Minggu, Oktober 25, 2020

Catatan Hari Pendidikan Nasional 2020

AADC 2 dan Antusiasme Penggemar Budaya Populer

Film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2 yang kini tengah diputar di berbagai gedung bioskop di kota-kota besar di Indonesia, dan bahkan di beberapa...

Indonesia-Australia yang Nyaris Terpeleset

Rabu (4/1) beredar kabar Istana kalang kabut setelah Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengumumkan penghentian sementara semua kerjasama militer Indonesia dengan Australia. Alasannya, perwira...

Melawan Teror

Romo Franz Magnis Suseno (ketiga kanan) dan Alissa Wahid (kanan) bersama warga melakukan aksi solidaritas melawan teror di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (15/1)....

Hentikan Glorifikasi Basuki

Glorifikasi secara etimologis adalah meluhurkan atau memuliakan. Secara terminologis adalah pekerjaan menempatkan seseorang pada posisi yang mulia, tidak punya salah, dan kalaupun ada kesalahan...
Avatar
Andreas Hugo Pareira
Anggota Komisi X DPR RI/F-PDIP/Dapil NTT-1

Menjelang 75 tahun HUT Kemerdekaan Indonesia, dan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2020 ini, bagaimana dengan pendidikan nasional kita? Merujuk pada cita-cita dasar yang menjadi tujuan didirikannya NKRI, salah satunya adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Oleh karena itu, sejak awal lahirnya bangsa Indonesia, founding fathers republik ini sudah sadar betul, pendidikan adalah kata kunci untuk mengisi tujuan hidup bangsa yang merdeka. Pendidikan adalah kunci untuk menciptakan bangsa yang cerdas.

Jadi, jika tujuan bernegara adalah “mencerdaskan bangsa” maka pendidikan adalah instrumen untuk melahirkan bangsa yang cerdas. Tidak ada bangsa yang cerdas dan tidak ada bangsa yang maju yang pendidikannya tak maju.

Suatu bangsa maju, kalau pendidikan, kalau SDM-nya terdidik. Pendidikan pun merupakan instrumen utama untuk menciptakan keadilan sosial. Perubahan strata sosial individu, masyarakat bahkan bangsa hanya mungkin terjadi kalau memperoleh akses pendidikan yang sama dan merata.

Untuk melahirkan pendidikan yang mencerdaskan, pendidikan yang melahirkan keadilan sosial tentu harus didukung oleh sistem pendidikan yang dibangun, yang terdiri dari komponen-komponen utama, yaitu: pilihan metode pendidikan yang tepat, guru/pendidik dan sarana penunjang pendidikan.

Sejalan dengan prioritas pemerintahan Joko Widodo yang menempatkan pembangunan SDM sebagai prioritas, bangsa ini akan masuk ke dalam suatu era baru dalam sistem pendidikan nasional yang oleh Mendikbud Nadiem Makarim sebut sebagai: Merdeka Belajar.

Inti dari merdeka belajar tentu pada ruang terbuka yang disiapkan untuk guru dan murid. Gunanya agar menguasai kompetensi-kompetensi dasar keilmuan dibidangnya masing-masing. Kemudian berinovasi, berkreasi, dan berimprovasi dalam proses pendidikan untuk melahirkan talenta-talenta kecerdasan yang mampu menjawabi persoalan dan tantangan kehidupan manusia.

Persoalannya, bisakah kita menerapkan Konsep Merdeka Belajar ini untuk Indonesia setelah sekian lama anak bangsa ini dididik dengan sistem pendidikan indoktrinatif melalui beban kurikulum menumpuk yang ditentukan dari atas. Jawabnya; harus bisa! Tentu dengan syarat.

Pertama, konsep merdeka belajar ini harus menjadi metode pendidikan yang dibakukan dalam sistem pendidikan nasional. Kedua, guru harus dipersiapkan dan memahami konsep merdeka belajar ini, sehingga mampu menerapkan pada murid-muridnya.

Ketiga, sarana dan prasarana pendidikan yang memunjang konsep merdeka belajar. Dan keempat karena kita bicara pendidikan untuk Indonesia sebagai instrumen mencerdaskan bangsa, sekaligus instrumen keadilan sosial, maka harus ada kesempatan dan akses yang sama bagi anak bangsa Indonesia untuk 3 poin di atas.

Merdeka Belajar di tengah pandemi

Realita kita saat ini memang memprihatinkan. Kita bangsa ini baru memulai membenahi aspek pendidikan yang multikompleks. Kita sudah dihadapi dengan masalah pandemi Covid-19 yang imbasnya sangat terasa pada bidang pendidikan.

Semua stakeholder pendidikan saat ini, baik birokrasi pendidikan, guru maupun siswa dipaksa harus bermigrasi dari pola pendidikan reguler tatap muka menjadi Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) dengan menggunakan IT.

Pada aspek migrasi terpaksa ini terasa sekali ketimpangan, kesiapan dan ketidaksiapan, antara mereka yang punya dan mereka yang tidak berpunya, antara mereka yang terbiasa dengan perangkat IT dan mereka yang belum terbiasa, antara mereka yang hidup di daerah “merdeka signal” dan mereka yang hidup di daerah “sulit signal”.

Dari peristiwa pandemi Covid-19 ini dan imbasnya pada bidang pendidikan, kalau mau jujur harus kita katakan bahwa kita tidak siap. Tapi persoalannya bukan siap atau tidak siap, karena memang tidak ada pilihan lain. Sehingga siap tidak siap kita harus jalankan, dengan segala kekurangan, keterbatasan dan ketimpangan sosial, ekonomi, teknologi maupun pengusaan IT.

Semoga peristiwa pandemi Covid-19 menjadi “guru” bagi kita semua untuk lebih bertekad membenahi sistem pendidikan kita menuju alam “Merdeka Belajar yang hakiki, yang mencerdaskan kehidupan bangsa”. Selamat Hardiknas, 2 Mei 2020.

Avatar
Andreas Hugo Pareira
Anggota Komisi X DPR RI/F-PDIP/Dapil NTT-1
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Berlindung di Balik Topeng Kaca, Public Figure juga Manusia

Ketika Candil lewat Grup Band Seurieus, salah satu Band Rock Kenamaan tahun 2000-an awal ini menyuarakan pendapatnya lewat lagu Rocker juga Manusia, saya seratus...

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya) Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit...

Digitalisasi Bisnis Saat Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mengubah secara drastis dunia usaha. Dari pasar, proses bisnis, sumber pendanaan, konsumen, tenaga kerja, tempat kerja, hingga cara bekerja, semuanya berubah...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

10 Profesi Keren di Sektor Pertanian

Saudara saya tinggal di sebuah desa lereng Gunung Sindoro. Dari hasil pertanian, dia sukses menyekolahkan salah satu anaknya hingga lulus paska-sarjana (S2) dalam bidang...

Mengapa Pancasila Membolehkan Paham Ateisme?

Dalam pasal 156a KUHP disebutkan bahwa “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun, barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.