai bahan introspeksi diri. Dua malam selepas kekalahan dari Arsenal menjadi malam-malam muram bagi Conte. Dia mengaku susah tidur dan lebih banyak merenung.

Jika boleh menduga-duga, renungan Conte saya pikir tak akan jauh-jauh dari urusan pemilihan taktik yang paling mendekati ideal bagi Chelsea. Conte masih akan berpikir tentang angka-angka dalam penyebutan umum sebuah formasi tim. Antara 4-2-3-1 (formasi Chelsea sejauh ini) dan 3-5-2 (formasi kegemaran Conte kala menukangi Juventus dan timnas Italia).

Masuknya Marcos Alonso menggantikan Cesc Fabregas di menit 55 pada laga kontra Arsenal menandai kembali formasi 3-5-2 khas ala Conte. Ditariknya William Borges dan Eden Hazard secara bersamaan di 20 menit sisa laga semakin mengentalkan aroma kembalinya formasi 3-5-2 yang belakangan identik dengan sosok Conte.

Meski perubahan itu tak mampu menghindarkan Chelsea dari kekalahan, setidaknya perubahan itu membuat permainan Chelsea lebih berkembang. Agresivitas permainan Arsenal setidaknya juga bisa diredam. Terbukti anak asuh Arsene Wenger kala itu tak mampu menambah pundi-pundi golnya hingga laga berakhir. Perlu diingat juga jika tiga gol Arsenal semunya tercipta kala Chelsea masih menggunakan formasi 4-2-3-1 di babak pertama laga.

Satu-satunya peluang bersih yang dimiliki Chelsea melalui kaki Michy Batshuayi juga lahir ketika formasi 3-5-2 diterapkan. Masuknya Batshuayi membuat serangan Chelsea lebih variatif mengingat sebelumnya Diego Costa dibuat mati kutu oleh performa apik duet centre back Arsenal Laurent Koncielny dan Shkodran Mustafi. Batshuayi setidaknya juga mampu memecah konsentrasi lini belakang Arsenal yang sebelumnya hanya terfokus pada pergerakan Costa.

Berkaca pada laga perubahan formasi di laga kontra Arsenal, lantas apakah Conte secara otomatis akan kembali menggunakan formasi 3-5-2 pada laga-laga Chelsea selanjutnya? Saya kira sangat memungkinkan.

Secara pribadi, Conte terkenal sebagai sosok pelatih yang tergila-gila dengan kekuatan taktik. Selayaknya kebanyakan pelatih asal negeri pizza, Conte juga pemerhati renik-renik kecil dalam penerapan taktik di lapangan. Conte bahkan tak segan-segan merombak total pakem permainan awal yang sudah dia buat ketika dirasa sudah tidak relevan.

Pada periode-periode awal Conte menukangi Chelsea, banyak yang memprediksi kalau dia akan setia dengan formasi 3-5-2 kegemarannya. Nyatanya tidak demikian. Chelsea ternyata tampil dengan formasi yang tak jauh berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Secara formasi, Conte nyaris tak banyak melakukan perubahan. Ia hanya menempatkan muka-muka baru dengan mengesampingkan muka-muka lama yang menurutnya sudah mengalami penurunan performa.

Ketika kondisi itu dirasa mengejutkan, tak menutup kemungkinan jika Conte kembali akan memberikan kejutan-kejutan berikutnya. Salah satunya dengan menghadirkan kembali formasi khas miliknya. Jika menengok komposisi skuat Chelsea yang ada saat ini, hal itu tentu sangat memungkinkan. Kehadiran Marcos Alonso bisa menjadi kunci perubahan itu. Duet Cesar Azpilicueta di wing back kanan dan Marcos Alonso di wing back kiri setidaknya sudah memberi bukti nyata betapa memungkinkannya Conte kembali pada formasi yang melambungkan namanya itu.

Saya pikir, formasi 3-5-2 ala Conte akan terasa semakin mendekati sempurna seiring dengan kembalinya sang kapten, John Terry, nanti. Kemampuan Terry mengorganisir pertahanan saya rasa bakal membawa aura ketenangan lini belakang Chelsea. Tinggal bagaimana Conte menemukan dua sosok yang tepat untuk mengapit Terry di tengah. Hal itu tentu bukan sesuatu yang sulit bagi Conte, mengingat Ivanovic, Cahill, dan Luiz secara kualitas individu sejatinya belum habis sepenuhnya.

Jika benar Conte akan kembali memakai formasi 3-5-2, permasalahan yang belum pasti jawabannya mungkin hanya pada posisi playmaker murni seperti halnya sosok Pirlo di Juve kala itu. Namun, masalah itu sejatinya tidak perlu juga terlalu dirisaukan. Karena Chelsea masih punya dua sosok pemain tengah kreatif, yakni Cecs Fabregas dan Oscar dos Santos. Nama yang terakhir disebut mungkin tak ada salahnya diberi kesempatan bermain, meski secara prinsip Conte tidak terlalu suka dengan gaya permainan sang pemain.

Jadi, bagi Anda para penggemar Chelsea, jika Anda mau sedikit bijak memperlakukan situasi, anggap saja hasil minor dalam tiga laga beruntun tim kesayangan Anda adalah ungkapan selamat datang bagi Antonio Conte. Liga Inggris sejak beberapa dekade terakhir terbukti menjadi liga paling kompetitif di dunia. Apa yang terjadi pada Chelsea saat ini anggap saja sebagai dinamika yang wajar dalam sebuah kontestasi.

Perlu juga disadari jika pada musim kompetisi kali ini hampir semua pelatih terbaik dunia berkumpul dalam satu liga: Liga Inggris. Bisa dibayangkan bagaimana ketatnya persaingan di Liga Inggris kali ini dengan kondisi berkumpulnya banyak pelatih kelas wahid di dalamnya. Selain itu, kita juga sama-sama tahu kalau Conte tidak mendapatkan pemain yang benar-benar menjadi incarannya di awal musim ini. Hal itu tentu juga menjadi kesulitan tersendiri bagi pelatih yang sangat detail dalam urusan taktik permainan.

Terlepas dari hal-hal teknis itu, tak boleh dipungkiri juga kalau Conte mewarisi sebuah tim yang secara mental bertanding berada dalam kondisi tidak bagus. Chelsea pada musim sebelumnya sempat diterpa konflik internal yang membuat posisi mereka terhempas dari papan atas klasemen. Hal-hal nonteknis semacam itu dalam sepakbola kerap menjadi momok mengerikan. Meski Conte terkenal punya kemampuan sebagai motivator ulung, mengembalikan mental juara yang sempat hilang dari Chelsea tetaplah bukan perkara mudah.

Sebagai pelatih baru, Conte tentu juga butuh yang namanya proses adaptasi. Ada beberapa penyesuaian yang tentu memakan waktu. Ada baiknya proses itu diberi sedikit pemakluman agar semuanya berjalan sesuai harapan. Dan yakinlah jika perenungan Conte sejak malam Minggu kelabu sepertinya tak lama lagi bakal melahirkan sesuatu.

Percayalah jika Conte adalah sosok yang paling tepat untuk Chelsea saat ini. Jika tahun ini harapan itu belum terwujud, niscaya tahun berikutnya ada hasil. Selayaknya Klopp bersama Liverpool.

Avatar
Muhammad Qomarudin
Penikmat sepakbola layar kaca dan sesekali menulis tentang sepakbola
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

Eksistensi dari Makna Ujaran Bahasa Gaul di Media Sosial

Bahasa Gaul kini menjadi tren anak muda dalam melakukan interaksi sosial di media sosialnya baik Instagram, facebook, whats app, twitter, line, game online dan...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.