Kamis, Oktober 29, 2020

Civil Society, Pariwisata Nasional, dan Dikotomi Ekonomi Vs Kesehatan

Trinitas Qur’ani

Yang dimaksud “Trinitas Qur’ani” ialah pemahaman orang Kristen tentang Trinitas yang dipengaruhi, atau disesuaikan dengan, bahasa dan istilah al-Qur’an. Dalam Kristen, doktrin Trinitas merujuk...

Air dan Kekacauan Mental

Jika seseorang mulai terlihat pelupa, mudah bingung, gelisah, emosinya tidak stabil, gampang tersinggung, bahkan merasakan nyeri dada, apa yang sesungguhnya sedang terjadi pada dia? Mahasiswa...

La Nyalla dan Kegagalan Hakim Memahami Kewenangan Praperadilan

La Nyalla Mattalitti (kedua dari kanan). ANTARA/Wahyu Putro Dalam putusannya di Pengadilan Negeri Surabaya dua pekan lalu (12/4), Hakim tunggal Ferdinandus menyatakan menerima permohonan praperadilan...

Perbedaan Kosmetik Bank Syariah dan Konvensional

Apakah bank syariah berhasil menjadi alternatif terhadap bank konvensional? Tak ada keraguan bank syariah memang dimunculkan sebagai alternatif dari praktik bunga bank konvensional, tapi...
Dedek Prayudi
Dedek Prayudi
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pariwisata Nasional

Dalam beberapa tahun terakhir, pariwisata telah menjadi sumber pendapatan devisa terbesar nomor dua (280 triliun Rupiah pada 2019) di Indonesia untuk kategori non-migas. Ini menjadikan pariwisata sebagai industri raksasa di negeri berpenduduk 260 juta ini dengan serapan tenaga kerja sebesar 12,6 juta tenaga kerja (BPS, 2019).

Beberapa bulan terakhir, industri pariwisata sedang mengalami kemunduran. Pandemi COVID 19 telah memporakporandakan industri raksasa ini. Dampaknya, devisa negara (pajak), Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pariwisata terpukul hebat.

Untuk membangkitkan dunia pariwisata di era pandemi, perlu diciptakan sebuah ekosistem yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan di dunia pariwisata termasuk pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha pariwisata dan turunannya dan masyarakat lokal untuk membangun, memajukan dan melindungi pariwisata di era New Normal.

Kenapa era New Normal? Selama ini kita terjebak terlalu dalam untuk berpikir mana yang lebih penting ekonomi atau kesehatan. Mari kita geser paradigma lama ini karena ekonomi dan kesehatan adalah dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Masyarakat harus sehat untuk dapat menjalankan fungsi sosial dan ekonominya, begitu juga ekonomi harus mengangkat kesejahteraan masyarakat dimana kesehatan adalah satu komponen penting.

Mari bangun ekonomi untuk membangun kesehatan, membangun masyarakat sehat untuk secara bergotong-royong membangun ekonomi.

Partisipasi Civil Society

Pariwisata memiliki tiga belas sub-sektor, salah satu yang sangat berpengaruh terhadap industri tersebut dan serapan tenaga kerja adalah kuliner. Tiga puluh persen pemasukan dari sektor pariwisata berasal dari sub-sektor kuliner. Data dunia menunjukkan terjadi penurunan pendapatan restoran sebesar 70%-80% di dunia, tidak terkecuali di Indonesia di era Pandemi ini. Sebagai sebuah sub sektor industri, kuliner menghadapi tantangan tersendiri di era pandemi ini. Masyarakat lebih memilih untuk membeli bahan makanan sendiri dan memasak sendiri.

Hasilnya? Sudah banyak restoran yang terpaksa tutup dan ini menyumbang terhadap angka pengangguran nasional. Contoh: enam destinasi atraksi kuliner di Banyuwangi tutup, dan ini sangat berdampak besar bagi kelangsungan UMKM di daerah tersebut. Kenapa mereka tutup? Karena ada pekerja kuliner di sana yang terjangkit COVID. Penularan COVID bisa terjadi dimana-mana, termasuk di industri kuliner ini. Oleh karena itu, adalah penting untuk menutup celah penularan itu di segala lini, termasuk memastikan pelaku kuliner paham betapa pentingnya food safety di era pandemik ini.

Pemerintah tidak bisa mengupayakan ini semua sendiri. Banyak keterbatasan dalam penegakan regulasi dan pemberian sanksi apabila hanya pemerintah yang lakukan ini. Diperlukan inisiatif Civil Society agar ekonomi kembali berputar dan pada saat yang bersamaan kesehatan tetap terjaga dengan cara:

(i) Secara mandiri membangun dan menggerakkan ekosistem pariwisata dengan melibatkan dan menggandeng seluruh stakeholder (Pelaku Usaha, pegiat pariwisata, BUMN, BUMD, Badan Pengembangan Usaha, Masyarakat Lokal dan Dinas Pariwisata,

(ii) Secara bergotong-royong saling memfasilitasi untuk membuka akses permodalan yang disediakan pemerintah (PEN & KUR),

(iii) Secara bergotong-royong melakukan sosialisasi yang masif dalam membangun kesadaran pentingnya penegakan kedisiplinan protokol kesehatan dalam seluruh praktik industri pariwisata, termasuk penerapan reward and punishment di kalangan sesama pelaku dan pegiat pariwisata,

(iv) Secara bergotong-royong saling memberikan perlindungan hukum kepada pelaku dan pegiat usaha dunia pariwisata.

Selamat Hari Pariwisata Dunia 2020

Dedek Prayudi
Dedek Prayudi
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pariwisata Nasional
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.