OUR NETWORK

Buya Syafii Maarif: Mursyid Tarekat Tenda Bangsa

Perempuan boleh dan berhak menjadi pemimpin negara, dan peran-peran lain di ruang publik. Perempuan juga merupakan guru mulia bagi setiap laki-laki yang memuliakannya. Demikianlah pandangan yang sangat membumi dan mengharukan dari Buya Syafii Maarif.
buya-twitter

Secara pribadi, saya tidak mengenal langsung sosok Buya Ahmad Syafii Maarif. Tetapi, saya mengenalnya dari pemikiran yang digoreskannya melalui tulisan-tulisan, terutama di Resonansi Republika, serta melalui beberapa karyanya yang dikoleksi ayah saya.

Dari membaca pemikirannya itu, saya tertarik dengan wacana Islam inklusif yang ditawarkannya. Menurutnya, Islam harus berfungsi sebagai rahmat untuk sekalian alam. Di antara yang paling berkesan dari buah pemikirannya adalah eksplorasi Islam inklusifnya melalui konsep Islam sebagai tenda bangsa.

Di tengah keberagaman di Indonesia, dan spektrum pemikiran Islam yang madzhabnya warna-warni, konsep Buya Syafii Maarif tentang Islam sebagai tenda bangsa sangat kontekstual dan relevan untuk keindonesiaan umumnya, dan keislaman khususnya.

Pengaruh Fazlur Rahman

Buya Syafii merupakan salah satu dari tiga orang yang dijuluki Gus Dur sebagai “Tiga Pendekar dari Chicago” karena termasuk dalam rombongan pelajar pertama dari Indonesia yang berangkat menuntut ilmu di the University of Chicago. Dua lainnya adalah Nurcholish Madjid dan M. Amien Rais. Rupanya, Chicago membawa pengaruh besar bagi dirinya.

Seperti pengakuannya saat diwawancarai oleh tim whiteboardjournal.com tentang Muhammadiyah, masyarakat, dan bangsa, ia mengatakan: “Manusia pada dasarnya tidak pernah statis; dan seseorang yang belajar pasti mengalami perubahan. Saya berasal dari Muhammadiyah, dan Muhammadiyah itu dahulu pernah menjadi anggota istimewa di Partai Masyumi, sampai dibubarkan pada tahun 1960; dan selama itu selalu membela negara Islam. Tapi, setelah saya belajar di Chicago, pemikiran saya mengalami perubahan yang cukup drastis. Saya berpikir bahwa nama tidaklah penting, yang penting itu adalah substansinya…”

Perubahan pemikiran pria sederhana kelahiran Sumpur Kudus 85 tahun lalu itu terjadi karena pengaruh besar guru yang sangat dicintainya. Dialah Fazlur Rahman, gurunya yang sangat menginspirasi pemikirannya. Fazlur Rahman sendiri merupakan seorang pemikir neo-modernis yang lahir di wilayah anak Benua Indo-Pakistan. Suatu wilayah yang telah melahirkan banyak pemikir Islam yang cukup berpengaruh dalam perkembangan pemikiran Islam, seperti Syah Wali Allah, Sir Sayyed Ahmed Khan, hingga Sir Muhammad Iqbal.

Di antara pemikiran Fazlur Rahman yang sangat berpengaruh terhadap Buya Syafii Maarif adalah pandangannya tentang modernitas. Menurut Rahman, Islam melihat modernitas itu sebagai tantangan-tantangan dan kesempatan-kesempatan yang harus dihadapi. Modernitas adalah entitas rasional yang kehadirannya tidak bisa ditolak. Rasionalitas etisnya merupakan nilai yang berkesesuaian dengan Islam. Karena Islam sendiri adalah agama yang rasional.

Untuk masuk ke ruang modernitas, seorang muslim harus berpegang-teguh kepada Al-Qur’an beserta nilai-nilai abadinya. Dengan hermeneutika double movement, Rahman tiba pada suatu rumusan metodologis dalam memahami Islam, yaitu, nilai Islam itu harus dikontekstualisasikan dalam ruang sejarah untuk menjawab persoalan kekinian. Nilai Islam harus kontekstual dalam ruang sejarah agar membumi dan menjawab persoalan-persoalan kekinian yang dihadapi umat Islam, tanpa kehilangan elan vitalnya.

Pandangan Rahman di atas merupakan antitesa terhadap pandangan Abul A’la al-Maududi yang berpandangan bahwa Islam harus hadir sebagai syariat dan institusi politik agar dapat menjaga eksistensinya dalam menjawab persoalan umat. Di sinilah letak pengaruh Rahman terhadap pemikiran Buya Syafii Maarif. Bila dahulu Buya sangat Maududian, kini Rahmanian. Dulu ia Islam formalis, kini Islam substantif.

Dulu Buya mencita-citakan eksklusifitas Islam, bahkan memperjuangkan pendirian negara Islam; kini menggemakan Islam inklusif yang kehadirannya bisa menjadi entitas nilai yang dapat dirasakan keramahannya oleh siapa saja. Inilah konsep etika Islam substantif yang dirumuskan Rahman dan sangat berpengaruh terhadap Buya Syafii Maarif.

Pengaruh Rahman juga sangat terasa dalam berbagai tulisan Buya Syafii Maarif. Hampir tak pernah ketinggalan gagasan Fazlur Rahman turut ia sertakan. Sehingga bisa dikatakan bahwa Buya Syafii Maariflah yang memperkenalkan gagasan Fazlur Rahman di Indonesia.

Selain pengaruh Rahman, ia juga terinspirasi oleh Muhammad Iqbal serta beberapa pemikir dan salik sufi seperti Maulana Jalaluddin Rumi. Tak heran jika Buya Syafii Maarif sangat mencintai kemanusiaan, Quranic oriented, dan terus menyerukan persaudaraan sejati. Pendeknya, Islam harus menjadi tenda bangsa.

Islam Sebagai Tenda Bangsa

Di Indonesia ada beberapa anak bangsa yang secara keagamaan, ekonomi, dan politik terpinggirkan dan tidak mendapatkan tempat dan haknya secara layak. Terhadap mereka, Buya Syafii Maarif secara sejati berperan sebagai mursyid. Sebagai pembela dan pengayom.

Karena pandangan keislaman Buya Syafii Maarif yang inklusif itu, boleh kita menyebutnya sebagai mursyid tarekat tenda bangsa ini. Ia mengayomi dan memberikan perlindungan yang layak serta ramah untuk semua anak bangsa dalam rumah Islam inklusif yang bagaikan tenda tempat berteduh.

Untuk sekedar menyebutkan beberapa contoh, berikut adalah sikap pembelaan Buya Syafii Maarif terhadap anak-anak bangsa yang terpinggirkan. Pertama, Buya Syafii Maarif sangat sensitif bila persatuan dan keragaman bangsa terkoyak oleh watak dan sikap ekslusif atas nama apapun. Ketika ada imbauan terhadap umat Islam untuk menghentikan kebiasaan mengucapkan ucapan salam beberapa agama saat menyampaikan salam pembuka, Buya Syafii Maarif sangat menyayangkannya.

Ia merasa janggal dan berpendapat bahwa imbauan yang terlampir dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019 terlalu eksklusif dan mengabaikan fakta keragaman umat beragama di Indonesia.

Sebagai bangsa plural, Bhineka Tunggal Ika, semua anak bangsa menurut Buya Syafii Maarif harus selalu bersikap dan berwatak inklusif, bukan sebaliknya eksklusif. Buya juga mengingatkan bahwa umat Islam sebagai mayoritas, tidak perlu harus mendapat hak untuk dieksklusifkan. Sebagai warga negara, umat Islam berposisi yang sama dengan umat agama lainnya, di hadapan UUD 1945. Mayoritas bukanlah indikator eksklusifitas.

Pembelaan Buya Syafii Maarif terhadap kaum terpinggirkan juga dapat dibaca dari pandangannya tentang kesetaraan gender. Dalam pandangan Buya Syafii Maarif, laki-laki dan perempuan memiliki hak dan peran yang sama di ruang publik. Islam sangat menghargai dan memuliakan perempuan.

Perempuan boleh dan berhak menjadi pemimpin negara, dan peran-peran lain di ruang publik. Perempuan juga merupakan guru mulia bagi setiap laki-laki yang memuliakannya. Demikianlah pandangan yang sangat membumi dan mengharukan dari Buya Syafii Maarif. Beliau adalah pribadi yang tetap sederhana, teguh pendirian, enerjik dan pembelajar yang hebat. Meski di usia beliau yang tak lagi muda, 85 tahun pada Mei 2020 ini.

Selamat ulang tahun Buya. Semoga selalu sehat dan panjang usia. Sehingga dapat selalu mencerahkan bangsa. Menjadi mursyid bagi tarekat tenda bangsa yang Bhineka Tunggal Ika ini.

Revoluna Zyde Khaidir
Sekretaris Bidang Pers dan Jurnalistik BESMA Pondok Pesantren Al-Ishlah Sendangagung Paciran Lamongan

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.