Kamis, Desember 3, 2020

Catatan Hari Pendidikan Nasional 2020

Jokowi, Pengampunan Pajak, dan Kemiskinan

Pemerintahan Joko Widodo resmi memberlakukan pengampunan pajak (tax amnesty) sejak 18 Juli 2016 hingga 31 Maret 2017. Payung hukumnya telah ditetapkan, yaitu Undang-Undang Nomor...

Polisi dan Pencegahan Kekerasan Berbasis Keagamaan

Pembakaran gereja di desa Suka Makmur, Gunung Meriah, Aceh Singkil, Selasa lalu (13/10), memperlihatkan polisi gagal mencegah kekerasan akibat konflik agama. Aparat berada di...

Masih tentang Calon Perseorangan dalam Pilkada

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat mesti berpacu dengan waktu. Waktu yang sangat singkat harus dimaksimalkan oleh pemerintah dan DPR untuk menuntaskan revisi Undang-Undang Nomor...

Ahok dan Penggusuran: Dibenci dan Dirindu

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dari masa ke masa tidak pernah luput dari kontroversi penggusuran. Menjelang Pemilihan Kepala Daerah Jakarta 2017, isu penggusuran semakin meluas...
Avatar
Andreas Hugo Pareira
Anggota Komisi X DPR RI/F-PDIP/Dapil NTT-1

Menjelang 75 tahun HUT Kemerdekaan Indonesia, dan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020 ini, bagaimana dengan pendidikan nasional kita? Merujuk pada cita-cita dasar yang menjadi tujuan didirikannya NKRI, salah satunya adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Oleh karena itu, sejak awal lahirnya bangsa Indonesia, founding fathers republik ini sudah sadar betul, pendidikan adalah kata kunci untuk mengisi tujuan hidup bangsa yang merdeka. Pendidikan adalah kunci untuk menciptakan bangsa yang cerdas.

Jadi, jika tujuan bernegara adalah “mencerdaskan bangsa” maka pendidikan adalah instrumen untuk melahirkan bangsa yang cerdas. Tidak ada bangsa yang cerdas dan tidak ada bangsa yang maju yang pendidikannya tak maju.

Suatu bangsa maju, kalau pendidikan, kalau SDM-nya terdidik. Pendidikan pun merupakan instrumen utama untuk menciptakan keadilan sosial. Perubahan strata sosial individu, masyarakat bahkan bangsa hanya mungkin terjadi kalau memperoleh akses pendidikan yang sama dan merata.

Untuk melahirkan pendidikan yang mencerdaskan, pendidikan yang melahirkan keadilan sosial tentu harus didukung oleh sistem pendidikan yang dibangun, yang terdiri dari komponen-komponen utama, yaitu: pilihan metode pendidikan yang tepat, guru/pendidik dan sarana penunjang pendidikan.

Sejalan dengan prioritas pemerintahan Joko Widodo yang menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas, bangsa ini akan masuk ke dalam suatu era baru dalam sistem pendidikan nasional yang oleh Mendikbud Nadiem Makarim sebut sebagai: Merdeka Belajar.

Inti dari merdeka belajar tentu pada ruang terbuka yang disiapkan untuk guru dan murid. Gunanya agar menguasai kompetensi-kompetensi dasar keilmuan dibidangnya masing-masing. Kemudian berinovasi, berkreasi, dan berimprovasi dalam proses pendidikan untuk melahirkan talenta-talenta kecerdasan yang mampu menjawabi persoalan dan tantangan kehidupan manusia.

Persoalannya, bisakah kita menerapkan Konsep Merdeka Belajar ini untuk Indonesia setelah sekian lama anak bangsa ini dididik dengan sistem pendidikan indoktrinatif melalui beban kurikulum menumpuk yang ditentukan dari atas. Jawabnya; harus bisa! Tentu dengan syarat.

Pertama, konsep merdeka belajar ini harus menjadi metode pendidikan yang dibakukan dalam sistem pendidikan nasional. Kedua, guru harus dipersiapkan dan memahami konsep merdeka belajar ini, sehingga mampu menerapkan pada murid-muridnya.

Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan yang memunjang konsep merdeka belajar. Dan keempat karena kita bicara pendidikan untuk Indonesia sebagai instrumen mencerdaskan bangsa, sekaligus instrumen keadilan sosial, maka harus ada kesempatan dan akses yang sama bagi anak bangsa Indonesia untuk 3 poin di atas.

Merdeka Belajar di tengah pandemi

Realita kita saat ini memang memprihatinkan. Kita bangsa ini baru memulai membenahi aspek pendidikan yang multikompleks. Kita sudah dihadapi dengan masalah pandemi Covid-19 yang imbasnya sangat terasa pada bidang pendidikan.

Semua stakeholder pendidikan saat ini, baik birokrasi pendidikan, guru maupun siswa dipaksa harus bermigrasi dari pola pendidikan reguler tatap muka menjadi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dengan menggunakan IT.

Pada aspek migrasi terpaksa ini terasa sekali ketimpangan, kesiapan dan ketidaksiapan, antara mereka yang punya dan mereka yang tidak berpunya, antara mereka yang terbiasa dengan perangkat IT dan mereka yang belum terbiasa, antara mereka yang hidup di daerah “merdeka signal” dan mereka yang hidup di daerah “sulit signal”.

Dari peristiwa pandemi Covid-19 ini dan imbasnya pada bidang pendidikan, kalau mau jujur harus kita katakan bahwa kita tidak siap. Tapi persoalannya bukan siap atau tidak siap, karena memang tidak ada pilihan lain. Sehingga siap tidak siap kita harus jalankan, dengan segala kekurangan, keterbatasan dan ketimpangan sosial, ekonomi, teknologi maupun pengusaan IT.

Semoga peristiwa pandemi Covid-19 menjadi “guru” bagi kita semua untuk lebih bertekad membenahi sistem pendidikan kita menuju alam “Merdeka Belajar yang hakiki, yang mencerdaskan kehidupan bangsa”. Selamat Hardiknas, 2 Mei 2020.

Avatar
Andreas Hugo Pareira
Anggota Komisi X DPR RI/F-PDIP/Dapil NTT-1
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.