OUR NETWORK

Buya Syafii, Pak Taufiq Kiemas, dan Mas Hadjri

Ternyata, nasehat-nasehat yang diberikan kepada Megawati itu sangat baik…

Suatu hari di kantor Al-Maun Institute, Warung Buncit, Jakarta Selatan. Kang Moeslim (Moeslim Abdurrahman) seperti bercanda, menyuruh saya untuk mengirim pesan (SMS) kepada Buya Syafii Maarif.

Persis isi pesan itu saya tidak terlalu ingat. Tapi Buya menjawab pesan itu. Ingat saya, dalam jawaban Buya, ada menyebut nama Pak Taufiq Kiemas (TK). Gara-gara SMS itu, kala jumpa Direktur Maarif Institute (2005-2009) Raja Juli Antoni; “David, kamu dicari Buya”.

Nah, kemarin (14/10), Buya mengirim pesan lagi kepada saya. Seperti biasa, hampir setiap pesan Buya menginspirasi saya untuk menulis. Maka jadilah tulisan ini. Pesan Buya itu berupa tautan catatan Gamawan Fauzi di Antara. Dalam tulisan itu ada kisah Buya Syafii dan Pak TK.

Cerita ini terjadi sebelas tahun yang lalu. Saat itu Pak TK sebagai Ketua Dewan Penasihat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memberikan sambutan pada acara syukuran 70 tahun Ahmad Syafii Maarif. Pak TK menceritakan sosok Buya yang egaliter dan berwibawa.

Suatu hari, Buya pernah berkunjung ke kediaman Presiden Megawati di Jalan Teuku Umar, Jakarta. Pak TK menyambut kedatangan Buya. Cerita Gamawan, setelah bersalaman, melihat kiri-kanan, lalu dengan ‘seenaknya’ Buya bertanya kepada Pak TK. “Fiq, mana Mega?”

Cara Buya Syafii bertanya itu, seperti menanyakan istri kemenakannya saja. “Padahal, waktu itu istri saya adalah Presiden Republik Indonesia,” kata Pak TK mengisahkan peristiwa itu.

Kisah lain, pada tahun yang sama, Pak TK juga menceritakan kenangan bersama Buya. Pak TK tak tega melihat istrinya dimarahi Buya. Saat itu Buya menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah.

Begini ceritanya, Buya meminta kepada Pak TK untuk bertemu dengan Megawati. Singkat cerita Pak TK mempertemukan keduanya. Namun saat mereka bertemu Pak TK memilih keluar dari ruang pertemuan.

“Gimana saya tidak tega. Istri saya presiden kok dimarah-marahi oleh Bang Syafii,” kata Pak TK mengingat peristiwa itu. Lanjut cerita, setelah pertemuan antara keduanya selesai, Buya bertanya mengapa dia keluar ruangan. “Lantas saya jawab, gimana saya tega. Pasti istri saya mau dimarahi. Ternyata nasihat-nasihat yang diberikan kepada Megawati itu sangat baik,” jawab Pak TK sambil tertawa.

Menurut Pak TK, antara dirinya dan Buya sudah terjalin persahabatan yang akrab. Pak TK memanggil Buya dengan sebutan Bang. Cerita ini disampaikan Pak TK saat memberikan sambutan peresmian Gedung Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah, Yogyakarta (Detik, 2008). 

Setahun sebelum Pak TK wafat. Buya memberikan testimoni saat peluncuran buku Pak TK berjudul Empat Pilar untuk Satu Indonesia di Gedung MPR/DPR (2012). Menurut Buya, Pak TK seorang politikus dan pelobi ulung. Sosok yang dermawan, banyak membantu Muhammadiyah.

Pak TK, tokoh yang pandai bergaul dan bisa diterima semua pihak. Bergaul dengan kalangan agama manapun, termasuk yang tidak beragama. Dalam testimoninya, Buya mendoakan Pak TK agar dipanjangkan umur oleh Allah.

Pertanyaan selanjutnya, adakah kisah penulis bersama Pak TK?

Syahdan, ayahanda Hadjriyanto Y. Thohari, tokoh Muhammadiyah yang saat itu menjadi salah satu Wakil Pak TK di MPR RI memanggil saya. Singkat kisah, sampailah saya di Gedung MPR, Senayan, Jakarta. Di dalam ruangan MPR sudah ada Mas Hadjri, Pak TK, dan Ibu Melani Leimena.

Mas Hadjri memperkenalkan saya kepada Pak TK. Kemudian saya menyampaikan maksud dan tujuan. Dalam pengantar perkenalan, saya bercerita kepada Pak TK. Saya tinggal di Bengkulu, rumah Bung Karno sangat dekat dengan rumah keluarga saya. Hanya berjarak satu rumah. Begitu pula dengan Rumah Ibu Fatmawati, hanya beda jalan masuk.

Tanpa banyak kata-kata. Pak TK menjawab maksud dan tujuan saya dengan sangat baik. Amanat dari Pak TK masih terus saya kerjakan.

Kini Pak TK sudah tiada. Buya dan Pak TK adalah tokoh bangsa pengawal pilar bangsa: Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika. Menurut Mas Hadjri, gagasan untuk menyerukan empat pilar bangsa itu murni berasal dari Pak TK.

Ya, kita semua rakyat Indonesia harus tetap bersatu padu di atas dasar Pancasila. Bung Karno berkata, kita harus tetap berjalan sebagai satu laskar, satu barisan yang maha kuat, satu banjir yang maha sakti, banjir daripada revolusi Indonesia yang sebenarnya adalah sebagian daripada revolution of mankind.

Mari kita jalan terus, terus! Onward ever onward, never retreat! Insya Allah, kita pasti menang!

Demikianlah, sampai kini, kalau jumpa Mas Hadjri, yang dikenal juga sebagai sahabat almarhum Pak TK itu, saya pasti ditegur; “David, mana amanat Pak TK?”.

Semoga, ayahanda.

Rawa Buntu, 17 Oktober 2019

Kolom terkait

Buya Syafii dan Kintani

Buya Sudah Lelah, Tapi Piye Meneh? DPRe Pekok!

Buya Syafii dalam Keberbagaian

Buya Syafii Maarif, Gejala Ateisme, dan Hoax

Belajar Meneguhkan Toleransi dari Buya Syafii

David Krisna Alka
Penyuka Kopi Susu pakai gula aren, Alumni INS, UIN Jakarta dan Wall Street English, sedang studi di Pascasarjana Departemen Ilmu Antropologi UI. Peneliti Senior MAARIF Institute for Culture and Humanity,

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…