Sabtu, Februari 27, 2021

Buya Syafii Maarif

Star Wars 2017: Ahok Versus Risma

Sosok siapa yang disukai rakyat dan kemudian terpilih menjadi pemimpin sebuah daerah dalam lima tahun terakhir mengalami pergeseran, bahkan perubahan yang radikal. Jika di...

2017, Jawa Tetaplah Kunci

Menjelang akhir tahun 2016, sebuah hajatan diselenggarakan di hotel terkemuka sudut paling strategis Jakarta. Anda tak akan mengatakannya sebagai hajatan kecil atau biasa-biasa saja. Para...

Imam Besar Ahmad Thayyib, Al-Azhar, dan Syiah

Presiden Joko Widodo menerima Imam Besar Al-Azhar, Ahmad Muhammad Ahmad Thayyib, di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (22/2). Pertemuan tersebut di antaranya terkait kerja sama...

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...
Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik

Dari editornya, David Krisna Alka, saya menerima buku Mencari Negarawan, 85 Tahun Buya Ahmad Syafii Maarif. Saya mengucapkan terima kasih kepadanya. Tokoh-tokoh besar dan siklus hidup mereka, seperti Buya Syafii, telah menjadi pentas kaum muda intelektual mengartikulasikan diri.

Selain David Krisna Alka, Asmul Khairi pun muncul. Berdua, mereka menjadi editor buku menarik ini. Lalu, di dalamnya bertabur kaum intelektual muda mengungkapkan proses pertemuan, pertemanan, tentu saja, kekaguman kepada Buya Syafii.

Saya sendiri bertemu Buya Syafii pertama kali di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta pertengahan 1980-an. Bersama Nurcholish Madjid, saya diundang menjadi pembicara. Dan acara itu akhirnya jadi reuni Cak Nur dan Buya Syafii plus pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Lafran Pane —yang juga untuk pertama kalinya saya lihat.

“Makan di rumah Mas Syafii di Chicago” ujar Cak Nur, “Enak sekali.”

Keduanya memang murid Fazlur Rachman yang mengajar di Chicago University, Amerika Serikat. Dan sejak pulang dari Chicago, seingat saya, Buya Syafii menjadi pengeritik tradisi Islam.

“Umat Islam sudah 1000 tahun berhenti berpikir,’ ujarnya.

Tema itu saya dengar berulang-ulang. Disertasinya, yang diterbitkan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), adalah dokumentasi pemikiran awalnya. Sangat terasa semangat modernisme Islam di dalamnya. Itu pula yang menjelaskan mengapa Buya Syafii sangat aktif dalam beberapa pertemuan cendekiawan Islam yang antara lain diorganisir Adi Sasono dan M. Dawam Rahardjo. Buya Syafii dan semua peserta adalah kelompok ‘garis lurus’ modernisme Islam.

Saya kira, aspek itu tak terlihat dalam tulisan-tulisan di buku 85 Tahun Buya Syafii ini. Jika perspektif ini diambil, maka isinya, di samping pujian, juga ada analisa kritis tentang transformasi kecenderungan Buya dewasa ini. Misalnya, apakah ada pengaruh pertemanan Buya Syafii dengan suami Mbak Megawati Taufiq Kiemas awal 2000-an? Bagaimana Buya Syafii kita pahami ketika ia menggelar sikap begitu spesifik dalam kontestasi Pilkada Jakarta beberapa tahun lalu —dari sebelumnya modernis Islam ‘garis lurus’?

Mungkin, membahas Buya Syafii dari perspektif ini jauh lebih memberi pelajaran kepada bangsa, tentunya kepada anak-anak muda. Selamat ulang tahun, Buya Syafii. Semoga sehat selalu.

Fachry Ali
Fachry Ali
Kolumnis/Pengamat Sosial Politik
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Berpegangan Tangan dengan Leluhur

Oleh: Arlita Dea Indrianty, SMAN 36 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Bicara tentang Indonesia tidak akan membawa seseorang pada titik...

Penguatan Kultur Demokrasi di Indonesia

Sebagian persoalan dalam praktik demokrasi di Indonesia muncul dari kalangan elite yang membajak sistem. Masyarakat sebagai pemilik sah kedaulatan tertinggi dalam demokrasi hanya dijadikan...

Buntara Kalis

Oleh: Queen Vega Latiefah, SMAN 76 Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Seperti cahaya rembulan di malam hari, seperti itu bayangan orang orang...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Menilik Pencekalan Panglima Gatot

Insiden diplomatik antara Amerika Serikat dan Indonesia terjadi hari Sabtu lalu, (21/10/2017) di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Kejadiannya, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dicekal untuk...

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.